NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:50k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

#33

Suasana di dalam ruangan masih tegang, dan jadi bertambah panas ketika salah seorang asisten dari tamu yang hadir membisikkan sesuatu ke telinga atasannya. 

Pria itu buru-buru membuka ponselnya, “Maaf, saya harus pulang,” pria itu pamit pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. 

Beberapa detik kemudian suara notifikasi ponsel mulai bermunculan, rupa-rupa ekspresi mereka tunjukkan rata-rata jadi tegang sedikit panik. Hingga Pak Menteri pun penasaran, pria itu pun ikut membuka ponselnya. 

Rupanya sebuah video, baru saja diunggah ke medsos. Seperti yang sudah-sudah semuanya anonim, bahkan rekaman video tersebut tak menunjukkan wajah orang yang berbicara, semua di buramkan seperti siaran berita investigasi. 

“Saya, adalah korban. Saya tidak bersalah, tapi mereka membuat saya terpaksa melahirkan di dalam dinginnya sel penjara. Lalu mendekam di penjara selama 20 tahun, tanpa diberi kesempatan mengajukan remisi, padahal itu hak setiap narapidana!”

“Dan kenapa baru sekarang saya bersuara, karena setelah 20 tahun berlalu, mereka masih ingin memberangus ketenangan hidup saya, dengan cara menyakiti anak saya. Seakan masih belum cukup dengan memenjarakan saya selama 20 tahun lamanya.”

“Saya yakin, di luar sana masih ada korban lain seperti saya. Orang-orang yang tersakiti, terpisah dari keluarga, bahkan ada yang terpaksa mengakhiri hidup karena tak kuat dengan tekanan dan beban psikologis yang harus ditanggung.” 

“Ayo kita bersuara, keluarkan apa yang kalian rasakan! Karena rezim busuk ini tak akan runtuh, jika kita tidak pernah mencoba merobohkannya. Bukan hanya demi kita, pikirkan anak cucu kita, kerabat, atau tetangga, atau orang-orang malang di luar sana, bukan tidak mungkin akan menjadi korban kebusukan rezim yang tak bermoral ini!” 

“Dua puluh tahun di dalam penjara, saya melihat begitu banyak ironi. Ada yang gagal bertahan, lalu menyerah, seolah nyawa bukanlah hal berharga. Ada yang dibuang oleh keluarga mereka, karena mereka dianggap menorehkan aib memalukan.”

Kalimat berikutnya tak lagi dilihat oleh pak menteri, karena semua orang buru-buru pergi meninggalkan ruangan tersebut termasuk Gunawan. 

•••

“Bagaimana, Kak?” Dengan rasa tak sabar, Ayu bertanya pada Giana yang sejak tadi fokus mengamati pemberitaan di sosial media. 

“Bagus, hanya dalam waktu beberapa menit sejak video diunggah, berhasil mencapai lebih dari 200 ribu penayangan.” 

“Serius, Kak?!” pekik Ayu tanpa sadar. 

Giana mengangguk, bahkan menyesal, kenapa tak sejak dulu mereka melakukan ini. “Aku yakin, bila sejak dulu kulakukan—”

“Belum tentu hasilnya sedahsyat saat ini,” potong Ayu, tak mau Giana menyesali waktu dan kesempatan yang telah berlalu. 

“Dek—” Giana berkaca-kaca. 

“Takdirku sedang berjalan, tapi yang sudah berlalu jangan disesali lagi, Kak. Aku yakin, akan ada pelangi indah untuk kita di masa mendatang.” 

Beberapa menit kemudian—

“Halo, Mahar?” 

“Bu, ada seseorang yang melaporkan kejadian bunuh diri di dalam penjara, kalau tidak salah waktunya bertepatan dengan apa yang Ayu ceritakan.” 

Mendengar penuturan Mahar, Ayu dan Giana sama-sama tersenyum lega. Reaksi tak terduga seperti ini, seperti oase yang menyejukkan. 

Bukan hanya satu, karena setelah itu laporan datang bertubi-tubi, hingga hotline service mereka kewalahan menampung banyaknya jumlah laporan yang semuanya relate dengan berkas dan laporan keuangan yang berhasil dihimpun oleh tim IT yang Giana pekerjakan. 

•••

Di sebuah ruangan yang berisi dengan puluhan layar monitor, seorang pria tengah mengamati pergerakan isu yang beberapa hari ini terus menggeliat. Pikirannya sibuk menerka serta mencoba mencari tahu siapa dalang dibalik peristiwa yang terjadi belakangan ini. 

Setelah ada yang meninggal, disusul kemudian ada pengakuan, seolah menjadi informasi pelengkap. 

Pria itu pun duduk di kursi kebesarannya, mengetik sesuatu, mencoba ikut terjun di dalam permainan yang tengah panas di media sosial. “Cukup menarik untuk mengisi waktu senggang,” gumamnya sambil tersenyum, ia kembali menulis kalimat-kalimat provokatif agar isu ini, tak menghilang begitu saja. 

•••

Gunawan tiba di rumah dalam keadaan panik, “Arman!” pria itu menjerit keras memanggil ajudan yang biasa menemaninya dimanapun dan kapanpun. Tapi sayang pria itu tak kunjung datang, padahal Gunawan sangat membutuhkan bantuannya saat ini. 

