"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Acara Mendadak
"Pokoknya gue harus datang di lamaran kalian!"
"Iya, masa Lo wajib hadir," ucap Devi setelah mengabarkan bahwa dia dan Agnan bertunangan.
Devi juga menceritakan semua yang terjadi mulai dari kedatangan mereka sampai permintaan lamaran mendadak oleh Agnan. Devi juga tidak bisa menolaknya walau ada beberapa hal yang dia rasa belum siap.
"Bahagia banget gue!" pekik Yaya yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Devi.
Percakapan mereka berhenti sampai di sana karena kedua orang itu fokus dengan pekerjaan yang mendesak dan harus selesai tetapi saat akan makan pergi makan siang, seorang pria malah datang menghampiri mereka membuat Devi dan Yaya sedikit terkejut.
"Pak Herry, ada apa?" tanya Devi sekedar basa-basi karena Herry yang baru saja sampai ke kantor tiba-tiba saja menghampiri mereka.
"Kamu ikut saya! Yaya juga!" tegas Herry lalu melangkah keluar.
Devi dan Yaya saling pandang tidak paham kenapa Herry tiba-tiba mengajak mereka pergi, kira-kira ada masalah apa? Devi rasa selama ini mereka tidak pernah berurusan dengan Herry apalagi mengenai pekerjaan karena Herry biasanya langsung berkoordinasi dengan manager.
"Dev, Lo nyadar enggak sih akhir-akhir ini pak Herry sering memperhatikan kita," bisik Yaya.
Kaki mereka masih melangkah mengikuti Herry, Devi mendengar bisikan Yaya mengangguk setuju karena semenjak keluar dari rumah sakit, Herry sering beberapa kali melihat ke arah meja mereka, bahkan pria itu tidak segan-segan mentraktir makan malam karena Devi dan Yaya lembur. Sedikit aneh.
"Gue juga ngerasa gitu, tatapan manager aja akhir-akhir ini kek mau makan kita aja," balas Devi.
Saat Yaya akan berteriak menyetujui ucapan Devi, tangan wanita itu lebih dahulu menutup mulut Yaya karena mereka telah sampai di dekat mobil Herry dan Devi tidak mau pria itu tau mereka baru saja membicarakannya.
"Kita mau ke mana pak?" tanya Devi dengan sopan tetapi Herry hanya mengatakan untuk ikut saja.
Baik Devi atau Yaya tidak berkomentar apa-apa, kening mereka semakin berkerut saat Herry singgah ke mall dan meminta seseorang untuk mengambil pakaian terbaik untuknya dan Yaya. Tidak sampai di sana, Herry juga membawa mereka ke salon.
"Ini ada apa sih?" bisik Yaya saat mereka telah selesai didandani.
Devi mengangkat bahu tanda tidak tau, kembali mobil melaju meninggalkan mall hingga berhenti di sebuah acara yang Devi sendiri tidak paham kenapa mereka dibawa ke sini.
"Ayo!" ajak Herry.
Devi mengangguk, dia dan Yaya melangkah dengan anggun. Yaya sempat terperangah yang disenggol oleh Devi membuat wanita itu segera memperbaiki ekspresinya, untung saja Devi beberapa kali pernah dibawa Agnan mengunjungi acara seperti ini sehingga dia tidak kikuk atau plonga-plongo, tetapi masih menjadi pertanyaan kenapa Herry membawa mereka ke sini?
Seorang wanita yang tampaknya panitia acara membawa mereka untuk duduk di sebuah kursi yang kosong. Belum sempat sadar dengan apa yang terjadi, beberapa model keluar membuat Devi dan Yaya semakin heran.
Sekarang mereka malah ada di acara catwalk, walau Devi atau Yaya sendiri tidak tau siapa penyelenggaraannya.
"Baru kali ini gue diajak kayak gini," bisik Yaya sambil menatap ke sekeliling, bisa diperkirakan jika yang datang ke sini rata-rata orang kaya yang memiliki banyak uang.
"Udah, ikuti aja!"
