NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Makan Malam 180 Juta

Sore itu, hujan baru saja berhenti. Jalanan Kota Biru masih basah.

Hendry berdiri di depan rumah Taman Indah Residence sambil mengikat tali sepatu Daun.

"Papa, hari ini kita makan di luar?" tanya Daun.

"Iya."

"Ada udang besar?"

Hendry tersenyum tipis. "Kalau kamu mau, Papa pesan."

Daun langsung menoleh ke Jessica. "Mama dengar? Ada udang besar."

Jessica baru pulih beberapa hari. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi matanya lebih hidup. Ia memakai gaun sederhana berwarna putih gading.

Mama Ayu keluar dari rumah sambil membawa tas kecil. Begitu melihat Hendry, alisnya langsung naik.

"Kamu pakai baju itu?"

Hendry menunduk melihat kemeja biru tua yang ia pakai.

Bersih. Rapi. Tidak bermerek besar.

"Kenapa, Ma?" Jessica bertanya.

"Malam ini Tante Juanita yang mengundang. Nenek Ratna juga datang. Tempatnya Restoran Tamu Agung. Itu bukan warung pinggir jalan." Mama Ayu mendengus. "Kalau kamu tidak punya jas bagus, minimal jangan berdiri terlalu dekat dengan kami."

Gunawan yang berada di belakangnya batuk kecil. "Ayu, sudah, jangan mulai."

"Aku cuma menjaga muka keluarga."

Daun memeluk paha Hendry. "Papa ganteng."

Hendry mengusap rambutnya. "Cukup kalau Daun bilang begitu."

Jessica menatapnya sekilas. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi akhirnya ia hanya membuka pintu mobil.

Di dalam saku Hendry, ponselnya bergetar.

Pesan dari Bayu Wibowo.

Pak Hendry, Yanto Mulyadi menghubungi saya. Dia ingin saya mengirim orang untuk membuat masalah. Targetnya Anda. Saya menunggu perintah.

Mata Hendry menjadi dingin.

Ia mengetik satu kalimat.

Datang ke Restoran Tamu Agung malam ini. Jangan bergerak sebelum aku bicara.

Balasan masuk hampir seketika.

Siap, Pak Hendry.

Hendry memasukkan ponsel kembali.

Mobil mereka berhenti di depan Restoran Tamu Agung pukul tujuh malam.

Bangunan delapan lantai itu berdiri di pusat kota. Dua petugas berseragam hitam menyambut tamu di pintu masuk.

Restoran Tamu Agung, tempat pernikahan orang kaya, pertemuan pejabat, dan acara ulang tahun pengusaha besar.

Mama Ayu turun lebih dulu. Wajahnya berubah sedikit bangga ketika melihat beberapa tamu menoleh ke arah mereka.

Tante Juanita sudah menunggu di lobi.

"Ayu!" Ia melambaikan tangan. "Akhirnya datang juga."

Tante Juanita berusia sekitar lima puluhan, rambutnya disanggul rapi. Di sampingnya, Nenek Ratna duduk di sofa lobi dengan tongkat kayu hitam.

Nenek Ratna tidak banyak bicara.

Namun matanya tajam.

Seperti orang yang biasa menilai harga manusia hanya dari cara seseorang berdiri.

"Nenek," Jessica menyapa dengan sopan.

Nenek Ratna mengangguk.

Pandangan wanita tua itu melewati Jessica, lalu berhenti pada Hendry.

"Kamu ikut juga?"

Nada itu tidak keras.

Tapi cukup untuk membuat udara turun beberapa derajat.

Mama Ayu buru-buru berkata, "Dia cuma mengantar Jessica dan Daun. Nanti duduk di pinggir saja. Tidak perlu banyak bicara."

Tante Juanita tersenyum canggung. "Sudah, sudah. Hari ini makan keluarga. Jangan bikin suasana tidak enak."

Hendry tidak menjawab. Ia hanya menggandeng Daun dan berdiri di belakang Jessica.

Seorang resepsionis mendekat.

"Selamat malam. Atas nama siapa reservasinya?"

Tante Juanita mengangkat dagu. "Juanita Wirawan. Saya sudah pesan ruang Melati untuk delapan orang."

Resepsionis memeriksa layar. Senyumnya tetap sopan, tetapi agak kaku.

"Maaf, Bu. Ruang Melati tersedia, namun paket yang dipesan hanya paket keluarga standar. Kapasitasnya cukup, tapi karena malam ini penuh, tambahan menu premium harus menunggu sekitar satu jam."

Mama Ayu langsung mengerutkan dahi. "Satu jam? Tante Juanita, kamu bilang sudah beres."

Tante Juanita wajahnya memerah. "Saya pesan sejak kemarin. Mereka bilang cukup."

Di belakang mereka, seorang tamu muda tertawa pelan.

"Kalau mau layanan cepat di sini, minimal harus punya kartu VIP. Kalau cuma pesan ruang biasa, ya antre."

Mama Ayu mendengar itu. Telinganya panas, tapi ia tidak berani membalas. Orang yang bicara memakai jam tangan yang nilainya mungkin lebih mahal daripada mobil keluarga Mahendra.

Ia hanya melirik Hendry dengan kesal, seakan rasa malu itu semua salahnya.

"Kamu lihat?" bisiknya tajam. "Karena ada orang yang tidak pantas ikut, nasib kita jadi ikut rendah."

Jessica menggigit bibir. "Ma, jangan begitu."

Daun menatap wajah Hendry. "Papa, Daun lapar."

Hendry menepuk pelan punggung tangan kecil itu.

"Sebentar."

Ia berjalan ke meja resepsionis.

Mama Ayu langsung menarik napas.

"Hendry, kamu mau apa? Jangan bikin malu!"

Hendry tidak berhenti.

Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompetnya.

Kartu itu polos. Tidak ada gambar berlebihan. Hanya lambang kecil Restoran Tamu Agung di sudut bawah, dicetak dengan garis emas tipis.

Ketika resepsionis melihatnya, senyum di wajahnya membeku.

Ia menunduk untuk memastikan.

Satu detik.

Dua detik.

Wajahnya berubah pucat.

"Pak... mohon tunggu sebentar."

Ia menekan tombol panggilan internal dengan tangan gemetar.

Kurang dari satu menit, seorang pria berjas hitam turun dari lift khusus. Langkahnya cepat. Dasi di dadanya sedikit miring, seperti ia memakainya sambil berlari.

"Pak Hendry?"

Hendry mengangguk.

Pria itu langsung membungkuk.

"Selamat malam, Pak. Saya Hendra, manajer operasional Restoran Tamu Agung. Maaf kami tidak tahu Pak Hendry datang malam ini."

Lobi mendadak sunyi.

Tamu muda yang tadi tertawa menutup mulutnya.

Tante Juanita menatap kartu hitam itu seperti melihat benda pusaka.

Mama Ayu melangkah setengah maju. "Manajer? Kamu kenal dia?"

Hendra tidak berani menjawab sembarangan. Ia hanya tersenyum profesional.

"Pak Hendry adalah tamu kehormatan restoran kami."

Tamu kehormatan.

Empat kata itu jatuh seperti palu.

Mama Ayu menatap Hendry dari kepala sampai kaki. Kemeja biasa. Sepatu biasa. Tidak ada jam mewah.

Tapi manajer operasional restoran paling mahal di Kota Biru membungkuk kepadanya.

Hendry berkata ringan, "Keluarga kami ingin makan malam. Ada ruang yang lebih tenang?"

"Ada, Pak. Lantai delapan. Ruang Garuda Agung."

Resepsionis di sampingnya menarik napas kecil.

Ruang Garuda Agung.

Ruang paling mewah di Restoran Tamu Agung.

Biasanya hanya dibuka untuk pejabat provinsi, pemilik grup besar, atau tamu pribadi pemilik restoran.

Hendra melanjutkan, "Kami akan siapkan Paket Agung Malam Ini. Nilai paket Rp 180 Juta. Semua hidangan terbaik malam ini akan masuk."

"Seratus delapan puluh juta?" Tante Juanita hampir menjatuhkan tasnya.

Gunawan menelan ludah.

Mama Ayu langsung panik. "Tunggu. Siapa yang bayar?"

Hendry memasukkan kembali kartu hitamnya.

"Teman yang mengatur."

"Teman?" Mama Ayu menatapnya curiga. "Teman macam apa yang bisa mengatur makan malam seratus delapan puluh juta?"

Hendry tidak menjelaskan.

Ia hanya menunduk kepada Nenek Ratna. "Nenek, silakan."

Nenek Ratna memandangnya lebih lama dari sebelumnya.

Lalu ia berdiri.

"Menarik."

Mereka naik lift khusus ke lantai delapan.

Pintu lift terbuka ke koridor pribadi. Aroma gaharu tipis mengambang. Di ujung koridor, ruang Garuda Agung menghadap seluruh Kota Biru.

Daun menempel di kaca.

"Papa! Mobilnya kecil-kecil!"

Jessica tersenyum tanpa sadar.

Pelayan masuk satu per satu membawa lobster, kepiting lada hitam, wagyu panggang, abalone, dimsum khusus, buah impor, dan teh tua dari teko perak.

Tante Juanita yang biasanya banyak bicara mendadak hanya bisa menggerakkan sumpit perlahan.

Mama Ayu beberapa kali hendak bertanya, namun setiap kali melihat pelayan membungkuk kepada Hendry, mulutnya tertutup lagi.

Hendry mengambilkan udang besar untuk Daun.

"Hati-hati panas."

Daun meniupnya serius. "Daun kaya sekarang?"

Hendry tertawa pendek. "Daun cukup makan sampai kenyang."

Jessica menatap ayah dan anak itu. Tatapannya melunak.

Di tengah makan, pintu ruang diketuk.

Hendra masuk dengan tubuh sedikit menunduk.

"Pak Hendry, Pak Budiman Suryadi kebetulan berada di restoran. Beliau ingin menyapa jika tidak mengganggu."

Sumpit Mama Ayu berhenti di udara.

"Budiman Suryadi?"

Tante Juanita langsung berbisik, "Orang terkaya di Kota Biru itu?"

Pintu terbuka.

Budiman Suryadi masuk dengan jas abu-abu gelap. Di belakangnya ada Bayu Wibowo, wajahnya lebih tegang daripada biasa.

Begitu melihat Hendry, Budiman tersenyum lebar.

"Hendry!"

Ia berjalan mendekat dan menepuk bahu Hendry dengan akrab.

"Saudaraku, kenapa datang tidak memberi tahu? Kalau manajer tidak laporan, saya bisa kelihatan tidak sopan."

Saudaraku.

Mama Ayu hampir tersedak teh.

Bayu berdiri sedikit di belakang Budiman. Matanya hanya sempat bertemu dengan mata Hendry selama setengah detik, lalu langsung menunduk.

Hendry menangkap isyarat itu.

Yanto benar-benar sudah mencari Bayu.

"Pak Budiman," Jessica berdiri dengan sopan.

Budiman menoleh, senyumnya ramah dan terukur. "Bu Jessica, kesehatan sudah membaik?"

"Sudah. Terima kasih atas bantuan waktu itu."

"Itu sudah seharusnya."

Mama Ayu berdiri tergesa. Sikapnya berubah secepat lampu dinyalakan.

"Pak Budiman, silakan duduk. Kami tidak menyangka Hendry punya hubungan sedekat ini dengan Anda."

Budiman tertawa. "Hendry orang yang saya hormati. Kalau ada yang meremehkan dia, biasanya orang itu belum tahu apa-apa."

Wajah Mama Ayu kaku.

Kalimat itu seperti ditujukan kepadanya.

Nenek Ratna tidak bicara. Ia hanya mengusap kepala tongkatnya dengan ibu jari.

Budiman melirik meja. "Paket ini terlalu sederhana untuk saudaraku."

Hendra cepat berkata, "Kami bisa tambah menu khusus, Pak."

"Tambahkan. Dan semua tagihan malam ini atas nama saya."

Mama Ayu langsung berkata, "Tidak perlu, Pak Budiman. Kami..."

Budiman mengangkat tangan.

"Bu Ayu, jangan sungkan. Hendry sudah banyak membantu saya. Makan malam kecil begini tidak seberapa."

Makan malam kecil.

Rp 180 Juta disebut kecil.

Tante Juanita menunduk melihat piringnya. Ia baru sadar bahwa undangannya yang ingin terlihat bergengsi sudah berubah menjadi panggung Hendry.

Bayu maju setengah langkah, lalu menyerahkan sebuah amplop tipis kepada Hendry dengan kedua tangan.

"Pak Hendry, ini data yang Anda minta."

Suara Bayu rendah.

Hendry menerima amplop itu tanpa membukanya.

"Nanti."

"Baik."

Yanto ingin memakai jalanan untuk memukulnya.

Sekarang orang jalanan itu berdiri di depan Hendry seperti bawahan.

Jessica melihat adegan itu. Keningnya sedikit berkerut.

Ia mengenali Bayu, pria HAZE Club yang pernah membuat Michelle hampir menangis. Sekarang pria itu begitu hormat kepada Hendry.

Rasa ingin tahunya semakin dalam.

Setelah Budiman dan Bayu pamit, suasana makan malam tidak pernah kembali seperti semula.

Mama Ayu tidak lagi memerintah Hendry duduk di pojok.

Ia bahkan beberapa kali menuangkan teh untuk Hendry.

"Hendry, kamu dan Pak Budiman... sudah lama kenal?"

"Tidak terlalu lama."

"Tapi beliau memanggil kamu saudara."

"Pak Budiman orang yang ramah."

Jawaban itu membuat Mama Ayu hampir muntah darah.

Ramah?

Orang terkaya di Kota Biru memanggil sembarang orang saudara?

Tante Juanita ikut tersenyum. "Hendry, nanti kalau ada waktu, mainlah ke rumah Tante. Banyak hal yang mungkin bisa kita bicarakan."

Hendry mengangguk ringan.

Nenek Ratna tetap diam.

Sampai makanan penutup diangkat.

Sampai Hendra datang membawa map tagihan dan menunduk kepada Hendry.

"Pak, tagihan sudah ditandatangani Pak Budiman. Tidak ada pembayaran yang perlu dilakukan."

Mama Ayu melihat angka di sudut map.

Rp 180.000.000.

Tangannya bergetar.

Angka itu cukup untuk membeli mobil baru bagi banyak keluarga. Malam ini lenyap begitu saja karena satu tanda tangan.

Ketika mereka hendak keluar, Nenek Ratna tiba-tiba mengangkat tongkatnya dan menyentuh lengan Hendry.

Langkah semua orang berhenti.

Wanita tua itu mendongak.

Matanya tidak lagi sekadar tajam.

Ia seperti sedang mencoba menembus kulit Hendry, melihat tulang dan rahasia di baliknya.

"Hendry."

Suara Nenek Ratna pelan.

Namun seluruh ruang menjadi sunyi.

"Kamu sebenarnya siapa?"

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!