Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kesadaran di Balik Akar
Sinar mentari pagi seolah menciptakan pilar-pilar cahaya keemasan yang menerangi partikel debu di dalam rumah pohon. Ruangan itu masih menyisakan aroma kayu cendana yang menenangkan, namun kedamaian itu pecah saat Aruna mengerjapkan matanya. Kesadarannya yang masih berkabut langsung tersentak saat melihat pemandangan di sudut ruangan.
"Eh?"
Asher tidak berada di atas alas tidur yang seharusnya. Ksatria itu terduduk kaku di sebuah kursi kayu tua. Tangannya yang besar masih mencengkeram erat sarung pedang Solis-Aeterna yang disandarkan pada lututnya—sebuah posisi siaga yang menyakitkan untuk dilihat. Kepalanya tertunduk lemas, dan wajah yang biasanya memancarkan wibawa kaku itu kini tampak sepucat kertas, dengan butiran keringat dingin di pelipisnya.
Aruna bangkit, mengabaikan rasa pegal di tubuhnya, dan mendekat dengan langkah sangat pelan. Sebagai seorang Ksatria Agung dengan tingkat kewaspadaan setajam silet akan langsung terbangun dalam kondisi apapun, bahkan oleh suara gesekan kain sekalipun. "....", Asher tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Sosok ksatria yang biasanya selalu waspada itu kini tampak begitu rapuh dalam ketidaksadarannya.
Di tengah demam hebat yang membakar tubuhnya, insting bawah sadar Asher telah mengenali aroma tubuh Aruna—perpaduan lembut antara bunga Lily dan manisnya buah peach yang segar. Baginya, aroma itu bekerja seperti penawar racun. Di dunia yang penuh pengkhianatan dan bau d4rah ini, aroma itu adalah satu-satunya hal yang memberikan sinyal 'zona aman' pada otaknya, sehingga pertahanannya yang biasanya setebal baja runtuh sepenuhnya.
Aruna mengulurkan tangan, menyentuh dahi Asher, dan segera menariknya kembali karena rasa panas yang menyengat. "Kau bodoh atau apa? Kenapa memaksakan diri menjagaku sampai begini?" gumam Aruna lirih. Matanya bergetar menatap luka di lengan Asher yang mulai meradang parah.
'Kalau ini hanya sebuah game, HP-nya harusnya sudah pulih setelah melewati fase istirahat. Kenapa malah membiarkan luka-luka ini memburuk?' Batin Aruna berkecamuk mengingat Asher yang kemarin harus menghadapi serangan bertubi-tubi. Luka itu bermula dari hantaman kapak karat para Orc yang kotor, disusul dengan serangan dari para assasin. Serangan ganda itulah yang membuat kondisi Asher kritis. Aruna menyelimuti Asher dengan sangat hati-hati, lalu memutuskan untuk menyelinap keluar. Ia harus kembali ke reruntuhan di padang rumput untuk mencari si Oyen dan kudanya sebelum Asher bangun.
Aruna melangkah keluar menyusuri jembatan gantung yang menghubungkan pohon-pohon raksasa di tengah Hutan Primordial Aethelgard. Di ujung jembatan, ia melihat sesosok Dwarf perempuan imut dan rambut merah menyala, sedang sibuk memukul-mukul pasak logam jembatan dengan palu besar.
Aruna mendekat, merasakan getaran setiap kali palu itu menghantam pasak. "Anu... permisi? Maaf mengganggu kesibukan kamu sebentar," sapa Aruna pelan sambil sedikit membungkuk.
Verdy berhenti memukul, menyeka keringat di dahinya, lalu menoleh dengan wajah gusar. "Hah? Apa lagi sekarang? Kau tidak lihat aku sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin supaya bisa tidur siang?! Kau gadis berambut perak yang dibawa para Elf itu, kan? Ada apa pagi-pagi begini?"
"Aku butuh bantuan. Bagaimana cara keluar dari pemukiman ini tanpa melewati gerbang utama?" tanya Aruna tanpa basa-basi. "Kucing dan kudaku tertinggal di reruntuhan yang ada di padang rumput dekat perbatasan hutan saat penyerangan kemarin. Aku harus menjemput mereka di sana."
Verdy meletakkan palunya, menatap Aruna dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kembali ke sana sendirian?! Kau punya nyawa cadangan atau memang sudah bosan hidup? Tapi baiklah, aku sedang butuh alasan untuk berhenti memukul besi-besi s!alan ini. Aku akan membawamu ke Pasar Akar. Itu jalan pintas paling cepat ke perbatasan."
Mereka menuruni lift kayu kuno yang berderit menuju bagian paling bawah pemukiman. Di Pasar Akar, suasananya ramai dengan aroma rempah-rempah hutan.
"Kita tidak bisa pergi dengan tangan kosong," gerutu Verdy sambil menarik Aruna ke sebuah kios yang penuh dengan tali tambang dan kantong kulit. "Kawasan padang rumput di luar hutan itu sangat terbuka, berbahaya jika monster yang mengintai. Kau butuh perlengkapan ekstra."
