NovelToon NovelToon
Erick-Melina Dosen Dan Mahasiswinya

Erick-Melina Dosen Dan Mahasiswinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Greta Ela

Melina Lamthana tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta ditahun pertamanya kuliah. Ia hanya seorang mahasiswi biasa yang mencoba banyak hal baru dikampus. Mulai mengenali lingkungan kampus yang baru, beradaptasi kepada teman baru dan dosen. Gadis ini berasal dari SMA Chaya jurusan IPA dan Ia memilih jurusan biologi murni sebagai program studi perkuliahannya dikarenakan juga dirinya menyatu dengan alam.

Sosok Melina selalu diperhatikan oleh Erick Frag seorang dosen biologi muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak tersentuh gosip. Mahasiswi berbondong-bondong ingin mendapatkan hati sang dosen termasuk dosen perempuan muda. Namun, dihati Erick hanya terpikat oleh mahasiswi baru itu. Apakah mereka akan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Seminggu sisa liburan sudah habis. Kota kampus kembali ramai. Satu per satu mahasiswa kembali ke kos dan apartemen mereka, membawa cerita liburan, koper berisi pakaian dan makanan, dan rasa ingin kuliah yang belum sepenuhnya pulih.

Melina berdiri di depan lemari pakaiannya, memandangi sebuah koper kecil berwarna abu-abu. Ia menarik napas, lalu membukanya. Di dalamnya, terlipat rapi sebuah dress hitam sederhana, elegan, mahal, dan terlalu dewasa untuk dirinya.

Tangannya sempat ragu sebelum akhirnya melipat dress itu kembali, menyelipkannya ke bagian paling bawah koper, lalu menutupnya rapat.

Ia tidak ingin Bunga tahu.

Dress itu bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol dari sesuatu yang belum berani Melina ceritakan pada siapa pun bahkan pada dirinya sendiri.

Sore itu, pintu apartemen terbuka disertai suara koper diseret.

'Mel!" panggil Bunga ceria.

Melina menoleh dan tersenyum lebar tanpa sadar. Ada rasa lega yang tulus melihat sahabatnya kembali.

"Kamu pulang juga akhirnya," kata Melina sambil memeluk Bunga.

"Capek banget, Mel” jawab Bunga sambil tertawa.

"Eh, aku bawain ini."

Bunga mengeluarkan sekotak cokelat kecil dari tasnya. Cokelat mint.

Mata Melina berbinar. "Kamu masih inget aja."

"Ya iyalah. Kamu tuh aneh, cuma kamu yang suka cokelat rasa mint” canda Bunga.

Mereka tertawa, lalu duduk di tepi ranjang masing-masing, seperti dulu, seperti sebelum semuanya terasa rumit.

Bunga bercerita panjang lebar tentang rumah, tentang sepupu-sepupunya, tentang betapa bosannya liburan terlalu lama. Melina mendengarkan sambil sesekali menyelipkan cerita ringan tentang apartemen yang sepi, tentang kebiasaannya memasak sendiri, tentang serial yang ia tonton.

Ia menghindari topik tertentu dengan sangat hati-hati.

"Kuliah mulai dua hari lagi, ya?" tanya Bunga.

"Iya," jawab Melina. "Semester dua."

"Katanya dosen-dosennya beda, ya?"

Melina mengangguk.

"Bu Luna sudah tetap pindah. Sekarang ada dosen tetap baru."

"Pak Erick masih ngajar?"

Pertanyaan itu datang begitu saja, ringan, tapi membuat Melina refleks menegang.

"Iya," jawabnya cepat, lalu menunduk membuka bungkus cokelat.

"Tapi cuma satu kali seminggu. Mata kuliahnya beda."

"Oh," ujar Bunga.

"Syukurlah. Jujur aja, aku masih agak trauma sama cara ngajarnya."

Melina tersenyum tipis. Dalam hati, ia justru merasa sebaliknya bukan lega, tapi cemas.

"Mel, makanlah coklatnya. Aku udah effort loh belinya." ujarnya

"Iya Bunga." Melina menggigit coklat itu

"Enak." ujarnya

Sembari Melina memakan coklat, Bunga membereskan kopernya. Menyusun pakaiannya dengan rapi.