Dua orang yang tidak tau apa-apa itu kembali fokus, mereka bertepuk tangan saat orang bertepuk tangan dan ikut berbisik mengomentari beberapa pakaian yang menurut mereka bagus.
Satu jam berlalu begitu saja, Herry membawa dua orang itu untuk pergi ke sebuah aula besar, ada banyak meja di sana. Seperti acara lelang atau acara amal orang kaya, Devi juga tidak tau.
"Pak Herry, saya kira tidak datang." Seseorang datang yang langsung menyalami Herry, pria itu juga membalasnya.
Herry memperkenalkan Yaya dan Devi, saat menyalami Yaya pria tersebut mengenggam tangan Yaya cukup lama membuat Herry segera menarik Yaya untuk berdiri di belakangnya.
Herry kembali berbincang dengan pria tersebut dengan Devi dan Yaya berbisik. Untung saja Herry langsung menyuruh dua orang itu untuk makan lebih dahulu dan meminta seseorang untuk menunjukan kursi mereka.
Devi dan Yaya langsung berpamitan, mereka sangat lega karena bisa pergi menjauh dari mata jelalatan pria tadi, saat asik mengambil makanan, bahu Devi tiba-tiba ditepuk oleh seseorang membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Agnan!"
"Devi, ngapain ke sini?" Agnan menatap Devi dengan sedikit keheranan, wanita itu tidak ada mengabarinya jika akan pergi ke acara ini sedangkan Devi juga terkejut dengan kedatangan Agnan.
"Yaya juga?" balas Agnan, Yaya melambaikan tangan ke arah Agnan sambil tersenyum lebar, wanita itu sudah asik mengambil banyak makanan.
"Diajak pak Herry ke sini," ujar Devi.
Agnan hanya diam, dia membantu Yaya membawa makanan ke arah meja mereka. Saat melangkah ke sana seorang wanita datang menghampiri Agnan.
"Pak Agnan ternyata di sini, ini untuk aku? bapak tidak usah ...."
"Ehem!"
Wanita itu mengalihkan pandangan ke arah Yaya yang berdehem, dia menatap Yaya dari atas sampai bawah yang dibalas oleh Yaya menatapnya juga dari atas sampai bawah.
"Saya Anggun, sekretaris pak Agnan, kalian siapa ya?"
Nada merendahkan yang diucapkan oleh Anggun membuat emosi Yaya seakan naik ke ubun-ubun, Devi sendiri hanya tertawa pelan melihat hal itu. Dia sudah biasa dengan wanita seperti Anggun.
"Anggun!" terus Agnan "Ini Yaya teman saya dan ini ... Devi, tunangan saya."
Yaya tersenyum penuh kemenangan saat Anggun mendengar ucapan Agnan, dia tertawa di hati membuat Devi sedikit menyenggol lengan Yaya karena wanita itu tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya.
"Saya Anggun, ternyata tunangan pak Agnan sangat cantik. Sangat cocok dengan pak ...."
"Devi ... Yaya."
Kedua orang itu mengalihkan pandangan ke arah Herry yang baru saja memanggil nama mereka. Agnan langsung bersalaman dengan Herry.
"Mari duduk dulu," ajak Herry dibalas anggukan oleh Agnan.
Mereka duduk di meja Herry, saat Anggun akan duduk di samping Agnan, Yaya lebih dahulu menarik kursinya dan membiarkan Devi duduk di samping pria itu, Agnan malah langsung menggenggam tangan Devi setelah wanita itu duduk di sampingnya.
Yaya tertawa puas melihat wajah cemberut Anggun, wanita itu tidak akan membiarkan adanya pelakor di antara Agnan dan Devi.
"Awas aja kalo berani, gue jambak," bisik Yaya kepada Devi.
"Nanti dia dengar!" Devi menampar pelan tangan Yaya, meminta wanita itu untuk berkonsentrasi.
"Saya dan Devi sebentar lagi akan bertunangan," ucap Agnan entah apa maksudnya.
"Selamat!"
...****...