NovelToon NovelToon
Gema Di Langit Verona

Gema Di Langit Verona

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Duniahiburan / Mafia / Cintapertama
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: SHEENA My

Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
​Namun, Verona tidak pernah melupakan.
​Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
​Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nafas di Puncak Alpen

​Deru mesin SUV hitam itu terdengar parau saat dipaksa mendaki tanjakan curam yang menyisir pinggiran tebing. Salju mulai turun, awalnya hanya serpihan halus, namun kini berubah menjadi badai putih yang membutakan pandangan. Di belakang mereka, lampu-lampu kendaraan pengejar dari tim taktis D’Angelo sesekali menembus kabut, tampak seperti mata monster yang lapar.

​Di kursi belakang, Elena mendekap tubuh Matteo yang semakin dingin. "Luca, berapa lama lagi?"

​"Lima menit, Signorina! Gerbang Sanatorium Santa Maria ada di balik tikungan tajam di depan!" Luca memutar kemudi dengan liar, menghindari lubang-lubang jalan yang tertutup salju.

​Tiba-tiba, sebuah ledakan menghantam tebing di atas mereka. Bongkahan batu dan salju luruh, nyaris menghantam kap mobil. Musuh mulai menggunakan pelontar granat.

​"Mereka gila! Mereka akan memicu longsor!" teriak Elena.

​Matteo terbatuk, darah segar mewarnai bibirnya. Ia memaksa dirinya untuk duduk tegak, matanya yang sayu mencoba fokus pada gerbang besi besar yang mulai terlihat di atas bukit. "Luca... aktifkan sistem pertahanan perimeter. Sekarang."

​Luca menekan sebuah tombol di dasbor. Seketika, lampu-lampu sorot raksasa dari dinding sanatorium menyala, menyilaukan kendaraan pengejar. Dari balik pagar beton, senapan otomatis jarak jauh yang dikendalikan sensor mulai menyalak, memberikan tembakan perlindungan bagi mereka.

​SUV itu melesat masuk melewati gerbang yang menutup dengan dentuman berat tepat sebelum mobil pengejar sempat mendekat.

​Begitu mobil berhenti di depan bangunan bergaya kolonial yang terisolasi itu, Elena segera turun. Bau pinus dan udara pegunungan yang sangat dingin menusuk paru-parunya. Beberapa perawat pria yang ternyata adalah tentara bayaran elit Marco berlari mendekat, membawa tandu untuk Matteo.

​"Jangan pikirkan aku! Bawa dia ke dalam!" perintah Matteo sambil menunjuk ke arah koridor sayap barat. "Elena... pergi. Dia menunggumu."

​Elena ragu sejenak, menatap Matteo yang sedang diangkat ke tandu. Namun, dorongan kerinduan selama sepuluh tahun lebih kuat dari segalanya. Ia berlari menembus koridor sunyi yang hanya diterangi lampu dinding temaram. Langkah kakinya yang masih mengenakan sepatu pesta bergema di atas lantai marmer yang dingin.

​Di ujung koridor, terdapat sebuah pintu kayu ek besar dengan penjagaan dua pria bersenjata. Mereka mengangguk kecil saat melihat Elena. Salah satu dari mereka membukakan pintu.

​Ruangan itu sangat hangat, berbanding terbalik dengan badai di luar. Aroma melati—parfum kesukaan ibunya—terasa begitu kuat. Di depan sebuah jendela besar yang menghadap ke lembah yang tertutup salju, seorang wanita duduk di kursi roda, menatap kegelapan di luar.

​"Ibu?" suara Elena nyaris tidak terdengar, tercekat di tenggorokan.

​Wanita itu perlahan memutar kursi rodanya. Wajahnya masih memiliki sisa-sisa kecantikan Marcella Moretti, namun rambutnya kini sepenuhnya putih, dan ada sebuah ketenangan yang menyakitkan di matanya yang kosong.

​"Elena?" suara Marcella terdengar seperti gema dari masa lalu. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar. "Kaukah itu? Atau ini hanya mimpi dari obat-obatan mereka lagi?"

​Elena jatuh berlutut di depan ibunya, menggenggam tangan wanita itu dan membenamkan wajahnya di pangkuan ibunya. Isak tangis yang tertahan selama satu dekade akhirnya pecah. "Ini aku, Ibu. Aku datang untuk menjemputmu pulang."

​"Verona..." bisik Marcella, jemarinya mengusap rambut Elena dengan penuh kasih. "Apakah Verona masih terbakar, Sayang?"

​"Verona sedang dibersihkan, Ibu. Dan pria yang menjagamu... Matteo Valenti... dia membawa kita kembali bersama."

​Momen haru itu terputus oleh suara ledakan besar dari arah gerbang depan. Bangunan sanatorium berguncang. Suara tembakan otomatis terdengar semakin dekat di koridor luar.

​"Mereka berhasil menembus dinding luar!" suara Luca terdengar dari radio panggil di atas meja. "Signorina, bawa Nyonya Marcella ke bunker bawah tanah! D’Angelo sudah masuk ke gedung utama!"

​Elena berdiri, menghapus air matanya dengan kasar. Ia meraba pistol Beretta yang masih terselip di balik gaun hitamnya. Ia menatap ibunya, lalu menatap pintu yang kini mulai dihujani peluru dari luar.

