NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Perjodohan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.

Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.

Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manipulatif Laura 29.

Aroma sisa hujan semalam telah sepenuhnya menguap dari udara Pelita Bangsa, digantikan oleh hawa gerah khas jam istirahat kedua yang riuh. Namun, di dalam ruang multimedia yang terkunci dari dalam, atmosfernya justru terasa sedingin es.

Reyhan Aldebaran berdiri tegak di depan monitor komputer utama, ban lengan OSIS-nya masih terpasang rapi.

Di belakangnya, dua orang anggota seksi keamanan OSIS berjaga di depan pintu, menutup akses bagi siapa pun yang mencoba mengintip.

"Buka folder rekaman CCTV koridor barat, jam 06.45 pagi ini. Tepat sebelum bel masuk ujian," perintah Reyhan. Suaranya datar, tanpa intonasi, namun sang operator komputer langsung bergerak cepat dengan jemari gemetar.

Layar digital itu berkedip, menampilkan rekaman hitam-putih area koridor di depan ruang ujian nomor empat.

Koridor saat itu masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang berjalan terburu-buru.

"Perbesar bagian laci meja barisan ketiga yang dekat jendela," sahut Reyhan lagi. Manik matanya yang hitam pekat mengunci pergerakan sebuah siluet di layar.

Seorang siswi dengan kuncir kuda tinggi tampak berjalan mengendap-endap, menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum dengan cepat menyelipkan secarik kertas ke bawah tas yang tergeletak di atas meja. Meja milik Novia.

"Sudah jelas?" Reyhan berbalik, menatap dingin ke arah sudut ruangan.

Di sana, seorang siswi bernama Cindy antek setia nya Laura sedang menunduk dalam dengan wajah pucat.

Seluruh tubuhnya gemetar hebat, menyadari bahwa takhta absolut sang Ketua OSIS tidak akan bisa dia goyah dengan trik murahan seperti ini.

"Gue... gue, cuma disuruh," bisik Cindy dengan suara parau, air matanya mulai menetes karena ketakutan. "Gue nggak bermaksud bikin lo mundur dari OSIS, Rey. Gue cuma mau bikin Novia keluar dari sekolah ini!"

Reyhan melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti vonis mati bagi mental Cindy. Dia berhenti tepat dua langkah di depan gadis itu, menatapnya dengan pandangan merendahkan yang teramat dingin.

"Siapa yang nyuruh lo?" tanya Reyhan, nadanya mengalun rendah namun menuntut kepatuhan mutlak.

Cindy menggeleng cepat, ketakutan setengah mati. "Gue nggak bisa bilang, Rey! Tolong jangan laporin gue ke Kepala Sekolah. Gue bisa dikeluarkan!"

"Lo punya waktu tiga puluh detik sebelum rekaman ini sampai ke meja Komite Sekolah beserta surat drop-out atas nama lo," ucap Reyhan tanpa belas kasihan. "Dan gue pastikan, nama baik keluarga lo di komite luar juga akan ikut terseret."

Ancaman itu menjadi pukulan telak. Cindy runtuh. Sambil terisak, dia akhirnya mendongak dengan tatapan frustrasi. "Laura! Laura yang rencanain semuanya! Dia cemburu karena lo selalu nempel sama Novia belakangan ini!"

Keheningan melingkupi ruangan setelah pengakuan itu.

Reyhan tidak tampak terkejut. Guratan di wajahnya hanya mengeras, memancarkan aura berbahaya yang siap meledak kapan saja.

"Urus administrasi pelanggarannya sekarang," perintah Reyhan pada anggota OSIS di belakangnya. "Bawa bukti ini ke Kepala Sekolah. Bersihkan nama Novia detik ini juga."

"Siap, Ketua!"

Reyhan membalikkan badan, melangkah keluar dari ruangan multimedia dengan langkah lebar.

Kasus ini selesai. Posisinya sebagai Ketua OSIS kembali aman, mutlak, dan tak tergoyahkan.

