Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Orientasi Menantu
Siang itu, awan tipis melintas pelan di langit kebiruan. Cahaya matahari jatuh di sela pepohonan sekitar rumah.
Tamara sibuk mondar mandir dengan ponsel yang masih menempel pada telinga. Sesekali suaranya terdengar memberi arahan tegas melalui sambungan telepon.
"Ya kamu perbaiki dong, Jen... " katanya, pada sekretarisnya.
Langkahnya terhenti, satu tangan di pinggang. "Sesuaikan saja sama draft yang ada. Selesaikan sebelum saya masuk kantor, paham?"
Pandangannya terlempar keluar jendela. Dari balik kaca besar lantai dua rumah itu, pepohonan sekitar sesekali terlihat bergoyang pelan diterpa angin.
Suara Arvin tiba-tiba terdengar dari arah belakang. "Tamara... " panggilnya, seperti biasa, lembut dan menenangkan.
Tamara berbalik. "Ya?" sahutnya. Jarinya segera menekan tombol end call pada layar ponsel.
Arvin menambah beberapa langkah untuk bicara lebih dekat. "Keluargaku sudah datang, mereka menunggu di bawah," katanya.
Tamara mengangguk paham, lalu berucap, "Maaf ya, tadi aku ada urusan kerjaan sebentar." Lalu menyimpan kembali ponselnya.
Keduanya langsung berjalan menuju lantai bawah. Tamara sempat diberitahu hari ini akan ada kunjungan dari sanak saudara orang tua Arvin, yang ingin berkenalan lebih dekat dengannya.
Baru selesai menuruni anak tangga, langkah Tamara melambat. Matanya membesar spontan melihat ruang keluarga rumah mertuanya, sudah seperti forum diskusi dadakan.
Sofa-sofa panjang dipenuhi oleh orang-orang berpakaian rapi, wajah tegas, beberapa memakai kacamata—khas manusia yang memiliki aura intelektual tak terbantahkan.
Aroma hidangan ringan dan teh hangat menguar di udara, beradu dengan suara obrolan samar yang memenuhi seisi ruangan.
Beberapa orang terlihat saling melempar suara. Sebagian mendengarkan, ada yang mengangguk serius seolah sedang menyimak presentasi. Sesekali, obrolan itu pecah oleh tawa rendah.
Tamara berdiri agak ke belakang, tangannya menyentuh lengan Arvin, cukup untuk membuat laki-laki itu menghentikan langkah.
Ia mendekat, lalu berbisik, "Kamu serius nggak ngundang audiens kamu ke rumah ini, kan?"
Arvin terpaku sepersekian detik, lalu menahan tawa yang hampir lolos. "Aku lagi nggak seminar, Tamara... " jawabnya pelan, sambil sedikit menunduk ke arah istrinya.
Ia menjelaskan, "Itu keluargaku semua. Kebetulan, hampir semuanya dari kalangan akademisi."
Tamara menelan ludah, sambil menyimpan informasi itu dalam kepala. Pandangannya menyapu ke arah wajah para tante dan pamannya Arvin, yang hampir semuanya memiliki aura wibawa kuat.
"Profesor semua?" tanyanya, polos.
Arvin menggeleng. "Sebagian dosen senior."
Tamara mengangguk singkat, tapi bahunya bergidik ringan. "Muka-mukanya udah kayak mau nyidang orang ya... Mana aura ngebantainya kuat banget," gumamnya.
Arvin akhirnya tertawa pelan—tawa yang bahkan baru pertama kali Tamara lihat. "Bukan mau nyidang, tapi lebih ke... mau mengorientasi kamu kayaknya."
Tamara terperangah, namun sebelum memberi respon lebih lanjut, suara Elva terdengar memotong. "Nah! Itu dia pengantin baru kita."
Keduanya kompak menoleh. Suara obrolan yang tadi ramai sudah lebih teredam, tapi tatapan semua orang menyerbu mereka.
