Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017: Mematahkan Kesombongan
Gudang 0321B berdiri di ujung dermaga seperti kotak baja yang lupa dicatat negara.
Siang itu, matahari Surabaya menyengat atap seng. Bau solar, garam, karat, dan karet ban bercampur di udara. Truk tangki keluar-masuk lewat gerbang samping. Beberapa pekerja memindahkan drum tanpa banyak bicara. Di ujung dermaga, laut berkilau keras.
Hendra datang sendirian.
Seperti yang diminta.
Bang Hantu menunggunya di depan pintu gudang. Si Codet berdiri di samping, tangan masuk saku, matanya masih membawa sisa penghinaan dari Bar Kayu.
"Kau benar-benar datang," kata Bang Hantu.
"Saya bilang akan datang."
"Banyak orang bilang begitu sebelum tidur, lalu berubah pikiran saat bangun."
"Saya tidur nyenyak."
Si Codet tertawa pendek. "Orang darat sombong."
Hendra menatapnya.
Tidak lama.
Cukup untuk membuat tawa itu mengecil.
Mereka masuk ke gudang.
Di dalam, suara dunia luar turun setengah. Lampu tinggi menggantung. Lantai beton penuh bekas roda. Bau BBM lebih kuat. Di salah satu sisi, peti kayu besar ditutup terpal. Di sisi lain, beberapa pipa besi, rantai, dan alat bongkar muat tersusun rapi.
Di tengah gudang, seorang pria duduk di kursi logam.
Bang Macan.
Usianya sekitar empat puluhan akhir. Tubuhnya tidak sebesar preman, tapi ruangan itu bergerak mengikuti napasnya. Kemejanya sederhana, jari-jarinya tidak penuh cincin, wajahnya tenang seperti orang yang sudah terlalu sering melihat orang takut.
"Hendra Wijaya," katanya.
Jadi mereka sudah mencari tahu.
Bagus.
"Bang Macan."
"Kau membuat banyak suara belakangan ini. Hotel Bandung. Rekaman keluarga. Properti Surabaya. Sekarang datang ke gudang saya."
"Saya juga membayar tepat waktu."
Bang Macan tersenyum sedikit. "Itu bagian yang saya suka."
Ia mengangkat tangan.
Seorang anak buah meletakkan botol air di meja, bukan minuman keras. Orang yang benar-benar berkuasa tidak perlu selalu menunjukkan kebiasaan buruknya.
"Bang Hantu bilang kau ingin solar volume besar."
"Benar."
"Berapa besar?"
"Sebesar yang bisa membuat orang resmi berpura-pura tidak mendengar."
Beberapa anak buah Macan tertawa.
Bang Macan tidak.
"Kau bicara terlalu rapi untuk tempat ini."
"Saya bisa bicara kasar kalau itu diskon."
Kali ini Bang Macan tertawa.
Suasana sedikit longgar.
Lalu seorang pria besar di belakang Hendra melangkah maju. Bahunya lebar, lengan penuh urat, wajahnya memandang Hendra seperti memandang meja yang bisa dipindahkan kapan saja.
"Bos," katanya, "orang begini biasanya cuma kuat di rekening."
Bang Macan tidak menoleh. "Kau mau cek?"
Pria besar itu menyeringai.
Si Codet ikut tersenyum.
Inilah harga masuk lingkaran gelap.
Uang membuka pintu.
Tapi kekuatan menentukan apakah pintu itu menutup di belakangmu sebagai jebakan.
Pria besar itu menaruh batang pipa besi di atas meja.
"Tekuk," katanya. "Kalau tanganmu cuma halus untuk tanda tangan, pulang."
Pipa itu bukan mainan. Tebalnya cukup untuk mematahkan jari orang biasa sebelum berubah bentuk.
Hendra mengambil pipa dengan satu tangan.
Bang Hantu menatap lebih tajam.
Bang Macan akhirnya berhenti tersenyum.
Hendra menahan tubuhnya tetap datar, tanpa mencari sudut.
Ia hanya menggenggam.
Unsur Logam berdenyut di tulang lengannya.
Pipa itu melengkung.
Pelan.
Mengerang.
KREEK.
Suara besi menyerah mengisi gudang.
Tidak ada yang tertawa lagi.
Hendra meletakkan pipa yang sudah bengkok di meja.
"Cukup?"
Pria besar itu menelan ludah. "Itu... pipa sudah tua."
Hendra menoleh padanya.
"Kalau begitu, tanganmu pasti lebih baru."
