Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 10
Langit sore ibu kota berubah jingga kemerahan ketika Aurelia melangkah masuk ke dalam sebuah kafe bernuansa industrial minimalis. Aroma biji kopi segar langsung menyergap indra penciumannya. Di sudut ruangan yang agak tersembunyi dekat jendela kaca besar, tiga orang wanita tampak melambaikan tangan ke arahnya. Mereka adalah Maya, serta ketiga sepupu Reyden Merlyn, Sherly, dan Natasha yang beberapa malam lalu sempat menjadi dalang perbincangan hangat di keluarga besar mengenai status pernikahan Reyden.
Ketiganya dari awal memang tidak begiti menyukai Misya, entah apa alasannya karena Misya juga merasa tak punya masalah apa-apa dengan mereka. Bahkan berkomunikasi saja jarang. Aurelia menghampiri meja tersebut dengan langkah anggun, meski sisa-sisa kepenatan dan kekecewaan masih membekas jelas di matanya. Ia mengenakan jas luar berwarna karamel yang disampirkan rapi di bahunya.
"Hai, Aurel! Sini-sini duduk!" sambut Merlyn antusias sambil menggeser kursi kosong di sebelah kanannya.
Aurelia duduk, meletakkan tas mahalnya di atas pangkuan, lalu memesan segelas iced americano kepada pelayan yang datang menghampiri meja mereka.
Natasha, yang duduk berhadapan langsung dengan Aurelia, menatap wajah wanita itu dengan penuh selidik.
"Muka lo kusut banget, Rel? Abis meeting horor sama sepupu gue yang es batu itu, ya? Cerita dong, gimana pertemuan pertama kalian setelah lima tahun? Tapi bener deh kamu makin cantik aja, Rel,"
Aurelia menyesap air putih yang disediakan kafe terlebih dahulu, mencoba meredam gemuruh di dadanya sebelum bersuara.
"Horor? Kurang lebih begitu, Natasha," jawab Aurelia dengan senyum masam.
"Dia bener-bener berubah total. Dingin, kaku, berjarak, dan profesional banget. Jangankan bernostalgia, dia bahkan memperlakukan aku layaknya orang asing yang baru pertama kali kenal."
Merlyn mendengkus pelan sambil melipat kedua tangan di atas meja.
"Udah gue duga. Sejak nikah sama si Misya itu, Reyden emang jadi pelindung banget buat istrinya. Padahal dulu, jangankan dibela, dilirik dua kali juga ogah kalau urusannya di luar pekerjaan."
Mendengar nama Misya kembali disebut, rahang Aurelia mengeras tipis. Rasa penasarannya yang bercampur rasa tidak terima mendadak tersulut kembali. Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke meja, menatap ketiga sepupu Reyden itu lekat-lekat.
"Nah, itu yang bikin aku setengah mati penasaran Merlyn, Sherly, Natasha," ujar Aurelia dengan nada suara yang tertahan namun penuh penekanan.
"Kalian kan keluarga dekatnya. Coba cerita sama aku... sebenarnya perempuan bernama Misya itu makhluk seperti apa? Kenapa dia bisa-bisanya meluluhkan pria sekeras Reyden, sampai-sampai Reyden sebegitu setianya?"
Merlyn terkekeh pelan, nada suaranya menyiratkan nada meremehkan yang kentara.
"Ih, lu bakal ketawa kalau liat aslinya, Rel. Misya itu... boring banget! Anaknya pendiam, hobi di rumah aja masak atau ngurusin tanaman, nggak punya ambisi karier kayak lo, dan cara berpakaiannya aja biasa banget. Nggak ada aura power woman sama sekali. Pokoknya bukan level lo..."
"Betul banget!" sahut Sherly menambahkan dengan nada sengit.
"Waktu pertama kali dikenalkan di keluarga besar aja, dia keliatan banget grogi dan kaku. Dulu kami sempet mikir, palingan juga itu pernikahan sandiwara buat nurutin kemauan kedua orang tua mereka. Mana mungkin Reyden betah dengan pernikahan perjodohan itu."
"Tapi kenyataannya beda, kan?" potong Aurelia tajam, matanya menyorot tajam ke arah mereka.
