Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
PT Cantika Teknologi menawarkan damai dua puluh menit sebelum sidang dimulai.
Angkanya Rp 300.000.000.
Kevin Tanuwijaya menatap kertas itu seperti melihat lelucon yang ditulis dengan kop surat mahal.
"Mereka mencuri desain yang bisa menyelamatkan perusahaan kami, lalu menawarkan angka yang bahkan tidak menutup biaya pengembangan dua tahun?"
Direktur Cantika duduk di seberang ruang mediasi kecil Pengadilan Niaga, senyumnya kaku.
"Saudara Kevin, ini dunia bisnis. Sengketa panjang akan menguras kalian. Kami memberi jalan keluar terhormat."
Alexander mengambil surat penawaran itu.
"Jalan keluar untuk siapa?"
Pengacara Cantika menyela, "Kuasa penggugat sebaiknya berhati-hati. Kami datang dengan itikad baik."
"Itikad baik biasanya tidak datang setelah ahli sendiri mengakui desain klien Anda lebih konsisten dengan akses terhadap cetak biru awal."
Ruangan langsung dingin.
Direktur Cantika mencondongkan badan.
"Berapa yang kalian mau?"
Kevin hampir menjawab, tetapi Alexander menahan dengan satu gerakan tangan.
"Kami tidak sedang menjual hak untuk diam. Kalau Cantika ingin berdamai, syaratnya jelas: hentikan produksi, tarik pendaftaran bermasalah, bayar ganti rugi sesuai kerugian nyata, dan akui kesalahan dalam perjanjian tertulis."
Direktur itu tertawa pendek.
"Kalian startup kecil."
Alexander menatapnya.
"Benar. Tapi hari ini kita tidak sedang mengukur ukuran kantor. Kita sedang mengukur asal desain."
Sidang dimulai pukul 09.00.
Majelis hakim masuk, semua berdiri, dan Kevin menggenggam map di pangkuannya begitu kuat sampai ujung jarinya memutih.
Alexander meletakkan satu bundel baru di meja penggugat.
Laporan Ahli Forensik Digital.
Di bawah judul itu ada tanda tangan ahli bersertifikat, lampiran hash file, rantai akuisisi data, riwayat modifikasi, serta daftar jalur penyimpanan yang disegel.
Semua yang Dadu IP tunjukkan sebagai arah, kini hadir sebagai dokumen yang bisa dibaca pengadilan.
Ketua majelis mempersilakan Alexander.
"Yang Mulia, pada sidang sebelumnya, pihak tergugat menyatakan desain mereka merupakan pengembangan paralel. Hari ini kami menyerahkan laporan ahli forensik digital independen yang telah memeriksa file pendaftaran desain teknis tergugat, lampiran investor yang memicu temuan awal, serta salinan digital yang diajukan dalam perkara ini."
Ia menyerahkan bundel melalui panitera.
"Temuan utamanya tiga."
Pengacara Cantika berdiri. "Kami keberatan jika laporan ini dianggap final tanpa pemeriksaan ahli langsung."
"Keberatan dicatat," kata ketua majelis. "Ahli telah hadir?"
Alexander menoleh ke belakang.
Seorang ahli forensik digital perempuan berdiri. "Hadir, Yang Mulia."
Wajah pengacara Cantika berubah.
Alexander melanjutkan.
"Pertama, file desain tergugat memiliki struktur lapisan gambar yang berasal dari salinan kerja lama, bukan file yang dibuat dari awal. Kedua, metadata tersembunyi menunjukkan riwayat ekspor dari folder eksternal yang sama dengan arsip teknis yang pernah dipakai dalam pengembangan awal Aeon. Ketiga, hash pembanding memperlihatkan beberapa modul geometri identik sampai tingkat simpul koordinat internal, termasuk tiga cacat awal yang telah kami bahas pada sidang sebelumnya."
Kevin menarik napas dalam.
Kali ini, bukan panik.
Harapan.
Ahli forensik digital memberikan keterangan dengan tenang. Ia menjelaskan cara akuisisi data, perangkat yang dipakai, hash sebelum dan sesudah ekstraksi, serta batas analisisnya. Ia tidak menyebut Dadu IP. Ia tidak menyebut firasat. Ia tidak menyebut IRN.
Ia hanya menyebut hal yang bisa diperiksa ulang.
Itu yang membuatnya mematikan.
