NovelToon NovelToon
Alone Together

Alone Together

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Teen School/College / Romansa
Popularitas:327
Nilai: 5
Nama Author: Mara Rainey

Tujuh murid Seoryeong Academy terpaksa menjalani detention di hari libur setelah membuat onar di sekolah. Park Jiha, si cewek populer yang semua orang iri. Kim Taera, cewek beprestasi yang sempat jadi primadona namun berakhir difitnah dan dikucilkan. Jeon Junseok, murid bandel kesayangan Guru BK. Kim Haekyung, atlet kebanggaan yang selalu terlihat ceria. Min Yoohan, tukang tidur yang nyaris tidak pernah peduli. Serta Kim Namgil & Park Sojin, Ketua Kelas dan murid teladan yang diam-diam suka bolos demi mojok (pacaran).

Mereka mengira hanya perlu duduk diam beberapa jam, menunggu hukuman selesai. Tapi semua berubah saat seseorang mengunci mereka di gedung sekolah yang sepi.

Pintu dan jendela tak bisa dibuka. Cahaya mati. Telepon tak berfungsi. Dan kemudian… sesuatu mulai mengawasi mereka dari bayang-bayang. Tujuh bocah berisik terpaksa bekerja sama mencari jalan keluar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Rainey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 : The Ghost and The Survivor

                                                                            ~Happy Reading~

Jisoo menggiring Junseok ke ruang auditorium.

Junseok berhenti, celingukan bingung. "Kenapa kau membawaku ke auditorium?"

Jisoo ngeluyur duluan naik ke panggung. Terpaksa Junseok mengikuti. Keadaannya jauh lebih gelap. Dan udaranya pun terasa lebih dingin. Papan-papan lantai berderak-derak ketika diinjak. Setiap bunyi terdengar menggema. Baru sampai di puncak tangga, ditinggal meleng sedikit, Jisoo sudah lenyap dari pandangannya.

"Heeei! Kau dimana?"

Junseok mendengar suara perempuan sayup-sayup memanggilnya. "Di bawah sini!"

"Di bawah mana?" Junseok celingukan bingung.

"Di bawah sini!"

Di bawah panggung? Sepertinya dari situlah dia memanggil.

Junseok menemukan lubang besar berbentuk persegi di panggung. Dia maju sampai ke tepi lubang dan memandang ke bawah. Jisoo sedang menatap ke atas, melambaikan tangan. Jisoo berdiri di sebuah pelataran kecil berbentuk bujur sangkar, sekitar satu setengah sampai dua meter di bawah panggung. "Kalau mau turun ke bawah kau harus menaikkan pelataran ini," katanya.

"Bagaimana caranya?" tanya Junseok.

Jisoo menunjuk tuas kayu di sebelah kanan pintu panggung.

"Oke!" Junseok menarik tuas itu, agak berat dan butuh tenaga, untung otot Junseok besar-besar.

Tak lama dia mendengar bunyi berdentang. Lalu bunyi gesekan. Lalu bunyi berderak. Perlahan-lahan pelataran mulai bergerak naik.

Sambil tersenyum lebar, Jisoo segera melangkah ke panggung. Dia cengar-cengir menatap Junseok sambil menepis debu yang melekat di rok kotak-kotaknya. "Jangan bilang kau baru tahu soal pintu kolong di bawah panggung?"

Sumpah. Seumur hidup Junseok baru tahu ada yang namanya pintu kolong. Bukan anggota ekskul drama sih. Fungsi Junseok di sekolah ini yaitu menakut-nakuti mereka.

"Pintu kolong ini sengaja dibuat untuk pementasan drama Jack The Ripper," ungkap Jisoo. "Pihak sekolah membuat pintu kolong ini supaya Si Hantu bisa menghilang atau muncul dari bawah."

Junseok terdiam. "Ini masih tidak menjawab kenapa kau membawaku ke sini. Cuma untuk menunjukkan pintu kolong bodoh ini? Noona, aku tidak punya waktu untuk mendengarmu menjelaskan sejarah sekolah ini."

