NovelToon NovelToon
Pilih Aku, Aruna...

Pilih Aku, Aruna...

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:591.3k
Nilai: 5
Nama Author: HeniNurr

Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.

Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.

Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baru Dimulai

Menebar senyuman ke seluruh karyawan, Aruna melenggang menapaki satu persatu lantai gedung hingga akhirnya sampai di bagian lantai tertinggi. Sepertinya ini akan menjadi kejutan besar untuk Aryo, membawa kotak makan siang yang berisi makanan kesukaannya.

Aruna menghela nafas dalam, mungkin ini adalah awal yang bagus untuk memulai semuanya dari awal. Membangun rumah tangga yang harmonis, dan kembali memupuk sedikit demi sedikit kepercayaan yang semula sudah terkikis.

Perlahan Aruna mendorong pintu kokoh yang menjulang tinggi, kosong tak ada siapapun di sana. Apa mungkin Aryo pergi makan siang di luar? Aruna berdecak, mungkin dia terlambat.

Namun benda pintar milik Aryo teronggok di atas meja, dan jas hitam yang dikenakannya tadi pagi, masih tersampir di sandaran kursi.

Aruna berderap lebih dekat, alisnya bertaut, menyambar jas lain yang bertumpuk dengan jas Aryo. Perasaannya mulai tak nyaman, merentangkannya lebar-lebar, tangan Aruna bergetar hingga jas itu jatuh di lantai. Blazer wanita.

"Aku mencintaimu Mas..."

Seketika mata Aruna menoleh, samar suara manja menusuk dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Aruna melangkah, mendekati kamar pribadi yang tersedia di ruangan itu.

Aruna tertegun, dadanya sesak terhimpit bongkahan batu yang menikamnya dengan satu kali pukulan, seketika hancur berkeping-keping,"Mas Aryo..." Meremas dada dan segera berpaling dari pandangan yang membuatnya mati arang.

🌿🌿🌿🌿

Kilatan cahaya yang menyilaukan mata di langit yang gelap menyadarkan dirinya untuk segera beranjak meninggalkan tanah kuburan yang sudah berjam-jam lamanya ia sambangi. Butiran air hujan pun satu persatu mulai turun, meninggalkan basah kesegarannya.

"Arun pulang dulu Bude." Ucapnya hampir tak terdengar, meraba batu nisan yang sekarang ini rutin dia datangi. Aruna beranjak, menenteng tas jinjing yang di simpan pada bebatuan tak jauh disampingnya.

Suara petir yang menggelegar bagai teriak kesakitan dari hatinya yang di dera kehancuran. Jejeran pohon palm sebagai penghias jalan, satu persatu ia lewati, membiarkan guyuran hujan menyamarkan air matanya yang mengalir deras.

Decitan ban yang bergesek dengan aspal membuat Aruna terlonjak, ditambah lagi jeritan klakson yang memekik, membuat deru jantungnya berlomba dengan kencang.

"Kalau nyebrang hati-hati Mbak, nanti ketabrak!" Seru si sopir yang melongok di kaca yang dibiarkan terbuka.

Mobil hitam metalic itu hanya berjarak tiga puluh senti dari tubuhnya yang mungkin akan terpelanting jika si pengendara tidak menginjak remnya dengan kuat.

"Maaf Pak." Aruna menyibak rambutnya yang basah, segera membawa tasnya dan berlalu pergi.

"Mbak tidak apa-apa?" Seruan kedua dengan suara yang berbeda, lembut namun meninggalkan kesan ketegasan.

Aruna kembali menoleh, melihat sekilas laki-laki berkacamata hitam yang duduk di kursi penumpang. Mungkin itu si Tuan yang memiliki kendaraan mewah itu.

"Saya tidak apa-apa." Jawabnya dengan langkah terburu-buru.

Mengambil jalan pintas, akhirnya Aruna sampai di depan rumah mewah bercat putih bergradasi kuning emas. Langkah gontai ia menggeret pagar tralis yang menyembunyikan keindahan taman yang sudah dua tahun ini dia rawat penuh suka cita.

Menghabiskan waktu berjam-jam, merawat semua bunga dan rumput hias, demi menghalau segala sepi.

"Loh Bu, kenapa Hujan-hujanan begini, kalau sakit bagaimana?" Tutur Bi Mimin, pembantu rumah tangga yang satu terakhir ini Aryo pekerjaan untuk membantu membersihkan rumah.

