NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Setelah meja makan dibersihkan oleh pelayan dan lampu kabin diredupkan, suasana kembali menjadi tenang.

Perut yang kenyang dan rasa aman di pelukan satu sama lain seharusnya membuat malam itu berakhir dengan tidur yang lelap.

Arkan sudah berbaring, membiarkan Gladis bersandar di dada bidangnya yang beraroma melon segar. Namun, tiba-tiba ia merasakan dada Gladis naik-turun dengan tidak teratur.

Sedetik kemudian, terdengar suara isakan kecil yang tertahan, yang lama-kelamaan menjadi tangisan pilu.

Arkan langsung terjaga sepenuhnya. Ia panik, mengira Gladis merasakan sakit lagi pada bekas lukanya atau perutnya mual kembali.

"Sayang? Gladis? Ada apa?" tanya Arkan dengan nada suara yang penuh kekhawatiran.

Ia mengangkat wajah Gladis dengan kedua tangannya, menemukan mata istrinya sudah basah kuyup oleh air mata.

"Ada yang sakit? Perutmu? Atau kakimu?" Arkan hampir saja meraih telepon untuk memanggil Dokter Sarah kembali.

Gladis menggelengkan kepala dengan cepat. Ia malah menyembunyikan wajahnya lebih dalam ke leher Arkan, memeluk suaminya dengan sangat erat seolah takut kehilangan.

"Tidak ada yang sakit, Arkan..." ucap Gladis di sela isakannya yang sesak.

"Lalu kenapa menangis, Sayang? Katakan padaku, apa aku melakukan kesalahan? Apa makanannya tadi tidak enak?" Arkan terus menebak-nebak dengan bingung.

Gladis mendongak sedikit, hidungnya memerah dan matanya sembap, memberikan pemandangan yang sangat menggemaskan sekaligus mengharukan bagi Arkan.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menangis saja," jawab Gladis jujur.

"Tiba-tiba hatiku merasa sangat sedih, tapi aku juga merasa sangat bahagia. Aku tidak tahu kenapa, air matanya keluar sendiri!"

Arkan tertegun sejenak, lalu ia teringat penjelasan Dokter Sarah tentang perubahan hormon yang drastis pada wanita hamil.

Ternyata, bukan hanya hidung Gladis yang menjadi sensitif, tapi juga perasaannya.

Arkan mengembuskan napas lega dan tersenyum sangat lembut. Ia tidak lagi panik.

Ia mengeratkan pelukannya, membiarkan baju kaosnya basah oleh air mata istrinya.

"Menangislah sepuasmu, Sayang. Menangislah di sini," bisik Arkan sambil mengecup kening Gladis berkali-kali.

"Kalau kamu butuh menangis tanpa alasan, punggungku dan dadaku selalu siap untukmu."

"Aku terlihat aneh ya?" tanya Gladis sambil terisak kecil, mulai merasa malu dengan tingkahnya sendiri.

"Tidak, kamu terlihat sangat cantik, bahkan saat sedang menangis tanpa alasan," goda Arkan, mencoba menghibur.

"Mungkin nakhoda kecil kita di dalam sana sedang ingin dibelai lewat air mata ibunya."

Gladis akhirnya tertawa di sela tangisnya, ia memukul pelan dada Arkan.

Suasana haru itu perlahan mencair. Di tengah samudera yang luas, Arkan menyadari bahwa tugasnya sebagai Kapten kini bertambah satu, bukan hanya menavigasi kapal besar, tapi juga menavigasi perasaan istrinya yang bisa berubah sewaktu-waktu seperti cuaca di laut.

Pukul tiga pagi, keheningan menyelimuti koridor mewah kapal Ocean Empress. Namun, bagi Gladis, aroma ikan bakar dan sambal matah mangga yang dinikmati suaminya beberapa jam lalu seolah terus memanggil-manggil indra penciumannya.

Rasa lapar itu bukan lagi sekadar keinginan, melainkan perintah mutlak dari nakhoda kecil di perutnya.

Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Arkan, Gladis menyelinap keluar kabin. Namun, Arkan yang naluri pelindungnya sangat tajam, segera terbangun begitu merasakan sisi ranjangnya kosong. Tanpa suara, ia mengikuti istrinya dari belakang.

Sesampainya di dapur utama yang luas dan bermaterial stainless steel, suasana masih cukup sibuk karena persiapan sarapan pagi bagi ribuan penumpang.

Chef eksekutif yang sedang memeriksa stok bahan langsung mematung, matanya terbelalak melihat Gladis muncul di sana dengan piama sutranya.

"Nyonya Kapten? Ada yang bisa saya bantu? Apakah ada keadaan darurat?" tanya Chef dengan wajah sangat terkejut sekaligus khawatir.

