NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Keesokan paginya, gedung utama Alverez Group tampak sibuk seperti biasa. Derap langkah para karyawan berlalu-lalang di lobi marmer yang dingin, sebagian berhenti sejenak ketika pintu putar terbuka dan sosok Aurora melangkah masuk.

Wanita itu mengenakan setelan hitam sederhana dengan potongan rapi. Rambutnya disanggul rendah, riasan wajahnya tipis namun tegas. Tidak ada perhiasan mencolok yang di kenakan olehnya, hanya jam tangan klasik di pergelangan kirinya.

Langkahnya tenang, punggungnya tegak, seolah gedung itu masih miliknya dan memang seharusnya begitu.

Beberapa pasang mata menatapnya dengan rasa ingin tahu, sebagian lain menatapnya dengan sinis yang tak disembunyikan.

"Dia benar-benar datang?"

"Apa dia pikir bisa langsung mengambil alih setelah sekian lama menghilang?"

"Auranya berbeda, bukannya dulu dia menolak kursi pewaris?"

Bisik-bisik itu tidak luput dari pendengaran Aurora, namun ekspresinya tetap datar. Dia berjalan lurus menuju ruang rapat utama, diikuti Margaret yang membawa tablet dan beberapa map dokumen di tangannya.

Begitu pintu ruang rapat terbuka, suasana di dalam mendadak berubah. Beberapa pria paruh baya sudah duduk mengelilingi meja panjang berbahan kayu mahoni. Jas mahal melengkapi penampilan mereka, wajah penuh perhitungan.

Di antara mereka ada sosok pamannya, Jeremi Vander yang duduk di salah satu sisi meja, bersandar santai dengan senyum tipis yang nyaris meremehkan.

Aurora melangkah masuk.

Percakapan terhenti sesaat begitu Aurora muncul, lalu berlanjut kembali, seolah kehadirannya tidak lebih dari formalitas yang bisa diabaikan oleh siapa saja.

"Oh," ujar salah satu direktur dengan nada ringan. "Kupikir rapat ini akan dipimpin oleh Pak Jeremi."

Aurora menarik kursi di ujung meja dan duduk tanpa tergesa. Dia meletakkan tasnya dengan rapi, lalu menautkan kedua tangan di atas meja.

"Saya pikir," ucap Aurora tenang, suaranya tidak keras namun cukup untuk membuat ruangan kembali sunyi, "rapat ini tidak akan dimulai sebelum semua orang memahami siapa pemegang saham mayoritas perusahaan ini."

Beberapa kepala menoleh. Jeremi mengangkat alisnya, senyum di bibirnya menipis.

"Saham mayoritas atau tidak," kata Jeremi santai, "perusahaan ini sudah berjalan baik tanpa campur tanganmu selama dua tahun terakhir."

Aurora menoleh perlahan ke arah pamannya. Tatapannya dingin, terukur.

"Benarkah?" Dia menggeser sebuah map ke tengah meja. "Kalau begitu, mungkin Paman bisa menjelaskan mengapa laporan kerugian dalam enam bulan terakhir meningkat empat puluh persen, sementara gaji direksi justru naik pesat."

Ruangan itu mendadak senyap. Semua orang saling bertukar pandang seolah sedang melakukan telepati. Salah satu pria berdehem tidak nyaman, dan kikuk saat melihat tatapan dingin milik Aurora.

Aurora berdiri. Gerakannya anggun, namun auranya menekan seisi ruangan tersebut.

"Saya tidak datang ke sini untuk bernostalgia atau meminta izin apa pun," lanjutnya tegas. "Saya datang untuk mengambil kembali kendali atas perusahaan yang dibangun orang tua saya. Mulai hari ini, setiap keputusan strategis akan melalui saya tanpa terkecuali."

Jeremi terkekeh kecil. "Kau terlalu percaya diri, Aurora. Dewan tidak akan semudah itu—"

Aurora menoleh tajam. "Dewan akan mendengarkan selama mereka masih ingin mempertahankan posisi mereka. Jika tidak, saya tidak melarang siapa pun undur diri dari perusahaan ini."

Dia menatap satu per satu wajah di hadapannya, tanpa emosi berlebih, tanpa amarah yang meledak-ledak. Hanya ketegasan yang dingin dan penuh perhitungan.

