NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sementara itu, di luar negeri. Seorang pria berdiri di depan jendela kaca apartemen mewah dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya. Tatapannya lurus menembus gemerlap kota malam di bawah sana. Aura dingin dan elegan begitu kuat terpancar dari dirinya, Emran Richard Pria yang dulu dijodohkan dengan Annisa. Dan pria yang diam-diam masih menyimpan perasaan untuk wanita itu hingga sekarang.

Di belakangnya, seorang pria muda berdiri hormat sambil membawa tablet, Han.

“Ada kabar dari Tuan Darto?” tanya Emran tanpa berbalik.

Han langsung mengangguk. “Ulang tahun Tuan Darto tinggal satu minggu lagi, Tuan.”

Emran terdiam sejenak. Lalu Han kembali melanjutkan,

“Beliau juga mengirim undangan khusus agar Tuan hadir.”

Baru kali ini Emran sedikit menoleh. Sorot matanya berubah lebih dalam saat mendengar itu.

“Sudah lama saya tidak bertemu beliau,” gumamnya pelan.

Dan lebih dari itu, sudah sangat lama dirinya tidak mendengar kabar Annisa. Wanita yang dulu memilih pria lain dibanding dirinya. Namun, anehnya, Emran tidak pernah benar-benar membenci keputusan itu. Karena selama Annisa bahagia, dirinya rela mundur.

“Tuan akan datang?” tanya Han hati-hati.

Emran tersenyum tipis. “Tentu.”

Tatapannya kembali mengarah pada pemandangan kota di depan sana.

“Mungkin … sudah waktunya saya pulang.”

Emran tetap berdiri tenang di depan jendela besar itu.

Sorot lampu kota memantul di wajah tampannya yang terlihat dingin, namun menyimpan banyak pikiran.

“Siapkan semuanya,” ucapnya pelan. “Kita pulang minggu ini.”

Han langsung mengangguk hormat.

“Baik, Tuan.”

Pria itu lalu membuka tablet di tangannya, memastikan jadwal penerbangan dan agenda bisnis Emran selama di Indonesia nanti.

Namun, sebelum pergi, Han kembali bertanya hati-hati, “Lalu … bagaimana dengan Nona Annisa?” Pertanyaan itu membuat Emran terdiam cukup lama.

Rahangnya sedikit mengeras. Nama itu masih memiliki tempat khusus di hatinya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

“Apa dia masih bersama suaminya?” tanya Emran balik dengan suara rendah.

“Masih, Tuan.”

Hening sesaat memenuhi ruangan. Emran perlahan menurunkan pandangannya. Dulu dirinya mundur karena percaya Annisa akan hidup bahagia bersama pria pilihannya. Namun jika kenyataannya berbeda, maka kali ini dirinya tidak akan tinggal diam lagi.

“Pantau terus hubungan mereka,” ucap Emran akhirnya.

Han langsung mengangkat kepala.

“Kalau ada yang salah…” Sorot mata Emran berubah tajam. “Aku siap merebutnya.”

Emran Richard bukan lagi pria biasa dari panti asuhan. Dirinya sudah memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kemampuan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan satu-satunya wanita yang masih sulit dia lupakan, adalah Annisa.

Malam mulai turun saat aroma semur ayam memenuhi dapur rumah itu.

Annisa baru saja selesai menyiapkan makan malam. Tubuhnya terasa pegal karena sejak pagi dirinya terus bekerja tanpa istirahat. Baru saja ia hendak meletakkan piring terakhir di meja makan, bel rumah berbunyi.

Annisa segera berjalan menuju pintu depan sambil mengusap tangannya dengan celemek. Namun, saat pintu terbuka tubuhnya langsung membeku.

Haikal berdiri di depan rumah bersama seorang wanita, Dokter Emeli. Wanita itu tersenyum lembut sambil berdiri sangat dekat dengan Haikal. Bahkan, keduanya terlihat begitu nyaman satu sama lain.

Entah kenapa dada Annisa langsung terasa sesak.

“Mas?” lirihnya pelan.

Haikal justru terlihat biasa saja.

“Emeli mampir sebentar,” katanya santai sambil masuk ke dalam rumah tanpa meminta izin lebih dulu. Emeli ikut melangkah masuk dengan senyum ramah yang terasa aneh di mata Annisa.

“Maaf ganggu malam-malam,” ucap wanita itu lembut.

Annisa memaksakan senyum tipis. “Nggak apa-apa, Dok" Jawab Annisa yang memang tahu kalau Emeli teman Haikal sejak SMA. Annisa memeriksa diri di tempat Emeli juga ibu mertuanya yang sarankan.

Namun, matanya tak bisa berhenti memperhatikan mereka. Cara Haikal membuka pintu mobil untuk Emeli tadi. Cara pria itu tersenyum pada wanita tersebut. Dan bagaimana keduanya terlihat terlalu dekat. Perasaan Annisa mulai tidak nyaman.

Apalagi pagi tadi dirinya juga mendengar sendiri bagaimana suara Haikal berubah begitu lembut saat berbicara dengan Emeli di telepon.

“Wah, harum banget,” puji Emeli sambil melihat meja makan. “Annisa rajin sekali ya.”

Sebelum Annisa sempat menjawab, Lasmi tiba-tiba keluar dari ruang tengah dengan wajah cerah.

