"Ingin mengalahkan ku? Kalian pasti bercanda!
Seisi dunia bersatu juga takkan bisa!"
Seorang Raja Daratan terkuat—Luo Xiao telah bereinkarnasi setelah dikhianati oleh teman terdekatnya. Dunia bela diri kini berada dalam kegelapan!
Pendekar dari Ras Manusia Murni telah tergantikan oleh Ras Manusia Naga. Pergantian tersebut membuat para pendekar semakin lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mark Wijya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Aku akhirnya mendapatkan uang yang cukup untuk menyewa penginapan selama satu malam. Di dalam penginapan itu aku menyuruh Huo Lin untuk mandi, membersihkan dirinya, lalu mengenakapan pakaian serta jubah hitam yang kusiapkan untuknya. Kurasa aku harus memulai rencanaku di kota ini bersama dengannya mulai dari detik ini.
Apa? Kalian bertanya padaku dari mana aku mendapatkan uang?
Hahaha! Apa kalian tidak tahu? Atau kalian lupa bahwa aku mempunyai dua orang murid yang sangat loyal? Hahaha! Mereka berdua rela memberikan semua uang mereka untukku dan tinggal di hutan. Mereka sungguh murid yang baik hati. Aku sangat terharu dari lapisan terluar hatiku!
Sembari menunggu Huo Lin yang sedang membersihkan dirinya, aku berjalan-jalan di luar penginapan sejenak, menikmati suasana kota yang mulai sepi. Meskipun di sekitar penginapan ini memang sudah sepi sebelumnya. Mungkin karena jauh dari pusat kota.
“Aku penasaran siapa yang menjadi Raja Daratan sekarang? Apakah seseorang dari Ras Manusia Naga atau Manusia Murni?” Aku menengadah sejenak. “Pastinya bukan Manusia Murni sih. Lagipula, apakah Ling Chen yang mengubah sistem ini? Aku sungguh tak paham.”
Mengembuskan napas panjang, aku memutuskan untuk kembali ke kamar penginapan. Mungkin sekarang Huo Lin sudah selesai membersihkan dirinya.
Aku pun tiba di kamar dan menemui Huo Lin sedang duduk sembari menundukkan wajah. “Ada apa?”
Huo Lin menggelengkan kepala, lalu mengusap matanya. Apakah dia sedang menangis? Kenapa?
“Tidak apa-apa ….”
Baguslah kalau tidak ada apa-apa. “Istirahatlah, Huo Lin. Kau pasti masih merasakan sakit setelah mendapat banyak pukulan tadi.”
“Hm ….” Gadis itu mengangguk, lalu berbaring di kasur seperti perintahku.
Saat Huo Lin berbaring, aku baru menyadari bahwa dia memiliki tanduk yang sangat kecil di kepalanya. Apakah dia merupakan keturunan Ras Manusia Naga juga? Tapi kenapa dia ditelantarkan? Bukankah Ras Manusia Naga itu memiliki martabak yang tinggi di dunia ini? Aku sangat tidak mengerti.
“Mm ….”
Apa ini? Apakah Huo Lin ingin aku membacakan dongeng sebelum tidur untuknya? Kuharap tidak ….
“Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanyaku. Aku tak berharap dia benar-benar memintaku untuk membacakannya dongeng sebelum tidur.
“Itu ….” Dia diam sejenak. “Aku belum tahu siapa namamu ….”
Ah, syukurlah dia tak memintaku membacakan dongeng sebelum tidur.
“Ah, salahku, maaf belum memberitahuku.” Aku mengembuskan napas pendek. “Namaku Luo Xiao. Senang dapat bertemu denganmu, Huo Lin.”
“Mm ….”
Apa aku melakukan suatu kesalahan? Ah, dia sudah tidur. Cepat sekali.
Karena Huo Lin tidur di kasur, aku memutuskan untuk tidur di lantai yang beralaskan tikar yang terbuat dari daun pandan, kurasa? Sudahlah, tak perlu terlalu dipikirkan.
Malam itu, aku tidur cukup nyenyak, setelah seminggu menginap dalam hutan. Dan omong-omong, ini pertama kalinya aku tidur satu kamar dengan seorang gadis di kehidupan kedua ini.
***
Sementara itu, di dalam hutan, terlihat dua orang pemuda sedang duduk di depan api unggun kecil. Salah satu di antara mereka tampak sangat kesal karena sesuatu hal.
“Sialan … anak kecil itu mengambil semua uang kita dan pergi entah ke mana!” kata si pemuda, tidak terima akan keadaan. “Padahal kita berburu untuk menghasilkan uang itu ….”
“Jangan begitu, Zhang,” pemuda lainnya menegur temannya. “Guru pasti mempunyai kondisi tertentu sehingga meminjam uang kita.”
“Yue Jian!” Pemuda bernama Zhang masih tidak rela. “Kau terlalu berpikir positif tentang Raja kecil yang egois itu! Kau tidak ingat sudah berapa kali dia membodohi kita ketika latihan?!”
