Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?
Buktinya nih si Nisa!
Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
...🥀🥀🥀🥀...
Aziz mendengus kesal, “Lalu kenapa kalian gak membongkar kebohongan putri kalian sendiri? Malah ikut dalam permainan sandiwara yang jelas salah!”
“Perbuatan kami ini memang salah, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan untuk dapat terus melihat canda dan tawa nya.” ujar Sabah dengan serius.
“Percaya lah, nak! Gak ada orang tua mana pun di dunia yang ingin melihat air mata kesedihan di mata putri nya!” timpal Naraya.
Pluk pluk.
Sabah menepuk punggung Aziz.
“Kelak kamu pasti akan berpikir, keputusan kami ini benar ada nya hehe!” kekeh Sabah.
“Salah ko bisa di benar kan? Definisi yang salah!” gerutu Aziz.
Sabah menyungging kan senyum nya, “Bisa! Yang ayah dan ibu lakukan terhadap putri tunggal nya.”
Naraya menyamai langkah kedua nya, mengapit Aziz di antara Naraya dan Sabah.
“Ada orang yang pernah bilang sama ibu. Bahagia itu cukup melihat orang yang kamu cintai itu bahagia!”
“Gila nama nya!” celetuk Aziz.
“Bagi mu mungkin gila, tapi setelah ada cinta di hati mu untuk Nisa. Ayah jamin, kamu yang akan dengan rela memberi kan bahu mu itu untuk Nisa bersandar dan menangis!” seru Sabah dengan yakin.
Aziz menggeleng gak percaya, “Terserah apa kata kalian saja lah!”
“Harus itu!” timpal Sabah.
Nisa langsung menyambut Aziz dengan nada menggoda. Saat ke tiga nya memasuki rumah.
“Ciyeeee yang udah ada kemistri! Udah nyaman ya dengan ibu dan ayah ku? Eh salah deh, maksud nya ayah dan ibu mertua ahahaha.” ralat Nisa dengan terkekeh.
“Aziz masuk kamar dulu bu, yah!” pamit Aziz pada kedua nya.
“Iya! Jangan lupa mandi lagi!” timpal Sabah.
Naraya menghampiri Nisa yang duduk di ruang tengah, dengan setoples cemilan di pangkuan nya sembari menonton televisi.
“Udah gede, tontonan nya masih aja kartun! Cari tontonan itu yang berwawasan apa, Nis! Yang mengajar kan kamu, cara nya jadi istri yang baik dan berguna untuk nak Aziz.” ujar Naraya panjang kali lebar, mendarat kan bobot tubuh nya di samping sang anak.
Nisa menunjuk acara yang ia tonton dengan bibir nya, “Itu juga berwawasan bu!”
“Wawasan apa itu? Kalo ketemu langsung main kejar kejaran! Sama kaya tokoh nya, kucing dan tikus. Nisa Nisa kaga pernah akur itu Nis!” timpal Sabah.
Nisa membola, berseru dengan nada gak santai, “Wiih siapa bilang cuma bisa nya main kejar kerajan? Itu ada yang bisa di petik hikmah nya, yah! Cara nya lolos dari kejaran musuh, ahahahaha.”
Naraya menunjuk bawah mata Nisa, “Apa di kediaman utama kamu kurang istirahat, Nis? Lihat itu, ada lingkar mata sedikit hitam di bawah mata mu!”
“Bukan kurang istirahat, bu! Emang waktu buat istirahat aja yang lagi kurang. Nanti mah kalo senggang, pasti Nisa tidur cukup kok!” kilah Nisa.
“Nis, siap siap!” seru Aziz, saat menghampiri ketiga nya.
Nisa mengerutkan kening nya penuh tanya, melihat Aziz dalam balutan kaos hitam lengan panjang, dengan jins panjang berwarna senada.
Nisa menoleh, mata nya bah kan gak berkedip saat menatap Aziz.
‘Aji gila, makin keren aja si Aziz. Pas bener lagi ama pakaian yang gua beliin. Makin ter Aziz Aziz aja nih ati!’ pikir Nisa, tanpa sadar senyum lebar tersungging di bibir nya.
“Memang ada apa, nak? Apa ada yang mendesak?” tanya Sabah.
Aziz melirik ketiga nya dengan tatapan ragu, ‘Apa aku harus mengatakan nya pada mereka? Sementara pernikahan Tuan Alex dan Nyonya Wati, akan di gelar secara tertutup. Tapi mengingat hubungan Nyonya Wati dengan keluarga Nisa, agak nya gak masalah kalo aku mengata kan yang sebenar nya pada mereka!’