“Dokter Emeli!” serunya antusias. “Ayo masuk, masuk!” Sikap wanita tua itu berubah jauh lebih hangat dibanding saat bersama Annisa.

Bahkan, Lasmi langsung menarik Emeli duduk di dekatnya sambil tersenyum ramah.

“Haikal dari tadi cerita tentang Dokter terus.”

Annisa berdiri diam di dekat pintu. Perasaannya semakin aneh. Ada sesuatu dalam kedekatan mereka yang membuat hatinya mulai dipenuhi rasa takut. Namun, dirinya terus mencoba berpikir positif. Mungkin mereka hanya dekat sebagai teman. Mungkin dirinya terlalu sensitif karena lelah dan terluka. Tetapi malam itu Annisa mulai merasa ada seseorang yang perlahan mengambil tempatnya di sisi Haikal.

Annisa berdiri cukup lama memandangi meja makan. Semur ayam yang sejak sore dia masak kini tersaji rapi bersama buah-buahan dan makanan mahal dari bingkisan tadi siang.

Sementara di meja itu, Haikal, Lasmi, dan Emeli terlihat mengobrol begitu akrab. Sesekali Haikal bahkan tersenyum kecil pada Emeli, sesuatu yang sudah sangat jarang dia lakukan pada Annisa. Menahan rasa sesak di dadanya, Annisa akhirnya mencoba duduk di kursi paling ujung.

Namun, baru saja tangannya hendak mengambil piring,

“Eh!” Suara Lasmi langsung terdengar tajam.

Annisa menoleh pelan.

Wanita tua itu memandangnya sinis. “Siapa suruh kamu duduk?”

Annisa langsung terdiam.

“Sana makan di dapur saja,” lanjut Lasmi tanpa rasa kasihan. “Malam ini meja makan khusus buat kami.”

Annisa menggenggam ujung bajunya pelan.

“Tapi, Bu…”

Lasmi malah mendecak.

“Kamu nggak lihat ada tamu penting?” Suasana langsung terasa canggung.

Emeli pura-pura menunduk tidak enak, namun tidak benar-benar menghentikan ucapan Lasmi.

Sementara Haikal hanya diam. Tidak membela istrinya sedikit pun. Dan itu lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun. Annisa perlahan berdiri lagi.

Namun, langkahnya terhenti saat Lasmi kembali berkata dengan nada mengejek, “Lagipula makan malam ini memang sengaja disiapkan buat Dokter Emeli.”

Wanita tua itu lalu tersenyum puas sambil melirik Annisa tajam.

“Calon istri baru Haikal.”

Deg!

1
Maminya Thania
inilah sosok istri yg mempermalukan harga diri suami..
Wardah Hasibuan
bagus
anisa
sadar👍
Dwi Indirawati
alhamdulillah akhirnya Annisa keluar dri keluarga itu🥲☺️
Dwi Indirawati
nah ini namanya Annisa pemberani😄akhirnya haikal cerai juga sma Annisa.. karma menanti mu Haikal🤣
Dwi Indirawati
Haikal enak, bangt, makan buah impor dri pak Darto ayah annisa🤣 nah gitu dong Annisa tampar emely yg nyembelin🤭🥲
Dwi Indirawati
pak Darto kurang pengawasan nih, sehingga Annisa mender🥲🤭oh yampun klo ada undangan pasti haikal ajak di emely bukan Annisa dan pak Darto pasti akan sangat marah🤣
Dwi Indirawati
pak Darto emng kurang ni🤭seharusnya suruh orng untuk mata mata in Annisa dan Haikal 🤨😁
Dwi Indirawati
nah bagus ni Annisa klo di cerai'in sm haikal buat apa sama suami yg main tangan ✋🥲
Dwi Indirawati
Emily ini bisa bngt bikin sandiwara🤭agar haikal marah sm Annisa yasudah klo haikal cerai'in Annisa gpp toh Annisa kaya papa Darto gitu loh🤣🤣
Dwi Indirawati
tinggalkan haikal nissa kembali lah dngn papah Darto hidup mu kembali berjaya jika kembali ke papa Darto, 😁
Dwi Indirawati
kasian banget Anisa🥲 blm mkan tapi masih disuruh mmh mertuanya🥲.. mending ke papa Darto nis minta maaf kesalahan yg meninggalkan orng tua nya lebih pilih haikal 🤨🤭
Dwi Indirawati
bagus cerita nya aku suka☺️walaupun anisa tidak melawan akan tetapi, ada ayah nya dibalik anisa diam pak Darto akan sangat, kecewa dngn menantu nya krna annisa lebih pilih haikal dri pada keluarga nya☺️😍😇
Dwi Indirawati
wah hidup haikal bakal hancur ni oleh pak Darto😁
Dwi Indirawati
yaallah anisa terlalu lemah dan baik 😁orng mah mertua , atau suami kaya gitu lawan aja,🤣😁
Dwi Indirawati
haikal emng ga pantas sma annisa.. semoga stlh ini Annisa bisa bahagia bersama yg lain🤭☺️
Dwi Indirawati
pasti dokter itu suruhan suaminya atau mertua anisa ☺️yaampun kasian bngtt jadi Anisa 🥲🥲
Salfa Putri Aji
geram betul bacanya saking geramnya bacanya aku skip2 biar ndak emosi
Rohandi sinaga
rumit
Munas Tuti
paraaah Emran...ngasi kejutan tp kebablasan
Munas Tuti
waaah siapa ya yg nyulik Annisa ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!