Jisoo geleng-geleng kepala. "Ya tuhan, kau agak telmi."

Junseok merengut dikatain telmi.

"Coba periksa lantai di dekat kakimu," tunjuk Jisoo. "Cari tombolnya."

Jisoo sudah berdiri di atas pintu kolong sementara Junseok menunduk mencari-cari tuas itu dalam kegelapan. Beberapa detik mencari akhirnya dia berhasil melihat tuas kecil di lantai.

Junseok menginjak tuas itu lalu melompat ke samping Jisoo.

Dia mendengar bunyi berdentang Lalu bunyi gesekan. Lalu bunyi berderak-derak. Bagian lantai yang mereka injak mulai turun. Bunyi berdentang itu bertambah keras. Pelataran bujur sangkar di bawah kaki mereka terus bergetar sambil bergerak ke bawah. Turun... turun... turun... sampai panggung di depan mata lenyap. Dikelilingi kegelapan pekat, Junseok mengeluarkan pemantik dan kembali menyalakannya. Cahaya oranye menerangi wajah mereka berdua.

Tadinya Junseok kira pelataran itu bakal berhenti persis di bawah panggung. Tapi di luar dugaan, mereka terus bergerak ke bawah.

"Seberapa jauh kita bakal turun?" tanya Junseok cemas.

Cewek di sampingnya diam saja.

Junseok agak terhuyung ketika pelataran itu mendadak berhenti. Akhirnya mereka sampai di dasar lubang.

Junseok tolah-toleh. "Ini dimana?"

Jisoo tidak mau capek-capek menjawab. Biarkan Junseok menebak sendiri.

Mereka berada di pintu masuk menuju ke terowongan yang gelap. Silahkan tebak sendiri itu dimana.

Junseok menengadah dan menatap langit-langit auditorium. Langit-langit itu tampak seperti kotak kecil yang terang di kejauhan. Seakan-akan berada bermil-mil di atas kepala.

Junseok masih penasaran. "Kita ada di mana sih?"

"Kira-kira satu mil di bawah panggung," sahut Jisoo.

"Kalau itu sih aku juga sudah tahu," balas Junseok dengan nada mengejek.

"Kalau kau memang lebih tahu, kau saja yang beritahu aku." Jisoo menantangnya.

"Noona," gumam Junseok sambil merinding, "Kenapa turunnya jauh sampai ke dasar bumi? Padahal seingatku tadi tidak sejauh ini."

"Entahlah. Mungkin supaya hantu-hantu bisa lebih cepat pulang setelah gentayangan di auditorium," Jisoo berkelakar. Lucu. Padahal diri sendiri hantu.

Junseok pasang tampang datar. "Terus cara naik lagi ke atas gimana?"

Jisoo sih enak! Junseok tidak punya skill terbang masalahnya.

Junseok berlutut dan mulai meraba-raba lantai, "Pasti ada tuas yang bisa ditekan di sini," katanya.

"Tuasnya ada di atas sana," sahut Jisoo menunjuk ke panggung.

"Kalau begitu pasti ada tombol atau sakelar atau apa saja yang bisa ditekan!" seru Junseok. Suaranya mulai melengking karena takut.

Junseok terus meraba-raba lantai, mencari-cari sesuatu yang bisa diitekan atau ditarik atau diputar. Sesuatu yang akan membuat pelataran kecil itu naik dan mengangkat mereka berdua ke auditorium.

Setelah mencari selama beberapa menit, Junseok menyerah.

"Aku terjebak sekarang, kau puas?" Jungkok mengacak-ngacak rambutnya seperti orang keramas. "Kau sengaja ya menjebakku di bawah sini supaya aku mati digerogoti tikus?"

"Kau sendiri yang mau ikut," sahut Jisoo enteng. "Lagipula mati digerogoti tikus masih mending daripada ditembaki."

Junseok menghela napas. Dia kalah menghadapi yang sudah lebih senior.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

Tubuh Junseok membeku, barusan dia mendengar jeritan.