Nama Novia bersih tanpa noda. Namun, ada satu hal yang mengganjal di sudut hatinya: tatapan mata Novia saat di ruang rapat tadi.

Sementara itu, di taman belakang sekolah yang sepi, Novia duduk di bangku beton sambil memeluk lututnya.

Angin siang berembus memainkan anak rambutnya yang berantakan.

Pikirannya penuh, kalut, dan terasa sesak. Kabar tentang bersihnya namanya sudah menyebar lewat grup angkatan hanya dalam waktu singkat.

Semua orang kini tahu bahwa dia dijebak, dan semua orang memuji kejeniusan Reyhan dalam membongkar kasus tersebut.

Namun, alih-alih merasa lega, dada Novia justru terasa seperti dihantam batu besar. Rasa bersalah yang teramat sangat merayap, meracuni setiap jengkal pikirannya.

“Gila... Reyhan sampai mau taruhan jabatan demi gue,” gumam Novia. Air matanya kembali menggenang di pelupuk mata.

Dia mengingat bagaimana jemari kokoh cowok itu menggenggam tangannya di bawah meja rapat tadi.

Kehangatan yang nyata, yang membuatnya merasa memiliki pelindung di dunia yang kejam ini.

Tapi di sisi lain, kenyataan bahwa dia hampir menghancurkan masa depan gemilang seorang Reyhan Aldebaran membuatnya merasa menjadi beban yang tidak berguna.

"Gue selalu ngerepotin dia. Dari awal pernikahan rahasia ini dimulai, sampai urusan sekolah... gue cuma bisa bikin dia susah."

Novia menghapus air matanya dengan kasar dengan punggung tangan.

Sifat keras kepalanya perlahan bangkit kembali, bercampur dengan rasa tahu diri yang mendalam. Dia harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa terus-menerus menerima perlindungan dari Reyhan tanpa memberikan apa-apa sebagai balasan.

Sebuah ide melintas di kepalanya. Sesuatu yang sederhana, namun tulus, yang dibuat dengan tangannya sendiri untuk merayakan kemenangan mereka sekaligus sebagai ucapan terima kasih yang paling dalam.

**

Keesokan paginya, Pelita Bangsa kembali ke ritme normalnya. Koridor-koridor sekolah tampak ramai oleh siswa yang bersiap menghadapi hari kedua ujian.

Novia berjalan menyusuri koridor menuju gedung OSIS dengan langkah yang sengaja dibuat seringan mungkin.

Di dalam tas sekolahnya, tersimpan sebuah kotak makan kecil berisi wafel instan yang dia hias sendiri dengan lelehan cokelat membentuk huruf 'R' yang rapi, ditambah sebuah gantungan kunci rajutan kecil berbentuk beruang yang dia selesaikan semalam suntuk hingga matanya berkantung hitam.

Suasana di depan ruang OSIS masih sangat sepi. Jam baru menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.

Novia tahu benar kebiasaan Reyhan yang selalu datang paling awal untuk memeriksa berkas sebelum bel berbunyi.

'Gue taruh di mejanya diam-diam aja. Kalau langsung dikasih, ntar dianya malah pasang muka datar lagian gengsi gue bisa turun' pikir Novia sambil tersenyum tipis. Jantungnya berdebar agak kencang, sebuah debaran penuh antisipasi yang menyenangkan.

Dia berjalan mendekati pintu kayu bercat cokelat tua itu. Tangannya terulur, perlahan memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci sepenuhnya.

Klek.

Pintu terbuka sedikit, menyisakan celah beberapa sentimeter yang cukup untuk memperlihatkan isi ruangan.

Namun, senyuman di wajah Novia seketika membeku. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah disedot paksa keluar dalam hitungan detik.

Di dalam ruangan yang redup oleh sinar matahari pagi yang menerobos jendela, Reyhan sedang berdiri di dekat meja kerjanya.

Tepat di depannya, berdiri Laura dengan mata sembab yang kemerahan.

