“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Darah yang Menyatukan Musuh
“Jawab aku, Dante!”
Suara Bianca bergetar. Air mata mulai membasahi pipinya ketika melihat suaminya hanya berdiri diam tanpa memberikan jawaban.
Dante mengembuskan napas panjang.
“Bianca, ada banyak hal yang belum kau ketahui. Tetapi aku bersumpah, aku tidak pernah berniat menyakitimu.”
“Jadi, kau memang tahu siapa ayah kandungku?”
Dante memejamkan mata sesaat.
“Ya.”
Satu kata itu terasa seperti tamparan keras bagi Bianca.
Ia mundur beberapa langkah.
“Siapa dia?”
Dante menatapnya dengan berat hati.
“Alessandro Vieri.”
Bianca menggeleng cepat.
“Tidak. Itu tidak mungkin.”
“Alessandro adalah ayah kandungku. Dan berdasarkan dokumen yang baru kutemukan, ada kemungkinan dia juga ayah kandungmu.”
Bianca menatap Dante dengan wajah pucat.
“Jadi kita...”
“Belum ada bukti yang memastikan semuanya. Kita harus menemukan Sofia dan memeriksa dokumen aslinya.”
Bianca menutup mulutnya. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan mengerikan.
“Kalau benar dia ayahku, berarti hubungan kita selama ini...”
Dante segera mendekat, tetapi Bianca mengangkat tangannya.
“Jangan sentuh aku!”
Dante menghentikan langkahnya.
“Bianca, aku tidak akan memaksamu.”
“Kenapa kau tidak pernah mengatakan semuanya sejak awal?”
“Karena aku sendiri tidak mengetahui seluruh kebenarannya. Aku hanya tahu bahwa keluarga kita memiliki hubungan lama yang sengaja disembunyikan.”
Bianca menangis semakin keras.
“Aku lelah, Dante. Aku lelah hidup di antara kebohongan.”
Dante tidak menjawab. Ia hanya berdiri, menyaksikan perempuan yang dicintainya perlahan kehilangan kepercayaan kepadanya.
### 1. Dokumen yang Hilang
Keesokan paginya, Marco memasuki ruang kerja Dante dengan membawa sebuah map hitam.
“Don, kami menemukan sesuatu di arsip keluarga Alessandro.”
Dante membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen kelahiran, surat perjanjian, dan sebuah foto lama.
Marco menunjuk foto itu.
“Ini Alessandro bersama Sofia Laurent. Foto tersebut diambil sekitar tiga puluh tahun lalu.”
Dante memperhatikan wajah perempuan dalam foto.
“Jadi mereka memang pernah bersama.”
“Lebih dari itu, Don. Kami menemukan catatan bahwa Alessandro pernah menikahi seorang perempuan bernama Sofia secara rahasia.”
Dante mengangkat kepala.
“Menikah?”
Marco mengangguk.
“Namun pernikahan itu tidak pernah tercatat secara resmi. Ada seseorang yang menghapus seluruh dokumennya.”
Dante membalik halaman berikutnya.
Matanya berhenti pada sebuah nama.
Vittorio Vieri.
“Ayahku sendiri?”
“Sepertinya begitu, Don.”
Dante mengepalkan tangannya.
Vittorio selama ini selalu mengajarkan bahwa kehormatan keluarga adalah segalanya. Namun semakin banyak rahasia terungkap, semakin jelas bahwa pria tua itu telah menghancurkan kehidupan banyak orang demi mempertahankan kekuasaan.
“Temukan Sofia. Aku ingin mendengar semuanya langsung darinya.”
Marco mengangguk.
Namun sebelum pergi, ia menyampaikan sesuatu yang membuat Dante kembali terdiam.
“Don, ada satu hal lagi. Rafael juga sedang mencari Sofia. Dan menurut informan kami, dia bekerja sama dengan Luciano.”
Dante menatap tajam.
“Rafael?”
“Ya. Kami tidak tahu apakah dia benar-benar berkhianat atau sedang menyusun rencana sendiri.”
Dante menutup map.
“Jangan percaya siapa pun.”
### 2. Kepergian Bianca
Sementara itu, Bianca berada di kamar tidur.
Ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper kecil. Sejak malam sebelumnya, ia hampir tidak tidur.
Panggilan Sofia terus terngiang di telinganya.
Jangan pernah mempercayai Dante.
Bianca tidak tahu apakah perempuan itu mengatakan kebenaran atau sedang memanipulasinya.
Namun ia membutuhkan waktu untuk berpikir.
Ketika koper hampir selesai dikemas, pintu kamar terbuka.