Dua hari berlalu lebih cepat dari yang ia duga.

Hari pertama semester dua dimulai dengan mata kuliah baru. Ruang kelas berbeda. Susunan bangku berbeda. Dan yang paling terasa perasaan yang berbeda.

Melina duduk di barisan tengah hari itu. Bunga di sampingnya. Mereka membuka buku, membicarakan jadwal, tertawa kecil seperti mahasiswa pada umumnya.

Ketika dosen masuk, bukan Erick Melina merasa napasnya sedikit lebih ringan.

Dosen muda perempuan masuk ke kelas

"Pagi semua. Hari ini kita langsung mulai kuliah saja ya." ujar sang dosen.

Seperti biasa, Melina langsung mencatat point penting begitu juga dengan Bunga.

Ia sadar, perubahan ini seharusnya membuat segalanya lebih mudah.

Namun kenyataannya, justru sebaliknya.

Hari Kamis, jadwal Pak Erick.

Melina datang lebih awal dari biasanya. Ia memilih duduk di tengah, bukan di sisi kiri seperti kebiasaannya dulu. Ia ingin menghindari perhatian sekecil apa pun.

Pintu kelas terbuka. Erick masuk.

Penampilannya sama. Rapi. Tegas. Profesional.

Matanya memperhatikan ruangan, berhenti sesaat di arah Melina, cukup singkat untuk tidak disadari siapa pun selain mereka berdua.

Tidak ada senyum. Tidak ada pengakuan. Hanya kesepakatan tak terucap di sini, mereka hanyalah dosen dan mahasiswa.

"Kita mulai," ujar Erick datar.

"Saya masih menerapkan sistem ngajar saya. Siapa yang tertawa akan saya keluarkan dari kelas." ujar Erick

Seketika semua mahasiswa tegang.

Materi hari itu berat. Banyak konsep baru. Erick menjelaskan dengan sistematis, sesekali menulis di papan tulis. Melina berusaha fokus, tapi setiap kata terasa memiliki lapisan makna yang lebih dalam.

"Duh, apaan sih. Aku masih trauma lho sama Pak Erick, ditambah lagi materi ini berat banget" bisik mahasiswi dibelakang

Bahkan berbisik pun Erick mendengarnya

"Dua perempuan yang dibelakang." tunjuknya

"Ada saya suruh membuka mulut?"

Kedua mahasiswi itu gemetar

"Tidak pak. Maaf" ujar mereka gugup

"Peringatan sekali lagi, kalian keluar." ujar Erick

Mungkin para mahasiswa berpikir bahwa Erick itu dosen tampan yang friendly ternyata kejam, galak, sensitif, buat orang trauma (bagi kebanyakan mahasiswa). Tapi bagi Melina, Erick tak seburuk yang orang bayangkan. Ia hanya tegas di kelas saja supaya orang tak menganggapnya sepele karena Ia sering dianggap tampan.

Saat Erick mengajukan pertanyaan ke kelas, Melina tahu jawabannya. Ia ragu untuk mengangkat tangan. Namun dorongan akademiknya menang.

Ia mengangkat tangan.

"Silakan," kata Erick.

Melina menjawab dengan jelas, tenang, profesional.

"Benar," ujar Erick singkat. "Terima kasih."

Hanya itu.

Namun jantung Melina berdegup lebih cepat dari seharusnya.

"Baik, ada yang ingin bertanya?" ujar Pak Erick

Tidak ada satu pun mahasiswa yang berani bertanya. Siapa juga yang berani dengan dosen sekejam ini.

"Tidak ada? Kalau begitu saya akhiri perkuliahan hari ini. Selamat pagi..."

"Pagi pak." ucap mahasiswa serempak.

Setelah kelas usai, Melina berkemas cepat. Ia ingin langsung keluar. Namun ponselnya bergetar saat ia berdiri.

Pesan masuk.

Erick:

"Kamu baik hari ini. Terima kasih sudah tetap fokus."

Melina menatap layar. Ia tidak langsung membalas.

Beberapa menit kemudian:

"Terima kasih, Pak."

Jawaban singkat. Aman. Berjarak.

Malam itu, Erick tidak menjemputnya. Tidak mengajak makan. Tidak menelepon.

