Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bab 3: Mata Sang Penilai
Matahari pagi menyengat kulit Rizky yang berjalan keluar dari lobi rumah sakit.
Langkahnya terasa sangat ringan, jauh berbeda dibanding saat ia masuk dalam kondisi sekarat semalam.
Untungnya, pihak administrasi rumah sakit menyebutkan biaya pengobatannya sudah lunas dibayar oleh pelaku tabrak lari.
Meskipun pelakunya kabur tak bertanggung jawab, setidaknya uang di amplop itu cukup untuk menutup tagihan medisnya.
KRUYUK.
Suara perut keroncongan berbunyi nyaring memecah konsentrasinya di atas trotoar jalanan.
"Ah, aku baru ingat belum makan apa pun sejak kemarin siang," gumam Rizky sambil mengelus perut kempisnya.
Tangannya merogoh saku celana basahnya untuk mencari dompet kulit imitasi miliknya.
Saat dompet itu dibuka lebar, hanya ada selembar uang kertas hijau bergambar pahlawan nasional.
"Dua puluh ribu rupiah, sisa harta karun terakhirku di dunia," ucap Rizky tersenyum kecut.
Uang pas-pasan itu bahkan tidak cukup untuk membeli makan siang sekaligus ongkos naik angkot pulang.
"Aku harus segera mencari cara untuk menghasilkan uang hari ini juga."
Otak encernya langsung berputar cepat mencari solusi paling logis dan efisien.
"Kemampuanku sekarang adalah mengendalikan dan mempercepat pertumbuhan tanaman."
Rizky menjentikkan jarinya saat sebuah ide cemerlang melintas di dalam benaknya.
"Tempat paling tepat sekarang adalah pergi ke pasar tanaman tradisional terdekat."
Pasar flora itu berjarak sekitar dua kilometer dari lokasi rumah sakit tempatnya dirawat.
Dengan sisa tenaga dan perut lapar, ia memutuskan berjalan kaki menuju tempat tersebut.
Suasana jalanan ibukota sudah mulai macet dipenuhi kendaraan bermotor yang berlalu-lalang.
BRUM BRUM BRUM.
Suara knalpot bising dan klakson bersahutan memekakkan telinga para pejalan kaki.
Namun Rizky sama sekali tidak peduli karena fokusnya tertuju ke pasar tanaman.
Setelah berjalan setengah jam, hidungnya mencium aroma tanah basah dan pupuk kandang.
Sebuah gapura besi berkarat bertuliskan Pasar Sentra Flora menyambut kedatangannya di ujung jalan.
Suasana di dalam pasar sangat ramai dipenuhi ibu-ibu tawar-menawar bunga hias.
Rizky berjalan perlahan memasuki lorong pasar yang agak becek dan sempit.
Tiba-tiba, pandangannya dikejutkan oleh munculnya kotak teks transparan di udara.
[Bunga Mawar Merah. Kondisi: Sehat. Potensi: Biasa saja.]
[Pohon Beringin Mini. Kondisi: Kekurangan air. Potensi: Rendah.]
[Bunga Melati Putih. Kondisi: Sangat baik. Potensi: Biasa saja.]
TING TING TING.
Suara notifikasi berbunyi konstan di dalam kepalanya seiring gerakan matanya.
"Sistem penilai ini benar-benar gila, informasinya muncul otomatis," batin Rizky kagum.
Namun dari puluhan kios yang dilewatinya, belum ada tanaman bernilai jual tinggi.
Semuanya hanyalah tanaman hias rumah tangga biasa yang harganya sangat murah.
"Aku butuh tanaman obat atau herbal, bukan sekadar bunga pajangan teras," gumamnya.
Ia terus berjalan menyusuri lorong sampai ke bagian paling belakang pasar yang sepi.
Di sudut terjauh, berdiri sebuah kios kecil berdinding terpal biru kusam dan kayu bekas.
Seorang pria paruh baya bertopi caping sedang duduk santai mengepulkan asap rokok kreteknya.
"Mari Mas, dicari tanaman apa?" sapa pedagang itu ramah dengan suara parau.
"Silakan dilihat-lihat dulu, mumpung sepi saya kasih harga murah buat penglaris," imbuhnya.
Rizky mendekati deretan pot hitam plastik yang tersusun berantakan di atas tanah.
"Bapak jual bibit tanaman herbal atau jamu tradisional di sini?" tanya Rizky langsung.
Pedagang bernama Pak Somad itu menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum.
"Ada Mas, tapi tidak banyak karena jarang orang cari tanaman obat di pasar bunga."
Pak Somad berdiri dan menunjuk sudut kanan kiosnya yang sedikit lembap dan gelap.
"Di sana ada sisa bibit jahe merah, kunyit putih, sama pohon kumis kucing."
Rizky berjalan ke arah tunjukan itu dan mengamati tanaman tersebut lewat sistem matanya.
[Bibit Jahe Merah. Kondisi: Sehat. Potensi: Biasa.]
[Kunyit Putih. Kondisi: Kurang pupuk. Potensi: Rendah.]
Rizky menghela napas kecewa karena tanaman itu sangat standar dan murah di pasaran.
"Berapa harga bibit jahe merah ini, Pak?" tanya Rizky sekadar berbasa-basi.
"Tiga puluh ribu saja sepotong Mas, paling murah sedunia itu," jawab Pak Somad santai.
"Waduh, uang saya pas dua puluh ribu di dompet, tidak cukup kalau begitu," balas Rizky.
Pak Somad terkekeh pelan mendengar kejujuran pemuda di depannya yang berpenampilan sederhana.
"Cari yang lain saja Mas, uang dua puluh ribu cuma dapat pot kosong di sini."
Rizky tersenyum canggung dan bersiap membalikkan badannya meninggalkan kios kecil itu.