"Maaf, Chef, saya hanya ingin ikan bakar seperti yang dimakan Arkan tadi," ucap Gladis dengan nada malu-malu, berdiri di ambang pintu dapur yang terang benderang.

"Berikan apa yang dia inginkan, Chef. Dan buatkan porsi yang besar," suara bariton Arkan tiba-tiba terdengar dari belakang, membuat Chef dan para asistennya hampir melonjak kaget.

Arkan melangkah mendekat, merangkul pinggang Gladis dengan protektif.

"Sepertinya nakhoda kecil kita ini berubah pikiran. Sekarang giliran ibunya yang mengidam."

Chef segera membungkuk hormat dengan senyum lebar.

"Siap, Kapten! Segera kami siapkan ikan terbaik yang baru saja ditangkap kemarin sore."

Di tengah kesibukan dapur di sepertiga malam itu, Arkan menarik sebuah kursi tinggi untuk Gladis agar istrinya bisa duduk dengan nyaman sambil menunggu.

"Maaf, Arkan Aku membangunkanmu," bisik Gladis sambil memegang tangan suaminya.

"Tidak apa-apa, Sayang. Melihatmu memiliki nafsu makan lagi jauh lebih penting daripada jam tidurku," jawab Arkan sambil mengecup kening Gladis.

Malam itu, di pojok dapur kapal pesiar yang paling sibuk, pasangan itu kembali menikmati momen manis.

Sementara para kru dapur bekerja ekstra cepat dengan penuh semangat, merasa terhormat bisa melayani langsung keinginan "Ratu" mereka di jam tiga pagi.

Chef dan para asisten koki segera bergerak cepat begitu mendengar perintah Arkan.

Suasana dapur yang tadinya tegang karena kedatangan mendadak sang Kapten, kini berubah menjadi hangat dan penuh semangat.

Suara desisan ikan yang menyentuh panggangan panas dan aroma harum bumbu yang terbakar mulai memenuhi ruangan.

"A-aku lapar juga, Sayang," gumam Arkan tiba-tiba sambil mengusap perutnya sendiri. Ia menatap Gladis dengan wajah sedikit tidak percaya pada dirinya sendiri.

"Mencium aromanya lagi membuat perutku merasa kosong, padahal tadi aku sudah tambah nasi."

Gladis tertawa kecil, rasa kantuknya hilang sepenuhnya digantikan rasa bahagia.

"Sepertinya nakhoda kecil kita benar-benar lapar. Dia ingin kita berdua menemaninya makan."

Arkan menoleh ke arah Chef yang sedang mengoleskan bumbu.

"Chef, buatkan tiga porsi sekaligus. Ikan yang paling segar, sambal matah mangganya yang banyak, dan nasi hangat yang baru matang."

"Tiga porsi, Kapten?" Chef bertanya untuk memastikan, sedikit terkejut dengan nafsu makan bosnya yang biasanya sangat terkontrol.

"Ya, tiga porsi. Satu untuk istriku, satu untukku, dan satu porsi tambahan untuk jaga-jaga kalau aku masih merasa kurang," jawab Arkan dengan nada otoritas yang bercampur dengan rasa lapar yang tulus.

Beberapa saat kemudian, tiga piring besar ikan bakar yang mengepul panas tersaji di atas meja dapur.

Tanpa perlu pindah ke ruang makan formal, Arkan dan Gladis duduk di area pantry bersih, menikmati hidangan tersebut langsung di tempat asalnya.

Gladis makan dengan sangat lahap, rasa mualnya benar-benar hilang digantikan rasa puas setiap kali pedasnya sambal matah menyentuh lidahnya.

Arkan pun tak kalah hebatnya; ia makan dengan kecepatan yang membuat para kru dapur yang melihat dari jauh hanya bisa saling berbisik takjub.

"Kapten kita benar-benar sedang 'hamil' bersama istrinya," bisik salah satu asisten koki sambil tersenyum.

Di tengah kesibukan dapur jam tiga pagi itu, Arkan sesekali menyuapi Gladis dan membersihkan sisa sambal di sudut bibir istrinya.

Tak ada lagi sekat antara nakhoda dan penumpang, hanya ada sepasang suami istri yang sedang merayakan kebahagiaan kecil mereka dengan piring-piring yang perlahan mulai kosong.

Setelah piring-piring itu bersih tak bersisa, Arkan menyeka bibirnya dengan serbet kertas sambil mengembuskan napas puas.

Ia menatap para kru dapur yang masih berdiri sigap meskipun wajah mereka tampak sedikit lelah karena harus bekerja ekstra di jam yang seharusnya menjadi waktu istirahat sebagian dari mereka.

Arkan berdiri, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas bernominal besar dan meletakkannya di atas meja konter dapur yang bersih.

"Ini untuk kalian semua," ucap Arkan dengan nada baritonnya yang tenang namun tegas.

