'GURUKU ISTRIKU, SURGA DUNIAKU, DAN BIDADARI HATIKU.'
***
Dia adalah gurunya, dia adalah muridnya. Sebuah cinta terlarang yang berakar di antara halaman-halaman buku teks dan derap langkah di koridor sekolah. Empat tahun lebih mereka menyembunyikan cinta yang tak seharusnya, berjuang melawan segala rintangan yang ada. Namun, takdir, dengan segala kejutannya, mempertemukan mereka di pelaminan. Apa yang terjadi selanjutnya? Petualangan cinta mereka yang penuh risiko dan janji baru saja dimulai...
--- INI ADALAH SEASON 2 DARI NOVEL GURUKU ADALAH PACARKU ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Honeymoon
Sore harinya rombongan Kaesang meninggalkan villa, pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Zora hanya diam, menatap sayu ke luar jendela.
Papa Indra, yang menyetir, mulai merasa bosan karena tak ada obrolan dengan istrinya. Rasanya, ia cuma jadi sopir saja di mobil itu.
Sementara di mobil yang satunya, Kaesang dan Tyas asyik mengobrol, bercanda dan bermesraan. Keduanya sibuk merencanakan masa depan mereka, termasuk honeymoon mereka ke New Zealand Minggu depan.
"Dear, nanti setelah honeymoon kamu siap-siap ya," kata Kaesang, matanya berkilat jahil, sudut bibirnya terangkat. Pandangannya tetap tertuju pada jalan.
Tyas yang tengah bersandar pada bahu Kaesang segera mengerutkan keningnya, melirik Kaesang. "Siap-siap kenapa Yang?" tanyanya.
"Siap-siap buat bvnting, soalnya di sana nanti aku nggak akan kasih kamu waktu untuk istirahat. Kita jalan terus sampai akhirnya kamu hamil nanti," jawab Kaesang santai tapi penuh dengan keinginan. Senyumnya masih mengembang di sudut bibir.
Tyas mengerucutkan bibirnya kesal. Ia menepuk gemas lengan Kaesang. "Ish kamu ya! Nanti kalo aku nggak bisa jalan gimana?!" tanyanya sedikit ketus.
Kaesang tertawa. "Gampang nanti aku gendong kamu ala pengantin ke mana-mana. Kita mandi bareng, aishh, pokoknya kita bareng terus lah Dear!" serunya semangat, matanya berbinar-binar.
"Kamu ish!" Tyas menepuk lengan Kaesang lagi, tampak kesal.
Tak lama mereka tiba di depan rumah megah Kaesang. Satu per satu, mereka turun dari kendaraan masing-masing.
"Yang, habis ini kita ke rumah aku dulu ya ambil baju," kata Tyas.
Kaesang mengeluarkan barang belanjaannya dengan Tyas dari dalam mobil, menoleh ke Tyas. "Iya Dear, aku juga mau ambil barang-barangku nanti di apartemen," balasnya. "Ehm, Ma, Pa, aku sama Tyas izin pergi dulu ya, ambil barang-barang kita," katanya ke orang tuanya.
Zora tidak menjawab, wajahnya masih tampak murung. "Iya, nanti setelah selesai langsung pulang ya, jangan kemana-mana," kata Papa Indra, tersenyum tipis.
Kaesang dan Tyas mengangguk serentak. "Siap, yaudah kami berangkat dulu," Kaesang akan menarik gagang pintu mobil, tapi urung setelah melihat Tyas men-ci-um punggung tangan kedua orang tuanya. Kaesang mengikuti apa yang Tyas lakukan.
Setelahnya mereka berdua kembali masuk ke mobil yang tadi mereka naiki. Mesin dihidupkan, dan mobil melaju menuju rumah Tyas untuk mengambil barang-barang Tyas dan sekalian meminta izin kepada kedua orang tuanya.
Malam harinya, Tyas, Kaesang, Lingga, dan orang tua Kaesang menikmati makan malam bersama di meja makan. Suasana makan malam begitu hening, hingga Zora, setelah menghabiskan makanannya, tersenyum tipis, lalu pamit undur diri.
Kepergian Zora membuat Tyas dan yang lain saling berpandangan, sedikit heran. "Mama masih marah Yang, kita temuin mama yuk," usul Tyas kepada Kaesang.
Kaesang seperti abai. Setelah mamanya tidak terlihat lagi ia kembali melanjutkan makannya.
"Kae, kamu temuin mama kamu ya, dia kepikiran terus kayaknya. Mama kamu nggak pernah kayak gini loh sebelumnya," kata papa Indra turut membujuk Kaesang agar menemui Mama Zora.
Kaesang menelan makanannya, menatap Tyas dan papa Indra bergantian. "Iya nanti aku temuin," balasnya singkat.
Kaesang berdiri, meninggalkan meja makan tanpa mengajak Tyas. Tyas menatap punggung Kaesang yang perlahan menjauh, sampai akhirnya tidak terlihat lagi.
"Mama kenapa sih Pa?" tanya Lingga yang tidak mengerti.
"Tau tuh Mama, biarin aja lah. Nggak usah ikut campur, biar kakak kamu aja yang bujukin mama," jawab papa Indra.
