Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Kebohongan Besar Dimulai
Tiga hari berlalu bagaikan mimpi buruk yang panjang.
Selama tiga hari itu, Aris tak pernah meninggalkan rumah sakit. Ia memastikan Cyla ditempatkan di kamar perawatan anak terbaik dengan suster pribadi yang menjaganya sepanjang waktu.
Sementara itu, Raya berjuang melewati masa kritis setelah menjalani operasi rumit untuk menghentikan pendarahan hebat di otaknya.
Pada hari keempat, di dalam kamar perawatan VIP yang tenang, mata Raya perlahan bergerak di balik kelopaknya.
Aris yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur sambil memegangi jemari halus Raya yang terpasang selang infus, langsung berdiri tegak. Jantungnya berdegup sangat kencang.
"Dokter! Dokter, dia sadar!" panggil Aris dengan suara parau yang menahan gejolak emosi.
Tim dokter segera masuk dan memeriksa kondisi vital Raya. Cahaya senter medis diarahkan ke pupil mata Raya yang perlahan menyesuaikan diri dengan pendar lampu ruangan.
Raya meringis pelan seraya memegangi kepalanya yang terbalut perban tebal. Wajahnya yang pucat memancarkan kebingungan mendalam. Pandangannya beredar perlahan ke sekeliling ruangan, menatap langit-langit putih, alat pemantau detak jantung, dan sosok Aris yang berdiri tegang di sampingnya.
"Nona Raya... Anda bisa mendengar suara saya?" tanya dokter lembut.
Raya mengedipkan matanya perlahan. Bibirnya yang kering terkuak, dan berusaha membentuk kata-kata dengan susah payah. "Di... di mana aku?"
"Anda berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan," jawab dokter pelan dan hati-hati. "Apakah Anda ingat nama Anda? Atau siapa diri Anda?"
Raya mengerutkan dahi, dan berusaha keras menggali ingatan dari dasar kepalanya. Namun, setiap kali ia mencoba mengingat, rasa sakit menusuk yang hebat langsung menghantam otaknya. Ingatannya benar-benar kosong, gelap, hampa, tanpa jejak masa lalu sedikit pun.
"Aku... aku tidak tahu," bisik Raya dengan air mata yang mulai menetes di pelipisnya. Ketakutan luar biasa mendadak mencengkeram jiwanya. "Aku... siapa aku? Kenapa aku tidak ingat apa-apa?!"
Napas Raya mulai memburu histeris. Ia panik saat menyadari dirinya tidak mengenali namanya sendiri, masa lalunya, ataupun satu pun wajah di dunia ini.
Dokter menatap Aris seraya mengalihkan pandangan dengan gelengan kepala halus, memberikan isyarat bahwa komplikasi yang dikhawatirkan benar-benar terjadi: retrograde amnesia total akibat trauma hebat pada otak.
Ruangan itu mendadak hening. Dokter dan perawat melangkah mundur untuk memberikan ruang.
Di dalam benak Aris, dua pilihan beradu dahsyat: mengungkapkan kebenaran bahwa dialah penyebab kematian suami Raya dan kehancuran hidupnya, atau mengarang kebohongan demi menutupi dosa sekaligus menjaga wanita itu tetap berada dalam jangkauannya.
Melihat mata Raya yang begitu rapuh, polos, dan membutuhkan pegangan, rasa bersalah yang kelam serta keegoisan mendorong Aris mengambil keputusan nekat.
Aris merapatkan pegangannya pada jemari Raya yang gemetar. Wajahnya dipaksa tampil tenang dan hangat untuk menyembunyikan badai penyesalan di dalam hatinya.
"Raya... Tenanglah. Kamu aman di sini," ucap Aris dengan nada lembut yang menenangkan.
"Kamu... siapa?" tanya Raya lirih, menatap pria asing berwajah tampan di sampingnya dengan ragu.
Aris menggenggam tangan Raya lebih erat, dan meyakinkan wanita yang ingatan masa lalunya telah tersapu bersih itu.
"Aku Aris, kekasihmu. Kamu mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah, tapi syukurlah kamu berhasil melewati masa kritis," terang Aris perlahan.
"Kekasih...ku?" Raya mengedipkan mata, dan mencoba mencari celah kebenaran dalam tatapan Aris.
"Iya, Raya. Kita sudah menjalin hubungan cukup lama," bohong Aris tanpa ragu demi mengunci rahasianya.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan. Seorang perawat masuk sambil menggendong Cyla yang sudah tampak rapi dan tenang. Begitu melihat balita mungil itu, naluri keibuan di dada Raya mendadak bergejolak hebat, meski logikanya tak bisa mengingat apa pun.
"Lalu... anak itu?" tanya Raya menunjuk Cyla dengan mata berkaca-kaca.
Aris tersenyum lembut. Ia mengambil Cyla dari perawat dan mendudukkannya perlahan di samping tempat tidur Raya. "Ini Cyla. Dia anak angkatku yang sangat kamu sayangi. Selama ini kita merawat dan membesarkannya bersama-sama."
"Mami..." gumam Cyla polos seraya mengulurkan tangan mungilnya, dan menyentuh pipi Raya.
Air mata Raya menetes makin deras. Tanpa ragu, ia merengkuh balita mungil itu ke dalam pelukannya, merasakan kehangatan dan rasa aman yang tak tertandingi.
Dalam ketidaktahuannya yang kelam, Raya mempercayai sepenuhnya setiap kata yang diucapkan oleh Aris, pria yang sebenarnya telah merenggut nyawa suaminya dan mengubur masa lalunya dalam-dalam.
"Maafkan aku... Maafkan aku karena telah membuat kebohongan besar ini," batin Aris.
Bersambung...