"Sebentar Bibi ambilkan handuk dulu."

"Nggak usah Bi...," Menarik tangan Bi Mimin yang akan pergi,"... Pak Aryo sudah pulang?" Tanyanya, karena mobil yang dikendarai Aryo sudah terparkir di depan rumah.

"Sudah dari tadi Bu, tadi Bapak nanyain Ibu... tapi setelah mendapat telepon, Bapak langsung ganti baju lalu pergi lagi, sepertinya dijemput seseorang, katanya ada meeting dadakan."

Hatinya kembali tercabik, ingin meraung, berteriak, menjerit, meluapkan segala rasa yang dipendamnya sejak tadi.

"Kalau begitu saya ke kamar dulu."

"Bibi buatkan minuman hangat ya Bu?"

Anak tangga urung dia pijaki, menoleh perempuan sepuh yang akhir-akhirnya ini sering izin tidak masuk karena sakit. Matanya seakan berkata kalau dia siap dijadikan sandaran keluh kesah, berbagi suka dan duka yang tengah dirasakannya, tapi Aruna tidak bisa, biar luka ini dia telan seorang diri.

"Nanti Bibi antarkan ke kamar, Bibi juga sudah buat pisang bolen kesukaan Ibu." Lanjutnya lagi.

Aruna mengangguk,"Iya Bi."

Kepulan teh jahe dengan satu piring pisang bolen sudah tersaji di atas meja. Aruna hanya duduk, melihat tanpa sedikitpun ingin meneguk dan mencicipi lelehan manis dari coklat yang berpadu dengan pisang yang biasanya selalu nikmat dia rasakan. Semua terasa pahit.

Air matanya kembali meleleh, pisang bolen yang mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia rindukan, Bude Wati. Orang tua yang selama ini selalu menjadi sandaran keluh kesahnya.

"Bu...." Seru Bi Mimin dari balik pintu.

Diseka air mata kepedihan itu, Aruna beranjak membuka pintu. Mungkin Bi Mimin akan pamit pulang karena hari mulai merangkak gelap.

"Bibi mau pulang?" Tanyanya pada Bi Mimin saat pintu sudah terbuka lebar.

"Nggak Bu, Bibi tidak akan pulang, Bapak meminta Bibi untuk menemani Ibu malam ini."

Hatinya kembali tertusuk, Jadi dia tidak akan pulang malam ini???

"Di depan ada tamu Bu." Lanjut Bi Mimin membuyarkan lamunan Aruna.

"Siapa?"

"Katanya dari butik."

Mendengar kata Butik Aruna meragu, pasalnya dia jarang sekali membeli pakaian di butik, mempunyai kenalan orang butik pun dia tidak punya.

"Mau menemui saya?"

"Katanya begitu, apa Ibu mau menemuinya?" Tanya Bi Mimin ragu-ragu, melihat gelagat Nyonyanya yang sedang tidak baik-baik saja.

"Sebentar lagi saya turun, suruh tunggu sebentar."

"Iya Bu."

Menuruni anak tangga satu persatu, Aruna menemui karyawan butik yang berseragam rapi dalam balutan kain batik,"Ada yang bisa saya bantu?"

"Dengan istrinya Pak Aryo?"

"Iya betul."

"Ini Bu...." Karyawan wanita itu menyerahkan kotak persegi panjang berukuran besar,"... ini pesanan Pak Aryo untuk Ibu."

Aruna menerima kotak itu, membukanya dengan perlahan. Sebuah gaun cantik yang pastinya dengan harga yang tidak sedikit.

"Pak Aryo pintar sekali memilihkan gaun, sepertinya pas sekali untuk Ibu."

Aruna tersenyum tipis,"Terima kasih sudah mau mengantarnya kesini."

"Sama-sama... ini memang sudah menjadi tugas saya. Apalagi Pak Aryo merupakan pelanggan tetap kami tiga bulan terakhir ini."

Pelanggan tetap, sejak kapan Mas Aryo suka ke butik??? Tanyanya dalam hati. Aryo tipe orang yang lebih suka berbelanja online, menurutnya lebih simple dan efektif, tidak banyak membuang waktu.

"Kalau begitu saya permisi dulu, semoga Ibu suka dengan gaun rancangan butik kami."