​"Ibu, pegang tanganku erat-erat," ucap Elena dengan nada suara yang kini sepenuhnya menjadi seorang Moretti yang tak kenal takut. "Kita sudah kehilangan sepuluh tahun. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil satu menit pun lagi darimu."

​Marcella Moretti menatap putrinya dengan pandangan yang perlahan mulai jernih, seolah kabut obat-obatan dan trauma yang selama sepuluh tahun menyelimuti pikirannya sirna oleh sentuhan tangan Elena. Ia menyentuh pipi Elena, menelusuri garis wajah yang sangat mirip dengan suaminya.

​"Matteo selalu bilang kau akan datang," bisik Marcella, suaranya gemetar. "Setiap kali dia berkunjung ke sini, dia selalu membawa cerita tentangmu. Dia bilang kau tumbuh menjadi wanita yang kuat... jauh lebih kuat dari apa yang bisa dibayangkan oleh para pria Valenti itu."

​Elena tertegun. "Dia sering ke sini? Matteo sering menemuimu?"

​Marcella mengangguk lemah. "Dia tidak hanya menyembunyikanku, Elena. Dia menjagaku agar tetap waras. Dia yang membawa buku-buku dari perpustakaan ayahmu, dia yang memastikan para dokter di sini tidak pernah tunduk pada perintah Isabella. Dia membayar hutang darah ayahnya dengan melindungi satu-satunya Moretti yang tersisa."

​Namun, pengakuan itu terpotong oleh guncangan hebat yang membuat lampu gantung di ruangan itu berayun liar. Suara kaca pecah terdengar dari koridor utama, diikuti oleh rentetan tembakan yang memekakkan telinga. D'Angelo dan pasukannya tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk menghapus sisa-sisa bukti pengkhianatan mereka.

​"Ibu, kita harus bergerak!" Elena menarik kursi roda Marcella, mengarahkannya menuju pintu rahasia di balik lemari buku yang telah ditunjukkan oleh para penjaga.

​Di luar ruangan, koridor sanatorium yang tadinya tenang kini berubah menjadi zona perang. Asap dari granat asap mulai memenuhi udara, membuat pandangan menjadi terbatas. Elena menggenggam Beretta-nya dengan erat. Ia bisa mendengar suara sepatu bot yang berat mendekat ke arah mereka.

​"Di sana! Di ujung koridor!" teriak seorang pria dalam bahasa Italia dengan aksen kasar.

​Elena melepaskan dua tembakan cepat ke arah bayangan yang muncul di balik asap. Salah satu pengejar tumbang, namun yang lainnya terus merangsek maju. Elena mendorong kursi roda ibunya masuk ke dalam lorong sempit menuju bunker, namun tiba-tiba sebuah peluru menghantam engsel pintu kayu ek di depan mereka, membuatnya tersangkut.

​"Sial!" Elena memaki, mencoba mendorong pintu itu dengan bahunya.

​Tepat saat seorang tentara bayaran D'Angelo mengarahkan senjatanya ke arah Elena yang sedang tidak berdaya, sebuah bayangan muncul dari arah berlawanan.

​Matteo.

​Pria itu berdiri dengan tubuh yang sedikit miring, satu tangannya menekan luka di perut yang kini kembali mengeluarkan darah segar hingga menembus kemejanya, sementara tangan lainnya memegang senjata dengan stabil. Tanpa ragu, Matteo melepaskan rentetan tembakan yang menjatuhkan dua orang pengejar sekaligus.

​"Matteo! Kau seharusnya tetap di ruang medis!" teriak Elena.

​"Dan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian?" Matteo mendengus, napasnya tersengal dan wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya tampak seperti perjuangan melawan kematian. "Bantu aku dengan pintu ini."

​Bersama-sama, mereka mendorong pintu bunker hingga terbuka. Begitu Marcella masuk ke dalam keamanan beton bunker, Matteo ambruk di ambang pintu. Elena segera menariknya masuk dan mengunci pintu baja tersebut dari dalam.

​Hening. Di dalam bunker yang kedap suara itu, hanya terdengar suara napas mereka yang memburu dan detak jantung yang liar. Elena merosot ke lantai, memeluk lututnya sejenak sebelum merangkak menuju Matteo yang terbaring lemah.

​"Kau menyelamatkan kami lagi," bisik Elena, air matanya jatuh di dada Matteo yang naik turun dengan tidak teratur.

​Matteo tersenyum lemah, matanya menatap Marcella yang kini mendekat ke arahnya. "Hutangku... sudah lunas, Marcella?"

​Marcella menyentuh kening Matteo dengan lembut. "Kau bukan ayahmu, Matteo. Kau tidak pernah menjadi dia."

​Di luar sana, suara hantaman pada pintu baja mulai terdengar. Pasukan D'Angelo sedang mencoba mendobrak masuk dengan bahan peledak. Elena berdiri, mengokang senjatanya sekali lagi. Ia menatap ibunya, lalu menatap Matteo yang tersenyum pahit ke arahnya. Ini adalah pertahanan terakhir mereka. Di puncak Alpen yang bersalju ini, gema dari masa lalu akan segera berakhir, baik dengan kemenangan yang pahit atau kematian yang terhormat.

​"Kita akan keluar dari sini hidup-hidup," ucap Elena dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Ketiganya."

1
May Tales
waw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!