Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bab 31 Dia Diracuni
Jaccob benar-benar terkejut.
Pria dingin, sombong, dan tak tersentuh seperti Dion Leach… sekarang berubah total di depan mata mereka.
Dion bahkan dengan tenang menemani Anita setelah sarapan, berjalan bersisian ke halaman belakang.
Di sana, sebatang pohon besar menjulang tinggi , mungkin sudah berdiri selama seratus tahun, sama tuanya dengan rumah keluarga Leach itu.
Di bawah pohon itu, whoosh… angin berhembus lembut, menggoyangkan daun-daunnya.
Seekor anjing besar bernama Wolfy berbaring santai di bawah naungan, tepat di samping rumah kecilnya yang mewah. Woof… ia menatap Anita dengan mata malas.
Anita duduk di bangku taman, tenang, menatap Jaccob tanpa sepatah kata. Tidak menekan, tidak mendesak. Hanya menunggu.
Tak lama, klik! suara pintu terdengar. Dion keluar membawa semangkuk anggur dingin. Ia duduk di sebelah Anita, santai namun dengan tatapan tajam ke arah Jaccob.
“Ayo, Jaccob,” katanya sambil mulai mengupas anggur, “manusia sejati itu tahu cara menerima kekalahan.”
Anita hanya melirik sekilas dengan senyum samar.
Jaccob mendengus pelan, lalu menggulung lengan bajunya. “Baiklah. Pria sejati nggak akan kabur dari taruhan.”
Tanpa banyak omong, dia berjalan ke arah pohon besar dan mulai memanjat. Srek! Srek! Srek!
Gerakannya cepat dan lincah, tubuhnya menegang tapi terlatih. Dalam waktu singkat, dia sudah di atas.
Saat turun, wajahnya memerah, mungkin karena malu atau kelelahan. Begitu kakinya menyentuh tanah, pandangannya jatuh pada Wolfy.
“Guk… guk…” suara anjing itu terdengar pelan, seolah menantang.
Jaccob menatap Wolfy lama, menarik napas panjang. Lalu dengan ekspresi pasrah, ia membuka mulut dan menirukan gonggongan,
“Guk! Guk!”
Suara itu bergema di halaman. Anita langsung menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir pecah. Dion mengangkat alis, mencoba menahan ekspresi puas.
Setelah itu, bruk! Jaccob langsung kabur menuju sisi rumah, wajahnya merah padam. Bukan karena malu , tapi karena sadar dia baru saja kalah telak dari wanita yang paling ia anggap menyebalkan di dunia.
Anita menatap punggungnya yang menjauh dengan senyum geli. “Kamu yakin dia bisa dipercaya?” tanyanya pelan pada Dion.
Dion menyerahkan sebutir anggur yang sudah dikupas rapi. “Jaccob itu keras kepala, tapi aku kenal dia dari kecil. Dia belajar kedokteran khusus buat aku.”
Anita menoleh, menatapnya dengan sedikit terkejut. “Buat kamu?”
Dion mengangguk pelan. “Awalnya dia nggak tertarik jadi dokter. Tapi waktu aku mulai sakit di SMA, nggak ada obat yang bisa bantu. Jadi… dia ubah niatnya. Belajar supaya bisa bantu aku.”
Anita terdiam. Ada sesuatu di dada yang hangat, seperti rasa hormat bercampur haru.
Tiba-tiba pikirannya melayang pada masa lalu, pada seseorang yang juga pernah mengubah arah hidup karena dirinya, yaitu Vebri.
Gadis yang dulu duduk di sebelahnya ketika mereka menulis surat pernyataan kuliah. Yang mengubah pilihannya hanya karena Anita bilang, “Ayo bareng-bareng aja.”
Ingatannya menyesak. Ia ingat bagaimana Vebri begitu gembira ketika peran yang ditulis Anita untuknya jadi viral di seluruh dunia.
Ia menunduk. Huft… suara napasnya keluar perlahan.
Dion menatapnya lekat-lekat, menangkap perubahan kecil di wajahnya.
“Kamu kenapa?” suaranya lembut tapi penuh waspada.
Anita mengangkat wajahnya, tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Cuma... keinget seseorang aja.”
Dion masih memandangnya, alisnya berkerut, tapi dia tahu kapan harus berhenti bertanya.
Keheningan melingkupi mereka. Hanya suara angin dan daun-daun bergesekan yang terdengar.
Mereka tak bicara, tapi suasananya… damai.
Beberapa saat kemudian, Anita menatap Dion lagi. “Kamu masih inget nggak, apa yang kamu rasain setiap kali kamu kambuh?”
Dion berpikir sebentar, lalu menggeleng. “Nggak. Semuanya… blank.”
Anita bersandar, dagunya bertumpu di tangan. “Serangan pertamamu umur lima belas, kan? Waktu itu, ada sesuatu yang terjadi?”
