Keysa Indira Fidelya, gadis cantik dan kaya raya, menutupi latar belakang dan kecantikannya demi melarikan diri dari pernikahan. Ia pergi ke Kota B dan menjadi seorang mahasiswa yang berpenampilan culun dan tidak menarik sama sekali di sana.
Namun, tidak pernah disangka kalau hari pertama di kota pelariannya, Keysa akan bertemu dengan seorang pria paling disegani di Kota B. Seorang pria yang berani mencium paksanya sampai dua kali.
Devano G Mahardika, lelaki sombong, orang terkaya nomor satu di kota B, bahkan di Negara X. Lelaki yang menyebabkan Keysa marah karena telah berani menciumnya secara paksa dan terjadi konflik di antara mereka. Akan tetapi, Devano juga tanpa sengaja telah menyelamatkan Keysa yang sedang dalam masalah.
Dengan hal tersebut, cerita kedua insan ini dimulai, dari yang menantang banyak masalah, latar belakang kehidupan, permusuhan menjadi percintaan serta orang ke tiga juga mewarnai cerita kehidupan mereka.
*Cerita ini mengikuti Misi Kepenulisan yang diselenggarakan oleh Noveltoon. Jika ada kesamaan dengan novel lain harap maklum, karena alur ditentukan oleh editor dan author hanya mengembangkannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
11
Tragedi Devano yang ditampar oleh Keysa bagaikan bom waktu yang meledak dengan cepat. Devano yang notabenenya seorang mahasiswa paling populer serta keluarganya orang terkaya nomor satu dan pemilik universitas membuat berita itu tersebar cepat seantero kampus dari mulut ke mulut dan juga media sosial, bahkan beritanya telah menjadi trending topik. Setiap orang yang melewati kelas Keysa pun sengaja menengok ke dalam kelas, penasaran dengan sosok yang berani menampar lelaki yang paling diagung-agungkan kaum hawa di kampus bahkan di seluruh kota.
Keysa tidak menyangka aksinya yang menampar Devano akan menjadi berita yang menggemparkan di kampus. Telinganya pun sudah pengang oleh kasak-kusuk orang yang menggunjingnya. Bukan hanya menggunjing, tetapi mengutuk dan memaki perbuatan Keysa dengan geram dengan ekspresi mereka yang siap melahapnya hidup-hidup, padahal sebagian dari mereka banyak yang tidak mengetahui Keysa dan hanya mengandalkan 'katanya'.
"Semua wanita di sini sepertinya pemuja si Aneh bin Arogan," ujar Keysa dalam hati. Ia menelan salivanya sendiri saat mendengar umpatan demi umpatan yang ditujukan untuknya dari orang-orang yang dilewati.
Hingga Keysa yang hendak masuk kelas dibuat sangat terkejut saat melihat banyak gadis di depan kelas. Ia yang masih berjarak beberapa meter dari kelas langsung bersembunyi di lorong. Dari sana Keysa bisa melihat gadis-gadis itu membawa kertas-kertas besar dengan berbagai tulisan yang mengecam dirinya. Gadis-gadis itu juga berteriak-teriak mencarinya dengan seribu ancaman yang keluar dari mulut mereka.
"Mereka agresif sekali. Bisa mati sia-sia kalau aku menghadapi mereka." Keysa bergidig ngeri, memperhatikan mereka dari jauh.
Setelah gadis-gadis itu pergi karena orang yang dicari mereka tidak ada di kelas, Keysa pun langsung keluar dari persembunyiannya dan bergegas masuk ke kelas. Ia berjalan sangat cepat sambil menunduk dengan kepala yang sengaja ia tutupi kupluk dari sweter yang dipakai, takut dari para pemuja Devano ada yang menyadari keberadaanya.
"Selamat ...." gumam Keysa sembari mengusap dada begitu sampai di bangkunya dengan selamat.
Disti dan Ezra yang sudah ada di kelas sejak gadis-gadis itu mencari Keysa hanya geleng-geleng dengan seutas senyum yang tertampil di bibir mereka saat melihat Keysa sampai di kelas dengan tergopoh-gopoh.
"Aku kayak orang yang lagi dikejar-kejar hantu, bikin adrenalinku naik-turun." Keysa membuang napas kasar.
"Dan salahsatu hantunya sedang berjalan kemari," gumam Ezra dengan senyum yang masih mengembang.
"Maksudmu?" Keysa melirik Ezra yang sedang duduk di bangku Devano, hingga matanya tertuju pada tangan Ezra yang sedang menunjuk seseorang yang berjalan ke arahnya. "Hah!" Keysa langsung melengos begitu melihat seorang gadis cantik berpakaian seksi serta kaca mata yang bertengger di kepala. Gadis itu berjalan ke arah Keysa dengan raut wajah yang susah ditebak.
"Mati aku," gumam Keysa sembari menepuk jidat.
"Aku dengar kau menyewakan tempat dudukmu kepada orang lain. Apa itu benar?" ujar Gadis yang saat ini sudah berada di depan bangku Keysa.
"Hah?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Keysa. Ia yang berpikir akan dihajar oleh gadis di hadapannya, malah ditanyai tentang sewa bangku yang pernah dilakukan Keysa.
