NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Jawaban Hati

Minggu sore itu, matahari condong ke barat, melukis langit desa dengan semburat oranye keemasan. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan tirai jendela ruang tamu rumah Hannah.

Suasana di dalam rumah terasa berbeda dari tiga hari lalu. Jika sebelumnya ada kepanikan dan kejutan, hari ini udaranya dipenuhi ketenangan yang berpadu dengan debaran antisipasi. Lantai ruang tamu sudah bersih mengkilap, toples-toples kue telah diisi ulang, dan aroma teh melati kembali menguar dari dapur.

Hannah duduk di tepi tempat tidurnya. Ia mematut diri di cermin. Gamis berwarna dusty pink yang ia kenakan membuatnya terlihat lebih segar, meski wajahnya tak bisa menyembunyikan sisa-sisa kegugupan.

Selama tiga hari ini, Hannah telah "berperang" dengan hatinya sendiri. Ia tidak mendapatkan mimpi melihat Akbar di taman bunga atau petunjuk ajaib lainnya. Namun, setiap kali ia bangun setelah sholat istikharah, rasa sesak dan penolakan di dadanya perlahan menguap. Yang tertinggal hanyalah rasa pasrah yang ringan. Keyakinan bahwa jika ia melangkah, Allah akan menopangnya.

Suara deru mobil berhenti di halaman depan. Jantung Hannah melompat satu ketukan.

Mereka datang.

"Hannah, ayo keluar, Nduk," panggil Umi dari balik pintu. Suara Umi terdengar lembut, namun menyiratkan harapan yang besar.

Hannah menarik napas panjang. "Bismillah," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin.

Ia melangkah keluar kamar membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh, persis seperti yang diajarkan Umi. Di ruang tamu, formasi itu kembali terulang. Abah, Umi, Pak Hasyim, Bu Nyai, dan tentu saja... Muhammad Akbar.

Laki-laki itu mengenakan kemeja koko putih bersih dipadu celana kain hitam. Ia tampak lebih segar hari ini. Saat Hannah meletakkan cangkir di meja, ia bisa merasakan tatapan sekilas Akbar. Bukan tatapan menilai, melainkan tatapan yang seolah bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?"

Hannah duduk di samping Umi, menundukkan pandangannya.

"Alhamdulillah, kita bisa berkumpul lagi di hari yang baik ini," Pak Hasyim membuka pembicaraan setelah basa-basi singkat. Suaranya berwibawa namun ramah. "Sesuai janji kami tiga hari lalu, kedatangan kami kali ini untuk menagih janji. Bagaimana hasil istikharah Nak Hannah? Apakah pintu hati Nak Hannah sudah terbuka untuk putra kami, Akbar?"

Hening menyergap. Semua mata kini tertuju pada Hannah. Umi meremas pelan tangan Hannah, menyalurkan kekuatan.

Hannah mengangkat wajahnya perlahan. Ia tidak menatap Pak Hasyim, melainkan memberanikan diri menatap Akbar sekilas, lalu beralih ke Abah-nya sendiri.

"Bapak, Ibu, Mas Akbar..." suara Hannah terdengar lirih namun jelas. Tidak ada getar ketakutan seperti pertemuan pertama.

"Hannah sudah memikirkannya matang-matang. Hannah juga sudah meminta petunjuk sama Allah," lanjutnya. Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Jujur, Hannah masih merasa takut. Hannah merasa masih sangat muda, ilmu Hannah masih dangkal, dan Hannah punya banyak mimpi yang belum terwujud."

Hannah memberanikan diri menatap Akbar. Kali ini tatapan mereka bertemu lebih lama.

"Hannah ingin kuliah. Hannah ingin berkarya. Hannah tidak ingin pernikahan ini memangkas sayap Hannah," ucapnya jujur, menyuarakan syarat mutlaknya.

Sebelum orang tua mereka sempat menyela, Akbar menegakkan duduknya. Ia membalas tatapan Hannah dengan sorot mata yang sungguh-sungguh.

"Dek Hannah," suara baritone Akbar terdengar meneduhkan. "Seperti yang saya sampaikan ke Abah. Saya datang tidak untuk mematikan mimpimu. Demi Allah, saya justru ingin menjadi orang pertama yang bertepuk tangan saat kamu meraih gelarmu nanti. Mimpimu adalah tanggung jawab saya juga."

Kata-kata itu menghujam tepat ke jantung Hannah. Sederhana, tapi telak. Keraguan terakhir yang tersisa di sudut hati Hannah runtuh seketika.

Hannah menoleh ke arah Abah yang mengangguk mantap sambil tersenyum. Ia kembali menatap Umi yang matanya sudah berkaca-kaca.

Hannah menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan bersamaan dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.

"Kalau begitu..." Hannah menunduk malu, pipinya merona merah. "Dengan memohon ridho Allah dan restu Abah Umi... Bismillah, Hannah menerima lamaran Mas Akbar."

"Alhamdulillah!"

Seruan syukur menggema di ruang tamu itu. Umi langsung memeluk Hannah erat, air mata bahagia tumpah membasahi jilbab putrinya. Bu Nyai—ibu Akbar—juga tak kalah haru, ia mengusap sudut matanya dengan tisu.

Abah dan Pak Hasyim bersalaman erat, tertawa lega seolah beban berat baru saja diangkat dari pundak mereka.

Di tengah keharuan itu, Hannah mencuri pandang ke arah seberang meja. Di sana, Muhammad Akbar sedang menangkupkan kedua tangannya ke wajah, mengucap syukur. Saat ia menurunkan tangannya, ia menatap Hannah.

Kali ini, ada senyum lebar yang terbit di wajah kaku itu. Senyum yang membuat mata Akbar menyipit. Senyum tulus seorang pria yang baru saja mendapatkan kepercayaan terbesar dalam hidupnya.

"Terima kasih, Hannah," ucap Akbar tanpa suara, hanya gerak bibir yang bisa dibaca oleh Hannah.

Hannah mengangguk kecil. Jantungnya berdebar kencang, tapi kali ini bukan karena takut. Melainkan karena ia tahu, perjalanan barunya akan segera dimulai. Bersama pria asing yang kini terasa sedikit lebih akrab di hatinya.

Sore itu, di bawah langit desa yang mulai temaram, dua keluarga bersatu. Tanggal pernikahan pun segera ditentukan. Sebulan lagi.

Waktu yang singkat untuk mengubah status seorang gadis remaja menjadi seorang istri. Namun bagi Hannah, ia merasa satu bulan adalah waktu yang cukup untuk menata hati, menyambut imam yang telah Allah pilihkan lewat jalan yang tak terduga.

Mohon klik suka & Subscribe 🙏❤

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!