Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit hati
Tiyas baru saja sampai di Mushalla.Zain datang membawa satu stel baju berbahan rayon yang ia beli dari koperasi rumah sakit. Ia harap baju tersebut cukup di badan Tiyas.
"Ini baju untukmu. Bajumu kotor, tidak mungkin dipakai untuk shalat"
Tiyas menerimanya dan mengucapkan Terima kasih.
Zain pun kembali
Tiyas masuk kw toilet. Ia mengganti bajunya, berwudhu' lalu shalat. Setelah selesai shalat, ia pun berdo'a. Dalam setiap kata yang ia sebut, air matanya mengalir begitu saja. Ia meminta kesembuhan utuk sang bapak. Tiyas tidak dapat membayangkan bagaimana jika hal buruk terjadi kepada bapaknya.
Setelah selesai berdo'a. Ia melipat mukenah dan meletakkan kembali di tempat semula. Setelah itu, Tiyas duduk di teras Mushalla. Ia meraba kantong celana yang tadi dipakainya. Ada uang tiga puluh ribu. Uang tersebut adalah upahnya menjaga warung hari ini. Ia pun memasukkannya kembali.
"Nduk... "
Suara pak Jali mengejutkannya.
"Eh iya, pak?"
"Boleh bapak duduk?"
"Silahkan."
Pak Jali pun duduk di sampingnya.
"Nduk motor bapakmu sudah dibawa ke bengkel. Motornya rusak parah. Tapi tenang saja, Mas Zain pasti menanggung semua biayanya termasuk biaya rumah sakit ini."
"Memang sudah seharusnya begitu kan, pak? Karena dia sudah menabrak kami."
Pak Jali menghela nafas panjang.
"Iya nduk. Tapi sebenarnya bukan salahnya seutuhnya. Karena keadaan motormu juga mati lampunya."
"Tapi lampu mobilnya tidak mati kan? Berarti dia harusnya bisa melihat ada motor di depannya."
Pak Jali tidak ingin berdebat dengannya. Ia tahu saat ini Tiyas pasti sedang kalang kabut pikirannya. Jadi Pak Jali ikuti saja apa katanya. Pak Jali punya tugas dari Zain untuk menemani Tiyas agar Tiyas tidak kesepian. Melihat Tiyas, Pak Jali teringat kepada anaknya sendiri yang seumuran Tiyas. Namun anak Pak Jali laki-laki. Ketiga anaknya laki-laki. Pak Jali ingin sekali punya anak perempuan tapi belum rezekinya.
Sementara itu, di depan ruang ICU Zain menerima telpon dari ummi.
"Assalamu'alaikum... "
"Wa'alaikum salam, ummi."
"Bang, kamu sudah di hotel?"
"E... i-iya, ummi."
"Kok nggak meyakinkan jawabannya, bang?"
"Iya ummi, sudah di hotel kok."
"Ya sudah, jangan lupa makan malam ya. Besok jadi balik, kan?"
"Em... belum tahu, lihat besok saja ya."
"Ya sudah, pokoknya hati-hati. Jangan lupa besok kabari ummi ya."
"Iya, ummi."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Zain terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat umminya kepikiran.
Setelah menutup telponnya, ummi menemui abi di ruang kerja.
Ternyata abi sedang sibuk membaca laporan keuangan.
"Ummi ganggu, bi?"
"Tentu saja tidak. Ada apa, sayang?"
"Perasaan ummi kok nggak enak ya, bi."
"Nggak enak gimana?"
"Nggak tahu, pokoknya kayak ada sesuatu. Tapi ummi sudah telpon Zain dan Zean mereka baik-baik saja. Anak-anak yang lain juga baik-baik saja."
"Mungkin perasaan ummi saja. Apa ini kode untuk abi?"
"Kode apa, bi?"
"Biar abi nggak lama-lama di sini, ya kan? Ummi kangen kan?"
"Dih apaan sih, bi!"
Abi terkekeh.
Ummi pun pergi dari ruangan itu.
Keesokan harinya
Belum ada tanda-tanda dari dalam ruang ICU. Tiyas masih setia menunggu bapaknya di bangku depan ICU. sedangkan Pak Jali tidur di Mushalla dan Zain pulang sebentar ke hotel.