“Katakan aja, nak! Kami bisa di percaya ko! Di jamin gak ember bocor!” timpal Naraya, mengacung kan jari telunjuk dan jari tengah nya ke atas.
“Asisten Tuan Alex meminta kami segera kembali. Bergabung dengan yang lain untuk membantu menyiap kan pesta pernikahan Tuan dan Nyonya.” ujar Aziz dengan serius.
“Kabar baik itu, bu!” timpal Sabah.
“Iya, yah! Kapan kira kira mereka akan menikah?” tanya Naraya lagi.
“Dua hari dari sekarang.”
Naraya dan Sabar beranjak dari duduk nya, saking terkejut nya.
“Serius itu?” tanya Sabah gak percaya.
Naraya mengerut kan kening nya, “Apa bisa secepat itu, nak? Banyak hal yang harus di persiapkan untuk pesta pernikahan.”
Aziz mengerdik kan bahu nya, “Tuan ingin segera di resmikan hubungan nya dengan Nyonya. Saya rasa gak ada yang gak mungkin untuk Tuan Alex. Dia punya orang orang yang bisa di andalkan untuk mensukses kan rencana nya itu!”
“Kamu benar, nak! Tuan Alex memiliki orang orang yang bisa di percaya. Maka nya kalian bisa di andal kan!” beo Sabah dengan tatapan yang sulit di arti kan.
‘Celaka dua belas, seperti nya aku salah bicara! Aku baru aja menyinggung ayah Sabah yang kehilangan rasa percaya nya pada orang di sekitar nya.’ batin Aziz.
Aziz melangkah menghampiri Sabah.
“Maaf, yah! Aziz tidak bermaksud menyinggung ayah!” ujar Aziz dengan tulus.
Sabah menghembus kan nafas nya kasar, “Ayah gak akan memaaf kan kamu kalo kamu gak bisa jaga Nisa untuk ayah dan ibu! Kami percaya kan Nisa sama kamu. Sama seperti ayah dan ibu percaya pada Nyonya Wati.”
Aziz mengerdik kan dagu nya, “Ayah ngomong apa sih? Emang kalian mau kemana? Nisa sudah besar, gak perlu di jaga oleh ku!”
“Lusa kami akan pergi ke luar kota, jadi mohon titip salam aja untuk Wati dan Tuan Alex!” timpal Naraya.
“Akan Aziz sampaikan salam kalian untuk Nyonya Wati dan Tuan.”
Pluk pluk.
Sabah menepuk bahu Nisa.
“Aduh! Apa sih, yah!” protes Nisa dengan nada gak santai.
Naraya menge lus puncak kepala Nisa, “Kamu gak nyimak dengan apa yang di ucapkan nak Aziz, Nis?”
“Nyimak apa? Emang Aziz ngomong apa?” beo Nisa dengan wajah gak bersalah.
Naraya menyingkir kan setoples cemilan dari pangkuan Nisa. Meletak kan nya di atas meja. Lalu menarik lengan Nisa, hingga anak perempuan nya itu beranjak dari duduk nya.
“Aduh, bu! Apaan sih! Nisa lagi enak ngemil juga!” protes Nisa dengan bibir mengerucut.
“Bisa di bawa itu cemilan!” timpal Sabah.
“Ayo buru! Ibu bantu kamu siap siap!” Naraya menggiring Nisa kembali ke kamar.
Nisa menggaruk kepala nya bingung, “Siap siap apa si, bu?”
“Nak Aziz akan bawa kamu pergi, membantu persiapan pesta pernikahan Wati dan Tuan Alex.” ujar Naraya.
“Seriusan, bu? Ko ibu duluan yang tau! Kan Wati temen Nisa!”
Aziz menatap punggung dua wanita yang beda generasi itu, semakin menjauh dari pandangan nya. Tapi percakapan antara kedua nya. Masih tampak jelas terdengar di telinga Aziz.
“Da sar aneh! Dari tadi aku jelas kan panjang lebar, sama sekali gak di dengar! Percuma aku mengata kan nya tadi!” gerutu Aziz dengan wajah kesal.
Sabah menghembus kan nafas nya kasar “Yang sabar ngadepin putri ayah!”
“Sabar bangat, yah!” dusta Aziz.
‘Kalo di kediaman utama, sudah habis kamu aku pi tes, aku ji tak, aku her dik, aku caci maki, Nis!’ gerutu Aziz yang hanya lolos dalam hati.
“Barusan itu bukti, kalo Nisa sudah di buat terpana sama kamu! Kehadiran mu itu sudah mengalih kan dunia nya!” ujar Sabah dengan santai.
“Mengalih kan dunia nya?” tanya Aziz.
Bersambung …
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