Elvan begitu mencintai istrinya. Begitu juga istrinya yang sangat mencintainya. Namun, setelah menikah tiga tahun lamanya, Clara yang merupakan istri Elvan mulai berubah sikap. Di sela-sela rumah tangganya yang tak baik-baik saja, Elvan terjebak satu malam bersama Rania yang merupakan office girl yang bekerja di kantornya.
Akankah Elvan mempertanggung jawabkan perbuatannya? Ataukah dia tetap pada pendiriannya untuk tetap setia dengan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.11
Elvan keluar dari kamar mandi dengan memegang dalaman yang dia temukan. Namun dia memegang hanya menggunakan dua jarinya.
''Sayang, ini milik Siapa?'' Elvan berdiri di depan pintu kamar mandi dengan memperlihatkan dalaman yang dia pegang.
Tentu Clara kaget melihat dalaman yang di pegang oleh suaminya. Karena itu miliknya dan juga milik kekasihnya.
'Aduh kenapa aku ceroboh sekali. Sampai melupakan dalaman yang tertinggal di kamar mandi,' batin Clara sambil merutuki kebodohannya.
''Sayang, kenapa kamu diam saja?'' Elvan menatap istrinya yang tampak diam entah sedang memikirkan apa.
''Eh iya, itu punyaku, Mas.''
''Lalu yang berwarna biru ini milik siapa?''
''Itu milikmu. Itu masih baru, dan baru saja akan aku cuci,'' ucap Clara berbohong.
''Kapan kamu beliin? Ini itu bukan seleraku, bahkan mereknya juga kualitas rendah. Aku buang saja ya,'' ucap Elvan.
''Maaf, Mas. Lain kali aku akan beliin yang lebih bermerek,'' ucap Clara.
Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, dia melempar dalaman itu ke tong sampah. Sedangkan dalaman milik istrinya dia taruh kembali ke tempatnya semula.
Elvan mulai menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya. Sejenak dia terdiam sambil memikirkan perkataan istrinya. Entah kenapa ada yang janggal di pikirannya. Jika di lihat dari mimik wajahnya tadi, sepertinya istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
Hanya lima belas menit Elvan di kamar mandi. Sekarang dia sudah selesai mandi. Elvan keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja untuk menutupi tubuhnya.
Elvan mengedarkan pandangannya. Dia tidak melihat istrinya disana.
''Kemana perginya Clara,'' gumam Elvan sambil melangkah mendekati lemari pakaian.
Setelah berganti pakaian, Elvan keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Elvan melihat istrinya berada di dapur. Dia sengaja mendekat tanpa bersuara. Terdengar samar-samar istrinya yang sedang berteleponan. Apalagi sambil ketawa-ketawa. Sepertinya istrinya sedang asyik mengobrol dengan lawan bicaranya.
''Sayang, kamu sedang berteleponan sama siapa?'' Elvan bertanya sambil melangkah mendekati istrinya.
Clara kaget karena tiba-tiba suaminya sudah berada di dekatnya. Spontan dia memutuskan panggilan teleponnya begitu saja.
"Oh ini temanku, Mas. Tadi dia menelepon dan mengatakan kalau dia mau mengajakku pergi jalan," ucapnya sambil tersenyum kikuk.
Clara hanya berharap semoga saja suaminya itu tidak mendengar obrolannya. Karena bisa gawat jika suaminya itu mendengar obrolannya dengan Kekasihnya.
''Oh teman, pantas saja mengobrolnya asyik sekali,'' Elvan sama sekali tidak mencurigai istrinya, karena memang dia tidak mendengar obrolan istrinya.
"Mas Elvan ngapain disini? Mau makan atau minum mungkin," Clara memperhatikan setiap langkah suaminya yang semakin mendekat.
"Aku cari kamu. Ayo kita bersantai di ruang keluarga!" Ajaknya.
"Baik, Mas. Tapi nanti dulu, aku mau buatkan kopi untukmu."
''Terima kasih, sayang. Mas ke depan dulu ya."
"Iya, Mas." Clara menatap suaminya yang kini melangkah pergi. Dia mengusap dadanya mengekspresikan perasaan lega, karena ternyata suaminya tidak mendengar obrolannya.
°°°°°
Kebetulan hari ini hari libur. Elvan berniat untuk mengajak istrinya jalan-jalan. Kini keduanya sudah tampak rapi dengan penampilannya.
Elvan menatap istrinya yang sedang bercermin di depan meja rias.
''Sayang, ayo kita pergi!'' ajaknya.
''Sebentar, Mas.'' Clara mengambil tas selempang miliknya, lalu memakainya. Dia mengikuti suaminya yang sudah melangkah duluan keluar dari kamar.
