Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARINI MEMUTUSKAN UNTUK MEMPERCAYAI KEMBALI RIZKY
Beberapa bulan telah berlalu sejak mereka mulai menjalani konseling bersama. Arini merasa bahwa banyak hal telah berubah dalam dirinya dan dalam hubungan dengan Rizky.
Ia telah belajar untuk menghadapi trauma masa lalunya, sementara Rizky terus menunjukkan dengan tindakan bahwa ia benar-benar telah berubah dan bisa dipercaya lagi.
Pada suatu hari Kamis sore, Arini sedang bekerja di dapur produksi kue nya ketika mendengar suara pintu terbuka. Ia melihat Rizky masuk dengan tangan penuh dengan tas belanjaan dan sebuah bunga mawar merah – bunga kesukaannya.
"Saya membawa bahan untuk membuat makanan spesial malam ini," ujar Rizky dengan senyum hangat. "Kita akan merayakan sesuatu yang penting."
Arini merasa penasaran namun juga merasa hati nya sedikit berdebar. Setelah mereka selesai memasak dan Tara tertidur, Rizky mengajak Arini untuk duduk bersama di ruang tamu yang telah ia hiasi dengan lilin dan lilin hias.
"Arini sayang," ujar Rizky dengan suara yang penuh rasa tulus, mengambil tangannya dengan lembut. "Saya tahu bahwa selama ini saya telah membuatmu sangat terluka dan telah merusak kepercayaan yang kamu berikan padaku. Saya tidak pernah bisa meminta maaf cukup banyak untuk semua rasa sakit yang saya berikan padamu. Namun selama beberapa bulan terakhir, saya telah berusaha sebaik mungkin untuk menjadi orang yang lebih baik – baik sebagai suami, ayah, maupun sebagai manusia."
Ia kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan membukanya, menunjukkan sebuah cincin emas dengan batu permata kecil di tengahnya. "Ini bukan cincin kawin baru," lanjutnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Ini adalah cincin yang sama yang saya berikan padamu saat kita menikah, yang kamu kembalikan padaku ketika kamu memutuskan untuk tinggal bersama ibumu. Saya ingin kamu menerimanya kembali bukan sebagai tanda kewajiban, melainkan sebagai tanda bahwa kamu benar-benar siap untuk mempercayai saya kembali dan membangun masa depan bersama-sama."
Arini merasa mata nya berkaca-kaca mendengar kata-kata tersebut. Ia melihat cincin yang telah ia kenal dengan baik – sebuah simbol dari cinta dan janji mereka bertahun-tahun yang lalu.
Ia merenungkan semua yang telah mereka lalui bersama – dari kebahagiaan awal perkawinan, hingga kesulitan dan cobaan yang hampir merusak keluarga mereka, hingga perjuangan mereka untuk pulih dan memperbaiki diri.
"Saya tidak bisa menyangkal bahwa masih ada bagian dari saya yang merasa takut," ujar Arini dengan suara lembut. "Takut bahwa semuanya akan terulang kembali, takut bahwa saya akan terluka lagi. Namun saya juga tahu bahwa cinta kita tidak bisa hanya dinilai dari kesalahan masa lalu. Saya telah melihat bagaimana kamu benar-benar berubah, bagaimana kamu selalu ada untuk saya dan Tara, dan bagaimana kamu telah bekerja keras untuk membangun kembali kepercayaan yang kamu rusak."
Ia mengambil cincin dari tangan Rizky dan memakainya dengan hati yang penuh rasa syukur. "Saya memilih untuk mempercayaimu kembali, Rizky," ujarnya dengan suara yang tegas dan penuh harapan. "Tidak karena saya harus melakukannya, melainkan karena saya ingin melakukannya. Saya masih mencintaimu dengan sepenuh hati dan percaya bahwa kita bisa membangun keluarga yang lebih bahagia dan kuat dari sebelumnya."
Rizky merasa air mata bahagia mengalir di pipinya. Ia mengambil istri nya dan memeluknya dengan sangat erat, merasa bahwa akhirnya ia telah mendapatkan kembali apa yang paling berharga dalam hidupnya.
"Saya berjanji bahwa saya akan selalu menjaga kepercayaan yang kamu berikan padaku," ujar Rizky dengan suara yang penuh tekad. "Saya akan selalu menjadi suami yang baik dan ayah yang penuh perhatian. Saya tidak akan pernah lagi melakukan sesuatu yang bisa menyakitimu atau merusak keluarga kita."