"Ngapain berduaan disitu? Ayo sini gabung!" kata Diah—tante tertua Arvin, dengan suara khas dosen senior yang menegur mahasiswanya kalau telat masuk kelas.
Arvin menoleh ke arah Tamara, dengan tatapan yang menguatkan sekaligus ingin melindungi.
Ia meraih tangan Tamara, menggenggam lembut. "Nggak usah takut, kamu itu CEO. Bukan kah bicara dengan banyak orang, sudah jadi keahlian kamu?"
Tamara tak langsung menjawab, otaknya sempat blank karena sentuhan tangan Arvin, sebelum akhirnya berkelit, "Siapa yang takut?" Tapi pikirannya sudah berhamburan kemana-mana.
Arvin tersenyum tipis, setengah meledek. "Tangan kamu dingin," bisiknya.
Tamara hanya membeku, lalu mengikut saja ketika Arvin menarik ringan tangannya, untuk menghampiri keluarga mereka.
Ia membuntut di belakang Arvin, seperti anak kecil yang takut melihat orang baru. Ia pun merasa aneh, tapi itulah yang terjadi.
Bahkan tanpa sadar, tangannya menggenggam tangan Arvin lebih erat, seakan mencari pegangan paling kokoh.
Mereka langsung menyalimi satu per satu para tante dan paman Arvin, serta menyapa beberapa orang sepupu dan keponakan.
Hingga keduanya diarahkan duduk di tengah-tengah sofa—posisi yang jelas jebakan batman.
Arvin duduk santai seolah itu memang tempatnya, wajahnya tetap tenang seperti biasa.
Tamara duduk di samping Arvin, senyumnya sopan, tapi otot wajahnya tegang seperti mahasiswa yang mau sidang skripsi.
Situasi ini, membuatnya merasa seperti alien dari dunia korporat yang tersesat di dunia akademisi.
Masalahnya, ini bukan panggungnya sebagai pemimpin perusahaan. Ini adalah zona dimana dirinya dipandang sebagai seorang wanita, yang baru menyandang status sebagai istri.
Pikirannya sudah sibuk mengukur keberanian untuk menghadapi mereka. Namun, ketika melihat perubahan garis senyum di wajah orang-orang itu, Tamara mulai waspada.
Benar saja.
Belum lama mereka duduk, beberapa celotehan dan pertanyaan sudah melayang heboh seperti ujian tak terjadwal.
Reni—adik kedua papanya Arvin dengan aura dosen flamboyan, menepuk ringan tangan Tamara.
"Tante tuh, dari acara nikahan kemaren udah penasaran banget pengen ngobrol lebih dekat sama kamu," katanya antusias.
Di sampingnya, Elma—adik bungsu mamanya Arvin yang berwajah kalem di balik kacamata tebal, ikut nimbrung dengan suara lemah lembut.
"Tante juga penasaran, katanya istrinya Arvin ini pemilik sekaligus CEO Lunara ya?"
"Brand perawatan kecantikan besar itu, kan?" suara seorang sepupu perempuan menyambar dari ujung sofa.
Tamara mengangguk sopan, namun terburu kaget, karena suara lain menyusul.
"Kak Tamara! Aku pengguna setia produk-produk Lunara loh, aku paling suka sama night serumnya. Bikin glowing gitu."
Lalu dari arah pojok salah satu sofa, seorang sepupu laki-laki berkacamata dengan aura kritikus senior, ikut bicara dengan nada profesional.
"Saya suka mengikuti strategi promosi dari tim Lunara. Kalau perlu bahan evaluasi, artikel tentang kritikan saya bisa dilihat di blog pribadi saya ya, Kak."
Tamara lagi-lagi mengangguk. Baru mengambil napas, celotehan lain langsung menyusul. Mulai dari pertanyaan basa basi, sampai yang terdengar absurd baginya.
"Biasanya, kerjaan sebagai CEO sibuk ngapain aja?"