"Terima kasih sudah mau direpotkan oleh keinginan mendadak istriku—dan perutku—di jam tiga pagi ini. Masakan kalian luar biasa."

Para asisten koki saling berpandangan dengan mata berbinar, sementara Chef eksekutif membungkuk dalam dengan penuh rasa hormat.

Nominal yang diberikan Arkan bukan sekadar uang tips biasa, melainkan jumlah yang sangat dermawan, cukup untuk membuat mereka tersenyum lebar sepanjang sisa perjalanan.

"Terima kasih banyak, Kapten! Ini sudah menjadi tugas kami untuk memastikan Nyonya dan calon bayi sehat," ucap Chef eksekutif dengan tulus.

"Kami senang jika Nyonya menyukai masakannya."

Gladis juga ikut berdiri, ia memberikan senyum manis yang membuat suasana dapur terasa semakin hangat.

"Terima kasih banyak ya, Chef. Ikan bakarnya benar-benar menyelamatkan malamku."

"Sama-sama, Nyonya," balas Chef tersebut.

Arkan kemudian merangkul bahu Gladis, menuntunnya keluar dari area dapur. Langkah mereka terasa lebih ringan sekarang.

Saat melewati koridor yang sunyi, Arkan berbisik di telinga istrinya.

"Sekarang, tugas kita adalah tidur sampai matahari tinggi. Tidak ada lagi ikan bakar sampai jam makan siang nanti, mengerti?"

Gladis terkekeh sambil menyandarkan kepalanya di lengan Arkan.

"Mengerti, Kapten. Tapi jangan salahkan aku kalau jam enam pagi nanti aku tiba-tiba ingin bubur ayam."

Arkan hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum pasrah.

Ia tahu, mulai saat ini, hidupnya di atas kapal Ocean Empress tidak akan pernah sama lagi.

1
Linda Liddia
Ayooo syila kamu pasti bisa 💪💪💪
Linda Liddia
Makasih udh up lg kk othor..
my name is pho: sama-sama kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Vita Vita ambisi kamu untuk menjadi istrinya Gerald sudah menyebabkan kamu jadi gila, dan sekarang terima konsekuensinya kamu berurusan dengan aparat hukum
Linda Liddia
Akhirnya kebenaran terungkap..Emang keren bgt Kapten Arkan langsung sigap..
Makasih kk othor udh up 2 bab nti up lg yg banyak geh 🤣
my name is pho: ditunggu ya kak🥰
total 1 replies
Linda Liddia
Wiiihhh paraaahhh bgt si vita emangnya gegara cinta ditolak org bisa jadi gila bisa berbuat apa saja
Ariany Sudjana
aduh kok jadi begini ceritanya? kemarin psikopat Delon, sekarang Vita juga jadi psikopat
Linda Liddia
Sakiiiiitttt bgt tuh si vita..
Sabaarr ya namanya blm jodoh..
Linda Liddia
Kok kemaren & hari ini cuma up 1 bab thor..
my name is pho: sabar kak ya
kemarin hujan deras banjir kak 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
kenapa dulu Arkan tidak langsung membunuh Elisa? malah ditahan polisi
Linda Liddia
Terima kasih udh up 3 bab..
Semangat selalu..
Ditunggu up2 selanjutnya..
Ariany Sudjana
kalau saya sih lebih suka diselesaikan dengan cara mafia yah, dibawa ke gudang bawah tanah. sayangnya bukan cerita mafia ini
Ariany Sudjana
jadi Delon itu anaknya si pelacur pirang? orang yang sudah buat Gladys bunuh diri
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
aduh kok ceritanya jadi begini sih? ga tega bacanya
Ariany Sudjana
sudah dinasehati papa kamu dan kamu tidak percaya arsyila, kamu ini bodoh , bodoh sekali
my name is pho: sabar kak. sabar
total 1 replies
Linda Liddia
Satu kata utk arsyila TOLOL udh di ingetin sama papa tercinta tapi masih ngeyel
my name is pho: bucin kak
total 1 replies
Linda Liddia
wah siapa kah Delon ini apakah dia punya niat yg tdk baik sama arsyila..??? Pacaran kok mesti diem2 anehkan
Linda Liddia
Wah selamat ya Gladys gak nyangka si baby twins mau punya adek..
Kk othor aku penasaran lho brp usianya si arkan ini udh tua bgt kali ya secara pernah menikah dgn ibunya Gladys & jadi ayah sambungnya gladys
my name is pho: sekitar 50 an kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, sehat selalu Gladys dan bayi dalam kandungan, juga si kembar dan tentu saja sang kapten
Linda Liddia
Wow selamat ya Gladys udh jadi sarjana 💃💃💃
Linda Liddia
🤣🤣🤣 cilok ya Gladys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!