"Aku ingin menyewanya juga. Berapa harganya?" lanjut Gadis itu lagi.
Mendengar kata uang, Keysa sudah seperti Tuan Crab dalam tokoh kartun anak-anak saja, langsung berbinar. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan cepat Keysa menyebutkan harga, bahkan menggandakan harga dari tarif yang kemarin.
Tanpa berpikir lagi, gadis itu pun langsung mengambil setumpuk uang dari tas dan menaburkannya ke lantai. "Apa itu cukup? Aku ingin menyewanya selama seminggu."
Keysa hanya memandangi uang yang berserakan di lantai. Jika dilihat dari banyaknya uang yang berceceran, uang itu akan cukup untuk menghidupi Keysa selama sebulan.
'Banyak juga uangnya. Kalau aku ambil, aku bisa leha-leha untuk sebulan ke depan,' gumam Keysa dalam hati dengan mata yang terus tertuju pada lembaran kertas yang sudah melambai-lambai minta dipungut.
"Apa aku harus mengambilnya?" bisik Keysa kepada Disti yang berada di sebelahnya.
"Rezeki nomplok, Key. Ambil, dong!" jawab Disti seraya berbisik dengan senyum yang mengembang. Keduanya kalau sudah berhubungan dengan uang memang sebelas duabelas gilanya.
"Tapi, masalahnya ...."
"Itu tidak penting, ya penting sekarang adalah uang." Disti yang tahu maksud tujuan ucapan Keysa langsung memotong perkataan sahabatnya itu.
"Ok. Aku terima tawaranmu." Keysa mengambil keputusan untuk menyewakan tempat duduknya.
Keysa berdiri dan mempersilakan gadis itu untuk duduk, sedangkan Keysa sendiri langsung berjongkok mengambil uang itu dibantu oleh Disti.
Ketika Keysa dan Disti sedang sibuk memunguti uang di lantai, tiba-tiba terdengar suara ejekan dari seorang laki-laki dari depan kelas. Suara ejekan yang Keysa tahu betul siapa pemiliknya, membuat Keysa langsung menoleh ke arah suara.
"Dasar mata duitan! Apa kau benar-benar sudah tidak punya harga diri? Apa kau tak malu, segala cara kau lakukan hanya untuk dapat uang. Ck ... ck ... ck," ujar Devano dengan senyum mengejek seraya geleng-geleng kepala.
Keysa menatap Devano dengan tatapan yang tak bersahabat. Ia tak terima dengan ucapan pedas yang selalu keluar dari mulut lelaki itu. Ia langsung berdiri, menatap tajam Devano sambil berkacak pinggang. "Memangnya kenapa kalau aku mata duitan? Yang penting uang yang kudapat bukan hasil ngemis, apalagi mencuri. Uang yang kudapat hasil jerih payahku, lalu apa masalahnya denganmu?" sarkas Keysa.
"Dasar Jelek bin Culun!" teriak Devano. Ia tak habis pikir, Keysa selalu saja berani melawan serta ada saja kata-kata untuk menyanggah perkataannya.
"Apa, Aneh bin Arogan?" ujar Keysa tak kalah tinggi, dengan sebutan yang sudah melekat untuk Devano dari Keysa.
Pertengkaran dari keduanya pun tak dapat dihindarkan. Seperti biasa, mereka saling mencaci dan memaki. Hingga akhirnya, Devano mengajak Keysa untuk keluar.
"Heh, Gadis Jelek bin Culun, sini ikut aku keluar!" perintah Devano tidak mau ditolak.
Namun, dengan enteng Keysa langsung menolak ajakan lelaki yang sudah mengajaknya perang mulut di saat mata kuliah pertama pun bahkan belum di mulai. "Tidak mau!"
"Bukankah kau sangat suka dengan uang? Aku akan membantumu mendapatkan uang banyak tanpa harus memungutnya dari lantai seperti pemulung," sarkas Devano lagi.
Keysa memang butuh banyak uang. Hidup di kota yang dikelilingi kaum elit dengan kehidupan yang serba mahal, mengharuskannya memiliki banyak uang untuk bertahan hidup. Keysa berpikir sejenak, lalu melirik Ezra yang sudah berpindah tempat ke bangkunya sendiri, meminta pendapat. Ezra pun mengangguk pasti, menyetujui tawaran Devano untuk Keysa.
"Ah ... lama!" Tiba-tiba Devano sudah ada di depan Keysa dan langsung menarik Keysa keluar kelas. Sementara itu, Keysa yang mendapat anggukkan Ezra hanya mengikuti Devano tanpa penolakan.
"Bagaimana caramu membantuku mendapatkan banyak uang?" tanya Keysa begitu mereka sudah sampai di tempat sepi sambil melepaskan genggaman tangan Devano.
"Kau akan mendapatkan banyak uang dengan satu syarat kau harus membantuku," jawab Devano, santai.
"Membantu apa?"
"Dekatkan telingamu!" Devano meminta Keysa mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telinga Keysa.
"Dasar gila! Selain Aneh bin Arogan, kau juga sepertinya sudah gila." Keysa tersentak dengan kata-kata yang keluar dari lelaki di dekatnya.
ko Thor biar si Keysa mcm prmpuan murahn
msa si Thor suka sngat prgi clube