NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JIWA YANG TERTINGGAL

Ahsin memeluk Ling Ling, lalu membelai rambut putihnya yang berkilauan.

“Istirahatlah dulu, Ling Ling. Kamu sudah terlalu lelah hari ini. Pulihkan energimu. Besok, kamu turun kembali ke dunia manusia dan awasi perkembangan manusia yang harus kamu dampingi.”

Setelah mengatakan itu, Ahsin meninggalkan Ling Ling yang masih berdiri di aula.

Ling Ling melayang menuju sudut aula, tempat sebuah pohon besar bernama Pohon Tidur tumbuh menjulang. Daun-daunnya lebar, dengan aroma menenangkan seperti dupa yang dibakar. Wanginya membuat siapa pun yang menghirupnya perlahan mengantuk.

Ling Ling mendongak. Di hampir setiap daun, terdapat seorang peri yang sedang tidur. Tubuh mereka berayun lembut mengikuti gerakan daun yang tertiup angin.

Ling Ling yang menghirup aroma pohon itu pun mulai merasa kelopak matanya berat. Dia segera memutar tubuhnya di udara. Cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya, lalu tubuh mungilnya berubah menjadi seringan kapas dan terangkat dengan sendirinya.

Dalam posisi terlentang, dia melayang menuju sebuah daun yang bertuliskan namanya. Setelah mendarat, dia merebahkan tubuh dengan nyaman dan memejamkan mata.

Namun, belum lama menikmati ketenangan itu, sebuah pikiran mendadak melintas di benaknya.

Jiwa Awen!

Ling Ling langsung membuka mata. Dia baru ingat bahwa jiwa Awen belum sempat dipindahkan ke tubuh Alu.

“Celaka! Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting itu?”

Dia menepukkan kedua tangannya. Percikan cahaya keemasan muncul, membuat tubuhnya kembali ke ukuran semula. Akibatnya, tubuhnya yang semula melayang ringan langsung terjerembap ke atas daun, bahkan melorot hingga ke ujungnya.

Ling Ling segera bangkit dan terbang meninggalkan Pohon Tidur. Tanpa membuang waktu, dia melesat menuju tempat tinggal Ahsin.

Saat tiba di kamar, Ling Ling mendapati Ahsin sedang berbaring di tempat tidurnya. Dengan panik, dia langsung menghampiri peri pembimbingnya itu.

“Ibu Peri, maafkan saya! Saya lupa mengembalikan jiwa Awen ke tubuh Alu. Apa yang harus saya lakukan sekarang?”

Mendengar pengakuan itu, Ahsin langsung bangkit. Matanya terbelalak, sementara wajahnya memerah menahan amarah.

Ling Ling ketakutan melihat ekspresi pembimbingnya. Namun, dia juga tak bisa mengabaikan kesalahannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, wajah Ahsin perlahan kembali tenang. Dia mengembuskan napas, lalu membelai rambut Ling Ling.

“Jangan panik, Ling Ling. Sekarang, ambilkan cermin ajaib dari tempatnya.”

Ling Ling segera keluar kamar. Tak lama kemudian, dia kembali sambil membawa sebuah cermin sebesar nampan, lalu menyerahkannya kepada Ahsin.

“Ini, Ibu Peri. Cermin ajaibnya sudah saya ambilkan.”

“Apakah kamu masih memiliki bubuk sihir?”

Ling Ling memeriksa kantong di pinggangnya. Setelah menemukan sebuah kantong kecil berwarna merah muda, dia segera menyerahkannya kepada Ahsin.

Ahsin menaburkan bubuk sihir itu ke permukaan cermin. Seketika, cermin tersebut bergetar dan memancarkan cahaya menyilaukan.

Ketika cahaya itu perlahan menghilang, tampaklah Alu sedang berbaring di tempat tidur bersama Afu. Gambar di dalam cermin kemudian bergerak menyorot bagian bawah ranjang, memperlihatkan sebuah jam pasir yang pasirnya belum habis sepenuhnya.

