Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Hari ini Mawar merasakan sesuatu yang tidak enak, entah kenapa dia selalu teringat dengan sang ayah. Selama proses pembelajaran di sekolah, pikiran Mawar selalu teringat dengan sang ayah.
'Ya Allah, Bapak kenapa ya? Kenapa perasan ku tidak enak' Batin Mawar.
Mawar tidak sabar menunggu hingga jam sekolah nya berakhir, Mawar dan Farhan pulang pada jam yang sama. Karena kini Mawar sudah duduk di kelas 1 SMA dan Farhan di kelas 3 SMA.
"Kamu kenapa murung?" Tanya Farhan pada adik nya yang sedang menunggu nya tidak jauh dari parkiran.
"Gak papa kak, cuma gak enak badan saja!" Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Ya udah, yuk buruan pulang. Nanti segera istirahat ya!" Farhan menasihati adik nya.
Kedua kakak beradik itu pun bergegas pulang ke rumah mereka, jarak kecamatan ke desa mereka hanya memakan waktu selam 30 menit dengan menggunakan sepeda motor.
Sesampainya di rumah, Farhan dan Mawar heran karena keadaan rumah mereka cukup ramai. Para tetangga tampak berada di depan rumah mereka, Farhan dan Mawar saling pandang.
"Ada apa ini?" Tanya Farhan pada para tetangga nya yang berada di teras rumah nya.
"Masuk dan dulu Han, ganti pakaian mu dan kaun juga Mawar!" Uwak Sani, tetangga mereka yang lebih tua berkata pada Farhan dan Mawar.
Farhan Dan Mawar bergegas masuk ke dalam rumah dan kedua nya melihat Indah sedang menangis di dalam pelukan Uwak Marni. Uwak Marni adalah kakak perempuan nya Bu Munah.
"Ada apa ini wak?" Tanya Farhan pada wak Marni.
"Bapak mu Han, bapak mu kecelakaan. Dia mengalami kejadian tabrak lari dan sekarang dia sudah di bawa ke rumah sakit!" Wak Marni memberi tahu Farhan sambil menangis terisak.
"Apa??? Kapan kejadian nya wak?" Tanya Farhan dengan nada lemas.
"Tadi nak, bapak mu membawa gabah ke mesin penggilingan, tapi ada motor dengan kecepatan tinggi menabrak nya. Pelaku nya melarikan diri, dan warga tidak berhasil menemukan nya!" Wak Marni menjelaskan kronologis kejadian nya.
"Pak Harto kritis di rumah sakit kota saat ini, aku dapat telpon dari pak Beni yang tadi membawa nya ke rumah sakit!" Seorang tetangga mereka berbicara di depan dengan para orang- orang yang ada di sana.
Seketika lutut Mawar terasa lemas mendengar berita yang itu, dia langsung luruh ke lantai. Mawar merasakan dunia tempat nya berpijak runtuh seketika, cinta pertama nya sekarang sedang berjuang di antara hidup dan mati.
"Yang sabar nak, doakan bapak mu semoga dia baik - baik saja!" Bu Nuri memeluk tubuh Mawar dengan erat.
Mawar tidak bisa menahan tangis nya, begitu pun dengan Farhan sekalipun dia tetap berusaha untuk terlihat tegar, tetap saja hati nya hancur berkeping - keping.
"Ganti pakaian mu nak, kita tunggu saja di rumah!" Bu Nuri melepas kan pelukan nya pada Mawar.
Mawar melangkah dengan gontai ke dalam kamar nya, air mata terus saja mengalir tanpa bisa dia tahan lagi. Bari tadi malam bapak nya memberikan nya sebuah cincin, sekarang bapak nya berada di antara hidup dan mati.
Mawar dan Farhan tetap menunggu di rumah, sudah ada bu Munah dan kakak laki - laki nya bu Munah yang menjaga nya di rumah sakit. Pak Beni adalah kakak laki - laki yang bu Munah.
