NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007

Coba Pertimbangkan Aku

Langkah Arkan baru berhenti setelah suara reuni tertahan di balik dua lapis pintu kaca.

Koridor samping restoran menghadap taman kecil yang basah oleh hujan sore. Udara malam masuk dari bagian yang terbuka, membawa aroma tanah dan daun. Laras berdiri dua langkah darinya, masih menunggu alasan ia dibawa keluar.

Arkan memasukkan kedua tangan ke saku celana.

“Tangga belakang gedung lama,” katanya.

Napas Laras tersangkut.

“Kamu ingat?”

“Baru ingat setelah mendengar mereka mengulang tuduhan itu.” Tatapan Arkan turun ke wajahnya. “Dulu rambutmu pendek. Kamu juga selalu menunduk.”

“Jadi kemarin kamu benar-benar nggak mengenaliku.”

“Nggak.”

Kejujurannya tetap menyakitkan, tetapi setidaknya kini Laras tahu masa lalu itu tidak hilang sepenuhnya dari ingatan Arkan.

“Maaf,” lanjutnya. “Aku seharusnya ingat lebih cepat.”

“Kita cuma pernah bicara beberapa menit.”

“Cukup untuk membuatku mengirim video ke wali kelas.”

Laras menatap taman. “Terima kasih. Untuk dulu dan untuk malam ini.”

“Kamu nggak perlu berterima kasih karena aku menghentikan orang yang jelas-jelas salah.”

Itulah Arkan yang diingatnya. Melakukan sesuatu yang mengubah hidup orang lain, lalu menganggapnya sebagai keputusan paling wajar di dunia.

Hening turun di antara mereka. Dari dalam restoran terdengar samar denting gelas dan lagu lama yang diputar panitia.

“Ada hal lain yang mau kamu bicarakan?” tanya Laras.

“Ada.”

Arkan menjawab terlalu cepat untuk seseorang yang sedang mencari topik. Tatapannya stabil, seolah percakapan berikutnya sudah ia susun sebelum datang.

“Mama kita sama-sama ingin kita menikah.”

Jantung Laras memukul tulang rusuknya.

Ia berusaha menjaga wajah. “Itu bukan rahasia.”

“Aku nggak suka dikenalkan ke orang berbeda setiap beberapa minggu.”

“Aku juga.”

“Jadwalku nggak cocok untuk pendekatan panjang. Jadwalmu mungkin lebih buruk.”

“Shift malamku pasti setuju.”

Arkan mengabaikan humor kecil itu. Ia menatap Laras lebih serius.

“Kalau begitu, coba pertimbangkan aku.”

Angin malam menyentuh lengan Laras, tetapi seluruh tubuhnya terasa panas.

“Pertimbangkan kamu untuk apa?”

Pertanyaan bodoh. Ia tahu jawabannya. Ia hanya perlu mendengarnya sekali lagi, memastikan jantungnya tidak sedang mengarang suara.

“Menikah.”

Satu kata itu jatuh tanpa bunga, tanpa cincin, tanpa nada romantis.

Tetap saja, Laras hampir lupa berpijak.

Laki-laki yang namanya memenuhi buku harian sedang berdiri di depannya dan mengajaknya menikah pada pertemuan kedua. Arkan tidak tahu bahwa Laras pernah membayangkan kata itu dalam terlalu banyak versi. Tidak tahu bahwa bagi Laras, ini bukan jalan keluar dari desakan dua ibu.

Ini mimpi yang datang tanpa memberi waktu untuk mempersiapkan diri.

“Kita baru bertemu lagi kemarin,” katanya.

“Kita sudah tahu latar belakang masing-masing. Keluarga kita juga saling kenal.”

“Itu belum cukup untuk menikah.”

“Karena itu aku minta kamu mempertimbangkan, bukan menjawab malam ini.”

Nada Arkan tetap datar, tetapi ia tidak terdengar meremehkan. Ia sedang menyampaikan rencana seperti saat memberi briefing, setiap risiko diletakkan di tempat yang bisa dilihat.

“Kalau kita sepakat,” lanjutnya, “keluarga bisa membicarakan lamaran, mahar, akad, dan KUA. Pernikahannya sungguhan. Aku nggak menawarkan sandiwara untuk menenangkan Mama.”

Laras akhirnya berani menatapnya. “Lalu soal kita?”

“Kita jalani pelan-pelan.”

“Tinggal di mana?”

“Aku punya rumah di kawasan bandara. Lebih dekat ke tempat kerjamu daripada rumah Mama.”

“Kamu sudah memikirkan itu?”

