Pertemuan yang tak terduga antara dokter Williams 30 tahun dengan Alisya gadis 19 tahun yang kabur karena menolak perjodohan.
Williams yang merupakan dokter ahli jantung terkenal cuek diluaran, namun demikian dokter tampan yang setia melajang tersebut sangat ramah dengan para pasiennya. Sikap anti wanita membuatnya sangat menjauhi makhluk yang bernama wanita. Hingga dirinya harus pasrah ketika harus kembali kenegaranya demi sebuah perjodohan yang konyol menurutnya.
Alisya, seorang gadis beliau 19 tahun. Dia menjalani kehidupan keras di luar ketika dirinya berhasil kabur dari keluarganya.
Alisya berontak ketika dirinya mengetahui rencana sangat ayah yang telah berniat menjodohkannya dengan seorang pria yang layak dia panggil om.
Mampu kah Williams keluar dari rasa marahnya ketika harus menelan pil pahit perjodohan nya?
Dan mampu kah Alisya menjalani kehidupan yang jauh dari segala fasilitas yang biasa dia dapatkan?
Serta bagaimana kisah pertemuan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Jadi..?"
Bram menatap wajah sahabatnya dengan penuh selidik. Edwin telah pulang kembali ke negaranya beberapa hari yang lalu. Dan saat ini, Williams justru tengah mengatakan keputusannya untuk pergi mengunjungi Oma Feli sesuai dengan apa yang diharapkan Edwin dan keluarganya.
"Aku akan berangkat sehari menjelang ulang tahun Oma. Karena ini adalah kejutan maka aku tak akan mengatakan apapun sebelum aku sampai disana."
"Mengenai tantangan Oma?" Bram tentu akan mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada sahabatnya tersebut. Kedekatan keduanya sudah melebihi batas sahabat. Dan mungkin orang tak akan percaya jika mereka mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas sahabat saja.
Williams tersenyum kecut. Entah memang dirinya yang terlampau sibuk menjalani hari harinya. Atau memang tak ada seorang wanitapun yang mau meliriknya sehingga sampai kini dirinya tak memiliki seseorang yang bisa disebutkan sebagai kekasih.
"Kau menerimanya?" Bram menggeleng setelah ucapannya mendapatkan anggukan dari sang sahabat.
"Apa aku punya alasan?" Will menghela kembali nafasnya.
Huuuft.
Bram ikut menghela nafasnya. Dia yang selalu berusaha mendekatkan sang sahabat kepada beberapa kenalannya selalu mengalami kegagalan. Will terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan dalam pikirannya hanyalah bekerja dan bekerja. Dia ingin membantu setiap orang di tiap menit yang dia punya. Bukan hanya karena ke dua orang tuanya yang telah tiada. Namun, kejadian yang menimpa Tiara dan Nara memberinya banyak pelajaran berharga untuk lebih menghargai sesama makhluk hidup.
"Berusahalah yang terbaik Will. Kau tak mungkin lagi mengabaikan masalah ini sekarang, bukan?"
Pada akhirnya Bram pun menyerah. Semua harus Will sendiri yang memutuskan dan menentukan. Sebagai sahabat, Bram hanya berharap Will juga menemukan kebahagiaan nya kelak.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Alisya mendesah pelan. Hari harinya kini banyak dihabiskan di dalam ruang perpustakaan kampusnya. Gadis cantik tersebut keluar jika sudah waktunya mengikuti mata kuliah.
Senyum ceria masih nampak sama di wajahnya. Tak ada yang berubah secara nyata. Namun tak ada yang bisa melihat luka di hatinya. Rasa kecewa pada sang ayah dan kakaknya terasa semakin mendalam. Alisya yang kecewa membuat benteng untuk dirinya sendiri. Tak ada lagi acara jalan jalan ataupun shoping dan sekedar nonton bersama teman-teman nya seperti dulu.
Semua kegiatan tersebut digantinya dengan acara membaca banyak buku di perpustakaan. Di balik semua itu, Alisya memiliki rencana yang hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya. Bahkan perubahan tersebut pun tak membuat keluarganya curiga.
Alisya beralasan jika dirinya ingin lebih cepat menyelesaikan studinya. Dan tentu saja semua memyambut baik keinginan Alisya.
Sepulang dari kampus, Alisya meminta kepada sopirnya untuk berhenti sejenak di sebuah pusat perbelanjaan. Namun Alisya lagi lagi meminta sang sopir hanya menunggunya.
Gadis cantik itu tersenyum dan segera melangkahkan kakinya kembali ke mobil dan sopir yang menunggunya. Tak lupa dirinya masuk ke sebuah toko buku dan membeli beberapa agar tak ada yang mencurigai nya nanti.
"Paman. Maaf agak lama ya, soalnya ada buku yang susah dicarinya. Makanya harus menunggu petugas mengambilkan nya dulu. Maaf ya paman."
"Tak apa, non. Yang penting apa yang non cari sudah ketemu. Silakan non!!"
Alisya mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil seraya mendudukkan dirinya dengan tenang.
"Maaf paman. Alis harus berbohong kali ini." Batin Alisya menatap sendu lelaki baya yang selalu mengantarkan nya kemanapun itu. Alisya benar-benar tak ingin rencananya kacau sehingga Alisya memilih tak melibatkan siapapun, hanya percaya pada diri sendirilah yang akan membuat Alisya lebih tenang.