Pelacur mahal milik Wali Kota. Kisah Rhaelle Lussya, pelacur metropolitan yang menjual jiwa dan raganya dengan harga tertinggi kepada Arlo Pieter William, pengusaha kaya raya dan calon pejabat kota yang penuh ambisi.
Permainan berbahaya dimulai. Asmara yang menari di atas bara api.
Siapakah yang akan terbakar habis lebih dulu? Rahasia tersembunyi, dan taruhannya adalah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arindarast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan luka lama
Ruang tengah Rhaell terlihat penuh sesak dengan pemandangan tiga pria bertubuh atletis, yang sedang menyantap nikmat hidangan makanan cina.
Arlo, dengan telaten, sedang menyuapi Sienna dumpling kecil yang masih hangat. Tatapan lembutnya pada Sienna menunjukkan sebuah kasih sayang yang tak terbantahkan. Di sisi lain, Atlas dan Edgar berbincang ringan, tawa mereka sesekali memecah kesunyian malam.
Setelah makan malam selesai, Atlas dan Edgar dengan sigap membereskam peralatan makan, sementara Sienna dengan lincah membantu mereka, sesekali mengunyah pao cokelat yang tersisa.
Rhaell, merasakan kebutuhan untuk menarik napas, berjalan menuju balkon, membawa segelas air es. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma kota yang menenangkan.
Arlo, yang mengamati Rhaell dari dalam ruangan, menyusulnya ke balkon. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakannya, dan menghisapnya dalam. Asap rokok mengepul di udara malam, menciptakan suasana yang menarik.
Rhaell menoleh ke Arlo dan tanpa ragu, ia mengambil rokok yang sedang dihisap Arlo. Menghisapnya sekali, merasakan sensasi nikotin yang asing dan sedikit menyenangkan. Sampai beberapa detik, lalu mengembalikannya lagi pada Arlo.
Arlo tertegun, menatap Rhaell dengan tatapan yang sulit diuraikan. “Aku akan menunjukanmu sesuatu.” Katanya, mengeluarkan ponsel dari saku belakang celananya.
Rhaell mendekat dan layar ponsel Arlo menunjukan CCTV rumahnya. “Apa ini?” Tanya Rhaell, keheranan.
“Rekaman ini akan menjawab sejuta pertanyaanmu.” Ucap Arlo tenang.
...****************...
Di sebuah kamar besar nan megah, cahaya matahari membanjiri ruangan. Warna-warna pastel yang mendominasi dan lukisan gambar-gambar lucu di setiap sudut, menambah kesan keceriaan.
Seorang pria dengan tato yang menghiasi lengannya, sedang memasang jepitan rambut berwarna pink kepada seorang gadis berusia delapan tahun.
Marco, dengan rambutnya sendiri yang tampak tak terurus dan sedikit berantakan, bergulat dengan kepangan rambut anaknya yang lebat.
Di latar belakangi televisi yang menayangkan kartun kesukaan gadis kecil itu. Suara karakter Shin-chan yang unik dan diselingi tawa riang dari sang gadis, membuat siapa saja yang melihat, dapat merasakan keharmonisan bapak dan anak ini.
Setelah jepitan rambut pink terpasang, Marco tersenyum puas. “Nah, selesai! Princess Sienna, siap untuk menaklukkan dunia!" katanya, mengangkat Sienna sedikit tinggi lalu menurunkannya dengan lembut.
Sienna tertawa kecil, lalu berputar-putar di depan cermin. “Sienna kan emang mirip Mommy, makanya cantik!” ujarnya dengan suara manja.
Marco mencubit pipi Sienna dengan lembut. “Iya, iya, anak Daddy yang paling mirip Mommy… yang paling cantik se-dunia.”
Sienna menjulurkan lidahnya. “Daddy ngomongnya kayak oma-oma”
Marco tertawa. “Oma-oma yang ganteng, dong!” Ia menunjuk ke arah televisi. “Shin-chan lagi ngapain tuh?”
Sienna menatap televisi dengan mata yang memperhatikan. “Dia lagi makan coklat banyak-banyak, Dad! Aku juga mau!"
Marco menggeleng kepala sambil tersenyum. “Nanti malam ya, sayang. Sekarang kita main dulu, gimana? Sambil nunggu nasi gorengnya mateng.”
Sienna berpikir sebentar, lalu mengangguk dengan semangat. “Oke! Kita main jadi keluarga Shin-chan! Sienna mau jadi Shiro!” ujarnya, menunjuk ke anjing peliharaan Shin-chan di televisi.
Marco tertawa keras. “Shiro? Oke, Daddy jadi Shin-chan aja, ya!” Ia kemudian meniru suara dan gerakan Shin-chan yang lucu, membuat Sienna tertawa guling-guling. Suasana ruangan semakin penuh dengan tawa dan keceriaan ayah dan anak tersebut.