Keesokan paginya, Arini bangun dengan perasaan yang berbeda – rasa lega, bahagia, dan penuh harapan untuk masa depan.
Ia melihat Rizky yang sedang memasak sarapan di dapur dengan Tara yang sedang membantu dengan cara yang ia bisa.
Suara tawa mereka memenuhi ruangan, memberikan suasana yang hangat dan penuh cinta seperti dulu.
Setelah sarapan, mereka memutuskan untuk mengunjungi rumah lama mereka yang selama ini ditinggalkan Rizky sendirian.
Arini merasa sedikit canggung ketika pertama kali memasuki rumah tersebut, namun segera merasa lebih tenang ketika melihat bahwa Rizky telah membersihkannya dengan baik dan menghiasinya dengan foto-foto keluarga dan bunga-bunga segar.
"Saya telah melakukan beberapa perubahan di sini," ujar Rizky dengan senyum bangga, mengajak Arini untuk melihat sekeliling rumah. "Saya menambahkan ruang kerja kecil untukmu di bagian belakang rumah, jadi kamu bisa bekerja dari rumah jika kamu mau. Saya juga merenovasi kamar Tara agar lebih nyaman dan menyenangkan untuknya."
Arini melihat ruang kerja baru yang telah disiapkan dengan hati-hati – lengkap dengan meja kerja yang besar, rak buku untuk bahan-bahan resep, dan bahkan sebuah ruang kecil untuk membuat kerajinan tangan.
Ia merasa sangat tersentuh dengan usaha yang telah dilakukan Rizky untuk membuat rumah tersebut menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh keluarga.
"Saya sangat menyukainya," ujar Arini dengan senyum lebar. "Apakah ini berarti kita akan tinggal bersama lagi?"
Rizky tersenyum dan mengambil tangannya. "Hanya jika kamu merasa siap, sayang," jawabnya. "Saya tidak ingin kamu merasa tertekan atau tergesa-gesa. Kita bisa melakukannya dengan lambat, sesuai dengan kecepatan yang kamu inginkan."
Setelah mempertimbangkannya dengan matang, Arini memutuskan untuk kembali tinggal bersama Rizky di rumah lama mereka – namun dengan beberapa kesepakatan yang mereka buat bersama.
Mereka sepakat untuk selalu berkomunikasi dengan terbuka satu sama lain, menghabiskan waktu berkualitas bersama setiap hari, dan tetap menjalani sesi konseling secara teratur untuk memastikan bahwa hubungan mereka tetap sehat dan kuat.
Mereka juga sepakat untuk membuat jadwal kerja yang lebih seimbang, sehingga mereka memiliki cukup waktu untuk keluarga.
Rizky mengurangi jam kerjanya di kantor dan menyerahkan beberapa tanggung jawab kepada manajer muda yang mampu, sementara Arini mengatur ulang jadwal produksi kue nya agar bisa lebih fleksibel.
Pada hari mereka akhirnya pindahkan barang-barang Arini dan Tara ke rumah lama, seluruh keluarga besar berkumpul untuk memberikan dukungan dan merayakan momen penting ini.
Mereka membawa makanan dan minuman, membantu memindahkan barang-barang, dan menghias rumah dengan dekorasi baru yang membuatnya terasa lebih hidup dan penuh cinta.
"Kita sangat senang melihat kalian berdua bisa kembali bersama lagi," ujar ibu Rizky dengan suara yang penuh emosi, merangkul Arini dan Rizky. "Kita semua tahu bahwa kalian telah melalui masa-masa yang sulit, namun melihat bagaimana kalian bisa bangkit dan menjadi lebih kuat membuat kita sangat bangga."
Pada malam itu, setelah semua tamu pulang, mereka duduk bersama di ruang tamu dengan secangkir teh hangat.
Tara sedang tidur nyenyak di kamarnya setelah seharian bermain dengan keluarga besarnya. Arini melihat sekeliling rumah yang sekarang terasa lebih seperti rumah lagi – dengan foto-foto keluarga di dinding, mainan Tara yang tersebar di lantai, dan aroma makanan yang lezat yang masih tersisa dari perayaan.
"Saya merasa sangat bersyukur atas semua yang telah kita jalani," ujar Arini dengan suara lembut, bersandar pada bahu Rizky. "Meskipun jalan nya tidak mudah, saya merasa bahwa semua itu telah membuat kita lebih kuat dan cinta kita semakin dalam."
Rizky mencium kepala istri nya dengan penuh cinta. "Saya juga sangat bersyukur, sayang," jawabnya.