"Jiha!" Untuk urusan yang satu itu Junseok tidak perlu banyak protes, dia langsung berlari menerjang gelap, berlari menyusuri terowongan dengan langkah kesetanan.

Dia asal membuka pintu. Ada tangga di sebelah kiri, langsung saja diterjang Junseok saking kalapnya.

Gadis itu mengatakan sesuatu, tetapi Junseok terlalu fokus ke Jiha. Kali ini mereka sampai di aula, Junseok mencoba semua pintu, sayangnya terkunci, dia berlari menaiki tangga. Pintu di atas ditutup. Dia menariknya, tetap terkunci.

"Tidak bisa?" tanya gadis itu. Dia berada di dasar tangga.

Junseok menggedor-gedor pintu. "Jiha!"

"Kita harus pergi," ucap Jisoo. "Aku mungkin tahu di mana temanmu."

Junseok menuruni tangga sambil berkacak pinggang. "Pintu yang mana?"

Jisoo ngeluyur duluan ke lorong di sebelah kiri. Junseok mengekor di belakangnya, menyusuri lorong lain. Jisoo membawanya melewati pintu rendah, yang harus dilewati dengan cara merangkak. Di sekitarnya terdapat pipa-pipa yang saling tersambung satu sama lain. Junseok berhati-hati agar kepalanya tidak kejedot.

"Di sana," Jisoo menunjuk ke sebuah pintu kecil. "Itu... masuk ke lemari."

Junseok berdiri di dekat pintu, mengernyit. "Kok ke sana?"

"Di situlah dia tinggal."

"Siapa?"

"Si mesum."

SI MESUM?! Junseok menatap Jisoo dengan matanya yang lebar itu.

"Masuk ke lemari! Cepat!" desak Jisoo belingsatan. "Itu terhubung ke lemari di suatu kamar."

"Kau tahu darimana?"

"Temanku cerita."

Teman yang mana lagi?

Junseok tidak mau ambil pusing. Dia kembali memandang ragu pintu kecil yang kata Jisoo terhubung ke bagian belakang lemari di sebuah kamar.

"Oke... baiklah." Junseok sudah selesai berpikir. Tidak ada salahnya dicoba.

Junseok membuka pintu dan memasukkan kepalanya ke dalam lemari. Banyak barang-barang ditumpuk di kedua sisi. Beberapa jaket berbau basi tergantung langsung di depan hidungnya. Junseok menyibak dua jaket tua, dia butuh jalan. Junseok sekarang melihat cahaya dari celah tipis di panel pintu lemari. Dia bisa mendengar suara pria yang teredam, asalnya dari seberang sana.

Si mesum? Itukah yang dimaksud Jisoo?

Berarti benar Jiha ada di sana.

Junseok melirik sekeliling sambil melangkah dengan hati-hati melewati mantel-mantel, sengaja menahan napasnya dari bau apek dan debu.

Awalnya dia hanya melihat punggung seorang pria, duduk di sisi tempat tidur, bergumam. Tetapi kemudian pria itu berdiri, membuka jarak pandang Junseok langsung ke tempat tidur.

Dia melihat Jiha terengah-engah, kedua tangannya diikat ke tiang, kedua betisnya basah oleh darah yang mengalir deras di sepanjang kulitnya, menetes-netes ke kasur. Pemandangan itu terlalu miris. Jiha hanya mengenakan pakaian dalam. Dia gemetaran sambil menangis.

Junseok tidak tahu apa yang telah merasuki dirinya. Bukan hanya amarah. Dia juga dirasuki dendam. Dendam ingin mematahkan tulang si bedebah. Beraninya sama perempuan!

Junseok sempat berpikir untuk membidik diam-diam dari dalam lemari. Tapi itu cara membunuh yang sangat tidak memuaskan. Bedebah itu tidak pantas mati dengan cara elegan seperti ditembak. Dia pantas disiksa dulu pelan-pelan. Dibikin menderita sampai ke sumsum tulang belakang.