Namun ekor matanya menangkap tumpukan sampah daun kering di samping gerobak dorong.
Di antara tumpukan sampah organik itu, ada sebatang ranting hitam seukuran kelingking.
Benda itu terlihat sangat layu, kering, dan menyerupai kayu bakar mati tanpa kehidupan.
Tapi kotak teks berwarna emas tiba-tiba melayang terang di atas ranting jelek tersebut.
TING.
[Akar Tunjung Langit Mutasi. Kondisi: Sekarat Kritis. Potensi: Legendaris. Catatan: Tanaman obat kuno pelancar pembuluh darah dan pemulih vitalitas.]
Napas Rizky seketika tertahan membaca kata legendaris yang bersinar terang itu.
"Pak, ranting kering di tumpukan sampah itu tanaman apa?" tanya Rizky menunjuk dengan jarinya.
Pak Somad menoleh sekilas ke tumpukan sampah lalu memicingkan matanya malas.
"Oh, itu rumput liar aneh waktu saya cari tanah gembur di hutan pinggir kota."
"Bentuknya jelek seperti akar busuk, makanya mau saya bakar sore nanti."
Rizky berusaha keras menutupi ekspresi senangnya agar pedagang itu tidak curiga.
"Daripada dibakar, bagaimana kalau ranting kering itu buat saya saja, Pak?" tawar Rizky.
"Loh, buat apa Mas bawa pulang sampah mati begitu?" tanya Pak Somad heran.
"Untuk tugas prakarya adik saya di sekolah, dia disuruh cari ranting bentuk aneh."
Rizky berbohong lancar berkat kemampuan otaknya memproses alasan logis dalam sekejap.
"Ambil saja Mas, gratis kok itu toh cuma sampah buangan," jawab Pak Somad acuh tak acuh.
"Jangan Pak, saya beli sekalian pot plastik kecil sama tanahnya buat tatakan."
Rizky menyodorkan selembar uang dua puluh ribunya yang sangat berharga ke tangan pedagang itu.
"Uang dua puluh ribu cukup kan Pak buat bayar ranting sama pot kecil ini?"
Pak Somad menatap uang hijau itu lalu memandang Rizky seperti melihat orang gila.
"Mas ini aneh, buang uang dua puluh ribu demi sebiji ranting mati."
"Tapi ya sudah kalau memaksa, lumayan buat beli es kopi siang ini."
Pak Somad mengambil uang itu dan memberikan pot plastik hitam berisi tanah gembur.
Rizky memungut akar hitam sekarat itu dari tumpukan sampah dengan hati-hati sekali.
Ia menanamkan akar rapuh itu ke dalam pot baru lalu membungkuk sopan pada penjualnya.
"Terima kasih banyak ya Pak, semoga dagangannya laris," ucap Rizky tersenyum lebar.
"Iya Mas sama-sama, hati-hati di jalan," balas Pak Somad menggelengkan kepala.
Rizky melangkah cepat keluar dari area pasar tanaman dengan perasaan sangat gembira.
Ia bahkan melupakan rasa lapar di perutnya yang terus menerus berbunyi sejak pagi.
Rizky memasuki sebuah gang buntu sempit yang sepi dan ditumbuhi lumut tebal di temboknya.
"Tempat ini aman, tidak ada orang yang bisa melihat apa yang akan kulakukan," gumamnya.
Ia meletakkan pot itu di atas paving blok lalu berjongkok menatap akar tersebut.
"Mari kita buktikan seberapa besar kekuatan Liontin Dewi ini sekarang."
Rizky mengulurkan kedua telapak tangannya lurus ke depan mengarah ke pot tanaman.
Ia memejamkan mata dan memusatkan kesadaran pada simbol daun hijau di dadanya.
Tato di dadanya mendadak menghangat dan berdenyut seirama detak jantungnya.
WUSH.
Cahaya hijau zamrud meledak keluar dari telapak tangannya menyelimuti pot kecil itu.
KRETEK KRETEK.
Suara retakan halus terdengar beruntun dari dalam tanah gembur di dalam pot.
Akar hitam keriput itu mendadak mengembang dan berubah warna jadi cokelat kemerahan basah.
Hanya dalam waktu lima menit, tunas daun ungu keemasan menyembul menembus permukaan tanah.
Tiga helai daun lebar dengan urat perak kini mekar sempurna dengan sangat indah.
Aroma harum manis langsung menguar menutupi bau busuk selokan di gang sempit tersebut.
Sekali hirup, rasa lelah dan lapar Rizky seketika hilang tanpa sisa.
TING.
[Akar Tunjung Langit Mutasi. Kondisi: Sempurna. Usia Kematangan: Setara 50 tahun.]
Mata Rizky terbelalak lebar membaca deskripsi sistem holografis di depannya.
"Usia kematangan setara lima puluh tahun dalam waktu lima menit?" bisik Rizky takjub.
Ia tertawa pelan yang lama-kelamaan makin keras menggema di dinding gang buntu.
"Kekuatan ini benar-benar di luar nalar, aku bisa menjadi penguasa obat."
Rizky mengusap keringat di dahinya akibat energi tubuhnya yang sedikit terkuras habis.
Ia memeluk pot itu erat-erat seolah benda tersebut adalah emas batangan paling berharga.
"Sekarang aku harus pergi menjual tanaman legendaris ini ke tempat yang tepat."
Ingatan fotografisnya memutar peta seluruh apotek besar di kota metropolitan ini.
"Klinik Herbal Bintang Abadi, tempat pengobatan tradisional terbesar di distrik selatan."
Rizky tersenyum penuh percaya diri sambil melangkah keluar dari gang sempit.
"Hari ini, dunia kesehatan akan mulai mengenal namaku."