Dante berdiri di sana.
“Kau mau ke mana?”
Bianca tidak menoleh.
“Aku ingin pergi sementara.”
Dante melihat koper di samping tempat tidur.
“Tidak.”
Bianca akhirnya menatapnya.
“Aku tidak meminta izin.”
“Bianca, di luar sana masih ada orang yang ingin mencelakaimu.”
“Aku lebih takut berada di rumah ini bersama orang-orang yang terus menyembunyikan kebenaran dariku.”
Dante mengusap wajahnya.
“Aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Kalau begitu, berhentilah mengatur hidupku.”
Keheningan menyelimuti kamar.
Dante akhirnya mengangguk.
“Baik. Aku tidak akan menahanmu. Tetapi izinkan Marco mengantarmu.”
Bianca menggeleng.
“Aku ingin sendiri.”
“Setidaknya biarkan aku memastikan kau sampai dengan selamat.”
Bianca tidak menjawab.
Ia mengangkat koper dan berjalan melewati Dante.
Namun tepat ketika melewati pintu, Dante berkata pelan.
“Aku mencintaimu, Bianca. Bahkan jika seluruh dunia menentang kita, perasaanku tidak akan berubah.”
Bianca berhenti sejenak.
Air matanya kembali jatuh.
“Aku berharap cinta saja cukup untuk membuat semua kebohongan ini menghilang.”
Kemudian ia pergi.
### 3. Rumah di Tepi Danau Como
Beberapa jam kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah tua di tepi Danau Como.
Bianca turun dengan membawa koper.
Ia mengenali rumah itu dari foto yang diberikan Rafael.
Pintu rumah terbuka sebelum ia sempat mengetuk.
Seorang perempuan berambut gelap berdiri di ambang pintu.
Wajahnya tampak lebih tua daripada foto yang dilihat Bianca, tetapi mata mereka sangat mirip.
Perempuan itu menutup mulutnya.
“Bianca?”
Bianca tidak mampu menjawab.
Sofia melangkah maju dengan air mata mengalir di pipinya.
“Anakku…”
Bianca akhirnya menangis.
“Ibu?”
Sofia memeluknya erat.
“Maafkan Ibu. Maafkan karena tidak bisa berada di sisimu selama ini.”
Bianca membalas pelukannya.
“Aku ingin tahu semuanya. Aku ingin tahu siapa ayahku dan mengapa semua orang menyembunyikan identitasku.”
Sofia mengajak Bianca masuk.
Mereka duduk di ruang keluarga.
Sofia mengambil sebuah kotak kayu dari lemari tua. Di dalamnya terdapat beberapa surat, foto, dan sebuah gelang bayi.
“Ketika kau lahir, Alessandro sangat bahagia. Dia berjanji akan membawamu pergi dari dunia mafia.”
Bianca mendengarkan dengan saksama.
“Namun Vittorio tidak menyetujui hubungan kami. Dia menganggapku perempuan biasa yang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Vieri.”
Sofia berhenti sejenak.
“Ketika Alessandro meninggal dalam sebuah kecelakaan, Vittorio menuduh Rafael sebagai penyebabnya. Sejak saat itu, hidup kami berubah.”
“Lalu mengapa Elena membesarkanku?”
“Karena seseorang berusaha membunuhmu ketika masih bayi. Elena membawamu pergi dan membuat semua orang percaya bahwa kau adalah anak kandungnya.”
Bianca menatap foto bayi dalam kotak.
“Jadi Elena benar-benar menyayangiku?”
Sofia mengangguk sambil menangis.
“Dia mencintaimu lebih dari hidupnya sendiri.”
Bianca menggenggam foto itu.
“Siapa yang membunuhnya?”
Wajah Sofia berubah serius.
“Aku tidak memiliki bukti lengkap. Tetapi malam sebelum Elena meninggal, dia meneleponku dan mengatakan bahwa seseorang dari keluarga Vieri mengetahui rahasia kelahiranmu.”
“Siapa orang itu?”
Sofia menatap putrinya.
“Vittorio.”
### 4. Pengkhianatan Rafael
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Sofia langsung berdiri.
Wajahnya berubah pucat.
“Tidak mungkin...”
Seorang pria memasuki ruangan.
Rafael.
Bianca terkejut.
“Ayah?”
Rafael memandangnya dengan ekspresi penuh penyesalan.
“Bianca, kau seharusnya tidak datang ke sini.”
Sofia berdiri di depan putrinya.
“Jangan mendekatinya!”
Rafael mengangkat kedua tangannya.
“Aku tidak datang untuk menyakitinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Sofia.