Dion terdiam. Tatapannya kosong sesaat.
Anita tahu sejarahnya , dia harus tahu. Dia yang sekarang merawat Dion, menelusuri semua catatan medisnya.
Dulu, sebelum umur lima belas, Dion adalah remaja yang menawan. Ceria. Hangat. Penuh semangat.
Tapi kemudian....
Serangan itu datang tiba-tiba. Di sekolah.
Dion memukul teman sekelasnya tanpa alasan, matanya kosong, napasnya berat, hanya bisa mengaum seperti binatang. Graaaah!
Tak ada yang bisa mendekatinya. Semua takut.
Sejak hari itu, Dion Leach yang dikenal cerdas dan menawan… berubah jadi monster di mata banyak orang.
Dari dalam rumah, klik! pintu terdengar. Philip muncul, wajahnya tegang. Ia mendengar sebagian percakapan mereka.
Ia tahu betul , usia lima belas tahun adalah luka lama yang tak boleh disentuh.
Dion menunduk, suaranya datar dan dingin, “Setengah jam sebelum serangan itu… ada seorang gadis. Aku nolak dia. Dan… dia lompat dari gedung.”
Deg. Anita menatapnya kaget. “Kamu pikir... itu ada hubungannya?”
Dion menggeleng pelan. “Aku nggak tahu. Tapi semua orang pikir aku penyebabnya.”
Ia menatap jauh ke depan, mata kelam dan kosong.
“Sejak saat itu, mereka semua yakin… aku pembunuhnya. Pria yang bisa membunuh tanpa berkedip.”
Angin berhembus lebih kencang. Whooshhh…
Anita memandangi wajah Dion, keras di luar tapi menyimpan luka yang dalam di dalam.
Dan sejak hari itu pula, Dion menolak setiap perempuan yang datang padanya.
Menolak cinta, menolak sentuhan, menolak untuk terluka lagi.
Sampai akhirnya… Anita datang.
Setelah malam yang panjang dan penuh emosi, Anita Lewis merasa ada yang belum tuntas di antara dirinya dan Dion Leach.
Rasa ingin tahunya tak terbendung lagi. Ia ingin memahami penyakit Dion sepenuhnya , tanpa ada yang tersembunyi.
“Coba jelaskan lagi padaku, Dion,” katanya lembut tapi pasti.
Dion menghela napas, hufff... lalu menatap Anita dengan sorot mata lelah namun jujur.
Dia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan wanita itu, satu per satu, tanpa menutup-nutupi apa pun. Tentang gejala yang muncul, rasa sakit yang datang tiba-tiba, bahkan mimpi-mimpi aneh yang menghantuinya sebelum setiap serangan.
Saat Anita hampir selesai, dia menambahkan dengan nada tegas,
“Minta Jaccob kirim semua catatan medis dan laporan kesehatanku dari dulu sampai sekarang.”
Nada suaranya tak bisa ditawar.
Dion mengangguk pelan. “Oke.”
Hening mengisi ruangan. Hanya suara detak jam dinding tik... tok... tik... tok... yang terdengar pelan.
Philip sudah pergi sejak tadi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang terasa menekan.
Anita menoleh ke arah Dion. Lengan pria itu dibalut perban putih, sedikit terlihat kaku di bawah sinar matahari sore yang menembus jendela.
Ada rasa perih yang merayap di hati Anita.
“Dion,” panggilnya pelan.
“Hm?” Dion menatapnya.
Anita menatap matanya dalam-dalam. “Aku cuma mau jelasin sesuatu... Wawan itu bukan kekasihku. Dia sahabat karibku.”
Dion mengangkat alisnya sedikit, tapi diam.
“Aku udah ngecek rekeningku sendiri,” lanjut Anita. “Uang seratus ribu dolar per bulan yang masuk itu memang dari Wawan, tapi buat proyek sosial. Bukan untukku.”
Dion mengangguk tanpa ragu. “Kamu udah bilang tadi pagi, dan aku percaya.”
Anita tersenyum tipis, lalu menarik napas panjang. “Sebagian ingatanku memang masih kabur... tapi aku tahu, semua rumor bodoh itu dulu disebar sama Suzanne dan beberapa orang lain. Mereka yang buat semuanya jadi rumit.”
Ia menatap kosong ke arah jendela. Ingatan lama itu muncul seperti potongan kaca yang menyakitkan , dirinya yang dulu, dikelilingi bisikan dan fitnah, kehilangan siapa pun yang bisa ia percaya.
Dion hanya menatapnya, diam, lalu tersenyum lembut. “Sudahlah. Itu udah lewat.”
Huft... Anita menghela napas lagi, berusaha menenangkan pikirannya.
Beberapa jam kemudian, tok tok tok! suara ketukan pelan terdengar di pintu.
Jaccob muncul membawa setumpuk berkas tebal. “Ini semua catatan medis Dion, dari tahun pertama sampai sekarang,” ujarnya datar.