"Kamu kulitnya halus banget, pasti suka perawatan dan nggak pernah kena matahari ya?"
"Kalian tuh kalau punya anak, pasti cakep banget deh. Rencananya mau punya anak berapa?"
Serta sederet pertanyaan random lainnya, yang semuanya ditanyakan dengan nada cepat seperti lomba cerdas cermat.
Arvin saja sampai menggaruk-garuk pelipis. Hal yang paling jarang ia lakukan, kecuali pikirannya sedang buntu.
Sementara itu, di salah satu barisan sofa, Arman beserta paman-paman Arvin hanya terlihat manggut-manggut seperti tim pemantau sukarela.
Tamara lebih banyak diam saat itu, wajahnya sudah seperti kucing yang kedinginan kena siram air tetangga.
Sesekali ia menjawab sekenanya, tetap dalam kesopanan. Otaknya mendadak beku, syok sekaligus bingung dengan kehebohan keluarga Arvin yang diluar dugaannya.
Ia kira, momen ini akan terlihat seperti ruang sidang: tatapan serius, nada bicara terukur, dan sederet pertanyaan terstruktur. Nyatanya... justru lebih heboh dari pasar malam.
Dirinya yang biasa mengatur puluhan karyawan hanya dengan satu lirikan, kini justru nyaris kehabisan energi menghadapi mereka.
Bukan karena takut, tapi karena pembawaan mereka yang ramah dan hangat, membuatnya segan.
"Semuanya, tolong ngomongnya satu-satu, ya." Arvin akhirnya bersuara.
Nada bicaranya tidak meninggi, namun tegas—khas profesor muda karismatik, yang pernah berdiri di panggung forum ilmiah internasional.
Seperti penenang di tengah badai, suaranya membuat semua orang mengatupkan bibir. Kalimat itu sederhana, tapi cukup jadi peringatan tanpa Arvin harus berteriak.
Suasana mendadak lebih terkendali, sebelum Elva melembutkan suara, mencoba menjadi pengendali situasi.
"Tamara, kamu jangan kaget ya, keluarganya Arvin memang seperti ini..."
Di sampingnya, Diah tersenyum lembut. Kemudian turut menimpali, "Kami ini seriusnya kalau lagi ngajar, Tamara. Kalau bareng keluarga, ya begini, rempong... dibawa santai saja ya."
Elva memberi anggukan setuju. "Semuanya antusias ingin berkenalan dengan kamu," tambahnya, senyumnya hangat penuh keibuan.
Pembicaraan mulai lebih teratur, karena Arvin sudah pasang badan. Bahunya tegak, tangan terlipat di dada. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya protektif.
Elva mulai mengenalkan sedikit tentang Tamara, membuat semua orang fokus mendengarkan seperti menerima pemaparan penting.
Di sela itu, Arvin mendekat ke arah Tamara. "Aku akan filter semua pertanyaan yang ditujukan ke kamu," bisiknya.
Tamara menolehnya spontan. "Nggak sekalian jadi juru bicaraku?" katanya dengan nada ringan, garis tegang di wajahnya sudah memudar.
"Kalau diperlukan, aku siap," ujar Arvin, pelan.
"Aku kok curiga ya, habis ini mereka menanyakan hal yang lebih serius?" suara Tamara berbisik di dekatnya. "Jangan-jangan yang tadi cuma basa-basi?"
Arvin menatapnya. "Apapun itu, aku akan bantu."
Tamara hanya tersenyum kecil, sorot matanya sempat membeku ketika mendapati tatapan Arvin belum melepaskannya.
Keduanya bersitatap dalam beberapa detik, membuat momen itu sempat menggantung di antara mereka.
Sampai Tamara tanpa sadar merapikan ujung rambutnya, gerakan sederhana mencoba menenangkan degup jantungnya.
Duh... ini baru hari kedua loh jadi istrinya. Serius, apa aku bisa tahan terus... batinnya.
BERSAMBUNG...
tata pasti tau posisinya 🗿