Zhang Wei akhirnya memulai petualangannya di Benua Tengah, tanah asing yang penuh misteri dan kekuatan tak terduga. Tanpa sekutu dan tanpa petunjuk, ia harus bertahan di lingkungan yang lebih berbahaya dari sebelumnya.
Dengan tekad membara untuk membangkitkan kembali masternya, Lian Xuhuan, Zhang Wei harus menghadapi musuh-musuh yang jauh lebih kuat, mengungkap rahasia yang tersembunyi di benua ini, dan melewati berbagai ujian hidup dan mati.
Di tempat di mana hukum rimba adalah segalanya, hanya mereka yang benar-benar kuat yang bisa bertahan. Akankah Zhang Wei mampu menaklukkan Benua Tengah dan mencapai puncak dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YanYan., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Yang Tak Berarti
Satu persatu, para murid Sekte Naga Hitam yang menyerang Zhang Wei jatuh berguguran. Beberapa dari mereka kehilangan kesadaran dalam satu pukulan, sementara yang lain memuntahkan darah sebelum tubuh mereka terhempas ke tanah tanpa daya. Dalam waktu singkat, tak ada satu pun dari mereka yang masih berdiri tegap.
Duan Zixuan, yang sejak tadi menikmati pemandangan dengan percaya diri, kini mulai merasakan kegelisahan menjalar di dadanya. Tidak mungkin. Bagaimana bisa seseorang yang hanya berada di ranah Martial King bintang lima menghabisi semua bawahannya tanpa sedikit pun perlawanan berarti?
Namun, harga dirinya sebagai putra dari tetua Sekte Naga Hitam membuatnya menepis rasa takut itu. Dengan suara menggema di antara pepohonan, dia mengacungkan jarinya ke arah Zhang Wei dan berteriak, "Berani sekali kau mencuri milik Sekte Naga Hitam! Kau tahu akibatnya? Tak peduli siapa kau, aku bersumpah akan membantai seluruh keluargamu dan menghancurkan setiap orang yang mengenalmu!"
Zhang Wei menahan tawanya. Jika bukan karena suasana yang sedang serius, dia pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Namun, dia memilih untuk tetap memasang wajah datar dan hanya menatap pemuda itu dengan mata penuh ketenangan.
Kemudian, dengan suara santai namun menggema di udara, dia berkata, "Aku, Bai Chen, tak pernah takut pada siapa pun. Mau kau itu tuan muda atau pewaris dari kekuatan besar sekalipun, aku tak peduli. Bagiku, apa yang kuinginkan akan kudapatkan."
Mata Duan Zixuan sedikit melebar, cengkeraman tangannya pada pedang di pinggangnya semakin erat. Untuk pertama kalinya, dia merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Ada sesuatu dalam sorot mata Zhang Wei—sesuatu yang membuatnya mengerti bahwa pria di depannya bukanlah orang biasa.
Namun, dia tak bisa membiarkan harga dirinya jatuh. Dengan gerakan cepat, dia menghunus pedangnya, senjata spiritual tingkat tujuh yang mengeluarkan aura tajam berwarna hitam kehijauan.
"Kau terlalu sombong! Jika kau memang sekuat itu, keluarkan pedangmu!" serunya, matanya menatap tajam ke arah pedang bersarung yang tersampir di punggung Zhang Wei.
Zhang Wei hanya mengangkat alisnya. "Itu mungkin bukan ide yang bagus untukmu," jawabnya ringan.
Namun, pernyataan itu justru membuat Duan Zixuan semakin marah. Dia merasa diremehkan, seakan lawannya menganggapnya bukan ancaman sama sekali. Dengan amarah yang meluap, dia menerjang Zhang Wei dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
Pedangnya menari di udara, melepaskan gelombang qi berwarna hitam yang membelah tanah di sekitarnya. Teknik Sekte Naga Hitam terkenal akan keganasannya, dan Duan Zixuan telah menguasai banyak di antaranya. Dalam satu tarikan napas, dia melancarkan serangan bertubi-tubi, mengombinasikan kecepatan dan kekuatan dengan presisi yang luar biasa.
Namun, Zhang Wei tetap berdiri di tempatnya, menghindari setiap serangan dengan gerakan dasar yang sederhana. Dia tidak membalas, tidak melawan, hanya bergerak dengan elegan, seolah tubuhnya menari mengikuti arus serangan lawan tanpa pernah tersentuh sedikit pun.
Duan Zixuan mulai frustrasi.
