Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Setelah perdebatannya dengan Kenanga semalam, Bima tidak tidur di kamarnya. Pria itu lebih memilih menenangkan diri di ruang kerjanya. Dia juga tidak ingin kembali berdebat dengan sang istri dan memicu pertengkaran yang lebih hebat lagi.
Kenanga sendiri tidak mau ambil pusing tingkah sang suami. Yang pasti dia sudah membicarakan apa yang menjadi keinginannya pada Bima. Jika memang pria itu menolak untuk berpisah baik-baik, maka apa pun akan dirinya lakukan agar bisa berpisah dengan Bima.
Usianya sudah tidak mudah lagi, Kenanga ingin hidup dalam kedamaian meskipun tanpa suami dan anak. Dia yakin bisa hidup bahagia meski hanya sendiri. Dirinya sudah ikhlas untuk melepas semuanya dan mau membangun kehidupan yang baru. Kenanga juga akan mencari lingkungan tempat tinggal yang baik agar nantinya bisa hidup dengan tenang, tanpa harus mendengar cibiran sana-sini.
Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Biasanya Kenanga sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, tapi dirinya kali ini merasa malas. Biarlah pembantu saja yang menyiapkan makanannya.Namun, Kenanga tetap keluar dari kamar.
Dia ingin mengambil air minum karena tenggorokannya sudah kering. Air di kamar juga sudah habis. Saat mendekati ruang kerja sang suami, terlihat pintunya tidak tertutup dengan sempurna. Terdengar suara orang sedang berbincang di sana. Sepertinya perbincangan mereka sangat serius, sampai-sampai lupa tidak menutup pintu.
Kenanga yang penasaran pun segera mendekat dan mencoba mendengar pembicaraan orang di dalam. Ternyata orang yang ada di dalam adalah Davina dan Bima. Keduanya terlihat duduk di sofa panjang. Penampilan Bima juga masih berantakan, terlihat seperti orang yang baru bangun dari tidurnya.
Davina terlihat begitu syok mendengar penjelasan dari Bima. "Jadi Mama Kenanga mau bercerai dengan Papa? Tapi kenapa Papa menolak? Bukankah Papa juga menginginkan berpisah dengan Mama Kenanga dan bersatu dengan Mama Alicia?"
"Iya, Sayang, tapi sekarang ini bukan waktu yang tepat. Papa sedang mengerjakan proyek baru dan butuh dana yang besar. Kalau Papa dan Mama Kenanga bercerai sekarang, keluarga Mama Kenanga pasti menolak untuk memberikan dana."
"Jadi Papa sengaja menolak bercerai karena membutuhkan suntikan dana dari Opa Halim dan Oma Salma?"
Bima ragu untuk menjawabnya, hingga akhirnya dia pun menjawab sambil tersenyum. "Iya, karena itu."
"Nanti kalau proyek Papa berhasil, Papa akan bercerai dengan Mama Kenanga dan kembali bersama Mama Alicia, kan?"
"Iya."
Jujur dalam hati Bima merasa bersalah. Namun, apa boleh buat. Jika dia mengatakan tidak pasti Davina akan bertanya lebih banyak hal lagi jadi, lebih baik mengiyakan saja apa yang dikatakan Davina. Mengenai hubungannya dengan Kenanga, nanti akan dia pikirkan kembali.
Sementara itu, Kenanga yang mendengar pembicaraan mereka pun semakin sakit hati. Tadinya dia kira Bima masih memiliki sedikit perasaan terhadapnya, tapi ternyata apa yang dirinya pikirkan salah. Semua itu hanya demi uang. Kenanga bisa pastikan jika keluarganya tidak akan mengeluarkan uang satu rupiah pun.
Kenanga segera pergi dari sana sebelum keberadaannya diketahui sang suami dan putrinya. Dia kembali ke kamarnya, mencoba menghubungi orang kepercayaan papanya. Biasanya apa pun yang diperintahkan Halim, orang itulah yang selalu melaksanakannya.
"Halo, Nona Kenanga, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria yang berada di seberang.
"Pak Toni, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah akhir-akhir ini suamiku pernah menghubungi Bapak atau papa untuk meminta bantuan dana?" tanya Kenanga yang tidak ingin berbasa-basi.
"Itu ...."