Pria itu marah karena malu.
Ia mengayun.
Hendra menangkap pergelangan tangannya.
Tidak keras di awal.
Cukup.
Wajah pria itu berubah dari marah menjadi bingung, lalu sakit.
Lututnya turun satu inci.
Dua inci.
Akhirnya ia berlutut di lantai beton, napasnya pecah, tapi tulangnya tidak dipatahkan.
Hendra melepas.
"Saya datang membeli barang. Bukan mengubur orang."
Kalimat itu membuat efek yang lebih besar daripada pipa bengkok.
Orang-orang di gudang tahu perbedaan antara ancaman kosong dan orang yang sudah pernah menutup napas musuh. Hendra tidak menaikkan suara. Ia bahkan tidak tampak puas. Justru itu yang membuat beberapa anak buah Macan mundur setengah langkah tanpa sadar.
Bang Macan melihat semuanya.
Melihat pipa.
Melihat anak buahnya yang berlutut.
Melihat tangan Hendra yang tetap bersih dan tenang.
Di dunia gelap, membunuh kadang mudah. Yang sulit adalah tahu kapan tidak perlu membunuh. Orang yang bisa menahan tenaga biasanya lebih mahal daripada orang yang hanya bisa mengamuk.
Bang Macan menatap pipa bengkok, lalu menatap anak buahnya yang masih memegangi pergelangan.
"Keluar."
Pria besar itu segera mundur.
Si Codet tidak lagi tersenyum.
Bang Macan berdiri.
"Sekarang kita bicara sebagai orang yang sama-sama tidak suka membuang waktu."
"Itu lebih baik."
Di meja belakang, Bang Hantu membuka map plastik. Di dalamnya ada jadwal truk, titik dermaga, dan sketsa rute kapal.
"Tiga malam lagi," kata Bang Macan. "Kapal besar masuk dari jalur selatan, berhenti di titik tunggu, lalu sebagian muatan pindah ke tangki darat. Solar, oli industri, beberapa peti khusus. Tidak semua untuk saya. Ada banyak tangan di atas."
"Saya tidak butuh semua tangan."
"Kau butuh izin agar tidak ditembak."
"Berapa?"
Bang Macan menyebut angka.
Besar.
Untuk orang biasa, itu harga membeli gudang.
Untuk Hendra, itu harga membeli peta.
"Saya bayar uang muka sekarang," kata Hendra. "Sisanya setelah saya melihat barang."
"Kau ingin lihat tanker?"
"Saya ingin tahu jalur masuk, jam pindah muatan, dan siapa yang memegang kunci pompa."
Bang Macan menyipit.
"Kau bukan hanya pembeli solar."
"Saya pembeli yang tidak suka ditipu."
Bang Macan menatapnya lama, lalu tertawa pelan.
"Bagus. Kalau kau terlalu bodoh, aku rugi waktu. Kalau kau terlalu pintar, aku rugi tidur. Kau di tengah-tengah. Menarik."
Hendra menggeser amplop tebal ke meja.
Bang Hantu memeriksa isinya, lalu mengangguk.
Bang Macan menunjuk peta.
"Malam eksekusi, pukul satu lewat. Kau datang ke dermaga lama, bukan gudang ini. Si Codet antar kau sampai titik tunggu. Kau bayar sisanya, dapat solar, lalu pergi. Kalau kau main aneh, laut luas."
"Saya suka tempat luas."
"Jangan terlalu suka. Banyak orang tidak kembali dari sana."
Hendra melipat salinan rute yang boleh ia bawa.
Tidak lengkap.
Tapi cukup.
Jam.
Dermaga.
Titik tunggu.
Kunci pompa.
Nama kapal yang sengaja ditulis setengah.
Bagian yang hilang bisa ia isi sendiri malam nanti.
Saat keluar dari Gudang 0321B, Si Codet berjalan di sampingnya dengan wajah jauh lebih sopan.
"Besok jangan terlambat," katanya.
"Tiga malam lagi," koreksi Hendra.
Si Codet terdiam.
Hendra memasukkan peta ke saku jas.
Di depan dermaga, angin laut terasa panas.
Ia menatap garis air yang berkilau.
Bang Macan mengira malam itu akan menjadi transaksi solar besar.
Hendra membiarkannya percaya.
Karena di malam eksekusi nanti, yang ia incar bukan hanya isi tangki.
Ia mengincar kapal, rute, muatan, dan emas yang belum mereka sadari sedang menunggu pemilik baru.