Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian
Naura meraih lembaran daun pisang tersebut, lalu menyimpannya dalam kemben dan bersikap biasa saja.
Sedangkan Nathan dan Kael kembali membawa sajian makanan ke ruang jamuan.
Naura memutar tubuhnya, mencari tempat untuk dapat membuka lembaran daun pisang tersebut.
Disebuah dinding remang-remang, ia membukanya dengan sangat hati-hati, lalu mulai membacanya dengan sangat teliti, setelah selesai, ia membakar lembarannya dengan api obor, lalu menghela nafas dengan berat.
Sementara itu, Sena sedang menatap.sendang Srengenge yang berair jernih, dan ia meminum airnya.
Sebuah perubahan yang sangat drastis, dan tubuhnya merasa segar.
Perlahan ia membuka pakaiannya, lalu memasuki sendang, dan berendam didalamnya, sengaja berlama sebagai pengulur waktu.
Ia bersandar didinding sendang yang terbuat dari batuan andesit, lalu memmejamkan kedua matanya.
Dalam sekejap, ia melihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, dimana kabut tipis menutup sebuah ruangan dan membuatnya terus berjalan.
Hingga ia berhenti pada sebuah ruang kosong, prnuh kabut.
Laman-laman ia mendengar sebuah kidung mantra yang dibaca olrh seseorang, dan kabut tipis itu perlahan menghilang, hingga memperlihatkan wajah Alessa yang duduk pada sebuah bongkahan batu, sembari memegang sebuah kitab kuno berukuran sangat kecil dengan sampul berwarna hitam, dan ukurannya hanya sebesar korek api saja.
"Hah!" Sena tersentak kaget, saat sang dayang menepuk pundaknya. Dadanya bergemuruh, dan ia menoleh ke arah para wanita yang menjadi pelayannya saat ini.
"Nyai, percepat mandinya, kita harus segera tjba diruang pejamuan, Radja sudah menunggu,"
Sena membayangkan malam ini akan menjadi malam yang mengerikan, sebab ia harus melayani sosok Raja tersebut.
Ia ingin mengulur waktu, dan ingin mencari tahu dimana tempat tersebut. "Kitab apa yang dibaca oleh Alessa, aku harus mendapatkannya, dan aku harus menemui gadis itu. Ternyata ia adalah sumber malapetaka dari semua yang terjadi." Sena membersihkan tubuhnya, menggosoknya dengan batu apung.
Sementara itu, Naura telah berdandan dengan rapih, dan juga menarik. Ia juga mendapatkan undangan jamuan dari sang Raja, dan ia akan menggunakan kesempatan ini untuk melancarkan rencananya.
Sedangkan Nathan dan Kael sudah selesai mengantarkan sajian, sekarang tugas Naura yang ikut menyajikan jamuan tersebut.
Ketiganya berpapasan, dan Naura menganggukkan kepalanya, lalu mereka berpisah untuk sementara waktu.
Ditempat yang berbeda, Sena sudah selesai dengan mandinya, dan ia mengenakan pakaian yang tampak mewah ala kerajaan.
Sebuah sanggul dengan tusuk konde yang berukir mawar merah terpasang dikepalanya, dan kemben berwarna hijau menghiasi tubuhnya, dipadu dengan kain jarik berwarna putih kecoklatan.
Ia berjalan menyusuri lorong, dan diarahkan menuju ruang jamuan.
Hatinya semakin bergemuruh, ia tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya, bagaimana jika benar sosok sang Raja menjamahnya malam ini, dan ia merasa tak sudi.
Setibanya diruang jamuan, ia melihat Naura sudah berada disana terlebih dahulu, dan melayani sang Raja.
Mereka saling pandang, dan ada keterkejutan, serta perasaan campur aduk.
Dalam kegelisahan yang mereka alami, keduanya tak sempat saling sapa, hanya saja tatapan mereka mengisyaratkan, jika sesuatu yang buruk sedang terjadi pada keduanya.
Sena duduk disisi kanan, sedangkan Naura disisi kiri.
Sementara itu sang Raja yang berada dibagian tengah terlihat memasang wajah sumringah, sebab ia terpukau akan kecantikan Sena malam ini.
"Mari kita minum air secang ini, sebagai sumber energi untuk membuatmu menjadi kuat," ucap Raja Kala Gemet yang saat ini mengangkat cawan terbuat dari kuningan.
Sena mengangkat cawannya dan ia melihat sang Raja meneguk hingga habis, sedangkan ia membuangnya ke kolong meja.
Ia tak ingin tinggal selamanya ditempat ini. Sedangkan Naura terlihat meneguk air secang tersebut. Ia ingin memberitahu sahabatnya agar tidak memakan dan meminum apapun yanh ada ditempat ini, sebab bukan makanan dan minuman biasa.
Tetapi Naura sudah terlanjur untuk meneguknya.
"Ayo, Sayang. Kemarilah, saya sudah sangat lama menunggu," kala Gemet menyentuh pundak Sena, meminta gadis itu untuk duduk dipangkuannya, sedangkan hatinya sendiri masih diliputi rasa takut.
Naura terlihat sangat kalem malam ini, ia tampak sibuk dengan makanannya. "Setelah meminum air secang, aku merasa gairah terbakar. Kecantikanmu sangat luar biasa, aku tak pernah bertemu gadis secantikmu sebelumnya," ia mendaratkan kecupannya dibibir Sena, membuat gadis itu merasakan bulu kuduknya meremang.
Sena menahan nafasnya yang terasa tersengal, hingga sang Raja menggendongnya, lalu membawanya keluar dari ruang pejamuan.
"Kita akan melewati malam ini dengan malam suka cita, dan kau tidak akan pernah melupakannya." sang Raja membawanya ke ruang peraduan, tempat dimana mereka akan memadu kasih.
Melihat Sena dan da Raja Kala Gemet keluar dari ruang pejamuan, Naura bergerak keluar, lalu menuju lorong tempat dimana Kael dan Nathan menunggu.
Langkahnya terlihat tergesa-gesa, hingga saat ia akan tiba, Axel sudah berada didepannya."Hai, Naura? Mau kemana, kamu?" tanyanya, sembari menjahit perutnya, dan memasukkan ususnya yang terburai.
Deeeegh
Jantung Naura seolah hendak terhenti. Ia berdiri sejenak, lalu menatap sinis pada pemuda yang sudah berubah menjadi setengah makhluk mirip kera, alias berbulu.
"Menyingkirlah! Kau tak pernah berubah. Saat menjadi manusia dan menjadi mutasi sama menyebalkannya!" maki Naura dengan kesal. Ia merasa jika Axel adalah pecundang yang harus ia singkirkan.
Axel yang baru saja selesai menjahit tersenyum seringai. Ia berkacak pinggang dan menatap gadis itu dengan seperti orang yang sedang lapar.
"Aku sudah lama menginginkanmu, dan ingin tau bagaimana rasa apemmu." ia berjalan perlahan, menghampiri sang gadis yang saat ini hatinya sangat bergemuruh.
Naura tersentak kaget. Mendengar ucapan pemuda itu, ia sangat begitu jijik. Ia mundur ke belakang, dan ia tahu jika kekuatan Axel saat ini tidak sebanding dengannya, dan pastinya ia akan kalah untuk melawannya.
"Menyingkirlah, atau aku aka...,"
"Akan apa? Kau kira dapat melawanku? Kekuatanmu sangat kecil, hanya seperti seekor semut belaka." Axel menyergap Naura, dan hal itu membuat sang gadis tersentak kaget.
"Lepasin! Lepasin, Brengsek!" Naura memberontak, dan ia menggigit tangan Axel yang dipenuhi banyak bulu.
"Aaaaarrgh..." pekik Axel, dan dalam kesempatannya, Naura menarik buah salak milik Axel yang menggantung diselangkanya.
Taaaaaaak
"Aaaaargh..." pekik Axel lagi, lalu membuat Naura berkesempatan untuk melarikan diri.
"Naura! Sial, Kau!" maki Axel dengan geram, lalu berusaha mengejar gadis itu, meskipun ia berjalan dengan langkah yang sangat sulit.
Naura berlari sekencangnya, hingga saat ia menoleh ke arah belakang, tak ada Axel dimana, dan ia merasa semakin ketakutan.
"Hah, dimana, Dia?" jantung gadis itu semakin memburu, dan ia mengendus aroma singkong bakar dari arah belakangnya, dan firasatnya mulai buruk.
Ia menoleh dengan gerakan lamban, dan ketika memutar tubuhnya, ternyata Axel sudah berdiri dengan senyum seringai.
"Hai, Naura? Apa kau fikir bisa lari?"
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