"Bertarunglah dengan serius, bajingan!" raungnya, sebelum melompat mundur dan menyiapkan teknik pamungkasnya. Mata pedangnya bergetar, qi hitam menyelimuti seluruh bilahnya, menandakan bahwa dia akan menggunakan jurus puncak Sekte Naga Hitam—Naga Hitam Menerkam Langit.
Namun, sebelum dia sempat melancarkan serangan itu, Zhang Wei menghilang dari pandangannya.
*Dug!*
Dalam sepersekian detik, sebuah telapak tangan menampar sisi wajahnya dengan keras. Bukan pukulan, bukan serangan mematikan—hanya tamparan biasa yang cukup membuatnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang dengan mata membelalak penuh keterkejutan.
"Bagaimana...?!"
Duan Zixuan tak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Dia, seorang yang hampir mencapai Martial Emperor, baru saja ditampar begitu saja di depan murid-murid sektenya dan lawan-lawannya.
Zhang Wei menghela napas, melirik tangannya seolah sedang menilai kekuatan tamparannya sendiri. "Kau ingin aku serius? Jika aku menggunakan pedangku, kau tidak akan punya kesempatan untuk berbicara lagi."
Seluruh tubuh Duan Zixuan bergetar. Bukan karena marah, tapi karena ketakutan yang mulai menjalari pikirannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa seperti seekor tikus yang terjebak di hadapan seekor naga. Namun, dia masih tak ingin menyerah.
"Jangan sombong! Aku akan—"
*Bugh!*
Sebuah tendangan ringan mengenai perutnya, dan seketika dia terlempar beberapa meter ke belakang, menghantam tanah dengan keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Zhang Wei menggeleng pelan. "Kau terlalu banyak bicara."
Dengan satu lompatan, dia sudah berada tepat di depan Duan Zixuan, yang kini tergeletak dengan mata membelalak penuh ketakutan.
"Sekarang, apa kau masih ingin mengancamku?" tanyanya, suaranya begitu tenang, namun membawa tekanan yang membuat nyali Duan Zixuan hampir runtuh.
Sekte Giok Abadi yang sejak tadi hanya bisa menyaksikan dalam diam kini mulai menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus kagum. Mereka datang ke tempat ini dengan harapan bisa merebut tanaman roh, tetapi yang mereka dapatkan adalah menyaksikan seorang pria misterius menghancurkan seluruh kepercayaan diri Sekte Naga Hitam hanya dengan gerakan sederhana.
Duan Zixuan mulai merasa putus asa. Setiap serangannya seperti menabrak dinding tak kasat mata yang tidak bisa ia goyahkan. Dengan napas tersengal, keringat mulai bercucuran dari dahinya. Semua bawahan yang ia perintahkan untuk menyerang telah tumbang satu per satu, tubuh mereka tergeletak di tanah, ada yang mengerang kesakitan, ada pula yang sudah tak sadarkan diri.
Tatapan Duan Zixuan berubah liar, matanya melirik ke kanan dan kiri sebelum perlahan tangannya merogoh ke dalam jubahnya. Tanpa suara, ia memecahkan sebuah slip giok dengan gerakan halus, seolah berharap pemuda di depannya tidak menyadarinya.
Sayangnya, Zhang Wei melihat semuanya. Dari awal, ia sudah menduga bahwa seseorang seperti Duan Zixuan pasti memiliki cara lain untuk meminta bantuan. Bahkan sebelum suara pecahan slip giok itu menghilang, sudut bibir Zhang Wei sedikit terangkat.
“Menarik,” gumamnya dalam hati.
Zhang Wei bisa saja langsung menghentikan tindakan Duan Zixuan, tapi ia memilih untuk melihat ke mana arah permainan ini akan berjalan. Selagi entitas yang dia singgung bukan ranah Martial Sovereign maka itu bukanlah masalah, bahkan jika Martial Sovereign pun Zhang Wei masih bisa mengatasinya dan itu justru kesempatan bagus baginya, Dunia ini begitu luas, dan ia membutuhkan pengalaman lebih banyak untuk memperkuat dirinya.
Ia pun menatap Duan Zixuan dengan ekspresi datar, sementara pemuda dari Sekte Naga Hitam itu masih menyembunyikan kepanikannya di balik senyum angkuhnya. Tanpa berkata apa-apa, Zhang Wei hanya menunggu—menunggu mangsa baru yang akan datang.
up
up
up
up
up
ditunggu story line berikutnya.
Bravo!