"Merlyn tadi siang bilang, pas acara keluarga kemarin, Reyden justru pasang badan dan membela istrinya di depan kalian semua. Pria yang dulunya anti diatur dan benci perjodohan, sekarang justru tunduk sama wanita biasa?"
Suasana di meja itu mendadak agak hening. Merlyn menghela napas, mengakui realita yang menyebalkan tersebut.
"Itu dia masalahnya, Rel..." Ujar Merlyn pelan.
"Awalnya emang keliatan terpaksa. Tapi lama-kelamaan, kita semua sadar kalau Reyden itu terbiasa hidup sendiri dengan tekanan kerjaan yang gila-gilaan. Nah, si Misya ini... dia masuk di celah sunyi itu. Dia telaten ngurusin hal-hal kecil yang bahkan nggak pernah kita perhatiin. Dari mulai nyiapin baju kerja, mastiin Reyden makan tepat waktu, sampai ngasih ketenangan pas Reyden pulang ke rumah."
Aurelia tertegun. Kepalan tangannya di bawah meja semakin erat. Hal-hal kecil? Perhatian domestik seperti itu? Selama ini, bagi Aurelia, pencapaian hidup diukur dari seberapa besar gelar, karier, dan pengakuan dunia luar yang bisa diraih. Ia tidak pernah mengira bahwa benteng pertahanan seorang Reyden Dirgantara justru bisa runtuh hanya karena mangkuk bekal dan perhatian sederhana.
"Jadi... kalian mau bilang kalau aku kalah cuma karena aku mementingkan karierku di masa lalu?" tanya Aurelia lirih, namun sarat akan kepahitan.
Natasha menggeleng cepat. "Bukannya lu kalah, Rel. Tapi lu dan Reyden itu, di masa lalu, sama-sama punya ambisi yang terlalu besar. Kalian tabrakan. Lu milih terbang ke London buat S2 dan karier internasional, sementara Reyden waktu itu lebih memilih membantu papanya mengurus perusahaan. Sayangnya, lu nggak ada di sana waktu dia lagi susah-susahnya."
Kalimat Natasha menohok telak ke ulu hati Aurelia. Memang benar, lima tahun lalu ia meninggalkan Reyden karena menganggap pria itu terlalu lambat dan jalan di tempat, sementara ia punya kesempatan emas di luar negeri. Dan kini, saat Reyden sudah berada di puncak kesuksesannya sebagai CEO muda yang disegani, wanita lainlah yang menikmati hasil jerih payah dan ketulusan pria tersebut.
"Apa ada kemungkinan kalau mereka menjalani pernikahan kontrak selama dua tahun ini? Apalagi rumah tangga mereka katanya adem ayem dan flat aja kan?" tanya Aurel berasumsi menolak jika Rey melupakan perasaan cinta padanya.
Ketiga sepupu Reyden saling pandang tak percaya dengan ucapan Aurel, bahkan mereka saja tak pernah kepikiran kalau Reyden dan Misya menjalani pernikahan kontrak.
"Maksud kamu, Rel?" tanya Natasya.
"Gini deh, logika aja, selama ini aku dan dia itu pacaran lama. Dan kalian tahu seberapa bucinnya Rey sama aku. Dan selama aku pergi juga Rey nggak pernah dekat dengan cewek manapun kan? Hingga orang tuanya menjodohkan Rey sama wanita itu..."
"Aku yakin hati Rey masih sama aku, dan mereka membuat kesepakatan nikah kontrak hanya untuk menyenangkan hati kedua orang tua mereka..."
Seketika meja di sudut kafe itu mendadak sunyi. Ucapan Aurelia barusan sukses membuat Merlyn, Sherly, dan Natasha terpaku, saling melempar pandang dengan alis bertaut rapat. Maya yang duduk di sebelah Aurelia bahkan mengerjap pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Sherly adalah orang pertama yang mendengkus tawa kecil, sebuah tawa sarkas yang menyiratkan ketidakpercayaan.
"Nikah kontrak, Rel? Are you kidding me?" ucap Sherly dengan nada menyengat, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Lo serius ngomong gitu? Kalau lu bilang pernikahan mereka awalnya terpaksa karena perjodohan, kami masih bisa masuk akal. Tapi kalau bilang itu pernikahan kontrak... hell no!"