Ahsin tampak cemas. Dia menyeka poni yang menutupi keningnya sambil berpikir cepat.

“Waktunya tidak cukup, Ling Ling. Kita tidak bisa menukar jiwa mereka sebelum jam pasir itu habis.”

Ling Ling menunduk, semakin merasa bersalah.

Namun, Ahsin segera melanjutkan, “Tapi jangan takut. Kita satukan saja jiwa Awen dengan jiwa Alu di dalam tubuh Alu.”

Ling Ling menatap pembimbingnya dengan ragu.

“Bagaimana caranya, Ibu Peri?”

“Ambil jam pasir penukar waktu.”

Tanpa menunggu perintah kedua, Ling Ling segera keluar kamar. Dia kembali dengan membawa sebuah jam pasir yang memancarkan cahaya keunguan, lalu menyerahkannya kepada Ahsin.

“Ini, Ibu Peri.”

Ahsin menerima jam pasir itu dan mulai membacakan mantra. Benda tersebut bergetar selama beberapa saat, kemudian mengeluarkan cahaya terang yang perlahan meredup.

Setelah selesai, Ahsin menyerahkannya kembali kepada Ling Ling.

“Sekarang, turunlah ke dunia manusia. Keluarkan jiwa Awen dari tabung, lalu taburkan bubuk penukar jiwa sebelum memasukkannya ke dalam tubuh Alu yang kini mulai berubah menyerupai Awen.”

Ling Ling mengangguk, menyimak setiap petunjuknya.

“Setelah itu, gantilah jam pasir yang berada di bawah ranjang dengan jam pasir ini sebelum pasirnya habis. Ketika jam pasir yang baru selesai mengalir, jiwa Awen dan Alu akan menyatu.”

Ling Ling terdiam sejenak sebelum memberanikan diri bertanya.

“Apakah itu berbahaya bagi mereka, Ibu Peri?”

“Tidak berbahaya. Hanya saja, pada awalnya mereka mungkin akan kebingungan membedakan identitas dan perasaan mereka sendiri. Seiring waktu, ingatan keduanya akan menjadi bagian dari satu kesadaran. Namun, salah satu dari mereka mungkin akan lebih dominan.”

“Jadi, siapa yang akan lebih dominan?”

Ahsin menggeleng pelan.

“Itu belum bisa dipastikan. Ada kemungkinan jiwa Awen akan lebih dominan setelah proses penyatuan selesai. Namun, semuanya bergantung pada bagaimana kedua jiwa itu beradaptasi.”

Ahsin kemudian menunjuk jam pasir di tangan Ling Ling.

“Perlu kamu ingat, jam pasir ini akan berjalan lebih lambat daripada jam pasir sebelumnya. Aku sudah membacakan mantra agar perubahan yang mereka alami berlangsung secara bertahap.”

Ling Ling mengangguk, mulai memahami penjelasan pembimbingnya.

“Sekarang, cepatlah turun ke dunia manusia sebelum jam pasir yang lama habis!”

Tanpa menunggu lebih lama, Ling Ling langsung melesat meninggalkan dunia peri.

Dalam sekejap, Ling Ling sudah tiba di apartemen Alu dan Afu.

Dia segera menebarkan bubuk pengganti waktu untuk mencegah manusia menyadari perubahan yang terjadi. Setelah itu, dia mengeluarkan tabung kecil berisi jiwa Awen.

Ling Ling menaburkan bubuk penukar jiwa ke dalam tabung tersebut. Beberapa saat kemudian, jiwa Awen keluar dari tabung dan melayang di hadapannya.

Dengan hati-hati, Ling Ling membacakan mantra untuk mengarahkan jiwa itu masuk ke tubuh Alu yang kini mulai berwujud seperti Awen.

Setelah memastikan jiwa Awen telah masuk, Ling Ling segera mengganti jam pasir di bawah ranjang dengan jam pasir baru pemberian Ahsin.

Kini, dia hanya perlu menunggu.

