**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Firasat Nyonya Selina
"Mama masih memikirkan dokter itu?"
Reyner menemukan Selina berdiri di depan jendela ruang keluarga dengan foto gala terbuka di ponselnya.
Di layar, Kayla sedang berbicara dengan seorang donor. Senyumnya tidak lebar, tetapi sudut mata dan bentuk alisnya membuat dada Selina kembali sesak.
"Mama hanya merasa pernah melihatnya," jawab Selina.
"Di IGD. Dia dokter yang membantu Mama ketika sakit lambung."
"Bukan itu. Jauh sebelum hari itu."
Reyner duduk di sampingnya. "Mirip siapa?"
Selina membuka album lama dari lemari. Ia menemukan foto saat berusia dua puluh lima tahun, berdiri di depan klinik kecantikan pertamanya.
Reyner memandang foto itu, lalu ponsel.
"Mirip Mama," katanya akhirnya.
Suara sepatu hak tinggi terdengar dari tangga.
Vanessa turun sambil berbicara melalui telepon. "Kalau butik itu tidak bisa mengirim gaun malam ini, batalkan seluruh pesanan. Saya tidak mau memakai koleksi yang sudah dilihat orang lain."
Ia menutup panggilan dan mengulurkan kartu kepada Bik Mimin. "Bayar tagihan stylist."
Bik Mimin menerima dengan ragu. "Nona, Pak Winston meminta semua pembelian di atas Rp 50 juta dikonfirmasi."
"Aku anak keluarga ini. Kenapa harus meminta izin untuk membeli gaun?"
Winston masuk dari ruang kerja tepat waktu mendengar kalimat itu.
"Karena bulan ini kamu sudah menghabiskan lebih dari anggaran satu tahun program beasiswa klinik Mama," katanya.
Vanessa memutar mata. "Papa selalu membandingkan aku dengan orang-orang yang tidak punya uang."
"Papa membandingkan kebutuhan dengan pemborosan."
"Kalau Reyner membeli jam tangan, tidak ada yang bertanya."
"Ko Reyner membelinya dari penghasilannya sendiri," jawab Selina.
Vanessa melihat foto di tangan ibunya. "Siapa lagi yang kalian bicarakan?"
Selina cepat menutup album. "Tidak ada."
"Dokter itu lagi?"
Nada suaranya membuat Reyner menatap tajam. "Namanya Kayla. Dia menolong Mama."
"Dia juga mempermalukanku di gala."
"Kamu yang menghampirinya lebih dulu."
Vanessa mengambil kartu dari tangan Bik Mimin. "Kalian selalu membelanya sejak malam itu."
"Kami membela orang yang tidak bersalah," kata Winston. "Dan mulai hari ini kartu keluarga tidak boleh dipakai tanpa persetujuan."
Wajah Vanessa memucat. "Papa menghukumku karena perempuan asing?"
"Papa menghentikan pengeluaranmu karena kamu tidak punya batas."
Vanessa berbalik dan naik ke kamar. Pintu dibanting keras beberapa detik kemudian.
Selina memejamkan mata. "Dia semakin sulit diajak bicara."
"Dia takut," kata Reyner.
Winston mengerutkan kening. "Takut apa?"
Reyner tidak menjawab. Sejak gala, ia mulai membuka kembali kotak dokumen yang disimpan keluarga selama dua puluh lima tahun. Vanessa beberapa kali memergokinya memindai catatan rumah sakit dan bertanya terlalu banyak.
Di dalam kamar, Vanessa menelepon seseorang dari bagian administrasi keluarga.
"Cari tahu dokumen apa yang diminta Ko Reyner minggu ini," perintahnya. "Terutama yang berkaitan dengan kelahiranku."
"Nona, berkas itu dibatasi."
"Aku akan membayar. Jangan sampai Papa tahu."
Ia berdiri di depan cermin. Wajahnya cantik dan terawat, tetapi tidak ada satu garis pun yang menyerupai Selina atau Winston.
Selama bertahun-tahun, hal itu dianggap kebetulan.
Sekarang seorang dokter dari keluarga toko kecil muncul dengan mata Selina muda.
Vanessa mencengkeram ponsel. Rumah Wijaya, nama keluarga, dan seluruh hidup yang dimilikinya tidak boleh direbut siapa pun.
Keesokan siangnya, Reyner datang ke Klinik Kecantikan Bella setelah jam praktik Selina selesai. Ia membawa laptop dan map cokelat.