Jam 7 pagi, Zain kembali pergi ke rumah sakit. Ia sudah berjanji kepada pak Jali untuk bergantian menjaga. Dengan mata yang masih mengantuk, Zain terpaksa berangkat. Di tengah perjalanan ia mampir si warung nasi. Ia membeli tiga bungkus nasi untuknya, pak Jali dan Tiyas.
Tidak lama kemudian, Jali sampai di rumah sakit. Ia langsung naik lift menuju ruang ICU.
"Alhamdulillah akhirnya mas Zain datang juga. Saya sudah ditelpon istri soalnya."
"Makan dulu pak, ini saya belikan nasi tadi."
"Iya mas, terima kasih."
"Nduk, ini kamu juga makan."
"Nanti saja, pak."
"Eh ini sudah waktunya sarapan, jangan tunda-tunda!"
"Tapi.... huek huek.... "
Tiba-tiba saja Tiyas mual. Asam lambungnya naik. Biasanya bapaknya selalu mengingatkan agar dia tidak telat makan.
Zain agak panik melihatnya.
"Nduk kamu baik-baik saja?"
"Em sepertinya asam lambung saya kumat, pak."
"Ya Allah... makanya, ayo makan dulu. Jangan bandel! Nanti ayahmu sedih kalau tahu kamu sakit."
Akhirnya Tiyas patuh. Ia pergi ke depan kantin untuk makan di sana bersama Pak Jali dan Zain juga. Selama kegiatan makan, tiadak ada yang mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.
setelah selesai makan, Pak Jali pun pamit. Ia dijemput oleh anaknya di depan rumah sakit. Sebenarnya Zain sudah menyuruhnya untuk membawa mobilnya, namun Pak Jali menolak dengan alasan takut nanti mobilnya diperlukan.
Saat ini tinggal Tiyas dan Zain yang menunggu pak Zakir di rumah sakit. Mereka duduk di bangku biasanya. Tidak ada obrolan di antara keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tiba-tiba handphone Zain berdering.
"Ummi... " Lirihnya
Ia lupa untuk mengabari umminya. Ia pun segera beranjak dari bangku itu dan mengangkat telpon.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Gimana bang, jadi pulang hari ini?"
"Em... lihat nanti sore ya, ummi. Zain masih ada sedikit urusan soalnya."
"Tapi kamu baik-baik saja, kan?"
"Tentu saja, ummi."
"Ya sudah, hati-hati. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Zain kembali duduk di bangku. Ia melihat Tiyas sedang sibuk dengan handphone-nya. Kemudian Tiyas beranjak pergi tanpa pamit kepada Zain. Zain memakluminya.
Ternyata Tiyas sakit perut. Ia mau pergi ke toilet. Karena toilet di lantai tersebut penuh, akhirnya Ia turun ke lantai bawah karena sudah tidak kuat menahan.
Setelah beberapa saat kemudian, Tiyas keluar dari toilet, Ia ingin kembali ke atas. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang. Orang tersebut dari tadi malam ia hubungi tidak ada respon sama sekali.Terkejutnya Tiyas karena saat ini orang tersebut berjalan dengan seorang wanita yang tengah hamil muda. Mereka terlihat begitu romantis. Tiyas tidak bisa menahan diri. Sontak ia langsung menegurnya.
"Mas Ridho! "
Ridho terperangah melihat Tiyas di depannya.
"Mas, apa maksudmu ini? Dari semalam aku menghubungi kamu. Tapi kamu tidak ada jawaban. Dan ternyata sekarang kamu malah jalan sama wanita lain. Ini apa maksudnya, mas?""
Ridho tidak bisa menjawab, namun wanita di sampingnya yang menjawab.
"Hei kamu yang siapa? Mas Ridho ini suamiku. Kami sudah menikah satu bulan yang lalu."
Deg
Bagai dijatuhi runtuhan baru. Hati Tiyas terasa sangat sakit.
"I-ini tidak mungkin. Mas Ridho, kamu jangan diam saja!"
"Ck... wanita murahan! Dibilang tidak percaya. Sudah minggir dari hadapan kami! Kami sudah telat ini!"
Wanita itu mendorong tubuh Tiyas. Tiyas hampir saja terjatuh membentur tembok. Ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil berkata "tidak mungkin".
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe