Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Pulang ke Rumah Wijaya
Dua hari sebelum meninggalkan Jakarta, Laras berdiri di depan rumah yang selama bertahun-tahun tercatat sebagai rumah keluarganya.
Dokter sudah mengizinkannya melakukan perjalanan dengan syarat sering beristirahat, cukup minum, dan segera mencari pertolongan jika muncul kram atau perdarahan. Surat pemeriksaan itu tersimpan di tasnya. Di sampingnya, Arya memegang payung untuk menahan matahari pagi.
“Aku bisa menunggu di mobil,” katanya.
Laras menatap pintu rumah Wijaya. “Masuklah. Mereka lebih jujur kalau tahu ada saksi.”
Arya tidak bertanya lagi.
Yuli membuka pintu dengan senyum yang terlalu lebar. “Laras? Kenapa tidak memberi kabar? Tante bisa menyiapkan makanan.”
Pandangan perempuan itu segera berpindah kepada Arya, lalu ke perut Laras. Kabar keluarga Reksonegoro sedang jatuh pasti sudah sampai lebih dulu.
“Kami tidak lama,” jawab Laras.
Di ruang tamu, Hendra sedang membaca berita dari tablet. Vania duduk di sofa sambil menggulir ponsel. Begitu melihat Arya, ia buru-buru merapikan rambut, lalu memandang Laras dari kepala sampai kaki.
“Kakak pulang juga akhirnya.” Senyumnya tipis. “Kukira setelah minta cerai, Kakak akan langsung tinggal di sini.”
Laras duduk perlahan. Arya memilih kursi di sebelahnya, tidak terlalu dekat tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan mengerti bahwa mereka datang bersama.
“Siapa bilang aku minta tinggal?”
Vania mengangkat bahu. “Bukankah keluarga suamimu harus keluar dari rumah? Orang yang sudah tidak punya tempat biasanya pulang ke orang tua.”
“Kalau begitu, kenapa kamu masih tinggal di sini? Bukankah kamu sudah dewasa?”
Wajah Vania langsung mengeras.
Hendra meletakkan tabletnya. “Jangan datang hanya untuk bertengkar dengan adikmu.”
“Saya datang untuk mengambil barang milik saya.”
Yuli segera duduk di samping suaminya. “Barang apa? Semua pakaianmu sudah dibawa saat menikah.”
“Bukan pakaian.” Laras membuka tas dan mengeluarkan buku catatan kecil berisi daftar yang ia susun dari ingatan tubuh ini. “Uang santunan setelah Maharani meninggal. Tabungan atas namanya. Piagam penghargaan dari pemerintah kota. Buku catatan kulit yang selalu beliau simpan. Juga dokumen ahli waris yang seharusnya diberikan kepada saya setelah dewasa.”
Keheningan jatuh terlalu cepat.
Arya tidak bergerak. Namun Laras tahu ia sedang mengamati setiap wajah.
Hendra menyandarkan tubuh, berusaha tampak santai. “Maharani adalah istri Papa. Saat dia meninggal, Papa yang mengurus pemakaman, utang, dan semua administrasi. Kamu masih kecil. Wajar kalau uangnya dikelola orang tua.”
“Dikelola bukan berarti dimiliki.”
“Kamu tidak mengerti keadaan saat itu.”
“Saya mengerti bahwa formulir santunan mencantumkan saya sebagai anak yang ditinggalkan. Saya juga ingat Tante Ratna dari pihak pabrik datang dua kali meminta tanda tangan penerimaan. Setelah kunjungan kedua, kamar saya direnovasi, tetapi bukan untuk saya. Kamar itu diberikan kepada Vania.”
Vania tersentak. “Kenapa membawa-bawa aku?”
“Karena sejak kecil semua yang atas nama saya selalu berakhir menjadi milikmu.”
“Papa dan Mama membesarkan kita sama rata.”
Laras menatap sofa kulit, lemari pajangan, lalu bingkai kelulusan Vania yang tersusun lengkap di dinding. Tidak ada satu foto sekolah Laras di sana.
“Kalau menurutmu ini sama rata, seharusnya kamu tidak keberatan kita membuka catatan lama.”
Vania membuang muka.
Arya menggeser segelas air ke dekat Laras. Ia tetap diam, tetapi gerakannya memberi waktu bagi Laras untuk menarik napas tanpa kehilangan kendali.
Hendra melihat itu. “Arya, urusan ini terjadi sebelum kalian menikah. Tidak perlu memperkeruh hubungan keluarga hanya karena Laras sedang panik.”
“Dia tidak terlihat panik,” jawab Arya.
Tatapan Hendra meredup.