"Pak Toni jujur saja, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi. Aku juga berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana 'kan?"
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu Pak Bima menghubungi saya, katanya beliau meminta bantuan dana untuk proyek barunya. Itu juga sudah atas persetujuan Nona Kenanga. Hanya saja saya belum menyampaikannya pada Pak Halim."
"Kenapa belum bilang pada papa?"
Toni terdiam, dia bingung apakah harus menjelaskannya secara langsung pada Kenanga atau tidak. Dirinya khawatir jika anak atasannya itu akan marah, mengingat yang sedang dibicarakan adalah suaminya. Seburuk apa pun pria itu pasti sebagai seorang istri selalu ingin melindunginya.
Akan tetapi, jika dirinya terus diam maka Bima akan semakin semena-mena. Uang yang selama ini dikeluarkan oleh Pak Halim juga jumlahnya tidak sedikit. Bahkan mungkin jika dibuat modal untuk memperluas perkebunan itu akan menghasilkan keuntungan yang sangat besar.
"Pak, kenapa diam? Saya tidak akan marah pada Bapak. Saya hanya butuh kejujuran yang saya tidak ketahui, jadi tidak perlu ditutup-tutupi lagi."
"Sebenarnya saya sudah merasa bosan dengan permintaan Pak Bima, yang selalu itu-itu saja. Meminta dana dan meminta dana. Selama menjadi suami Non Kenanga, Pak Bima juga selalu bersikap semena-mena pada saya dan para pekerja yang lain di sini. Dia juga tidak menunjukkan rasa hormatnya pada bapak dan ibu sebagai menantu. Selama ini dia selalu memanfaatkan kebaikan mertuanya tanpa membalasnya sama sekali. Seharusnya dia selalu sering datang berkunjung. Yah ... anggap saja untuk mengambil hatinya setelah diberi uang, tapi ini tidak! Pak Bima hanya menghubungi Pak Halim saat butuh bantuan saja, selebihnya tidak pernah menghubungi apalagi untuk menanyakan kabar."
"Maaf, Pak Toni."
"Kenapa Non Kenanga yang minta maaf? Saya mengerti keadaan Non Kenanga, hanya saja sekarang saya sedang kesal saja dengan Pak Bima," ucap Pak Toni yang merasa tidak enak pada Kenanga.
"Saya mengerti, Pak Toni. Untuk ke depannya jika Mas Bima kembali menghubungi Pak Toni dan meminta bantuan sejumlah uang, tolong abaikan saja."
"Kenapa, Non?"
"Nanti Pak Toni juga akan tahu alasannya."
"Tapi kalau Pak Bima menghubungi Pak Halim dan beliau meminta saya untuk mengirim uang bagaimana?"
"Bilang saja jika saya yang melarang."
"Apa itu tidak apa-apa? Bagaimana kalau bapak marah dan khawatir pada Non Kenanga?"
"Nanti saya yang akan menjelaskannya sendiri pada papa. Yang pasti jangan pernah membiarkan papa atau Mama mengirim pada Mas Bima. Selama ini 'kan yang selalu mengirim uang pada Mas Bima itu Pak Toni."
"Iya, tapi tidak menutup kemungkinan jika Pak Halim sendiri yang akan mengirim sejumlah uang. Bapak 'kan sudah memegang uang."
"Tidak apa-apa, biar nanti saya yang bicara dengan Papa dan Mama."
"Baiklah, Non Kenanga, saya mengerti. Saya akan menjalankan tugas dari Nona."
"Terima kasih, Pak Toni. Pak Toni juga jaga kesehatan."
Kenanga pun memutuskan sambungan telepon. Dia akan mencari seorang pengacara untuk konsultasi mengenai gugatan cerai, nanti apa saja yang dibutuhkan. Dirinya yakin dengan bukti yang dimilikinya, pasti pengadilan tidak akan mempersulit. Kenanga juga tidak tahu bagaimana prosesnya detailnya. Dia pun mencoba untuk bertanya pada beberapa teman mengenai seorang pengacara yang terbaik.
Saat Kenanga sedang sibuk dengan ponselnya, pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar. Dia pun mempersilahkannya masuk, segera orang tersebut masuk, dia tidak lain adalah Bima. Pria itu berjalan memasuki kamar sambil tersenyum dan itu semakin membuat Kenanga merasa muak.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu