♥️♥️♥️
Perjodohan diusia muda? Yakin berjalan lancar? Usia yang masih labil, tanggung jawab besar, bisakah? Mampukah?.
Akan jadi apa pernikahan tanpa adanya ilmu pengetahuan yang cukup? Mental yang bahkan masih perlu bimbingan orang tua, apa keputusan orang tua mereka sudah benar untuk masa depan anak-anak nanti? Entahlah, semoga aja semuanya baik-baik saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SP_Daffotta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab IX
...Selamat membaca...
.......
.......
.......
Malam bertabur bintang membuat Zarine tak dapat memalingkan wajahnya pada langit, begitu sempurna Tuhan menciptakan dunia.
“Lagi apa kamu Dik?” Rafa menegur adiknya yang sedang melihat bintang di halaman samping rumah.
“Lagi liatin bintang aja Kak,” Zarine menjawab sambil menatap sang Kakak, tak lupa tersenyum manis.
“Gimana? Udah enakan badannya?” Zarine menjawab hanya dengan anggukan, sudah 3 hari sejak Rafka membawa pulang Zarine dalam kondisi kehujanan, gadis itu sudah kembali sehat.
Kesunyian tercipta diantara Kakak beradik ini, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Adik? Kakak? Ayo masuk, Ayah sama Ibu mau ngomongin hal penting,” suara Ibu memanggil anak-anaknya, tanpa banyak kata, mereka berdua masuk dan mengikuti sang Ibu menuju ruang keluarga.
Anggota keluarga sudah berkumpul, Ayah mengecilkan volume TV, menatap kedua anaknya, kemudian menatap istrinya.
Ibu hanya menganggukkan kepala, memberi isyarat.
‘Katakan saja.’
“Ok begini, besok malam, kita akan makan bersama dengan keluarga Om Hiko di restoran xxx, membicarakan apa yang memang harus dibicarakan, tidak ada yang tidak ikut, semuanya harus ikut, di sana nanti, kamu akan menemukan jawaban kuat, kenapa 2 keluarga sepakat menjodohkan kamu dan Rafka, Zarine,” Ayah berucap tegas tak ingin dibantah, Rafa mengerutkan alisnya tak suka.
‘Aku pikir udah selesai, ternyata masih berlanjut, ngeselin banget sih si Ayah nih, awas aja kalau sampai alasan Om Hiko ngga masuk akal!’ batin Rafa menggerutu, dirasa pembicaraan selesai, Rafa melenggang pergi tanpa berkomentar apapun, tapi mimik wajahnya sudah menjelaskan semuanya, dia masih kesal.
Di suatu tempat lain.
“Alfi? Kamu kalau Ayah jodohin sama Abhi mau ngga?” Ayah Ady tiba-tiba berucap dengan menatap putrinya lekat, mendengar pertanyaan yang menurut Alfi ‘aneh’ itu, membuat gadis itu yang jarang sekali berekspresi, jadi mengerutkan alisnya.
“Kenapa? Ada apa? Kenapa jadi jodoh-jodohin gini? Ayah ngga papa kan?” Alfi menjadi cerewet.
Ayah Ady tertawa kecil melihat anaknya melontarkan banyak pertanyaan.
“Ya, ngga ada apa-apa, kalau kamu mau, Ayah akan ngomong ke Om Aqlan, gimana? Mau ngga?” Ayah Ady.
“Apa sih Ayah, ngga jelas,” Alfi berlalu meninggalkan Ayah dan Ibunya.
Di suatu tempat yang lain lagi.
“Apa sih Pi? Kenapa jadi kaya Om Adib sih jodoh-jodohin aku ama si Abdiel? Duh! Masih kecil, ngga ada nikah-nikah!” Akifa menatap Papinya malas.
“Ya kan nanti statusnya aja yang berubah, masalah sekolah, kuliah, kamu yang pengen punya toko bunga, semuanya tetap sama kok, kamu ngga akan kehilangan apa pun Sayang,” Papi Nibras membujuk anak gadis tunggalnya ini.
“Ngga! Kayak orang ngga laku aja dijodoh-jodohin, aku udah punya pacar, Pi!” perkataan Akifa membuat Mami dan Papinya saling melihat.
“Hah?! Siapa?! Sejak kapan?!” pasutri itu kompak terkejut.
“Kurir paket, 2 hari sekali kan kesini ngapelin aku,” jawaban ngeselin dari Akifa membuat orang tuanya mengembuskan napas lelah.
“Yang serius dong Sayang,” Mami Akifa berucap frustrasi.
“Udah! Ngga ada bahas hal kayak ginian, males aku, selamat malam Mami, Papi,” Akifa meninggalkan orang tuanya tanpa berkomentar apa pun lagi.
Esok harinya di sekolah, lebih tepatnya kantin, saat jam istirahat.
‘Haa ... .’
Di sebuah meja kantin, ada 6 pelajar mengembuskan napas lelahnya, ya meski tidak dijelaskan, para pembaca pasti tau kan, siapa mereka.
Kemudian, dengan tidak sengaja, mata mereka saling melihat dan menatap agak lama.
Akifa menatap Abdiel.
Alfi menatap Abhi.
Zarine menatap Rafka.
“Apa kamu?!” dengan ketus Akifa berucap pada Abdiel.
“Dih?! Kamu yang ngapain liatin aku?!” Abdiel menjawab dengan wajah gelinya.
“Udah! Ok, gini, ada yang mau aku ceritain!” Alfi melerai Akifa dan Abdiel.
Semua orang mendengarkan apa yang akan disampaikan Alfi, jarang-jarang loh Alfi mau cerita, biasanya kalau ngomong lebih banyak teka tekinya, bikin pusing orang.
“Bukan cerita sih, lebih ke tanya, aku mau tanya, kalau kalian dijodohin sama sahabat sendiri, kalian mau ngga?” ok, 5 orang di meja kantin ini terkesiap mendengar pertanyaan itu, Alfi menyadari ada yang tidak beres dari teman-temannya, dia pun membulatkan matanya penuh duga.
“Jangan bilang kalau nasib kita sama?” Alfi memicing curiga, 5 orang temannya pun menganggukkan kepala meng iya kan.
‘Haa ... .’
Lagi-lagi, helaan napas lelah terdengar. 6 orang ini pun tau, kalau mereka dijodohkan satu sama lain oleh orang tua mereka. ‘Ada-ada aja sih rencana orang tua.’ Batin mereka lelah.
.......
.......
.......
Bersambung ...
Lope you pull guys♥️
...Terima kasih guys🌹...
Ayo baca ulang karyaku, ada perubahan yang agak besar loh, in syaa Allah alurnya aku ubah biar tambah cantik😚
Love you all😚