Banyak Adegan 21+
Yang Masih dibawah umur harap bijak dalam memilih bacaan.
"Mas Aku Hamil" Begitu kata seorang wanita cantik yang usia nya baru menginjak 20 tahun.
"Kamu gak bohong kan ?" tanya Seorang pria yang bekerja sebagai dokter kandungan.
Wanita yang bernama lengkap Alsafa Margareth itu mengangguk.
Dan mulai hari itu dirinya resmi menjadi istri simpanan dari seorang pria yang jarak umurnya terpaut sangat jauh. Namun cinta Safa begitu tulus ia begitu sabar walau statusnya tak pernah menemukan titik ujung. Entah karena suaminya takut meresmikan hubungan mereka atau memang tak ada cinta untuk dirinya ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Safa menatap kepergian Febri, bibirnya masih terasa hangat, bahkan ia masih merasakan kalau bibir Febri masih menempel di bibir tipisnya.
"Kenapa Mas Febri melakukan ini ? bagaimana kalau aku jatuh cinta padanya ?"
Tidak jangan sampai itu terjadi, kalau sampai ia mencintai Febri itu berarti ia akan melukai perasaan istri Febri. Tetaplah beranggapan kalau Safa dan Febri hanyalah orang asing.
Bukan kah hanya sebulan kan ? dan setelah ia datang bulan nanti Safa akan pergi. Disana Safa berharap tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki itu.
------
Hari terus berganti, namun sikap Febri malah semakin menunjukan hal lain, ia begitu perhatian dan memberikan kasih sayang pada Safa. Anehnya Safa tak bisa menolak dan ia bahkan menikmati setiap momen bersama laki-laki itu.
Safa sadar kalau ini salah, tak seharusnya ia menerima setiap perlakuan laki-laki itu.
"Assalamualaikum" suara seseorang yang sangat Safa hapal kembali terdengar di telinga nya.
Safa berjalan dan mendekati Febri. "Waalaikumsalam Mas" balas Safa.
"Lagi ngapain ?" tanya Febri sembari berjalan menuju sofa di ikuti oleh Safa sendiri.
"Mau nyuci baju Mas, kenapa memangnya ?"
"Tidak ada, Mas kangen sama kamu. Kan seharian kemaren gak ketemu"
Febri menarik tangan Safa, hingga perempuan itu jatuh di samping Febri.
"Kemaren jalan kemana ?" entah kenapa pertanyaan itu lolos begitu saja di mulut Safa, seharusnya jangan seperti ini, ia jangan bertanya kemana Febri pergi. Ia tak punya hak akan hal itu.
"Mau tau aja atau mau tau banget ?" Febri tampak mengu lum senyum nya. Ia pandangi wajah Safa dengan lekat.
"Lupakan saja ! gak penting juga buat ku"
Kali ini Febri terkekeh "Ngambek nih ceritanya !! sini-sini Mas ceritain kemana Mas kemaren"
"Apa sih Mas, mana ada aku ngambek. Lagian aku bukan siapa-siapa kamu"
"Kata siapa ?? kamu kan pacarnya Mas"
Safa terdiam, sebutan kata pacar terasa sangat asing di telinga nya. Tak pernah terbayangkan kalau ia menjadi kekasih dari pria yang umurnya terpaut jauh dan parahnya lagi pria itu adalah suami orang.
Sebutan kata Pelakor mungkin sangat pas untuknya, namun Safa tak bisa menolak saat Febri ingin ia menjadi kekasihnya. Kejadian malam itu mengharuskan dirinya mengikuti semua keinginan Febri.
"Kemaren Mas sama Desi pergi ke Bandung, Mas ada seminar disana" Febri mulai menjelaskan kegiatan nya kemaren.
"Oh" jawab Safa singkat.
"Setelah dari seminar Desi minta mampir ke Mall sebentar, biasa ibu-ibu"
"Oh"
"Habis itu pulang, karena capek Mas lupa ngabarin kamu"
"Oh"
"Kok jawaban nya Oh terus ?" Kening Febri mengkerut rasanya kesal dengan jawaban Safa yang singkat seperti itu.
"Terus aku harus jawab apa ?" tanya Safa kali ini ia menatap ke arah Febri.
"Ya apa kek, kan bisa nanya yang lain gak harus selalu jawab Oh"
Safa berdiri "Udah ah aku mau istirahat. Kalau Mas mau pulang jangan lupa pintunya di tutup" ujar Safa kemudian.
"Hmmmm" mata Febri menatap kepergian Safa. Rasanya ingin mengejar namun kasihan karena tadi ia mendengar kalau wanita itu hendak istirahat.
Merasa bosan sendiri, Febri akhirnya memutuskan untuk pulang. Sebelum pergi ia mengunci pintu rumah dengan rapat. Namun baru akan menaiki mobil ada 3 orang ibu-ibu yang sedang berdiri sambil memperhatikan nya.