Hingga di saat tawa Sienna perlahan mereda. Ia berhenti berputar dan menatap Marco dengan tatapan serius yang tak biasa bagi usianya. “Dad,” suaranya pelan, “Sienna pengen ketemu Mommy. Mommy di mana sih?”
Senyum Marco memudar. Tawa riang di ruangan seakan membeku seketika. Ia mengusap lembut rambut Sienna, jari-jarinya terasa berat. Pertanyaan itu, sesederhana apa pun, selalu menusuk hatinya.
Ia menarik napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Mommy Sienna… Mommy Sienna lagi main petak umpet, tapi ngumpetnya kejauhan, Daddy udah cari kemana-mana, tapi nggak bisa nemuin Mommy lagi.” Suaranya dibuat sedih. Ia menghindari kata-kata yang terlalu rumit untuk dipahami Sienna.
Sienna mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Sienna pengen ketemu Mommy…”
Marco memeluk Sienna erat, tetapi di dalam hatinya, ada rasa marah yang membara. "Daddy juga pengen ketemu Mommy, sayang. Banyak hal yang harus dibayar kontan" Ujarnya, berusaha menahan nada suara agar tidak terdengar penuh kebencian.
Ibu Sienna pacar pertamanya saat masih remaja, memilih melahirkan diam-diam dan kabur. Meninggalkan mala petaka berupa bayi se-lucu Sienna, sendirian di depan rumah kelurganya.
Sejak usia muda, Marco telah menorehkan jejaknya sebagai seorang pemberontak, seorang anak yang tak kenal takut dan selalu menantang batas-batas. Marco adalah badai yang tak terkendali, sebuah pusaran keonaran yang tak pernah berhenti.
“Kontan? Maksud Daddy, Detektif Conan?”
Marco menahan tawa, berusaha mengalihkan perhatian Sienna dari suasana yang mulai mendung. “Iya, bener! Detektif Conan! Kita butuh dia buat nyari Mommy,” jawabnya sambil berusaha tersenyum.
Sienna mengernyitkan dahi, tampak berpikir keras. “Tapi, Dad, kenapa Mommy nggak bisa pulang sendiri? Apa Mommy lupa jalannya pulang ke rumah?”
Marco sangat ingin menjelaskan segalanya, tetapi ia tidak cukup bodoh untuk memberi kenyataan pahit pada Sienna.
“Enggak dong… Mommy kan masih dalam misi petak umpet.” Jelasnya ekspresif “nanti kalo udah mission complete, Mommy pasti pulang.”
Aroma nasi goreng yang harum tiba-tiba memenuhi ruangan, membuyarkan sedikit ketegangan yang masih terasa. Seorang kepala asisten rumah tangga bernama Grace, dengan senyum ramah, memasuki kamar sambil membawa sebuah piring berisi nasi goreng yang menggugah selera.
“Nasi gorengnya sudah matang, Princess Sienna,” katanya lembut, meletakkan piring tersebut di meja kecil dekat televisi.
Sienna yang matanya masih berkaca-kaca langsung teralihkan oleh aroma sedap tersebut. “Waaah, teur Mickey Mouse!” serunya, wajahnya langsung berseri-seri.
Marco memanfaatkan kesempatan itu untuk mengalihkan perhatian Sienna sepenuhnya. Ia mengambil sedikit nasi goreng dan menyuapkannya ke mulut Sienna. “Nah, makan dulu, Princess. Nasi gorengnya enak banget, lho!”
Sienna menyantap nasi goreng dengan lahap, pertanyaan tentang ibunya seakan terlupakan untuk sementara.
Marco mengamati putrinya dengan perasaan campur aduk. Ia lega karena berhasil mengalihkan perhatian Sienna, tetapi rasa bersalah dan amarah terhadap ibunya tetap menghantui.
Sampai mala pataka selanjutnya, datang. Suara langkah kaki menggema di lantai marmer, mengalahkan gemerisik sendok Sienna.
Itu adalah suara sepatu hak tinggi yang familiar, langkah kaki yang selalu membuat Sienna bergidik. Sebelum Marco sempat bereaksi, pekikkan nyaring seorang wanita paruh baya terdengar dari balik pintu.
“Cepat bersihkan semuanya. Buang mainan-mainan kotor itu… sumpek lihatnya.” Nada yang tak ada sedikit pun kelembutan di dalamnya. Itu nenek Sienna, ibu Marco dan Arlo.
Kedatangannya tak terduga, dan selalu disertai perintah-perintah yang membuat para pelayan rumah sibuk berlarian.
Sienna yang tadi masih menikmati nasi goreng, langsung berhenti makan dan terdiam. Wajahnya pucat pasi, tanpa sepatah kata. Gadis kecil itu memilih berlari, bersembunyi di balik lemari pakaian dengan tubuhnya yang gemetar hebat.