Aruna mengangguk, sibuk memeriksa beberapa tali. "Aku hanya berharap si Oyen masih berada di sekitar reruntuhan. Dia pintar bersembunyi di balik puing, tapi aku takut dia terluka. Kudaku juga pasti masih terikat di sana."
Tepat saat itu, sebuah tawa renyah terdengar dari balik punggung mereka.
"Lho? Kak, lihat! Itu kan manusia berambut perak yang jadi sedang dibicarakan semua orang sejak kemarin?" seru seorang gadis High Elf berambut pirang pucat. Ia melompat mendekat.
"Halo! Namaku Lunaestella Bella, panggil aku Luna saja! Jadi benar ya manusia bisa punya rambut secantik ini? Oh, dan ini kakakku yang membosankan, Aerlisto Valerius. Kami tidak sengaja mendengar percakapan kalian tadi... Sedang mencari kucing dan kuda di reruntuhan yang ada di padang rumput, kan?"
Aerlisto menatap Aruna dengan tatapan menilai yang sedikit nakal. "Adikku memang tidak punya filter, Putri Auristela. Tapi dia benar, kembali ke area terbuka seperti padang rumput itu berbahaya tanpa perlindungan. Kebetulan, kemampuanku melacak jejak alam mungkin bisa membantumu menemukan piaraanmu di tengah rumput tinggi dan puing-puing itu dengan cepat. Anggap saja ini keramahan dari kami."
Tepat saat mereka hendak berangkat menuju gerbang bawah, sebuah teriakan tiba-tiba terdengar menghentikan mereka. "PUTRI!"
Asher berdiri di ujung jalan pasar. Tubuhnya goyah, wajahnya sangat pucat, dan keringat dingin telah membasahi jubah ksatria-nya. Melihat itu, Aruna merasa sesuatu dalam dirinya meledak—campuran antara kemarahan dan ketakutan luar biasa.
"Cukup! Lihat kondisimu! Kau mau m4ti?!" teriak Aruna. Ia menoleh ke arah Verdy dengan mata berkaca-kaca. "Verdy, tolong! Aku ini... aku ini masih seorang Putri dari Kerajaan Vance, kan? Kalau begitu, panggil penjaga sekarang! Bawa dia ke pos medis! Ini... ini perintah mutlak dariku!"
Verdy tersentak melihat otoritas yang mendadak muncul dari gadis itu dan segera memanggil bantuan. Setelah Asher dibawa pergi secara paksa ke pos medis, Aruna melanjutkan perjalanan bersama tim barunya menyusuri kedalaman hutan menuju perbatasan.
Baru saja mereka melangkah cukup jauh dari area patroli desa, suasana hutan berubah mencekam. Kabut putih mulai merayap di antara batang pohon raksasa. Keberuntungan Aruna seolah habis saat ia melangkah keluar dari zona aman.
Tiba-tiba, telinga lancip Aerlisto bergerak-gerak. GRRRRRRRRRRR—!
Dari balik pepohonan gelap yang belum sempat menipis menjadi padang rumput, enam ekor Shadow Wolf raksasa melompat keluar dengan mata merah yang berkilat lapar.
Ding!
[Terdeteksi host dalam bahaya.
Mengaktifkan skill utama Memori Materialization.
Memanggil Item]
puff!
Dalam sekejap mata, sebuah benda logam berwarna hitam legam, bulat, dengan gagang panjang muncul di genggaman Aruna.
"Benda apa itu?!" seru Verdy terperanjat. Sebagai ahli senjata, ia belum pernah melihat senjata dengan bentuk seaneh itu sebelumnya.
TENGGGGGGGGG!!!
Aruna mengayunkan benda yang ia beri nama Black-Void Obliterator itu dengan seluruh kekuatannya. Dentuman logam yang menghantam monster itu begitu keras hingga memicu gema di tengah hutan yang sunyi. Serigala pertama terpelanting jauh hingga menghantam batang pohon.
Setelah pertarungan singkat itu usai, Aruna jatuh berlutut, terengah-engah. Ia menatap telapak tangannya yang memerah dan berdenyut perih akibat getaran benturan tadi. Aroma amis d4rah monster kini bercampur dengan aroma Lily dan peach dari tubuhnya.
'Sekarang aku paham,' pikir Aruna sambil menatap ke depan, di mana pepohonan mulai menipis dan hamparan padang rumput setinggi dada mulai terlihat di kejauhan. 'Ini bukan game yang bisa ku-restart. Rasa sakit, kelelahan, dan rasa takutku akan kondisi Asher... semuanya nyata. Kalau aku m4ti di sini, semuanya benar-benar berakhir.'
Aruna berdiri dengan sisa tenaganya. "Ayo. Kita harus sampai ke reruntuhan di balik padang rumput itu sebelum hari gelap. Aku tidak mau membiarkan si es batu itu menunggu terlalu lama."
Ding!
[terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland : 31 %. (Bonus/catatan) : Target sedang dalam kondisi kritis, namun jiwanya tersentak oleh perintah mutlakmu. Kata-katamu mulai bekerja seperti rantai tak kasat mata yang mengikat harga dirinya sebagai ksatria. ]