Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Merampok Lagi
Di kamar sebelah, Bianca berdiri kaku sembari merapatkan jubah sutranya.
"Bagaimana ini, Lora? Aku menuruti saranmu, tapi dia ingin mengurungku di Milan sebagai simpanannya. Memang melegakan karena bukan ajakan menikah, tapi aku ingin tetap bebas berkeliling dunia."
Dari pantulan cermin besar di dinding, Lora muncul dengan senyum sinis. "Jangan bodoh, Bianca. ambil asetnya, tapi jangan berikan jiwamu. Biarkan dia merasa memiliki ragamu saat kalian bersama, sementara hartanya akan menjadi bahan bakar untuk terbang ke mana pun kau mau. Dia bukan penjara, dia adalah bank pribadimu. Mainkan peranmu dengan cantik."
"Sekarang, kembalilah ke ranjang sebelum sihirku memudar dan dia terbangun."
...****************...
Pagi harinya, Bianca dan Simon menikmati kolam renang pribadi mereka tanpa sehelai benang pun. Kudapan khas Italia dan espresso hangat tersaji rapi di meja tepi kolam.
"Bagaimana jika pelayanmu mengintip kita?" bisik Bianca sembari mengalungkan lengan di leher Simon. Ia harus mendongak untuk menatap mata pria.
Simon membalas dengan senyum dan semakin menarik pinggang Bianca merapat "Tak akan ada yang berani masuk ke area ini tanpa izin dariku, cara mia. Lagipula, jika mereka mengintip, mereka hanya akan iri melihat betapa indahnya miliku yang satu ini."
"Aku sudah tidak sabar mencicipi ranjang di Milan bersamamu, Simon. Bicara soal butik-butik mewah di sekitar apartemen itu, kau tidak mungkin membiarkan gadismu ini berkeliling dengan tangan kosong, kan?"
Simon terkekeh, suara beratnya bergetar di tengah uap air kolam yang hangat. Ia menarik Bianca lebih dekat hingga dada mereka bersentuhan.
"Tentu saja tidak, Sayang. Kartu kredit tanpa batas sudah disiapkan atas namamu. Kau bisa mengosongkan rak-rak di Via Montenapoleone jika itu yang kau mau. Aku ingin kau tampil paling memukau saat mendampingiku di jamuan makan malam nanti. Anggap saja itu biaya awal untuk kesenangan yang akan kuterima darimu setiap malam."
Siang itu, Bianca dan Simon tiba di pusat perbelanjaan paling eksklusif di Milan. Simon menyewa seluruh lantai di sebuah butik mewah demi privasi Bianca.
"Pilih apa pun yang kau suka, cara mia," ucap Simon, duduk santai di sofa beludru sembari menyesap champagne. "Aku ingin kau menjadi yang tercantik di setiap acara yang kita hadiri."
Bianca tersenyum manis, namun matanya berbinar licik. Ia mencoba berbagai gaun, dari sutra hingga renda, seolah setiap helainya adalah baju perang untuk menaklukkan dunia. Di ruang ganti, Bianca keluar dengan gaun transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan provokatif.
"Bagaimana menurutmu, Simon?" tanyanya, berputar manja.
"Sempurna, cara mia." Mereka tak hanya ke butik, namun juga toko perhiasaan.
Di cermin besar, bayangan Lora muncul dengan senyum penuh arti, mengamati setiap gerakan Bianca.
Setibanya di vila, Bianca dan Simon meletakkan deretan tas belanjaan mewah di atas sofa.
"Terima kasih, Sayang. Kau benar-benar tahu apa yang diinginkan wanita sepertiku," ucap Bianca manja.
Simon langsung menarik pinggang Bianca menuju kamar utama. "Katamu kau ingin mencoba ranjang ini bersamaku? Kau serius tidak lelah? Kalau aku, selalu siap kapan pun kau mau," bisik Simon sembari memeluk Bianca dari belakang, matanya tak lepas mengagumi kalung berlian yang menjuntai indah di atas dadanya yang padat berisi.
Bianca memutar tubuhnya di dalam dekapan Simon, menyapukan jemarinya di rahang tegas pria itu dengan tatapan menantang.