“Tapi, dia itu adalah Guru kita mau bagaimana pun juga.” Yue Jian masih bersikap tenang. “Justru sebaliknya. Menolong Guru saat dia kesusahan juga merupakan salah satu cara kita untuk membalas budinya. Apakah aku salah?”
Sebelum Zhang sempat membantah, kedua pemuda itu sontak berdiri. Bagaimana tidak, salah satu pria tua yang tadi melerai perkelahian antara mereka dengan Fang Chu, kini melayang tepat di depan mereka.
“Siapa kau?!” Zhang segera membentuk kuda-kuda dan waspada, sementara Yue Jian berdiri di belakang pemuda itu.
“Haha. Maaf mengejutkan kalian,” kata pria itu. “Aku adalah Yi Xian, salah satu Tetua di Perguruan Tanah Merah.”
“Seorang tetua?” tanya Yue Jian, memastikan. “Apa yang dilakukan oleh orang sepenting itu di dalam hutan ini?”
“Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya penasaran dengan kekuatan kalian yang mengagumkan itu.”
“Apakah kau bermaksud mencari tahu asal usul kekuatan kami?” Yue Jian menebak. “Tapi maaf, kami tidak memiliki niat untuk membeberkannya.” Dia menduga bahwa tetua bernama Yi Xian itu hendak memanfaatkan dirinya, jadi dia langsung menolaknya.
“Hahaha. Aku tahu kalian akan mengatakan itu. Tapi, aku ke sini bukan untuk mencari tahu, melainkan menawarkan sesuatu.” Yi Xian menapakkan kakinya. “Apa kalian tertarik untuk mendengarnya?”
“Sayangnya tidak terlalu,” jawab Yue Jian, tegas.
“Kurasa tak apa mendengarkan kakek tua ini sebentar, Yue Jian …,” kata Zhang, memberikan pendapatnya.
“Aku akan langsung ke intinya saja.” Yi Xian terlihat sangat tidak peduli apakah Yue Jian dan Zhang mau mendengarkannya atau tidak. “Bagaimana kalau kalian menjadi muridku di Perguruan Tanah Merah? Kalian akan mendapatkan fasilitas dan sumber daya yang bagus jika kalian setuju.”
“Maaf, tapi kami sudah memiliki seorang Guru!” Kali ini Yue Jian tidak membiarkan Zhang berpendapat lagi.
Meski mendengar hal itu, Yi Xian masih tidak mau menyerah. “Bukankah tak masalah bagimu memiliki lebih dari 1 guru, seperti seorang guru yang dapat memiliki lebih dari 1 murid?”
“Sangat masuk akal, tetapi guru kami jauh lebih kuat dari siapa pun.” Tampaknya Zhang tidak ingin menyangkal kekuatan gurunya, sehingga bisa mengatakan kalimat itu dengan penuh keyakinan. “Puluhan atau ratusan guru tidak sebanding denganya!”
“Kalau begitu, kenapa kalian yang memiliki guru sehebat itu, malah tidur di hutan seperti ini? Bukankah guru kalian hebat?”
Tanpa ada tanda apa pun, ribuan anak panah yang terbuat dari angin, melayang, mengarah tepat ke arah Yi Xian. Yue Jian sangat tidak terima ada orang yang menghina gurunya terang-terangan seperti itu. “Awalnya aku tidak ingin menyakitimu, tetapi kau yang memulainya terlebih dahulu!”
Yi Xian mengangkat tangan, sedikit berkeringat dingin. “Maaf, aku tidak sengaja mengatakannya.”
Kekuatan seperti ini, jelas jauh melebihi ekspektasi Yi Xian. Ini membuat pria tua itu menjadi semakin penasaran dengan guru Yue Jian dan Zhang. Namun, sekarang dia harus memikirkan bagaimana caranya pergi dari sini tanpa menyinggung dua pemuda itu lagi.
“Kalau kalian bersikeras, aku tidak akan memaksa.” Yi Xian tersenyum. “Tapi, kalau kalian berpikiran untuk mendaftar di Perguruan Tanah Merah tiga minggu lagi, kalian dapat menghubungiku kapan saja. Aku akan dengan senang hati membantu.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Yi Xian langsung pergi dengan cara melayang di udara. Dia merasa kalau dirinya tak boleh menyinggung Yue Jian dan Zhang.
MCnya untuk awal2 cerita bagus, karakterisasinya juga bagus cuman aku agak kurang menikmati MCnya setelah dia kalah dari mantan muridnya itu yg pacarnya mati dibunuh sama Tian Wang.
Untuk Novel Xianxia, mnurutku Power Scaling nya kurang luas, mungkin bisa lebih dikembangkan di Novel lanjutannya klw ada.
Menurutku yg paling bagus ada di Arc turnamen atau seleksi perguruan tanah Merah. Di situ dikenalkan karakter baru serta kekuatan mereka.
Yang paling the best sih tentu dari segi penulisannya yg rapi juga konsisten 👍
Semoga ada kelanjutannya yak 😁