"Rapat ini bukan permintaan," tutup Aurora. "Ini pemberitahuan resmi dari saya."

Tak satu pun dari mereka bisa membantah. Dan untuk pertama kalinya sejak Aurora masuk ke ruangan itu, tak ada lagi yang berani meremehkannya hanya dengan kalimat singkat yang mampu mengklaim posisinya di perusahaan itu.

Aurora kembali duduk setelah kata-katanya menggantung berat di udara. Kursi-kursi di sekeliling meja berderit pelan ketika beberapa direktur mengubah posisi duduk mereka, sikap santai yang tadi jelas menguap, berganti kehati-hatian.

Salah satu pria berkacamata, direktur keuangan yang sudah lama menjabat, berdehem sebelum berbicara. "Jika memang Nona Aurora ingin memimpin rapat ini, mungkin sebaiknya kita mulai dari agenda yang jelas."

Aurora mengangguk singkat. "Tentu."

Dia memberi isyarat pada Margaret. Asistennya itu segera melangkah maju, menyalakan layar presentasi di dinding kaca. Grafik-grafik keuangan muncul, disusul daftar transaksi dan nama-nama anak perusahaan.

"Selama dua tahun terakhir," ujar Aurora dengan suara datar, "ada sebelas proyek yang disetujui tanpa melalui rapat pleno dewan. Tujuh di antaranya merugi, tiga tidak pernah berjalan, dan satu masih berjalan dengan laporan keuangan yang tidak transparan."

Jeremi menyilangkan tangan. "Semua itu keputusan darurat."

"Darurat," ulang Aurora pelan, lalu menoleh. "Namun anehnya, semua keputusan darurat itu melibatkan perusahaan yang terafiliasi langsung dengan nama Anda, Paman."

Beberapa orang tersentak halus. Ada yang langsung menunduk, ada pula yang pura-pura sibuk dengan catatan mereka.

Aurora melangkah mendekati layar. "Saya tidak menuduh siapa pun hari ini. Saya hanya menyampaikan fakta. Dan fakta ini cukup bagi saya untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh."

"Apa maksud Anda?" tanya salah satu direktur.

"Mulai hari ini," kata Aurora tegas, "seluruh proyek yang disetujui dalam dua tahun terakhir akan diaudit ulang. Tim audit independen sudah saya hubungi, dan tidak ada yang boleh membantah keputusan saya."

Jeremi tertawa pendek, namun kali ini terdengar kaku. "Kau melangkahi wewenang dewan, Aurora."

Aurora menoleh kembali, sorot matanya tajam namun wajahnya tetap tenang. "Saya menjalankan hak saya sebagai pemegang saham mayoritas dan ahli waris sah pendiri Alverez Group. Apa tindakan saya ini salah?"

Dia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.

"Dan satu hal lagi," lanjutnya. "Selama proses audit berlangsung, saya akan mengambil alih posisi CEO sementara dari Paman saya.

Ruangan itu kembali membeku, Aurora benar-benar tidak memberikan mereka semua untuk bernapas.

"Itu tidak mungkin!" seru seorang direktur lain.

Aurora mengeluarkan satu map tipis dan meletakkannya di atas meja. "Ini surat kuasa yang ditandatangani ayah saya sebelum beliau meninggal. Berlaku jika terjadi kondisi darurat yang mengancam stabilitas perusahaan. Pernyataan saya barusan sudah cukup jelas, tidak ada alasan keberatan yang harus saya dengar dari kalian."

Dia mendorong map itu ke tengah meja. "Silakan dibaca baik-baik jika Anda penasaran."

Tidak ada yang langsung menyentuhnya. Bahkan Jeremi terdiam, rahangnya mengeras.

Aurora menarik napas pelan, lalu menutup pembicaraan. "Saya memberi waktu satu minggu. Setelah itu, siapa pun yang terbukti bermain di belakang perusahaan ini, akan saya singkirkan tanpa kompromi dan uang pesangon."

Dia kembali ke kursinya, menyilangkan kaki dengan anggun. "Rapat selesai."

Tak ada yang berani menyela. Dan saat Aurora berdiri dan melangkah keluar ruangan, satu hal menjadi jelas bagi semua orang di sana perusahaan itu tak lagi berada di tangan orang-orang yang bisa mempermainkannya.

"Sialan!" Gumam Jeremi mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!