Dan justru keheningan itu terasa lebih aneh.

Di ruang kerjanya, Erick duduk diam menatap layar laptop yang belum menyala. Jadwalnya lebih longgar semester ini. Hanya satu kelas Melina. Seharusnya lebih mudah menjaga jarak.

"Agh Melina, kau membuatku gila." ujar Erick

Namun rasa kehilangan kontrol itu mengganggunya.

Ia sadar, struktur kampus kini berbeda. Ada dosen tetap. Ada pengawasan lebih ketat. Ada risiko yang nyata.

Dan Melina perlahan tidak lagi sepenuhnya berada dalam jangkauannya.

Di apartemen, Melina duduk di tepi ranjang, menatap koper di sudut ruangan. Dress hitam itu tetap tersembunyi. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah menyembunyikan benda itu cukup untuk menyembunyikan perasaan dan keputusan yang menyertainya.

Bunga masuk ke kamar.

"Mel, kamu gak lapar?"

Melina tersenyum kecil. "Lapar. Ayo."

Saat mereka makan bersama, tertawa, dan membicarakan tugas-tugas baru, Melina merasakan sesuatu yang hampir terlupakan rasa normal.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu semester dua bukan tentang awal yang baru.

Ia adalah kelanjutan dari sesuatu yang belum selesai.

Dan profesionalisme, sekuat apa pun dijaga, tidak pernah benar-benar bisa menghapus perasaan yang sudah terlanjur tumbuh.

1
CACASTAR
bagus
Kasychan`●⑅⃝😽
panas ga tuh si erick🤣
ℜ𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔫 𝔖𝔲𝔪𝔪𝔢𝔯
Pada dasarnya. wanita akan benar - benar aman dan di ratukan di tangan pria yang benar - benar tulus mencintainya. Semoga hubunganny Langgeng pak Erick dan melina /Rose//Determined/
ℜ𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔫 𝔖𝔲𝔪𝔪𝔢𝔯
Rupanya milan ni terkenal dimana mana lah...🤭
MARDONI
Melina yang milih nunggu libur semester tuh keliatan dewasa dan kalem… makin bikin aku sayang sama dia.
Greta Ela🦋🌺: Awas nanti Pak Erick ngamuk, kak Doniii🤣
total 1 replies
MARDONI
Baru seminggu tapi rasanya Melina udah nyatu banget sama dunia kampus 🥺 vibes-nya tenang dan nyaman
Noname
sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi 🗿
L̲̅I̲̅L̲̅Y̲̅V̲̅E̲̅Y̲̅
kirain luna maksa wkwkwk 🤣, untunglah sadar diri🤭
Hans_Sejin13
kenapa dengan bunga tulip nya ?
Greta Ela🦋🌺: Kenapa hayo?👀
total 1 replies
chemistrynana
dan Yap,sudah ku duga🤭🤭🤭
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
duh bunga.. Melina kan masii ingin berduaan ama pak dosen👉👈
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
tersadar😌
Greta Ela🦋🌺: Boleh dong🤭
total 3 replies
Alyaaa_Lryyy.
lelah letih lesuu campur mnjdi satuu , huff kuat2 yah klian brduaa , ttp sling menguatkan satu sm lain 🤗
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
ga kebayang klo misal ada yg ketuk pintu 🙈
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤: berharap pas enak enaknya ada yang ketuk pintu 🤣🤣🤣
total 2 replies
d_midah
udah bikin anak orang nangis, malah gak nongol.
kemana bang Erick? lagi nangis di pojokan😭😭
Greta Ela🦋🌺: Tabok aja ka Mida😇
total 1 replies
d_midah
😭😭😭😭😭 tiba-tiba dibuat nangis😭
d_midah
Yaampun bang, kamu jahat🥲
Anak orang kamu bikin nangis🥲
d_midah
Kasian banget babang satu ini, udah gak tahan🥲
nikahin dulu gih pak😇
Greta Ela🦋🌺: Stres dia itu ges. Kalau perlu tabok aja ya
total 1 replies
d_midah
Hayoloh pak Erick, kamu buat anak orang galau 🤭
d_midah
setan datanglah.. setan datanglaaah,😈😈 terus goda pak Erick 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!