Ling Ling bersembunyi di tempat yang tidak terlihat oleh manusia. Dia ingin memastikan bagaimana keadaan mereka ketika terbangun nanti.

Tak lama kemudian, Alu dan Afu mulai membuka mata.

Namun, perubahan yang diharapkan Ling Ling ternyata belum terjadi sepenuhnya. Sosok yang kini berwujud Awen itu masih menyadari dirinya sebagai Alu.

Ling Ling mengerutkan kening. Dia segera menghubungi Ahsin melalui telepati dan melaporkan apa yang terjadi.

Setelah mendengar laporan tersebut, Ahsin memberikan instruksi baru.

“Jangan tinggalkan Awen. Tetaplah berada di sisinya dan bantu dia memahami dirinya sendiri. Ajarkan apa pun yang dia butuhkan, mulai dari cara berpakaian, berdandan, berbicara, hingga memahami perasaan yang muncul di dalam dirinya.”

“Baik, Ibu Peri.”

Sejak hari Itu, Ling Ling selalu mengikuti Awen. Dia mengubah penampilannya menggunakan sihir agar tidak menimbulkan kecurigaan di dunia manusia.

Namun, Ling Ling tidak selalu menampakkan diri. Dia hanya muncul ketika Awen benar-benar membutuhkannya atau ketika ada sesuatu yang harus segera diperbaiki.

Hari demi hari berlalu. Ling Ling terus mengawasi perkembangan Awen, berharap penyatuan jiwa itu akan berjalan sesuai rencana.

Sampai suatu hari, ketika Awen sedang makan malam di sebuah restoran bersama Louhan, ditemani Afu, Ling Ling mulai menyadari sesuatu yang mengusik pikirannya.

Dia memperhatikan gerak-gerik Awen saat berhadapan dengan Louhan. Dari cara Awen bersikap, Ling Ling merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Arah cinta Awen ternyata masih keliru.

Ling Ling segera menghubungi Ahsin melalui telepati untuk meminta petunjuk.

Setelah mendengar penjelasannya, Ahsin memberikan perintah.

“Tunjukkan dirimu kepada Awen. Pastikan hanya dia yang bisa melihatmu. Kamu harus membantunya menyadari bahwa perasaannya terhadap Louhan bukanlah perasaan yang seharusnya dia ikuti.”

Ling Ling mengangguk meskipun Ahsin tidak bisa melihatnya secara langsung.

Dia segera menampakkan diri di hadapan Awen, sementara orang-orang lain di restoran sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

Setelah itu, Ling Ling menggunakan sihirnya dan menaburkan sedikit bubuk penukar jiwa untuk membantu membangkitkan kesadaran Awen yang mulai menyatu dengan kesadaran Alu.

Perlahan, pikiran Awen mulai berubah. Dia seolah melihat kembali kenangan-kenangan cinta yang tersimpan di dalam dirinya. Potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan, perhatian, dan perasaan yang selama ini belum sepenuhnya dia pahami mulai bermunculan.

Awen terdiam. Dia mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Louhan bukanlah cinta yang sebenarnya.

Melihat perubahan itu, Ling Ling akhirnya merasa lega. Dia pun menghilang sebelum keberadaannya diketahui orang lain.

Pada saat yang sama, Afu baru saja keluar dari kamar mandi.

Awen menoleh ke arahnya. Begitu melihat Afu, dadanya terasa sesak. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.

Tanpa berkata apa-apa, Awen segera bangkit dan memeluk Afu erat-erat.

Afu terkejut menghadapi perubahan sikap Awen yang begitu mendadak. Dia tidak mengerti mengapa gadis itu tiba-tiba menangis sambil memeluknya.

Sementara itu, Louhan hanya bisa menatap mereka dengan wajah kebingungan.

Dia sama sekali tidak memahami apa yang baru saja terjadi, apalagi mengapa Awen yang sebelumnya bersikap biasa kepadanya kini justru berlari memeluk Afu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!