Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Sehari Lagi
Sekar terbangun oleh suara ayam, bukan hujan.
Ponselnya masih terhubung ke pengisi daya. Ada tiga pesan dari Narendra, semuanya dikirim sebelum pukul enam.
Sudah bangun?
Bagaimana sungainya?
Telepon aku kalau sudah baca.
Sekar membuka jendela sedikit. Hujan tinggal gerimis, tetapi sungai masih cokelat dan deras. Ia menelepon Narendra sambil berdiri di dekat kusen.
Wajah pria itu muncul hampir seketika. Kemejanya rapi, seolah sudah berada di kantor.
"Aku aman," kata Sekar sebelum ia bertanya.
"Tunjukkan sungainya."
Sekar membalik kamera.
"Jangan dekat jendela."
"Aku di lantai dua."
"Tetap jangan."
Sekar menurut, lalu menunjukkan sarapan nasi pecel dari Bu Tri. Narendra baru terlihat sedikit tenang setelah melihatnya makan.
"Jalan dibuka siang ini," kata Sekar. "Kalau kain selesai dihitung, mungkin sore aku turun."
"Jangan memaksa."
"Iya, Pak Agenda."
"Aku serius, Sayang."
"Aku juga. Nanti aku kabari."
Setelah sarapan, Sekar pergi ke rumah Mbah Ginem. Seluruh kain sudah kering dan terbungkus. Mereka menghitung gulungan satu per satu, mencocokkan motif, lalu membuat daftar pengiriman.
Sampel dan kuitansi akhir dibawa Sekar. Kain utama tetap di gudang sampai kendaraan kargo dari kota bisa masuk.
Menjelang siang, langit bahkan sempat cerah. Bu Tri mengajak Sekar melihat bagian tua desa sambil menunggu kabar jalan.
Mereka melewati rumah-rumah beratap genteng, penjual wedang jahe, serta jembatan batu di atas anak sungai. Sekar membeli gula kelapa untuk Bu Laksmi dan memotret pola ukiran pintu sebagai inspirasi bordir.
Seorang penjual kain menawarkan selendang buatan mesin sebagai barang lama. Sekar membalik kain itu, menunjukkan tepi potongan yang disegel panas, lalu tersenyum sopan.
"Ini produksi baru, Pak. Bagus untuk oleh-oleh, tapi bukan kain lama."
Penjual tersebut tertawa malu. Ia kemudian mengeluarkan sepotong lurik asli dari bawah meja, bukan untuk dijual, melainkan untuk menunjukkan pola keluarga yang sudah jarang dibuat. Sekar meminta izin memotret dan mencatat nama motifnya.
Bu Tri juga membawanya ke rumah kelompok perempuan yang mengolah sisa benang menjadi tali hias. Sekar membeli beberapa ikat dengan uang pribadi dan meminta nomor mereka.
"Kalau nanti Sanggar butuh, saya hubungi langsung," katanya. "Harganya tetap dari Ibu-Ibu, bukan lewat perantara."
Para perajin mengangguk senang. Sekar tidak menjanjikan pesanan besar, hanya membuka jalur yang nyata dan adil.
Ia menyimpan kartu kontak mereka bersama kuitansi kain. Jika kualitasnya konsisten, hubungan kecil itu bisa menjadi sumber penghasilan baru setelah musim hujan berlalu.
Di tepi sungai, beberapa anak membantu orang dewasa membersihkan ranting. Tidak ada yang tampak panik. Kehidupan berjalan seperti biasa setelah hujan.
Sekar mengirim video pendek kepada Narendra.
Lihat, desanya cantik.
Narendra membalas dengan foto meja rapatnya.
Aku lebih suka pemandangan di videomu.
Sekar tertawa sendiri.
Bu Tri melihat layar. "Pacarnya perhatian sekali."
"Kadang terlalu perhatian."
"Lebih baik begitu daripada dicari cuma kalau butuh."
Kalimat sederhana itu mengingatkan Sekar pada rumah di Bekasi. Narendra menelepon karena ingin memastikan ia makan, bukan untuk meminta uang atau bantuan.
Menjelang pukul tiga, seorang petugas desa datang ke Rumah Angin membawa kabar buruk. Tanah kembali turun di tikungan bawah. Alat berat baru bisa datang esok pagi.
"Jadi belum boleh lewat?" tanya Sekar.
"Motor mungkin bisa, mobil jangan. Bahaya."
Sekar menghubungi pengemudi dan membatalkan penjemputan. Bu Laksmi menerima penundaan satu hari lagi karena kain sudah aman.
Narendra tidak setenang itu.
"Aku minta Satria kirim orang menjemput lewat jalur lain."
"Jalurnya sama-sama gunung. Aku lebih aman di sini daripada pindah saat gelap."
"Aku nggak suka kamu terjebak."
"Aku juga nggak suka. Tapi sehari lagi saja. Besok pagi jalan dibuka, aku langsung turun."
Narendra menatap layar cukup lama. "Lokasimu tetap aktif?"
"Aktif. Bu Tri juga punya nomormu."
"Kalau ada apa-apa, keluar ke halaman depan. Jangan sisi sungai."
Sekar terdiam. "Mas hafal jalur rumah ini?"
"Kamu cerita semalam."
"Aku cuma bilang sekali."
"Aku ingat semua yang menyangkut keselamatanmu."
Malam datang bersama hujan tipis. Tidak sederas kemarin, tetapi listrik beberapa kali meredup. Fikri melaporkan kepada Narendra bahwa jalan utama belum bisa dilewati, sedangkan Satria menyiapkan kendaraan untuk berangkat sebelum fajar jika Sekar tidak turun sendiri.
Di Rumah Angin, Bu Tri memeriksa setiap pintu dan mengingatkan tamu tentang tangga depan. Sekar membantu mengangkat dua kursi dari teras, lalu kembali ke kamar.
Ia mengganti pakaian, memasukkan kuitansi dan sampel kain ke tas kedap air, serta menaruh tas itu dekat pintu. Power bank berada di kantong depan. Sepatu diletakkan menghadap keluar agar mudah dipakai.
Ponselnya tinggal dua puluh persen. Sekar menancapkan kabel ke meja samping ranjang.
Narendra menelepon sekali lagi.
"Besok aku pulang," janji Sekar.
"Aku tunggu."
"Tidur, Mas."
"Kamu dulu."
Mereka membiarkan sambungan terbuka beberapa menit tanpa bicara. Hanya suara hujan tipis dan napas dari dua kota berbeda.
Setelah mengucapkan selamat malam, Sekar mematikan panggilan. Dua centang terakhir terlihat pada pesan lokasi yang ia kirim.
Ia meletakkan ponsel di samping bantal, tetap tersambung pada kabel.
Di luar, hujan mendadak berhenti.
Sungai masih mengalir, tetapi katak dan serangga yang sejak tadi bersuara ikut diam. Keheningan turun terlalu cepat, seolah seluruh desa sedang menahan napas menghadapi sesuatu yang akan datang.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