Marco menghela napas panjang. Ia tahu bahwa ibunya, memiliki sifat yang keras dan dingin. Ia juga tahu bahwa beliau tidak pernah benar-benar menerima Sienna sebagai cucunya.
Hubungan mereka selalu tegang dan penuh dengan ketidaknyamanan. Marco melirik Sienna yang masih bersembunyi, kemudian dirinya berjalan keluar dari kamar dan menutup pintunya.
Ia mendapati ibunya sedang berdiri dengan ekspresi menilai. Di belakangnya, para asisten rumah tangga sibuk membersihkan ruangan, menyingkirkan mainan-mainan Sienna dengan tergesa-gesa.
“Ruangan ini kotor sekali, Co. Bagaimana nanti kalau kakakmu tidak nyaman?”
Marco menghela nafas, menahan gejolak emosi. “Bu, ini bukan tentang berantakan, tapi tentang bagaimana kita membesarkan anak,” jawabnya tenang, berusaha mengendalikan amarah.
“Membesarkan anak? Arlo, di usianya yang sama sepertimu, sudah jauh lebih dewasa dan bertanggung jawab. Dia memiliki visi yang jelas, tidak neko-neko seperti kamu.” Mulai lagi. Perbandingan selalu digemborkan setiap Marco berhadapan dengan ibunya yang berpenampilan sosialita itu.
“Arlo selalu berpikir rasional, memilih jalan yang pragmatis dan terencana. Tidak seperti kamu yang selalu impulsif dan urakkan!”
“Jangan bandingkan aku dengan Arlo!” Marco membentak. Emosinya hampir mencapai puncak.
“Apa ucapan Ibumu ini salah? Arlo punya masa depan yang cerah, sedangkan kamu?” Sindirnya.
Dia melihat Arlo sebagai contoh anak yang sukses, yang mengikuti jejaknya, dan selalu membandingkan hal itu dengan Marco, si bungsu yang memiliki jiwa bebas, yang tidak pernah sesuai dengan keinginan ibunya.
“Cukup, Bu!” Marco memotong ucapan ibunya, suaranya bergetar menahan ledakan. “Saya tidak akan membiarkan Ibu terus-menerus menghina saya dan Sienna. Saya memiliki cara hidup saya sendiri.”
“Cara yang selalu kacau balau dan penuh masalah!” Nenek Sienna membalas, suaranya penuh kebencian. “Kamu tidak akan pernah seperti Arlo.”
“Dan saya bangga dengan itu,” Marco membalas dengan suara yang lebih keras. “Saya tidak perlu menjadi Arlo untuk membuktikan diri saya.” Ia menatap ibunya dengan tatapan tajam.
“Bela saja terus anak haram itu.”
“Oh, jelas. Selamanya saya akan melindungi Sienna. Dia putri saya.”
“Kamu pikir kamu bisa melindunginya dari kenyataan bahwa dia anak haram?” Nenek Sienna mengejek. “Kamu tidak akan pernah bisa mengubahnya.”
“Tapi saya akan tetap berusaha untuk memberikannya kehidupan yang layak dan penuh kasih sayang, sesuatu yang tidak pernah Ibu berikan kepada saya!” Marco membalas dengan suara yang lebih keras.
Ibunya terdiam dan menatap Marco dengan penuh penyesalan. Menyesal karena melahirkan anak yang tidak tahu terima kasih.
Dirinya selalu memberikan yang terbaik untuk Marco, tapi caranya menunjukkan kasih sayang dan harapannya selalu dianggap salah.
“Sekarang, jika Ibu tidak bisa menghormati Sienna, sebaiknya Ibu pergi.” Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya, diselingi oleh isakan pelan Sienna yang terdengar dari balik lemari.
Pertempuran antara seorang ibu dan anak laki-lakinya, diwarnai oleh rasa sakit masa lalu dan pertarungan untuk masa depan, berlangsung di tengah ruangan yang seharusnya dipenuhi dengan keceriaan.
...****************...
Rhaell menyerahkan kembali ponsel itu pada pemiliknya. Tak ada kata yang bisa ia ucap, karena kesaksian CCTV yang barusan ia tonton, ketegangannya melebihi drama kolosal yang sedang marak.
Hampir beberapa menit mencerna, akhirnya Rhaell berbicara, suaranya hampir terdengar seperti bisikan, “Aku... aku tidak tahu harus berkata apa.”
“Marco sudah mencari ibu Sienna sejak lama,” katanya Arlo pelan, “tapi nihil.” Ia menatap Rhaell, matanya menunjukkan sebuah pemahaman yang dalam.
Tergambar jelas di raut wajah Arlo yang sangat menyayangi keluarganya, meski harus menghadapi ibunya keras dan Marco dengan seribu kebejatannya.
Rhaell merapatkan tubuhnya pada Arlo, memberikan sedikit energinya pada pria yang tampak lelah itu, “Mau tidur denganku?”
Bersambung…
tu kan mo arah ke ❤❤ gituu 😅🤗