Farhan mengambil ponsel nya dia ingin tahu dengan keadaan sang bapak, dia menelepon wak Beni untuk menanyakan keadaan sang bapak.
"Hallo wak, gimana keadaan bapak wak?" Tanya Farhan tanpa basa- basi pada uwak nya.
" Kuat kan hati mu nak, semua nya di luar kehendak kita. Bapak mu sudah kembali pada Nya" Pak Beni memberi tahu Farhan.
Seketika Farhan mematung mendengar nya, dunia nya runtuh seketika. Pahlawan nya sekarang sudah tiada, secepat itu dia pergi.
"Yang sabar nak, semua yang bernyawa pasti akan kembali!" Wak Sani memeluk tubuh Farhan.
Mawar menangis tanpa suara, dunia nya seperti berhenti berputar. Ini lah titik terendah dalam hidup nya, Mawar tidak cinta pertama nya akan pergi secepat ini.
"Ikhlas kan nak, biar bapak mu tenang di alam sana!" Bujuk bu Nuri.
Keadaan rumah langsung berubah mendadak, para tetangga berdatangan mempersiapkan keperluan untuk menyambut jenazah. Sofa yang ada di ruang tamu di bawa keluar rumah, agar ruangan terlihat lebih luas.
Tenda pun di dirikan di depan rumah, para ibu - ibu tetangga mulai membuat persiapan untuk memasak makanan untuk para laki - laki yang mengali kubur.
Farhan memeluk kedua adik perempuan nya dengan erat, sekalipun tidak ada air mata yang mengalir di pipi nya. Tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan kesedihan nya, sekarang dia lah yang bertanggung jawab terhadap kedua adik perempuan nya.
Setelah waktu sholat ashar, mobil yang mengantar kan jenazah pak Harto tiba di rumah. Indah menangis histeris sambil memeluk sang ibu, sementara Mawar menangis tanpa suara.
Karena hari sudah sore, jenazah langsung di mendikan dan di bersiap untuk di kebumikan kan. Mawar adalah orang yang paling bersedih di antara semua orang. Pak Harto lah yang selama ini selalu membela nya ketika dia di hukum oleh sang ibu.
Kini cinta pertama nya, pembela nya sudah berpulang ke hadapan Nya. Padahal baru semalam dia bertemu dan bicara dengan sang bapak.
"Bapak Minta kamu jaga Mawar dengan baik nak, lindungi lah dia. Mawar anak baik!" Kata - kata sang bapak tadi malam masih terngiang di telinga Farhan.
'Pak, bapak beristirahat lah dengan tenang. Farhan berjanji sama bapak akan menjaga Mawar dengan baik, Farhan tidak akan pernah meninggal kan Mawar sendirian!' Farhan berjanji di dalam hati di depan jasad bapak nya yang sudah terbujur kaku.
'Pak, bagai mana dengan Mawar pak, bapak tega pada Mawar. Bapak sudah pergi dan meninggal kan Mawar di sini, Mawar mau ikut bapak!" Batin Mawar menjerit sambil mata nya terus mengeluarkan air mata yang seakan tak ada habis nya.
Keranda yang di ujung beberpa laki - laki pun segera di bawah ke TPU yang ada di desa mereka, sebelum nya jenazah pak Harto sudah si sholat kan terlebih dahulu di masjid yang berada tidak jauh di rumah nya.
Proses pemakaman berjalan dengan lancar, Mawar menatap gundukan tanah merah di mana bapak nya terbaring di sana. Tatapan Mawar kosong, ada sesuatu yang hilang dari dalam diri nya.
"Ayo kita pulang, sebentar lagi magrib!" Wak Marni mengaget kan lamunan Mawar.
"Sebentar lagi wak, Mawar masih mau berada di sini!" Tolak Mawar halus.
Rintik hujan mulai turun, langit seolah ikut bersedih mengiringi kepergian pak Harto. Bu Munah dan ketiga anak nya masih belum mau beranjak dari tanah pemakaman itu, sementara orang- orang yang ikut mengantar kan jenazah pak Harto sudah pulang satu persatu.