"Gue tahu gue salah, Rey," suara Laura terdengar bergetar, sarat akan keputusasaan yang mendalam. "Gue minta maaf karena udah bikin kekacauan ini. Gue bener-bener cemburu... gue nggak tahan liat lo makin dekat sama Novia."

Reyhan berdiri bergeming, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Masalah ini sudah selesai di meja Kepala Sekolah, Laura. Cindy sudah menerima sanksinya, dan gue harap lo nggak akan pernah mengulangi hal bodoh kayak gini lagi."

"Nggak akan, Rey. Gue janji," sahut Laura cepat, air matanya kembali menetes. "Gue... gue bahkan udah ajuin surat pindah kelas hari ini. Gue nggak akan sekelas lagi sama lo setelah ujian ini selesai. Gue mau mulai semuanya dari awal dan lupain perasaan gue."

Reyhan menghela napas pendek, ketegangannya sedikit mereda mendengar keputusan Laura. "Itu pilihan yang bagus buat lo."

"Tapi, Rey... tolong jawab jujur satu hal sama gue," Laura melangkah satu kali lagi ke depan, menatap lekat manik mata hitam Reyhan. "Kabar burung yang beredar di luar... lo sama Novia... kalian beneran punya hubungan spesial? Status kalian... apa benar ada hubungan pernikahan rahasia?"

Pertanyaan menohok itu membuat Novia yang mengintip di balik celah pintu menahan napasnya erat-erat. Jantungnya berdegup begitu liar hingga menimbulkan rasa sakit yang linu di dadanya.

Reyhan terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arah Laura, lalu dengan nada suara yang tegas, dingin, dan tanpa keraguan sedikit pun, dia menjawab, "Enggak. Itu cuma rumor sampah.... Gue sama Novia cuma pacaran. Kita baru jadian beberapa minggu ini," Jawab Reyhan dengan tenang, menepis status hubungan pernikahan mereka demi menjaga rahasia besar keluarga mereka di sekolah. "Jadi, stop cari tahu hal yang nggak penting."

Laura terpaku. Pengakuan itu menjadi hantaman terakhir yang mematahkan seluruh sisa harapannya.

Wajahnya menggambarkan rasa patah hati yang teramat dalam, hancur berkeping-keping di depan cowok yang selama bertahun-tahun dia puja.

Namun, di balik air matanya yang mengalir, sudut mata Laura mendadak menangkap bayangan sepasang sepatu putih di balik celah pintu luar yang sedikit terbuka. Laura tahu benar siapa pemilik sepatu itu. Novia.

Sebuah kilat nekat dan licik melintas di benak Laura yang sedang terluka. Jika dia harus hancur hari ini, maka dia tidak akan membiarkan Novia menang begitu saja.

Tanpa peringatan, Laura maju dengan cepat, melingkarkan kedua lengannya ke leher Reyhan, lalu menarik tubuh cowok itu dan memeluknya erat-erat dari belakang tepat saat posisi Novia secara tidak sadar mendorong pintu lebih lebar untuk memastikan penglihatannya.

Sret.

Pintu terbuka sempurna.

Novia berdiri mematung di ambang pintu, matanya membelalak sempurna menatap pemandangan di depannya.

Kotak makan di dalam genggaman tangannya mendadak terasa begitu berat, dan seluruh dunianya yang baru saja ingin dia tata kembali, runtuh seketika menjadi kepingan yang tak berbentuk.

......................

...****************...

Tbc,

1
Shabrina Darsih
laura laura naksir Rehyan samoe segitu nya sm Novia
Gege Mas
otor berusaha untuk mulai mematik apa yang bisa di sulut...naees...🤣
Gege Mas
Dan terjadi lagi...Nov..Nov...ck..ck..ck
Gege Mas
Dan ondolomon pun muncul ditengah kegelapan...🤣
Gege Mas
lanjuut Thor..belom berasa ini....10k kata gasss luncurkan
Gege Mas
yuklaah gass kasih intrik intrik kekinian yang membakar cemburu Dan bikin senyum senyum sendiri...semangaat..luncurkan 10k kata Thor...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!