"Aku menemukan salinan buku registrasi yang pernah diberikan rumah sakit," katanya.
Selina mengunci pintu ruang konsultasi. "Papa sudah tahu?"
"Papa yang meminta aku melanjutkan."
Winston bergabung melalui panggilan video dari kantornya. Di layar lain, Wilbert dan Sherly menunggu di ruang kru Angkasa Timur. Keduanya pernah membantu Reyner menghubungi kenalan lama di rumah sakit.
"Kami hanya punya waktu sebelum briefing," kata Wilbert. "Apa yang ditemukan?"
Reyner membuka hasil pindai.
Sebelum menunjukkan dokumen, ia meletakkan gelang bayi lama di atas meja. Plastik putihnya sudah menguning. Tulisan `Bayi Ny. Selina` hampir pudar, tetapi satu nama kecil di bagian belakang masih terbaca.
Yaya.
Selina menyentuhnya dengan ujung jari. Setelah bayi dibawa pulang, ia menyimpan gelang itu bersama topi rajut merah dan kartu ucapan dari Winston. Bertahun-tahun kemudian, ketika perbedaan golongan darah dalam pemeriksaan keluarga menimbulkan pertanyaan pertama, gelang itulah yang membuat mereka kembali ke rumah sakit.
Pihak rumah sakit mengatakan tidak ada kesalahan. Seorang perawat lama bahkan bersumpah semua bayi telah diserahkan kepada ibu masing-masing.
Namun perawat itu meninggal sebelum Reyner berhasil menemuinya lagi.
Dua puluh lima tahun lalu, Selina melahirkan bayi perempuan di sebuah rumah sakit swasta yang kemudian berganti kepemilikan. Bayi itu dipanggil Yaya. Pada malam yang sama, listrik cadangan sempat bermasalah dan beberapa bayi dipindahkan dari ruang observasi.
"Catatan gelang identitas tidak lengkap," kata Reyner. "Ada formulir yang ditandatangani perawat, tetapi nomor gelang ditulis ulang dengan tinta berbeda."
Selina menutup mulut. "Kenapa baru sekarang kita melihatnya?"
"Salinan lama buram. Versi mikrofilm yang dipindai menunjukkan perbedaannya."
Sherly mendekat ke kamera. "Apa rumah sakit masih menyimpan sampel darah?"
"Tidak dari periode itu. Tapi ada data golongan darah."
Vanessa tercatat bergolongan darah yang masih mungkin berasal dari Winston dan Selina. Data itu tidak bisa membuktikan ia anak kandung, juga tidak bisa menyingkirkannya.
"Tes DNA tetap satu-satunya kepastian," kata Reyner. "Tapi meminta Vanessa sekarang akan membuatnya tahu kita curiga."
Selina menatap foto Kayla lagi. "Bagaimana dengan dokter itu?"
"Aku belum punya alasan untuk meminta sampelnya. Kemiripan wajah bukan bukti."
"Cari tanggal lahirnya," kata Winston. "Lewat jalur yang sah. Jangan menyentuh rekam medis tanpa izin."
"Kalau tanggalnya cocok pun, kita belum boleh mendekatinya dengan tuduhan," kata Reyner. "Aku akan mencari keluarga yang tercatat melahirkan pada hari itu dan memastikan rantai dokumennya dulu."
Selina mengangguk meski matanya basah. "Mama tidak mau mengacaukan hidup Kayla hanya karena Mama terlalu ingin Yaya pulang."
"Karena itu kita bergerak pelan," jawab Winston.
Reyner mengangguk. Ia telah meminta tim hukumnya mencari catatan sipil dan arsip pengadilan yang terbuka, bukan membobol data pasien.
Di balik pintu klinik, suara benda jatuh terdengar.
Selina membukanya. Seorang pegawai berdiri dengan tumpukan handuk di lantai, tampak terkejut. Tidak ada orang lain di koridor.
Namun beberapa meter dari sana, lift baru saja tertutup.
Vanessa berada di dalamnya.
Ia telah mendengar cukup banyak.
Malam itu Reyner menerima hasil pindai kedua dari arsip lama. Ia memperbesar daftar persalinan pada tanggal kelahiran Vanessa.
Jarinya berhenti pada satu baris di bawah nama Selina.
Pada hari dan rumah sakit yang sama, tercatat seorang perempuan lain melahirkan bayi perempuan.
Nama keluarganya: Halim.