Lamunan Aruna buyar, melihat wanita itu yang sudah beranjak dari duduknya,"Oh iya, silahkan."

"Saya hampir lupa, saya ucapkan selamat ulang tahun, semoga Ibu selalu bahagia dengan Pak Aryo." Ucapnya sambil menangkup kedua telapak tangan didepan dada.

Aruna mematung, sedangkan karyawan itu tersenyum simpul, melihat wajah Aruna yang seperti kebingungan.

"Sepertinya Pak Aryo berhasil membuat kejutan untuk Ibu, karena beliau mengatakan kalau Ibu memang pelupa." Tambahnya lagi tanpa ragu.

Senyuman palsu terpaksa ia suguhkan, menutupi rasa kecewanya yang semakin dalam.

"Kalau begitu permisi Bu, mari."

Tubuh Aruna merosot, mencengkram kotak yang tak lepas dari genggamannya, tergugu tanpa suara.

Semua kesakitannya belum berakhir, bahkan baru saja akan dimulai.

"Siapa kamu di luar sana Mas?" Jerit Aruna dalam hati.

Dengan kasar Aruna menghapus air matanya, berdiri sekuat tenaga, mencengkram kotak itu dengan keras. Diam dan terus tersakiti, atau memilih pergi sebelum mati.

🥀

🥀

🥀

_ Bersambung _

1
74 Jameela
pengen q begal ajja tuch si manda jd org kok memaksakn diri..egois banget🤮
74 Jameela
Manda cinta sendiri trllu ngarep jd kyk punguk merindukn rembulan..kn jls aruna yg kenal duluan dg nuno...aruna gk ngrebut nuno dr manda scra nuno gk prnh ksh harapan atau janji ke manda😇
Sabila Brina
akhirnya moly nongol😍😍
Solehatun Rayhan
bagus ceritanya
Elly Watty
visual Aryo g da tanding
Elly Watty
Aruna sok jd pahlawan, klw dia mengikhlaskan Nuno untuk Manda hrusnya totalitas donk dg pergi jauh dr hidup mrk berdua, klw msih satu kota sih percuma
Elly Watty
dekik di pipi samakah artinya ma lesung pipi
Puturidho Waseso
bagus ceritanya
Dewi Rukmini
disini keluarga Nuno dan Nuno tidak tegas seolah2 hanya Manda saja yg di perhatikan sedang Nuno tahu harus ada hati yg di jaga,Nuno tidak tegas menghadapi Manda kasian ya kasian tapi tidak harus segitunya kali thor
Mrs.Kristinasena
org tua angkat dan kandung Nuno..ini luar biasa semua yaaa..
Mrs.Kristinasena
duuuh Nuno Ama Aruna menikmati surga dunia sebelum ketuk palu..haha honeymoon dini yaaa...
Mrs.Kristinasena
mama Dila ,kasih sayangnya melebihi ibu kandung...ngerti banget demi kebahagiaan anak..walau statusnya anak sambung
Mrs.Kristinasena
semoga ada jalan utk mereka berjodoh..
Mrs.Kristinasena
otw janda kembang, Jino..jadi jgn bilang mama dulu yaa..tunggu jadi janda dulu..baru lapor..hehe
Mrs.Kristinasena
kamu bohong kalo bilang cinta sama Aruna..kalo cinta,pasti akan setia..kamu cuma lelaki bejat..brengsekk..yg lebih murahan dari pelacur
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...
Mrs.Kristinasena
Aruna serasa dihajar luar dalam..tubuh dan mentalnya disakiti sama Aryo dan Ranti..
Mrs.Kristinasena
diiiih enek bgt Ama Aryo..klo suamiku dah tak cincang" itu senjatanya..biar nyahok...hehehe
Mrs.Kristinasena
ga cuma Nuno dan Aruna yg galau..aq pun nyesek liat mereka berdua..
Mrs.Kristinasena
Akhirnya Nuno tau kalo Aruna istrinya pak Aryo..yg sedang berselingkuh..Nuno pasti ikut merasakan kesakitan hati Aruna Krn suaminya tukang selingkuh...rebuuuuttt aja Nuno..Arunanya..kasiiiaaann..Aruna berhak bahagia dan dicintai kan..
Mrs.Kristinasena
baguuuuusssss...kata dlm kalimat nya enak dibaca..ga bikin pusing..malah sll penasaran utk terus menerus membaca...luaaarrr biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!