Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 PERHATIAN YANG TERLAMBAT
Di kamar utama, suasana sangat berbeda. Sabrina mondar-mandir di dalam kamar dengan ponsel menempel di telinga. Wajahnya tegang, matanya memerah bukan karena menangis, melainkan karena emosi yang menumpuk.
“Semua ini gara-gara Ibu!” suara Sabrina meninggi. “Kalau saja ibu tidak ikut campur, tidak akan sejauh ini!”
Di seberang telepon, suara Melinda dingin dan penuh keyakinan menyela tanpa empati. “Kenapa sekarang kamu malah menyalahkan ibu?” ucapnya tajam. “Dia saja yang bodoh.”
Sabrina berhenti melangkah. “Bu… jangan bicara seperti itu.”
“Kamu yang terlalu lemah,” lanjut Melinda tanpa ragu. “Jangan mudah terhasut sama Ammar itu.”
Sabrina mengusap keningnya. “Tapi rumah tanggaku—”
“Kamu cantik,” potong Melinda. “Karier kamu masih bagus. Nama kamu masih laku.”
Sabrina terdiam.
“Kalau dia tidak bisa membantu kamu,” lanjut Melinda percaya diri, “ibu akan cari cara supaya kamu kembali kehujanan job.”
Nada suaranya penuh kepastian, seolah segalanya hanya soal strategi dan koneksi.
“Bu…” suara Sabrina melemah. “Aku capek.”
“Capek apa?” Melinda mendengus. “Kamu masih muda. Masa depan kamu masih panjang.”
Sabrina duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan. “Bu… kalau aku pergi, rumah tanggaku akan semakin hancur.”
“Jangan bodoh!” suara Melinda meninggi. “Rumah tangga bisa dicari gantinya. Karier tidak.”
Sabrina menutup mata. Dadanya sesak. “Ibu sedang mencarikan kamu orang hebat,” lanjut Melinda santai. “Supaya kamu bisa bersinar lagi.”
Sabrina tersentak. “Bu, jangan—”
“Sudahlah,” potong Melinda. “Jangan terlalu lama diam di sana. Ibu kasih kamu waktu tiga hari.”
“Tiga hari untuk apa?” tanya Sabrina lirih.
“Tiga hari untuk berpikir,” jawab Melinda dingin. “Mana yang lebih penting dalam hidupmu.”
Tut.
Telepon terputus.
Sabrina menatap layar ponselnya lama. Tangannya gemetar. Ia meletakkan ponsel itu perlahan di atas meja.
Matanya beralih ke cermin besar di hadapannya.
Di sana, pantulan seorang wanita cantik menatap balik namun tatapan itu kosong.
“Apa aku salah?” bisiknya pada dirinya sendiri.
Bayangan Queen melintas di benaknya.
Lalu Ammar.
Lalu… Sari.
Sabrina mengepalkan tangannya. Hatinya terombang-ambing antara ambisi yang telah ia bangun bertahun-tahun dan keluarga yang kini terasa asing.
Di kamar Queen, Ammar masih duduk menemani putrinya yang tertidur.
Ia menatap jam dinding, lalu ke arah pintu kamar Sari yang berada tak jauh dari sana.
Rasa bersalah kembali menggerogoti dadanya.
Rumah ini tidak lagi terasa seperti rumah.
Dan Ammar tahu.
Tiga hari ke depan akan menjadi penentu segalanya.
Bagi pernikahannya.
Bagi masa depan Queen.
Dan bagi nasib Sari yang kini terbaring lemah, tanpa tahu badai apa lagi yang sedang disiapkan di atas kepalanya.
...----------------...
Tok… tok…
Tak ada jawaban.
Ammar membuka pintu perlahan.
Sari terbaring di ranjang, wajahnya pucat, rambutnya sedikit basah oleh keringat. Matanya terbuka, namun pandangannya kosong, menatap langit-langit seolah pikirannya melayang jauh dari ruangan itu.
Ammar melangkah masuk dan menutup pintu kembali. “Kondisimu bagaimana?” tanyanya pelan, nyaris berbisik.
Sari menoleh perlahan. Tatapan itu tak lagi berisi amarah hanya lelah yang sangat dalam. “Masih sakit,” jawabnya lirih. Jawaban sederhana itu terasa seperti cambukan bagi Ammar.
Ia mendekat ke sisi ranjang, lalu duduk di kursi kecil di sampingnya. Tangannya gemetar saat mengambil kantong kecil berisi salep yang tadi diserahkan dokter.
“Dokter menyarankan… salep ini,” ucap Ammar hati-hati. “Untuk mengurangi rasa sakit.”
Sari langsung memalingkan wajah. Tangannya menarik selimut lebih rapat. “Tidak usah,” katanya cepat, suaranya bergetar.
Ammar menghela napas panjang. “Sari… aku tahu kamu tidak nyaman. Tapi ini untuk membantu kamu pulih.”
Tak ada jawaban.