Rafael mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Aku datang untuk mengakhiri semuanya.”
Bianca memandang pria itu.
“Kenapa kau mengirim pesan agar aku tidak mempercayai Sofia?”
Rafael menatapnya lama.
“Karena ada satu hal yang tidak dia ceritakan kepadamu.”
Sofia menggeleng.
“Rafael, jangan!”
Namun Rafael tetap melanjutkan.
“Alessandro bukan ayah kandungmu, Bianca.”
Bianca membeku.
“Apa?”
“Pria yang menjadi ayah kandungmu adalah orang yang membesarkanmu selama ini.”
Bianca kehilangan keseimbangan dan berpegangan pada meja.
“Maksudmu...?”
Rafael mengangguk perlahan.
“Vittorio Vieri.”
Sofia menutup wajahnya.
“Tidak! Kau tidak boleh mengatakan itu!”
Bianca menatap Sofia dengan mata penuh air mata.
“Ibu, apakah itu benar?”
Sofia tidak menjawab.
Dan diamnya perempuan itu terasa lebih menyakitkan daripada semua kebohongan sebelumnya.
### 5. Ancaman Terakhir
Di saat yang sama, Dante menerima panggilan dari Marco.
“Don, kami menemukan lokasi Bianca.”
“Di mana?”
“Rumah Sofia di Danau Como.”
Dante langsung mengambil kunci mobil.
“Aku berangkat sekarang.”
Namun Marco terdengar panik.
“Don, ada masalah besar. Pasukan Luciano sudah mengepung rumah itu.”
Dante menghentikan langkah.
“Berapa banyak?”
“Sekitar dua puluh orang.”
Dante mengumpat pelan.
“Hubungi semua anak buah kita. Jangan biarkan seorang pun menyentuh Bianca.”
Ketika Dante hendak keluar, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Foto Bianca, Sofia, dan Rafael berada dalam satu ruangan.
Di bawah foto tertulis:
Pilih, Dante. Selamatkan istrimu atau pertahankan kekuasaan keluarga Vieri.
Dante menatap layar dengan mata menggelap.
Kemudian sebuah pesan kedua muncul.
Karena malam ini, salah satu dari mereka harus mati.
Di rumah tepi Danau Como, lampu tiba-tiba padam.
Terdengar suara tembakan dari luar.
Sofia menarik Bianca ke belakang sofa, sementara Rafael mengambil pistolnya.
“Jangan bergerak!” seru Rafael.
Bianca memegang tangan Sofia dengan ketakutan.
“Ibu, siapa mereka?”
Sofia memeluk putrinya.
“Orang-orang yang tidak ingin kau mengetahui kebenaran.”
Tiba-tiba pintu depan terbuka dengan keras.
Seorang pria bertopeng memasuki ruangan.
Ia mengarahkan pistol kepada Bianca.
Namun sebelum pelatuk ditarik, Rafael melompat menghadang.
Sebuah tembakan meledak.
“AYAH!”
Bianca menjerit ketika Rafael terjatuh ke lantai.
Pria bertopeng itu kembali mengarahkan senjatanya.
Namun dari belakang terdengar suara yang sangat dikenalnya.
“Sentuh istriku, dan kau tidak akan keluar hidup-hidup!”
Dante berdiri di ambang pintu dengan pistol terangkat.
Bianca menoleh. Air matanya mengalir deras.
“Dante!”
Dante menembak senjata pria bertopeng itu hingga terlepas, lalu berlari menghampiri Bianca.
Ia memeluk istrinya erat.
“Aku di sini, Sayang.”
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Rafael yang terbaring di lantai tiba-tiba menggenggam tangan Dante.
Dengan napas tersengal, ia berbisik.
“Dante... ada sesuatu yang harus kau ketahui.”
Dante berlutut.
“Apa?”
Rafael menatap Bianca, kemudian kembali menatap Dante.
“Vittorio masih hidup.”
Dante membeku.
“Apa maksudmu? Ayahku sudah meninggal lima tahun lalu.”
Rafael menggeleng lemah.
“Orang yang dikuburkan bukan Vittorio.”
Ia menarik napas terakhir yang berat sebelum mengucapkan kalimat berikutnya.
“Dan orang yang selama ini memimpin keluarga Vieri... adalah musuh yang paling dekat denganmu.”
Tangan Rafael terlepas.
Bianca menjerit memanggilnya.
Sementara Dante menatap tubuh pria itu dengan wajah penuh kemarahan.
Sebab kini ia menyadari satu hal.
Perang keluarga Vieri belum pernah benar-benar berakhir.
jangan lupa mampirr🤭