NovelToon NovelToon
The Antagonist From Paris

The Antagonist From Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Dark Romance / Bad girl / Antagonis
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vanilla Ice Creamm

Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK

Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.

​Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.

​Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.

​Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.

Jika melanggar, MATI.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Merampok Lagi

Di kamar sebelah, Bianca berdiri kaku sembari merapatkan jubah sutranya.

"Bagaimana ini, Lora? Aku menuruti saranmu, tapi dia ingin mengurungku di Milan sebagai simpanannya. Memang melegakan karena bukan ajakan menikah, tapi aku ingin tetap bebas berkeliling dunia."

Dari pantulan cermin besar di dinding, Lora muncul dengan senyum sinis. "Jangan bodoh, Bianca. ambil asetnya, tapi jangan berikan jiwamu. Biarkan dia merasa memiliki ragamu saat kalian bersama, sementara hartanya akan menjadi bahan bakar untuk terbang ke mana pun kau mau. Dia bukan penjara, dia adalah bank pribadimu. Mainkan peranmu dengan cantik."

"Sekarang, kembalilah ke ranjang sebelum sihirku memudar dan dia terbangun."

...****************...

Pagi harinya, Bianca dan Simon menikmati kolam renang pribadi mereka tanpa sehelai benang pun. Kudapan khas Italia dan espresso hangat tersaji rapi di meja tepi kolam.

"Bagaimana jika pelayanmu mengintip kita?" bisik Bianca sembari mengalungkan lengan di leher Simon. Ia harus mendongak untuk menatap mata pria.

Simon membalas dengan senyum dan semakin menarik pinggang Bianca merapat "Tak akan ada yang berani masuk ke area ini tanpa izin dariku, cara mia. Lagipula, jika mereka mengintip, mereka hanya akan iri melihat betapa indahnya miliku yang satu ini."

"Aku sudah tidak sabar mencicipi ranjang di Milan bersamamu, Simon. Bicara soal butik-butik mewah di sekitar apartemen itu, kau tidak mungkin membiarkan gadismu ini berkeliling dengan tangan kosong, kan?"

Simon terkekeh, suara beratnya bergetar di tengah uap air kolam yang hangat. Ia menarik Bianca lebih dekat hingga dada mereka bersentuhan.

"Tentu saja tidak, Sayang. Kartu kredit tanpa batas sudah disiapkan atas namamu. Kau bisa mengosongkan rak-rak di Via Montenapoleone jika itu yang kau mau. Aku ingin kau tampil paling memukau saat mendampingiku di jamuan makan malam nanti. Anggap saja itu biaya awal untuk kesenangan yang akan kuterima darimu setiap malam."

Siang itu, Bianca dan Simon tiba di pusat perbelanjaan paling eksklusif di Milan. Simon menyewa seluruh lantai di sebuah butik mewah demi privasi Bianca.

"Pilih apa pun yang kau suka, cara mia," ucap Simon, duduk santai di sofa beludru sembari menyesap champagne. "Aku ingin kau menjadi yang tercantik di setiap acara yang kita hadiri."

Bianca tersenyum manis, namun matanya berbinar licik. Ia mencoba berbagai gaun, dari sutra hingga renda, seolah setiap helainya adalah baju perang untuk menaklukkan dunia. Di ruang ganti, Bianca keluar dengan gaun transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan provokatif.

"Bagaimana menurutmu, Simon?" tanyanya, berputar manja.

"Sempurna, cara mia." Mereka tak hanya ke butik, namun juga toko perhiasaan.

Di cermin besar, bayangan Lora muncul dengan senyum penuh arti, mengamati setiap gerakan Bianca.

Setibanya di vila, Bianca dan Simon meletakkan deretan tas belanjaan mewah di atas sofa.

"Terima kasih, Sayang. Kau benar-benar tahu apa yang diinginkan wanita sepertiku," ucap Bianca manja.

Simon langsung menarik pinggang Bianca menuju kamar utama. "Katamu kau ingin mencoba ranjang ini bersamaku? Kau serius tidak lelah? Kalau aku, selalu siap kapan pun kau mau," bisik Simon sembari memeluk Bianca dari belakang, matanya tak lepas mengagumi kalung berlian yang menjuntai indah di atas dadanya yang padat berisi.

Bianca memutar tubuhnya di dalam dekapan Simon, menyapukan jemarinya di rahang tegas pria itu dengan tatapan menantang.

"Lelah? Justru belanjaan tadi adalah pemanasan untuku. Lagipula, kalung ini terasa sedikit berat di leherku... kurasa aku butuh bantuanmu untuk melepaskannya, beserta seluruh pakaian ini, sebelum kau membuktikan apakah ucapanmu tentang 'selalu siap' itu bukan sekadar bualan."

Simon tak membuang waktu lagi. Dengan satu gerakan fluid, ia mengangkat tubuh Bianca dan membawanya ke ranjang king-size. Gaun tipis itu melayang ke lantai, menyisakan tubuh telanjang Bianca yang memerah di bawah tatapan lapar Simon.

"Kau menantangku, Sayang," Simon berbisik serak, mencium leher Bianca dengan gila. "Akan kubuat kau memohon ampun malam ini."

"Tunjukkan padaku, Daddy. Aku ingin tahu seberapa kuat cengkeramanmu," balas Bianca, melingkarkan kakinya di pinggang Simon, menariknya lebih dalam ke dalam dirinya.

Desahan dan erangan memenuhi kamar mewah itu. Setiap sentuhan, setiap dorongan, adalah ledakan gairah yang tak tertahankan. Simon menghantam Bianca dengan ritme yang semakin cepat, tak memberi ampun.

"Kau milikku, Bianca! Milikku!" geram Simon, menanamkan setiap inci tubuhnya.