"Kesimpulan saya," kata ahli itu, "file desain PT Cantika Teknologi tidak menunjukkan pola pembuatan independen dari nol. Ia lebih konsisten dengan penyuntingan dari salinan desain kerja yang sudah ada sebelumnya."
Pengacara Cantika mencoba menyerang.
"Apakah Saudari ahli dapat memastikan siapa yang mengambil file itu?"
"Tidak. Itu di luar lingkup analisis saya."
"Jadi Saudari tidak bisa menyatakan klien kami mencuri?"
"Saya tidak menggunakan istilah mencuri. Saya menyatakan file desain yang diajukan tergugat lebih konsisten sebagai hasil penyuntingan salinan yang sudah ada, bukan desain independen."
Alexander hampir tersenyum.
Dimas pasti akan menyukai jawaban itu.
Tidak melebihi bukti.
Justru karena itu, lebih sulit dipatahkan.
Majelis meminta kedua pihak menyampaikan tanggapan akhir singkat.
Pengacara Cantika berdiri dengan wajah pucat tetapi masih berusaha rapi.
"Yang Mulia, kesamaan digital tidak otomatis menunjukkan kesengajaan direksi. Bisa jadi ada vendor, konsultan teknis, atau pihak ketiga yang menyediakan file tanpa sepengetahuan klien kami."
Alexander berdiri setelahnya.
"Yang Mulia, penggugat tidak meminta majelis menebak siapa di dalam tergugat yang menekan tombol pertama. Perkara ini adalah pelanggaran hak paten dan penggunaan desain teknis tanpa hak. Tergugat mendaftarkan, memakai, dan mengambil manfaat dari desain yang secara teknis terbukti berasal dari salinan kerja penggugat. Risiko internal mereka bukan alasan untuk membebankan kerugian kepada pemilik hak yang sah."
Ia menatap majelis.
"Startup kecil tidak kalah hak hanya karena pencurinya berbadan hukum lebih besar."
Sidang diskors satu jam.
Selama satu jam itu, Kevin tidak duduk. Ia berjalan dari ujung lorong ke ujung lain, berhenti, lalu berjalan lagi.
"Lex, kalau kita menang..."
"Kita tunggu palu."
"Aku tahu, tapi kalau..."
"Kevin."
"Ya?"
"Nikmati setelah palu."
Kevin mengangguk, lalu tetap berjalan.
Pukul 11.27, majelis kembali.
Putusan dibacakan tanpa banyak hiasan.
PT Cantika Teknologi dinyatakan telah melanggar hak paten dan menggunakan desain teknis PT Aeon Robotika tanpa hak.
Pendaftaran desain bermasalah diperintahkan untuk dibatalkan atau diperbaiki sesuai prosedur.
Produksi dan pemasaran produk terkait dihentikan sampai ada lisensi sah.
Cantika dihukum membayar ganti rugi yang jumlahnya jauh melampaui tawaran mediasi pagi itu.
Kevin duduk.
Ia tidak lemah.
Karena lututnya tidak siap menerima kemenangan.
Alexander menunduk singkat.
Menang.
Sistem tidak perlu berkata apa-apa.
Karena petunjuk sistem telah dipaksa melewati jalur yang bisa diuji, dibantah, lalu tetap berdiri.
Di luar ruang sidang, Kevin akhirnya memeluknya.
Kali ini Alexander membiarkan.
"Aeon hidup, Lex."
"Aeon masih harus bekerja keras."
"Tapi hidup."
"Ya," kata Alexander. "Hidup."
Beberapa wartawan dari portal berita hukum menunggu di ujung lorong. Mereka bertanya soal kemenangan HKI, soal startup lokal, soal standar pembuktian digital.
Alexander menjawab pendek.
"Putusan hari ini penting bukan karena satu perusahaan kecil menang atas perusahaan besar. Ia penting karena bukti digital harus diuji secara sah. Dugaan tidak cukup. Tetapi ketika dugaan dikonversi menjadi laporan ahli yang dapat diperiksa, hukum punya mata yang lebih tajam."
Malamnya, berita hukum daring menulis namanya lagi.
Pengacara muda yang menang di MakanYuk kini menumbangkan Cantika di Pengadilan Niaga.
Alexander tidak membaca artikel itu sampai habis.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Gunawan:
Datang ke ruangan saya begitu kembali. Ada hal lain yang harus kita bicarakan.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada tanda tanya.
Hanya satu kalimat yang terlalu serius untuk kemenangan sebesar itu.
Alexander menatap layar.
Di balik kemenangan Aeon, nama IRN belum berhenti bergerak.