Sebenarnya Clara merasa malas jalan bersama suaminya. Namun terpaksa dia menurutinya agar suaminya itu tidak mencurigainya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil. Elvan segera mengemudikan mobilnya.
''Mas, kita mau kemana?'' tanya Clara yang memang tidak tahu kemana tujuan mereka. Karena suaminya belum memberitahunya kemana mereka akan pergi.
''Kita pergi ke dufan, sayang. Sudah lama kita tidak kesana loh.''
''Iya, Mas. Sepertinya asyik juga.''
Beberapa menit setelah kepergian Elvan dan istrinya, terlihat mobil Bu Rosma memasuki halaman rumah itu. Bu Rosma sengaja datang atas permintaan anaknya.
Bu Rosma langsung masuk ke dalam rumah, lalu duduk di ruang keluarga.
Lima belas menit kemudian, Bu Rosma mendengar ada yang mengetuk pintu rumah. Bu Rosma pergi ke depan untuk membukakan pintu. Ternyata yang datang dua orang petugas CCTV yang akan memasang CCTV di rumah itu. Kebetulan Elvan sengaja memanggil mereka karena dia ingin jika di rumahnya di pasang CCTV. Dan untuk melancarkan niatnya, dia menyuruh ibunya untuk mengawasi petugas CCTV itu. Sedangkan dia mengalihkan istrinya dari sana dengan cara mengajaknya pergi.
Sebenarnya Elvan sedikit curiga dengan gerak-gerik istrinya, jadi dia memutuskan untuk memasang CCTV di beberapa sudut rumahnya. Bu Rosma yang tahu jika anaknya memasang CCTV karena mencuriga istrinya, tentu dia sangat bahagia. Itu berarti anaknya mulia sadar, jika istrinya itu bukan pendamping yang pantas untuknya.
Di rumah itu di pasang lima kamera CCTV di dalam rumah dan dua kamera di luar rumah. Sekarang aktivitas apa pun di rumah itu akan terlihat.
.....
Sore ini Elvan dan istrinya baru pulang dari dufan. Sepanjang perjalanan mereka saling mengobrol.
Tak sengaja Elvan melihat Rania yang ada di pinggir jalan, sedang duduk sendirian di dekat pedagang kaki lima.
Clara merasa aneh karena suaminya yang tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
‘’Mas, kenapa berhenti?’’ tanya Clara.
‘’Mas keluar sebentar, sayang. Kamu tunggu disini saja ya,’’ ucap Elvan sambil membuka pintu mobilnya.
''Baiklah,'' ucapnya menurut.
Elvan yang sudah turun dari mobil, dia menghampiri Rania yang sedang duduk di dekat penjual mie ayam.
‘’Ran, sedang apa kamu disini?’’ tanya Elvan.
‘’Aku habis membeli mie ayam nih. Hanya saja mau pulang tapi belum melihat angkot lewat.’’
‘’Kalau begitu biar aku antar ya.’’
Rania tampak berpikir sejenak, namun pada akhirnya dia mengiyakan ajakan Elvan.
‘’Baiklah, tapi apa kamu sendirian?’’
‘’Tidak, aku bersama istriku.’’
‘’Nanti kalau istrinya curiga jika tiba-tiba Pak Elvan ajak saya gimana?’’
‘’Tidak mungkin. Nanti aku bilang saja kalau kamu ini mantan karyawanku di kantor.’’
‘’Baiklah,’’ Rania beranjak dari duduknya, lalu mengikuti Elvan menuju ke mobilnya.
Clara sedikit heran saat suaminya datang bersama seorang wanita.
‘’Dia siapa, Mas?’’ tanya Clara.
‘’Dia itu mantan karyawanku di kantor. Kasihan tadi dia sedang menunggu kendaraan lewat namun belum ada satu pun yang lewat. Jadinya aku mengajaknya pulang bersama kita.’’
Terlebih dahulu Elvan akan mengantar istrinya pulang. Setelah itu barulah dia pulang ke rumahnya.
Saat ini hanya ada Elvan dan Clara saja yang ada di mobil. Karena barusan Rania sudah turun.
Clara menatap suaminya yang sedang mengemudi.
‘’Mas, wanita yang tadi memangnya pernah bekerja di bagian apa? Kok kamu terlihat sangat perhatian kepadanya,’’ Clara sedikit bertanya karena merasa penasaran.
‘’Tidak usah penasaran, sayang. Lagian dia itu bukan siapa-siapa kita,’’ Elvan berkata seperti itu karena tidak mau jika istrinya bertanya lebih.
Tokoh2nya kuat karakternya...
Tokoh2nya kuat karakternya...