Hanya suara napas Sari yang tersengal pelan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung dan penuh beban. Ammar menunduk, menatap kedua tangannya sendiri.
“Aku tidak pantas meminta apa pun darimu,” ucapnya lirih. “Tapi izinkan aku setidaknya melakukan hal yang benar sekarang.”
Sari menutup mata. Air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal. Ia lelah.
Lelah menolak. Lelah bertahan. Lelah merasa sendirian.
Perlahan, dengan gerakan nyaris tak terlihat, Sari mengangguk kecil.
Ammar menahan napas. Ia bergerak dengan sangat hati-hati, menjaga jarak, setiap gerakannya penuh kehati-hatian seolah takut melukai lebih dalam bukan hanya tubuh Sari, tapi juga sisa-sisa kepercayaannya.
Tak ada kata-kata berlebihan. Tak ada sentuhan yang tak perlu.
Hanya keheningan dan perhatian yang canggung, namun tulus.
Setelah selesai, Ammar berdiri dan menjauh selangkah, memberi ruang.
“Kalau terasa tidak nyaman, bilang,” katanya pelan.
“Aku tidak ingin memaksamu lagi. Dalam bentuk apa pun.”
Sari membuka mata perlahan. “Kenapa Tuan melakukan ini?” tanyanya tiba-tiba. Suaranya datar, tapi matanya basah.
Ammar terdiam sejenak. Lalu ia duduk kembali.
“Karena aku bersalah,” jawabnya jujur. “Dan karena aku tidak ingin kamu merasa sendirian.”
Sari tersenyum kecil senyum pahit. “Terlambat,” katanya lirih.
Ammar menunduk. “Aku tahu.”
Untuk mencairkan suasana, Ammar mencoba mengalihkan pembicaraan, meski suaranya masih terdengar kaku.
“Queen… dia tadi sangat panik dengan kondisi kamu,” katanya. “Dia khawatir.”
Sari menoleh cepat. “Queen?”
“Iya. Dia bilang kamu baik sekali padanya.”
Mata Sari berkaca-kaca. “Dia anak yang manis.”
Ammar mengangguk. “Dia sangat menyayangimu.”
Keheningan kembali hadir, tapi kali ini tak setegang sebelumnya.
Ammar lalu berdiri dan mengambil mangkuk kecil berisi sup hangat di meja samping.
“Kamu belum makan sejak pagi,” katanya. “Dokter bilang kamu harus makan sedikit-sedikit.”
Sari hendak bangun, tapi tubuhnya langsung melemah. Ammar refleks menahan bantal agar kepalanya tetap nyaman.
“Jangan dipaksakan,” ucap Ammar. “Aku… aku suapi saja. Kalau kamu tidak keberatan.”
Sari ragu. Ia menatap Ammar lama, seolah mencoba membaca niat di balik mata pria itu.
Akhirnya, ia mengangguk kecil.
Ammar menyuapi Sari dengan perlahan. Setiap sendok diangkat dengan penuh kehati-hatian, seperti seorang ayah yang takut membuat anaknya tersedak.
Tak pernah terlintas di benak Ammar bahwa ia akan melakukan hal seperti ini. Ia tak pernah menyuapi siapa pun bahkan Sabrina. Kesadaran itu menusuk hatinya.
Sari makan dalam diam. Sesekali Ammar bertanya hal ringan.
“Supnya terlalu panas?”
“Masih sanggup?”
“Mau berhenti sebentar?”
Sari hanya menjawab singkat, tapi setidaknya ia tidak lagi menolak.
Setelah selesai, Ammar meletakkan mangkuk kembali.
“Kamu istirahatlah,” ucapnya lembut. “Kalau butuh apa pun… panggil aku.”
Sari menatapnya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan kemarahan, ketakutan, tuntutan namun semuanya tertahan di tenggorokan.
“Apa Tuan ingat janji Tuan?” akhirnya ia bertanya pelan.
Ammar menatapnya serius. “Aku ingat.”
“Karena aku tidak akan diam,” lanjut Sari lirih. “Aku… aku harus mendapat pertanggungjawaban.”
Ammar mengangguk tanpa ragu. “Kamu berhak. Dan aku tidak akan lari.”
Sari memalingkan wajah. Air mata kembali jatuh.
Ia diam bukan karena memaafkan, melainkan karena menguatkan diri. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus berdiri.
Bukan sebagai pembantu.
Bukan sebagai korban.
Tapi sebagai perempuan yang menuntut haknya.
Dan Ammar, yang duduk terdiam di samping ranjang itu, tahu satu hal pasti..
Sari tidak ingin menjadi wanita pendosa. dosa kepada ibu dan almarhum bapak dan dosa kepada calon suaminya nanti karena tidak bisa memberikan mahkotanya yang suci.
Perhatian yang ia berikan hari ini mungkin bisa membantu menyembuhkan luka Sari.
Namun dosa yang ia buat tak akan semudah itu terhapus.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
lembek🙃
kaulah ,...bodoh!
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...