“Aku memikirkan hal praktis.” Arkan berhenti sebentar. “Kamu bisa punya ruang sendiri. Kalau pulang shift malam, aku nggak akan menuntutmu bangun pagi untuk menyiapkan apa pun. Kalau aku terbang beberapa hari, kamu juga nggak wajib menunggu.”

Laras memeluk lengannya sendiri. “Kedengarannya seperti dua orang menyewa rumah yang sama.”

“Pada awalnya mungkin begitu.”

“Keluarga kita akan berharap lebih.”

“Harapan mereka bukan alasan untuk memaksamu.” Tatapan Arkan tak berubah. “Kita yang menentukan kapan siap berbagi kamar, kapan memberi tahu orang lain, dan hal apa yang tetap pribadi. Kalau salah satu keberatan, kita bicarakan langsung. Bukan lewat Mama, bukan lewat grup keluarga.”

Jawabannya terlalu terstruktur untuk disebut spontan. Namun, justru karena itu Laras dapat melihat ia tidak sedang mempermainkan akad atau memakai pernikahan sebagai kedok singkat.

Arkan bahkan sudah menghitung jarak perjalanan Laras sepulang dari shift malam.

“Kalau ternyata nggak cocok?”

“Kita bicara sebelum masalahnya membesar. Aku nggak akan memaksamu berhenti kerja atau mengikuti jadwalku. Kamu juga nggak perlu berpura-pura menjadi istri yang menunggu di rumah setiap hari.”

“Kita bahkan bisa jarang bertemu.”

“Dengan profesi kita, itu pasti terjadi meski kita saling mencintai.”

Kata mencintai membuat jari Laras menegang.

Arkan mengatakannya sebagai kemungkinan umum, bukan pengakuan.

“Aku bisa menjanjikan rasa hormat, tanggung jawab, dan ruang untuk pekerjaanmu,” katanya. “Untuk perasaan, kita biarkan tumbuh kalau memang bisa.”

Kalimat itu seharusnya terdengar dingin. Anehya, Laras justru lebih percaya pada batas yang diucapkan jujur daripada janji cinta dari seseorang yang baru dua hari mengenalnya.

Masalahnya, perasaan Laras tidak perlu tumbuh.

Ia sudah membawanya selama sepuluh tahun.

“Kenapa aku?” Laras bertanya.

Arkan terdiam sesaat. “Kamu nggak membuatku ingin segera pergi.”

Laras mengangkat alis. “Itu pujian?”

“Untukku, iya.”

Hampir saja ia tertawa. Arkan tetap sama buruknya dalam memperindah kalimat.

“Dan malam ini,” lanjutnya, “kamu bisa berdiri sendiri tanpa membuat keributan jadi lebih buruk. Aku suka orang yang tahu kapan harus diam dan kapan harus melawan.”

Dada Laras menghangat, lalu seketika dipenuhi rasa bersalah. Arkan memilih perempuan yang ia lihat tenang dan rasional. Ia tidak melihat halaman-halaman buku harian, riwayat pencarian penerbangan, atau alasan sebenarnya Laras masuk PPI Curug.

“Aku butuh waktu,” katanya.

“Ambil.”

“Berapa lama?”

“Sampai kamu yakin jawabannya milikmu, bukan milik Mama.”

Ponsel Arkan bergetar.

Ia melihat layar, lalu menerima panggilan. Sikapnya berubah dalam satu detik, dari laki-laki yang mengajukan pernikahan menjadi kapten yang menilai jadwal.

“Ya.” Ia mendengarkan. “Berapa jam duty kru sebelumnya?”

Suara di seberang menjelaskan cukup panjang.

“Kirim detail pairing dan waktu report. Kalau masih masuk FTL, aku ambil.”

Arkan menutup telepon. “Ada kru yang sakit. Aku diminta menggantikan satu penerbangan.”

“Sekarang?”

“Aku harus ke bandara.”

Ia berjalan dua langkah, lalu berhenti di depan Laras.

“Pikirkan yang tadi.”

“Kalau sudah punya jawaban?”

“WhatsApp aku.”

Arkan mengucapkan salam singkat, kembali ke ruangan untuk mengambil barangnya, lalu pergi tanpa menunggu acara selesai.

Laras tetap berdiri di koridor. Hujan mulai turun lagi di luar taman, memukul daun dengan bunyi halus.

Ponselnya terasa berat ketika ia membuka WhatsApp.

Di bawah nama Arkan hanya ada pesan pendek yang dikirim setelah pertemuan kemarin.

Arkan.

Sekarang, nama yang ia sukai selama sepuluh tahun itu menunggu satu kata yang belum berani ia kirim.

Iya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!