Lagipula, senapan tidak praktis. Salah-salah dia akan terlibat pertarungan tidak penting seperti di ruang kepala sekolah. Salah-salah lagi, Jiha bisa terkena sabetan peluru nyasar. Yang mereka hadapi masalahnya orang tidak waras.

Akhirnya dia singkirkan senapan dari punggungnya diganti tongkat bisbol yang terbaring manis di rak bagian atas.

Junseok tersenyum, cengkramannya kokoh di pegangan bisbol, diayun-ayun sebagai pemanasan. Tongkat ini sempurna untuk memuaskan amarah.

.

.

.

Jiha merintih kesakitan, eyeliner dan maskara luntur merusak keindahan pipi mulus Jiha.

Sekarang lelaki itu berdiri di dekatnya, dadanya telanjang dan bidang. Mata pria itu asik menelanjangi tubuh Jiha. Membayangkan semua adegan seksual yang dapat dilakukannya dengan sebilah pisau, membayangkan bagian mana yang akan dia ukir terlebih dahulu.

Perlahan, seolah mengejeknya, Jangwoo melepas celananya dan menjatuhkannya di lantai.

Jiha memejamkan mata. Ketika membukanya lagi, dia melihat Jangwoo telah mengeluarkan pisau, mengayunkannya di depan wajah Jiha sembari membungkuk. Jiha melihat wajah berantakan dan takut seorang gadis terpantul di baja pisau itu.

Jangwoo menggoreskan bagian punggung pisaunya di perut Jiha. Rasa dingin dari pisau itu membuat Jiha mengigil. Dengan tatapan merendahkan, Jangwoo menggerakkan pisau semakin ke bawah, ke arah kemaluan Jiha. Jiha menahan napas. Lelaki itu mencondongkan tubuh dan napasnya berhembus di telinga Jiha.

"Pisau ini sudah banyak mencungkil mata gadis-gadis murahan sepertimu."

Kemarahan Jiha meledak, dia ingin sekali membunuh lelaki itu sekarang juga.

Tepat, pada saat itu, doa Jiha terkabul. Tongkat bisbol menabrak tengkorak Jangwoo dengan suara keras. Pria itu terhuyung jatuh.

Junseok mengeluarkan pisau lipat, mendekati sisi tempat tidur, berusaha mengiris tali yang mengikat kedua pergelangan tangan Jiha ke tiang ranjang.

Mata Junseok bertemu dengan mata Jiha yang redup. Berbagai perasaan campur aduk muncul. Sedikit lega, putus asa, dan menyesal karena terlambat.

"Awas di belakangmu!" pekik Jiha.

Junseok menoleh, benar saja, binatang buas itu keburu bangkit.

Junseok kembali mengayunkan tongkatnya dan mengenai Jangwoo di perut, bukan jenis pukulan yang akan membuatnya terlempar. Tapi cukup menyakitkan.

Junseok menyimpan pisaunya, kembali mengayunkan tongkat, menyerang lutut kanan. Sesuatu retak, dan itu bukan tongkat di tangan Junseok pastinya. Jangwoo berteriak meratapi lututnya.

Mampus! Biar dia tau bagaimana rasa sakit!

Junseok menancapkan pisau miliknya kuat-kuat ke tenggorokan Jangwoo. Pria itu melotot, terhuyung mundur, mengeluarkan suara rintihan aneh yang lebih menyerupai lolongan binatang sekarat. Darah segar mengucur, membasahi area leher. Setengah mati dia berusaha menahan kucuran darahnya menggunakan telapak tangan.

Tak ingin tinggal diam, Junseok memanfaatkan kesempatan itu untuk menghantam sekuat-kuatnya kepala si psikopat gila, berharap otaknya akan berhamburan ke lantai. Dia tersungkur di lantai, tapi tangannya berhasil menangkap pergelangan kaki Junseok hingga dia jatuh terjengkang.

Mengerikan sekali. Kenapa pria itu tidak mati? Darah terus mengucur dari lehernya. Bukankah dia harusnya mati kehabisan darah? Ini kenapa masih bisa...