Setelahnya mereka pun hening, tidak ada yang saling bicara. Sampai Lingga yang sudah menghabiskan makanannya, bangkit dan pamit pergi. Kini di meja makan itu hanya tersisa Tyas dan papa Indra. Keduanya asyik memakan makanan masing-masing, tidak saling bicara.
Di kamar kedua orang tuanya, Kaesang sedang mengobrol empat mata dengan mamanya. Ia dan mama Zora duduk di tepi ranjang, mama Zora terlihat sedih, seperti ingin menangis.
Kaesang meraih tangan mamanya, menggenggamnya. Wajahnya menunjukkan empati dan penyesalan.
"Ma, maafin aku ya. Aku nggak ada maksud tadi," kata Kaesang untuk yang kesekian kalinya.
Zora tetap tidak bicara, pun tidak menatap Kaesang.
"Ma," panggil Kaesang lagi. Tapi Zora tetap tidak menjawab.
"Ssh!" desis Kaesang, kesal. Ia mengacak-acak rambutnya, lalu men-ci-um pipi Mama Zora dengan cepat. Mama Zora terlonjak kaget. Matanya membulat, dan dengan cepat ia menoleh ke arah Kaesang.
"Masih kurang? Aku ciu-m pipi yang satunya ya?" Kaesang hendak men-ci-um pipi Mamanya yang lain, tetapi mamanya buru-buru memalingkan wajah.
Seketika, mata Kaesang berkaca-kaca. Ia sudah memutuskan untuk merubah dan melupakan semuanya. Sekarang melihat mamanya seperti ini kepadanya, ia merasa sedih dan terluka.
"Oke, kalau mama emang mau marah sama aku dan nggak mau nerima permintaan maafku, baiklah. Aku sama Tyas bakal tinggal di apartemenku," kata Kaesang tegas. Ia berdiri hendak beranjak pergi, tapi Mama Zora dengan cepat meraih tangannya. Kaesang menoleh, lalu kembali duduk di pinggir ranjang.
"Jangan pergi, Kae. Tinggal di sini aja sama mama," pinta Zora, suaranya bergetar menahan tangis. Air matanya menetes perlahan, membasahi pipinya.
Kaesang dengan lembut mengangkat tangannya, menyeka air mata mamanya dengan ibu jari.
"Jadi Mama udah maafin Kaesang?" tanya Kaesang kemudian.
Mama Zora mengangguk, lalu langsung memeluk Kaesang erat. Air matanya tumpah, deras seperti hujan. Kaesang bisa merasakan punggung mamanya bergetar karena tangisannya. Ia pun mengusap punggung mamanya dengan lembut.
Seminggu kemudian...
Hari-hari berlalu, dan akhirnya tiba saatnya bagi Kaesang dan Tyas untuk memulai perjalanan bulan madu mereka yang telah lama direncanakan. Keduanya bersemangat untuk menikmati liburan romantis yang telah mereka tunggu-tunggu. Perjalanan singkat ini mereka tempuh dengan menaiki jet pribadi milik sang papa, sebuah kemewahan yang menambah ekslusivitas momen spesial ini.
Begitu pintu pesawat terbuka, udara sejuk khas New Zealand langsung menyambut mereka. Tyas, dengan gaun musim semi yang ringan, tampak terpesona oleh pemandangan pegunungan hijau yang menjulang di kejauhan. Kaesang, yang selalu sigap, segera membantunya turun dan menggandeng tangannya menuju mobil mewah yang telah menunggu.
Perjalanan darat yang singkat membawa mereka ke sebuah resor eksklusif yang terletak di tepi pantai, dengan pemandangan laut yang menakjubkan. Begitu sampai di vila pribadi mereka, yang dipenuhi dengan bunga-bunga segar dan aroma lavender yang menenangkan, Tyas langsung memeluk Kaesang erat-erat.
"Ini... cantik banget, Yang," bisiknya, matanya berbinar-binar. Kaesang tersenyum, mencium kening istrinya, "Ini baru permulaan, Dear. Nanti kamu akan lebih terkejut lagi dengan apa aja yang sudah di persiapkan di sini."
Kaesang menggenggam tangan Tyas, mengajaknya masuk ke dalam vila. Di dalam, mereka disambut oleh interior yang elegan dan modern, dengan sentuhan kayu dan batu alam yang memberikan nuansa hangat dan nyaman.
Sebuah balkon luas dengan pemandangan laut yang memukau terbentang di depan mereka, lengkap dengan kursi santai dan meja kecil untuk menikmati minuman hangat di sore hari.
Tyas terkesima, matanya tak henti-hentinya menjelajahi setiap sudut ruangan. "Yang, ini... seperti di surga" ujarnya, suaranya berbisik penuh kekaguman. Kaesang tersenyum, "Bisa aja kamu. Semua ini aku persiapkan khusus untukmu Dear. Aku mau honeymoon kita sempurna."
Malam itu, Kaesang mengajak Tyas untuk menikmati makan malam romantis di sebuah restoran mewah yang terletak di tepi pantai. Suara ombak yang menghantam tebing menjadi alunan musik yang menenangkan, sementara langit malam dihiasi oleh jutaan bintang yang berkelap-kelip.
Diiringi oleh alunan musik jazz yang lembut, mereka menikmati hidangan seafood segar yang disajikan dengan penuh seni. Tyas merasa sangat bahagia, dirinya benar-benar merasa dicintai dan diratukan oleh Kaesang.
Bersambung ...