"Lelah? Justru belanjaan tadi adalah pemanasan untuku. Lagipula, kalung ini terasa sedikit berat di leherku... kurasa aku butuh bantuanmu untuk melepaskannya, beserta seluruh pakaian ini, sebelum kau membuktikan apakah ucapanmu tentang 'selalu siap' itu bukan sekadar bualan."
Simon tak membuang waktu lagi. Dengan satu gerakan fluid, ia mengangkat tubuh Bianca dan membawanya ke ranjang king-size. Gaun tipis itu melayang ke lantai, menyisakan tubuh telanjang Bianca yang memerah di bawah tatapan lapar Simon.
"Kau menantangku, Sayang," Simon berbisik serak, mencium leher Bianca dengan gila. "Akan kubuat kau memohon ampun malam ini."
"Tunjukkan padaku, Daddy. Aku ingin tahu seberapa kuat cengkeramanmu," balas Bianca, melingkarkan kakinya di pinggang Simon, menariknya lebih dalam ke dalam dirinya.
Desahan dan erangan memenuhi kamar mewah itu. Setiap sentuhan, setiap dorongan, adalah ledakan gairah yang tak tertahankan. Simon menghantam Bianca dengan ritme yang semakin cepat, tak memberi ampun.
"Kau milikku, Bianca! Milikku!" geram Simon, menanamkan setiap inci tubuhnya.
"Ya, Daddy... aku... aku milikmu!" Bianca menjerit, tubuhnya melengkung, mencapai puncak kenikmatan yang memabukkan.
Malam itu, ranjang baru di apartemen Milan menjadi saksi bisu badai gairah yang tiada henti, di mana dua jiwa yang saling menguasai menemukan kebebasan dalam ikatan posesif yang membakar.
Setelah kelelahan karena pergumulan hebat yang menguras tenaga, Simon akhirnya jatuh terlelap dalam tidur yang sangat dalam di bawah pengaruh sihir halus Lora. Bianca, dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur, bangkit perlahan dan melangkah menuju cermin besar di sudut kamar sembari menyampirkan kimononya yang tersingkap.
Bayangan Lora muncul, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih dingin dan tajam.
"Kau sangat menikmatinya, bukan? Tubuhnya, uangnya, kekuasaannya," sindir Lora sembari mengamati Bianca dari balik kaca. "Tapi ingat, jangan biarkan keringatnya menghapus rencanaku dari kepalamu. Pria seperti dia adalah predator; dia memberimu segalanya agar kau merasa tak berdaya tanpa dirinya."
Lora mendekat hingga wajahnya seolah bersentuhan dengan permukaan kaca. "Biarkan dia terus merasa seperti raja di ranjang ini. Tapi saat fajar tiba, pastikan kau yang memegang kendali atas dompetnya. Besok, minta dia menunjukkan brankas atau aset propertinya yang lain. Jangan cuma puas dengan gaun dan perhiasan, Bianca. Aku ingin kau memiliki pondasi yang kuat di Italia sebelum kita kembali ke Paris."
Bianca mengusap lehernya yang memerah akibat bekas ciuman Simon. "Aku tahu, Lora. Aku tidak akan membiarkan kesenangan ini membutakanku."
"Bagus," bisik Lora sinis. "Karena jika kau lengah sedikit saja, 'sangkar emas' ini akan benar-benar terkunci, dan kau hanya akan jadi pajangan cantik yang bisa dia ganti kapan saja."
...****************...
Pagi itu, sinar matahari Milan masuk melalui jendela besar, menyinari meja makan yang penuh dengan hidangan mewah. Simon menyesap kopinya dengan santai, tampak sangat puas setelah malam yang panjang.
Bianca, yang hanya mengenakan kemeja putih milik Simon yang kebesaran—menampilkan kesan seksi dan rapuh sekaligus—duduk di pangkuan Simon sambil memainkan kerah bajunya.
"Simon," bisik Bianca, suaranya manja. "Aku memikirkan ucapanmu semalam tentang 'kepemilikan mutlak'. Aku menyukainya, tapi aku ingin merasa benar-benar menjadi bagian dari duniamu, bukan sekadar tamu yang singgah."
Simon mengelus paha Bianca, pandangannya terkunci pada wajahnya. "Apa maksudmu, cara mia?"
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?