“Tuan, ada kiriman untuk anda.” 

ART rumah memberikan sebuah paket kiriman pos, nama pengirimnya anonim, dan hanya ada tulisan. 

—Untuk Tuan Gunawan yang terhormat—

“Apalagi ini?!” 

Ginawan menjerit jengkel, kemudian dengan kasar membuka paket misterius tersebut. Namun, lagi-lagi ia merasa sedang dipermainkan. 

Paket tersebut berisi foto-foto mesra Anjani bersama pria yang dikabarkan meninggal baru-baru ini. Bukan hanya satu, tapi sangat banyak, ada juga foto ketika mereka sedang bergumul di balik selimut. 

Tangan Gunawan mengepal erat, “Jalang murahan! Aku membawanya keluar dari lumpur kehinaan, tapi ia kembali menceburkan dirinya benar-benar tak bisa di beri ampun,” geramnya. 

“Anjani!” teriakan Gunawan menggelegar, memecah keheningan di seluruh penjuru rumah besar yang ia bangun dari hasil menzalimi banyak orang. 

Anjani yang sedang di kamar tak menyadari bahwa di luar kamar suaminya sedang murka, wanita itu sibuk menghiasi kuku kaki dan tangannya. Bibirnya bersiul riang mengikuti alunan musik lembut yang ia putar dari ponselnya. 

‘Slama ini aku pun mendua’

‘Tapi, kau tak tahu, Sayang’

‘Pikirmu kau yang menyakiti’

‘Bukan-bukan kamu, Sayang’

Brak! 

Anjani berjingkat, hingga cat kukunya terlempar ke lantai. “Kya! Kenapa tak mengetuk pint—” Kalimat Anjani terhenti, setelah melihat siapa yang membuka pintu kamarnya tanpa aba-aba. 

“M-Mas— eh, Pap, k-kapan datang?” tanyanya dengan suara gugup. 

Gunawan membanting pintu di belakangnya, wajahnya yang biasa berkharisma, kini terlihat dingin dan mengerikan, langkah kakinya yang kian dekat, membuat dada Anjani serasa mau meledak saking takutnya. 

“Sekali jalang, selamanya tetap jalang!” desis Gunawan. 

“M-Mas, jelaskan maksud perkataanmu? Kenapa kau mengatakan hal mengerikan itu, setelah lebih dari 20 tahun aku setia di sisimu.” 

Gunawan tersenyum miring, “Setia?” 

Bungkusan paket misterius di tangannya ia lempar ke lantai, dan foto-foto mesra Anjani dan Jono seketika berhamburan. “Apa itu yang kau sebut setia, hah?!” 

Teriakan Gunawan membuat Anjani makin bergidik, wanita itu makin ketakutan tatkala melihat benda yang dilemparkan Gunawan ke lantai, buru-buru ia memunguti benda tersebut. Matanya terbelalak, dan tangannya bergetar marah. Apakah Jono sengaja merekam adegan mereka berhubungan? Hanya pertanyaan itulah yang terlintas di pikirannya. 

“Bajingan sialan itu, sudah mati pun tetap membuat orang lain sengsara!” umpat Anjani dalam hati kecilnya.

Anjani kembali membuang foto-foto itu ke lantai, yang lebih penting sekarang adalah membujuk Gunawan, “Mas— dengar dulu penjelasanku,” mohon Anjani. 

Plak! 

Lagi, Gunawan menampar pipi Anjani, “Ternyata tubuhmu memang begitu murahnya, sampai-sampai kau memberikannya pada pria yang kebetulan kau jumpai di jalanan. Penjelasan apa yang ingin kau katakan?!” 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain,emang msh di luar negeri 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ada yg kangen nih 🤭
ensa17
et dah bocah main sosor aja
Dew666
🌼🌼🌼🌼🌼
Nar Sih
sip👍miranda tampar tuh si jordi tengil enak aja main cium dikira perempuan apaan ngk sopan 🤣
Nar Sih
oalah jordi itu pasti nama laki,,yg mobil nya ditabrak miranda ya kak moon ,
Aditya hp/ bunda Lia
Nah ... makan tuh cap 5 jari mantap kan? kamu maen sosor ajah
Aditya hp/ bunda Lia
Naaah, ... Jordan jodohin Sama Ayu ajah
Rahmawati
pingin nurut aja sm biru, demi kebaikan km
Sh
setuju deh Miranda dan biru....terus cowok rese yang punya mobil..buat siapa
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
beneran nih 🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Orang yg ditabrak mobilnya, mungkin itu jodohnya Miranda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ayu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju 🤭
Nar Sih
moga dicarikan jodoh yg bukan miranda bukan pink sama kak moon ,yg jls wanita yg soleha seperti mamah ayu☺️
Dew666
💜💜💜💜💜
Aditya hp/ bunda Lia
kamu mau terjebak dalam pesta itu? ngeyel
Siti Siti Saadah
kalau kamu suka sama biru harusnya nurut jangan ngeyel
moon: ngeyelnya buat cari perhatian 🤭
total 1 replies
Esther Lestari
Pink bakalan jadi jodohnya Biru mungkin😁
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
jangan no doh pink mau dijebak kamu😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!