Awalnya Febri akan menghiraukan saja, namun ucapan ibu-ibu itu membuatnya menghentikan aktivitasnya yang hendak pergi.
"*Kok kedekatan dokter Febri sama ponakan nya beda banget ya !! kaya bukan sama ponakaan tau gak !"
"Iya, terus aku juga gak pernah lihat istrinya dokter Febri datang kesini. Harusnya kan kalau tau ada keluarga yang tinggal disini pasti akan sering di kunjungi. Ini malah dokter Febri terus yang datang"
"Jangan-jangan Safa itu bukan ponakaan dokter Febri lagi ? mereka berdalih ponakaan supaya kita warga disini gak curiga"
"Wah benar juga itu bu*"
Ketiga ibu itu tampak antusias menggosipkan kedekatan Febri dan Safa, dan semua itu membuat hati Febri memanas. Ia berjalan dan mendekati ketiga ibu itu.
"Ibu-ibu ini gak punya kegiatan apa ? kok sibuk sama urusan orang lain" ujar Febri dengan geram.
"Maaf ya sebelumnya dok, selama ini kita mengenal dokter Febri itu adalah orang baik, kami hanya curiga kalau wanita di rumah itu bukan ponakaan dokter" ucap ibu berbaju kuning.
"Kalau dia bukan ponakaan saya kenapa memang nya ? apa ibu merasa di rugikan ?" Febri kembali bersuara.
"Enggak sih, tapi kalau memang dokter sama mbak Safa bukan saudara lebih baik jangan sering bersama takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan" sahut sang ibu yang lain.
"Betul tu dok"..
Febri tak lagi menanggapi, ia memilih berbalik dan memasuki mobilnya. Febri sengaja membunyikan klakson mobil berulang supaya ketiga ibu itu pergi.
Ternyata di balik jendela yang masih tertutup hordeng, Safa melihat dengan jelas apa yang terjadi namun sayangnya ia tak bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh ketiga ibu tadi.
Namun Safa sudah yakin kalau ketiga ibu itu menegur atau menanyakan tentang hubungan nya dengan Febri, sama seperti beberapa hari yang lalu saat Febri datang kerumahnya pagi-pagi sekali.
"Ini salah kamu Mas !! aku menjadi seperti ini karena kamu, sekarang aku tak bisa bebas"
Tak terasa cairan bening itu meluncur dengan deras membasahi pipinya. Berada di posisi seperti ini sangat membuat Safa bingung dan tertekan.
"Ku mohon ya Allah jangan sampai ada seseorang yang hidup di rahim hamba !!" gumam Safa sambil memegangi perutnya.
Kerap kali Safa mencari artikel di internet tentang ciri-ciri wanita hamil, namun sejauh ini ia tak merasakan tanda-tanda seperti itu. Jadwal menstruasinya masih tersisah 10 hari lagi dan Safa sangat berharap siklus nya akan berubah.
Ia sudah tak tahan tinggal di rumah ini, selain takut kalau Istrinya Febri tau. Safa juga takut di amuk tetangga.
"Aku yakin aku pasti gak akan hamil !"
Melihat ketiga ibu tadi sudah pergi di depan rumahnya, Safa memberanikan diri untuk keluar. Ia ingin menghirup udara segar karena semenjak menjadi kekasih nya Febri ia tak pernah di izinkan jalan-jalan keluar.
Triiing..
Tiba-tiba ponsel milik Safa berbunyi dengan cepat Safa melihat siapa yang mengiriminya pesan, ada nomor baru yang tidak di kenal. Segera Safa memencet pesan masuk .
"Assalamualaikum Non Safa, ini saya Mang Ucup. Mamang mau menyampaikan kalau Ibu masuk rumah sakit Non semalam ia jatuh di tangga. Sekarang Ibu belum sadarkan diri"
Deeegggg.
"Ibu..." lirih Safa , sekasar apapun ibunya namun mendengar kalau saat ini ibunya sedang masuk rumah sakit pasti akan membuat perasaan Safa hancur...
----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...
Klo kejadian kaya Safa harusnya Febri jujur sama istrinya klo dia sudah niduri perempuan lain walau karena kecelakaan. Istrinya mo terima apa gak itu sudah jg resiko Febri dan tanggungjawab sudah merusak kehormatan perempuan lain. Ini malah berbohong dan bohong terus lebih baik Safa pergi deh tinggalin Febri daripada tersakiti , lebih baik hidup bahagia bersama anakmu. Soal rezeki dan jodoh kan dah ada yg atur. Upps lupa deh ini kan novel 😄😄😄 jelas yg atur author donk. Safa selamat berjuang aja ya.