Anita langsung duduk di meja, membuka lembar demi lembar. Matanya bergerak cepat mengikuti setiap data dan hasil laboratorium.
Melihat keseriusan itu, Jaccob menyeringai sinis. “Kamu pikir bisa nyembuhin Dion cuma dengan baca kertas?” katanya mengejek.
Anita tak menoleh. “Kenapa? Kamu mau aku tampar lagi?” ucapnya datar.
PLAK! suara tangan menepuk meja membuat udara seakan berhenti.
Jaccob mendengus. “Aku udah riset bertahun-tahun! Bahkan aku punya tim medis sendiri buat Dion! Tapi nggak ada satu pun yang bisa nemuin penyebabnya! Dan kamu cuma liatin grafik lalu tiba-tiba ‘paham’? Kamu pikir kamu siapa?”
Anita menatapnya tajam, mata hazel-nya berkilat dingin.
Jaccob jadi sedikit gugup, tapi tetap berlagak angkuh. “Aku nggak butuh kamu buat nyembuhin Dion. Tapi kalau kamu bisa kasih tahu penyebabnya, aku bakal manggil kamu ‘Ayah’!”
Srakk... Anita meletakkan map di meja, lalu bersandar santai.
“Serangan Dion bukan karena mental. Dia diracuni,” katanya tenang. “Racun saraf halusinogen. Jenis N3.”
Jaccob membeku. “Apa?”
“Neurotoksin yang bisa bikin ilusi dan gangguan kesadaran. Efeknya mirip gangguan psikis. Tapi itu racun, bukan trauma,” jelas Anita tanpa nada ragu.
Jaccob melotot. “Kamu ngarang! Semua tes darah Dion bersih!”
Anita tersenyum tipis, bibirnya nyaris tak bergerak. “Kalau kamu bisa dapetin N3, coba aja. Tapi jangan lupa beli penawarnya. Kalau nggak, kamu bakal kehilangan kendali dalam waktu lima menit.”
Glek. Suara Jaccob menelan ludah terdengar jelas.
“Ngawur,” katanya pelan tapi terdengar goyah. “Kamu cuma... bohong.”
Anita mendengus pelan. “Kalau kamu udah coba dan selamat, baru datang ke aku. Waktu itu, kamu boleh manggil aku ‘Ayah’. Tapi aku nggak yakin mau punya anak sekeras kepala kamu.”
Tatapan Anita tajam tapi tenang. Jaccob ingin membalas, tapi kata-kata tak keluar. Wajahnya merah karena malu dan bingung.
Ekspresi wanita itu terlalu meyakinkan, terlalu dingin untuk dianggap kebetulan.
Akhirnya Jaccob memutar badan. Brak! pintu ditutup keras-keras, meninggalkan aroma tensi di udara.
Anita menghela napas pelan. Huft...
Dia kembali menunduk ke catatan medis. Setiap tanggal serangan Dion ia tandai satu-satu, mencocokkan dengan hasil tes kimia. Pola itu jelas , semuanya mengarah ke sesuatu yang disuntikkan atau tertelan perlahan.
Kecurigaannya makin kuat. Ia hanya butuh satu bukti lagi.
Malam hari. Rumah besar keluarga Lewis sunyi.
Lampu gantung di ruang tengah berayun perlahan, kreeek... kreeek...
Dari atas, Anita masih di ruang baca, tenggelam dalam catatan Dion.
Tiba-tiba .... DUG DUG DUG! suara langkah tergesa naik dari bawah.
“Anita! Anita, cepat turun ke sini!” teriak Jaccob panik dari tangga bawah.
Dion yang sedang duduk di sofa langsung menoleh. “Ada apa sih dia?” gumamnya kesal. “Teriak-teriak kayak orang mau bunuh diri aja.”
Anita berdiri cepat, jantungnya ikut berdeb
ar. Dug dug dug... langkahnya menuruni tangga dengan hati-hati.
Dan di bawah sana Jaccob berdiri dengan wajah pucat pasi, tangan gemetar, napas memburu.
Ada sesuatu yang besar… sesuatu yang baru saja ia sadari.
Bersambung......
Catatan Penulis:
Hai semuanya, dimohon bersabar menanti untuk update.
Semoga selalu setia membaca sampai habis ya.
Jangan skip atau loncat-loncat bacanya, biar tahu alur ceritanya. ☺️☺️
Bab sudah terjadwal ratusan bab, 3 bab daily (pagi, siang, malam).
Bila ada kritik dan saran , silahkan berkomentar, soalnya author masih pemula baru belajar nulis.
Semoga ceritanya tidak membosankan ya dan bisa disukai oleh anda semuanya.
Salam sukses untuk semuanya yang baca karyaku.
Semoga diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Tuhan, Aamiin. 🥰🥰🫶🏻🙌🏻