"Ya, Daddy... aku... aku milikmu!" Bianca menjerit, tubuhnya melengkung, mencapai puncak kenikmatan yang memabukkan.

Malam itu, ranjang baru di apartemen Milan menjadi saksi bisu badai gairah yang tiada henti, di mana dua jiwa yang saling menguasai menemukan kebebasan dalam ikatan posesif yang membakar.

Setelah kelelahan karena pergumulan hebat yang menguras tenaga, Simon akhirnya jatuh terlelap dalam tidur yang sangat dalam di bawah pengaruh sihir halus Lora. Bianca, dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur, bangkit perlahan dan melangkah menuju cermin besar di sudut kamar sembari menyampirkan kimononya yang tersingkap.

Bayangan Lora muncul, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih dingin dan tajam.

"Kau sangat menikmatinya, bukan? Tubuhnya, uangnya, kekuasaannya," sindir Lora sembari mengamati Bianca dari balik kaca. "Tapi ingat, jangan biarkan keringatnya menghapus rencanaku dari kepalamu. Pria seperti dia adalah predator; dia memberimu segalanya agar kau merasa tak berdaya tanpa dirinya."

Lora mendekat hingga wajahnya seolah bersentuhan dengan permukaan kaca. "Biarkan dia terus merasa seperti raja di ranjang ini. Tapi saat fajar tiba, pastikan kau yang memegang kendali atas dompetnya. Besok, minta dia menunjukkan brankas atau aset propertinya yang lain. Jangan cuma puas dengan gaun dan perhiasan, Bianca. Aku ingin kau memiliki pondasi yang kuat di Italia sebelum kita kembali ke Paris."

Bianca mengusap lehernya yang memerah akibat bekas ciuman Simon. "Aku tahu, Lora. Aku tidak akan membiarkan kesenangan ini membutakanku."

"Bagus," bisik Lora sinis. "Karena jika kau lengah sedikit saja, 'sangkar emas' ini akan benar-benar terkunci, dan kau hanya akan jadi pajangan cantik yang bisa dia ganti kapan saja."

...****************...

Pagi itu, sinar matahari Milan masuk melalui jendela besar, menyinari meja makan yang penuh dengan hidangan mewah. Simon menyesap kopinya dengan santai, tampak sangat puas setelah malam yang panjang.

​Bianca, yang hanya mengenakan kemeja putih milik Simon yang kebesaran—menampilkan kesan seksi dan rapuh sekaligus—duduk di pangkuan Simon sambil memainkan kerah bajunya.

​"Simon," bisik Bianca, suaranya manja. "Aku memikirkan ucapanmu semalam tentang 'kepemilikan mutlak'. Aku menyukainya, tapi aku ingin merasa benar-benar menjadi bagian dari duniamu, bukan sekadar tamu yang singgah."

​Simon mengelus paha Bianca, pandangannya terkunci pada wajahnya. "Apa maksudmu, cara mia?"

1
Sinchan Gabut
aih... Lora nih, org tiap hari ha he ho apa g modyar y itu badannya. buset... dah 🤣
Pengabdi Uji
Ehehehe santapan baru aja🤭 blm mulai ya bianca
Pengabdi Uji
Yaah kan ada yg bentuknya begitu, ada yang begini kan. Yaa pokonya apasi namanya jangan terlalu diituin 🤭
Yolanda
kelakuanmu aja spt itu bianca?
gmn laki mau menghargai
Vanilla Ice Creamm: 🙈🙈🙈🙈🙈
total 1 replies
Sinchan Gabut
rencana Lora mateng bener 😆
Vanilla Ice Creamm: mateng puun ya kak,, bianca gk sbr ngu 2 tahun.. sm2 diputusin soalnya
total 1 replies
tami
loh, aku bacanya dah sampai chapter ini 🤣 ga kerasa wkwkwk coba pergi ke prindavan sesuai saran komen di atas kak 🤣🙏🏻
Vanilla Ice Creamm: hahaha ya ampun kak,,
total 1 replies
tami
tiba2 banget emaknya dateng dan nyuruh nikah? 😳
Laila Sarifah
Nah lho emaknya Hernan suruh Bianca menikah dengan Hernan. Padahal Bianca masih mau cari mangsa lain dulu🤭
Vanilla Ice Creamm: ngg bs kak, dtg nya mlh dikehidupan kedua.. saat bianca tlh ada kesepakatan gelap
total 1 replies
Laila Sarifah
Lah Hernan belum moveon ternyata. Aurelie juga malah milih aki-aki😫
Aruna02
lo suka juga sama tukang Bianca 🤣🤣 kebangetan
Aruna02
semakin 3d4n si lora 🤣
Vanilla Ice Creamm: dia kan iblis kak
total 1 replies
Pengabdi Uji
Lora ini apa iya dlu nya manusia jg
Vanilla Ice Creamm: manusia kak.. nti di jlskkan dia itu bls dendam
total 1 replies
Pengabdi Uji
Hehehe ayo mulai perburuannya sampai duit lu banyak Bianca
tami
wah, lora ini emang picik yaa 😳 bener2 the real antagonist
tami
loh? kuat juga imannya si elias ini yaaa bisa2nya tidak terjerat dengan bianca
Sinchan Gabut
intinya g boleh ada rasa "kasih & sayang".

Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?
Sinchan Gabut
waduh, bacanya d waktu yang g tepat. lagi makan 😭
Vanilla Ice Creamm: smoga gk mual ya kak. maaf.
total 1 replies
Alessandro
hufttt... serah lu aja lah🔪
Alessandro
what sih, Bianca... omegot
Laila Sarifah
Kuat bgt imannya Elias😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!