Hendra berdeham. “Dari mana kamu mendapatkan cerita seperti itu?”
“Dari ingatan yang selama ini saya abaikan.”
“Ibumu tidak meninggalkan banyak hal.”
“Kalau tidak banyak, seharusnya mudah dikembalikan.”
Yuli tersenyum tipis. “Laras, kamu sedang hamil. Jangan membebani pikiran dengan urusan lama. Dulu Papa menggunakan uang itu untuk membesarkanmu.”
“Berapa jumlahnya?”
Senyum Yuli menegang.
“Mana laporan penggunaannya?” lanjut Laras. “Santunan dari kebakaran pabrik Sandang Jaya dibayarkan melalui dua jalur. Satu dari perusahaan, satu dari pemerintah kota karena Ibu meninggal saat menyelamatkan pekerja lain. Kalau semuanya dipakai untuk saya, pasti ada catatan.”
Hendra menatapnya tajam. “Kamu menuduh Papa mencuri uangmu?”
“Saya sedang meminta pertanggungjawaban.”
“Setelah semua yang Papa berikan?”
Laras menahan tawa pahit. Rumah ini selalu memakai kata keluarga ketika mereka ingin Laras diam. Namun saat ada sesuatu yang harus dibagi, ia mendadak menjadi anak bawaan Maharani.
“Kalau Bapak merasa sudah memberikan semuanya, tunjukkan dokumennya. Kita hitung dengan tenang.”
Perubahan panggilan dari Papa menjadi Bapak membuat Hendra menegang.
Vania meletakkan ponselnya. “Kakak datang minta uang justru ketika keluarga suami bangkrut. Kebetulan sekali.”
“Lebih kebetulan lagi kamu memakai jam tangan yang dibeli seminggu setelah santunan terakhir Ibu cair.”
Tangan Vania spontan menutupi pergelangan.
Laras melihat gerakan itu dan tersenyum tipis. “Tenang. Jam yang kamu pakai sekarang bukan jam yang sama. Tapi reaksimu menarik.”
Wajah Vania memerah. Arya menunduk sedikit, menyembunyikan sesuatu yang nyaris seperti senyum.
Yuli menyentuh lengan Laras. “Tante mengerti kamu sedang tertekan. Keluarga Reksonegoro terkena masalah, suamimu mungkin tidak bisa menjamin hidupmu lagi. Tapi jangan melampiaskan ketakutan kepada kami.”
Laras menarik lengannya tanpa kasar. “Saya justru sedang memastikan hidup saya tidak lagi dibangun di atas kebohongan kalian.”
“Jaga ucapanmu!” bentak Hendra.
Arya akhirnya bergerak. Ia tidak meninggikan suara, hanya meletakkan telapak tangannya pada sandaran kursi Laras.
“Biarkan dia selesai.”
Empat kata itu membuat Hendra menelan bentakan berikutnya.
Laras melanjutkan, “Piagam dan buku catatan Ibu tidak mungkin dipakai untuk biaya hidup. Keduanya milik saya. Serahkan hari ini.”
Yuli bertukar pandang dengan Hendra.
“Sudah hilang saat kami pindah rumah,” kata Hendra.
“Rumah ini tidak pernah pindah sejak Ibu meninggal.”
“Mungkin rusak karena lembap,” sahut Yuli cepat.
“Piagamnya dilaminasi. Buku itu disimpan dalam kotak besi kecil.”
Wajah Yuli berubah.
Laras mencondongkan badan sedikit. “Kotak itu dulu berada di lemari kamar belakang. Tiga tahun lalu, Tante memindahkannya ke gudang loteng setelah Vania hampir menemukannya.”
Vania menoleh tajam kepada ibunya. “Barang apa?”
“Tidak ada,” jawab Yuli terlalu cepat.
“Kalau tidak ada, mari kita periksa loteng.” Laras bangkit, satu tangan menopang pinggang. “Mas Arya, bantu aku.”
Arya ikut berdiri.
Yuli mendadak menghalangi jalan. “Kamu tidak boleh naik tangga dalam keadaan hamil.”
“Kalau begitu, Tante yang ambil.”
“Sudah Tante bilang, barangnya tidak ada.”
“Aneh. Saya belum menyebut buku mana yang saya cari di dalam kotak itu.” Laras menatap lurus ke matanya. “Tapi Tante tadi hampir mengatakan buku itu sudah dipindahkan, bukan?”
Bibir Yuli terbuka.
Warna di wajahnya lenyap.
Dari sofa, Hendra bangkit mendadak, tetapi tatapannya kepada Yuli justru membenarkan bahwa Laras telah menemukan pintu yang tepat.