Tidak ada waktu untuk merenung apalagi mempertanyakan fenomena aneh di depannya. Junseok kembali bergerak, dia menendang-nendang, meronta-ronta, mengambil pisau yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya dan langsung menancapkannya ke kepala orang itu.

Junseok mencabut pisau dari kepala Jangwoo kemudian dengan sigap dia menduduki perutnya, menahannya. Junseok mengangkat pisau berlumur darah itu tinggi-tinggi ke udara, ambil ancang-ancang untuk dihujamkan lagi. Matanya menatap sengit sepasang mata sendu di bawahnya.

Pria itu menjerit kesakitan menerima tusukan kesekian. Teriakannya bergema mengisi sudut-sudut kosong ketika Junseok menghujamkan pisau itu tepat ke dada. Tidak puas hanya sekedar menusuk, Junseok menekan pisau lebih dalam lagi hingga darah kental bermuncratan keluar dari dalam sana. Merembes keluar mengotori karpet.

Didorong hasrat dan perasaan menang yang begitu kuat, Junseok menggerakkan pisau itu membentuk sayatan lebar sepanjang sepuluh sentimeter ke arah perut. Merobek kulit dan daging pria itu. Darah semakin deras mengalir. Sebagian mengotori tangan Junseok, ada juga yang menempel di wajah dan jaket denim yang dia kenakan. Junseok mencabut pisau itu lalu menusukkannya lagi, cabut lagi, hujamkan lagi dan lagi. Berkali-kali dia lakukan tindakan keji itu tanpa merasa berdosa, bahkan meski pria itu hanya tinggal raga kosong tanpa nyawa. Darah berwarna merah pekat keluar dari mulut pria itu. Matanya melotot lebar. Ekspresi kematian yang penuh penderitaan. Tatapan kosong Jangwoo seakan menyiratkan kalau Junseok-lah si makhluk buas yang sangat menakutkan dan patut dimusnahkan.

Setelah puas mengoyak dan berpesta dengan jasad tak bernyawa, Junseok melempar pisau tepat di samping kepala pria itu, kemudian bangkit berdiri dengan tubuh bagian atas yang bermandikan darah.

Dada Junseok naik turun, tampak ngos-ngosan berat akibat terlalu bernafsu tadi. Lautan darah menggenangi karpet tempat Junseok berpijak. Bau anyir darah menguar kemana-mana. Terasa begitu memuakkan dan menjijikkan sekaligus.

"Jun..." Jiha tercengang melihatnya. Andai saja gadis itu melihat apa yang sudah Junseok perbuat dengan bedebah yang satu lagi. Si ompong apa kabar? Jiha masih belum pulih dari rasa terkejut, bahkan saat Junseok duduk di sampingnya, memeluk kulit telanjang Jiha dengan kaos berlumuran darah.

"Kau membunuhnya," bisik Jiha masih tidak percaya. Bukan dibunuh dengan cara biasa. Tapi dikoyak sampai tercabik-cabik.

"Aku terpaksa, melihat tatapannya dan cara dia memperlakukanmu," tatapan Junseok jatuh ke betis Jiha. "Kakimu... Jiha... mana pakaianmu? Kenapa penampilanmu seperti ini?"

Itu tidak penting lagi. Jiha tidak ingin membahasnya sekarang. Dia menggeleng pelan. "Ayo keluar dari sini..."

Junseok celingukan mencari sesuatu. "Tunggu, biar kuambilkan baju dan perban, barangkali si brengsek itu menyembunyikan kotak obat di sekitar sini."

Jiha menahan tangan Junseok. "Jangan tinggalkan aku.. please..."

Dia menatap Jiha, matanya membuat lutut Jiha bergetar. Jempol kanannya mengelus pipi Jiha, berpindah ke bibir Jiha, mengelus permukaannya yang basah dan lembut, mencoba menahan gairah. "Kau cantik sekali, tapi bukan di tempat yang tepat. Aku benci melihatmu begini. Aku lebih benci lagi pada orang yang membuatmu jadi seperti ini."

Jiha menyeka matanya. "Maaf kau harus melihatku seperti ini."

Laki-laki macam apa yang tidak suka melihat Jiha dalam keadaan terekspos besar-besaran? Namun ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkan nafsu.

Junseok buru-buru berpaling dari payudara Jiha, takut khilaf. "Dimana pakaianmu?"

"Kamar mandi."

Junseok bergerak cepat mengumpulkan pakaian Jiha termasuk sepatu kets. Dia sengaja mengambilkan rok panjang dari lemari, karena celana jeans pasti akan menekan luka Jiha dan membuatnya semakin perih. Berikutnya Junseok merobek kain syal, membelahnya menjadi dua lembar kemudian dia lilitkan pada luka di kaki kanan dan kaki kiri. Tidak ada waktu mencari kotak obat. Semoga ini bisa menahan darahnya.

"Mmm.. bisa pakai baju sendiri?" Junseok menunduk, garuk-garuk salah tingkah dengan pipi merona.

Jiha merasa sangat bersyukur mengenal si preman sekolah ini lebih baik dari siapa pun. Dia tampak sangat tulus. Sangat tidak berpengalaman. Kebalikan dari si brengsek Jangwoo.

Jiha ingin memberi ciuman sebagai hadiah...

Mungkin nanti. Bukan sekarang.

Usir jauh-jauh bayangan mereka berciuman panas! Jiha berdehem salah tingkah. Kemudian dia tersenyum lalu menggeleng. "Tidak. Bisa bantu aku?"

Junseok nyaris tidak berkedip, shock dengan apa yang barusan dia dengar.

Berikutnya kita akan menyaksikan adegan dimana Junseok menangis dalam hati, tangannya gemetaran tersiksa harus menahan cobaan berat untuk tidak menjamah apa-apa, selain membantu Jiha memakai baju, rok, dan sepatu. Cuma itu.

Yaa... habis mau bagaimana lagi. Jiha korban psikopat. Ini bukan malam honeymoon.

"Sudah siap?" tanya Junseok.

Jiha mengangguk.

Junseok berlutut di sisi ranjang, menyerahkan punggungnya hanya untuk Tuan Putri Jiha. "Kakimu sakit, biar kugendong."

"Tapi, gimana caranya kau bisa tahu aku di sini?"

"Temanku yang menunjukkan jalan," kata Junseok.

"Eh?" Jiha bingung. "Kau memanggil temanmu ke sekolah?"

"Bukan orang sembarangan, dia bukan orang hidup, tadinya sih iya."

Jiha mengernyit bingung dengar jawaban Junseok yang agak berantakan. "Maksudmu bukan orang hidup?"

"Ayo cepat naik," tukas Junseok.

Sambil meringis menahan nyeri, Jiha memanjat naik ke punggung. Junseok mengambil jalan pintas lewat lemari. Betapa terkejutnya Jiha, lemari itu ternyata jalan rahasia. "Kok kayak di film Narnia," komentarnya.

Junseok tertawa. "Iya, kukira aku bakal tersesat di dunia Narnia. Kan sinting tiba-tiba ketemu Edmund dan kawan-kawan."

"Tidak lebih sinting dari berhadapan dengan penjahat kelamin," ucap Jiha. "Ngomong-ngomong terima kasih ya."

Junseok mendadak teringat Jisoo.

Begitu mereka keluar dari lemari, ternyata Jisoo sudah pergi. Junseok menyesal tidak sempat bilang terima kasih.

.

.

Bersambung...

1
QueenRaa🌺
Keren banget ceritanya thorr✨️ Semangat up!!
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗
Mara Rainey: siappp aku akan mampir. makasih juga lho udah berkenan mampir dan meninggalkan komentar serta vote. /Heart/
total 1 replies
QueenRaa🌺
satu kata untuk novel ini, SERU!
Rasanya kaya bener bener ada di sana dan ikut ngerasain apa yg tokoh tokohnya alami
Mara Rainey: Makasih bangett untuk reviewnya, aku akan berusaha lebih baik lagi dan lebih semangat lagi. senengg banget dikunjungin author favoritkuuu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!