Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Part 14
Amanda masuk ke dalam ruang UGD, di mana Farel masih terbaring lemah tak berdaya di sana. Dalam kesunyian ruangan, Amanda menangis mengingat kenangan saat Farel di posisi yang sama, tak berdaya dan tak dapat berbuat apa-apa setelah makan makanan yang kurang higienis, yang mengakibatkannya harus dilarikan ke rumah sakit seperti sekarang.
Jujur saja, Amanda merasa paling bersalah saat ini karena tidak bisa menjaga pola makan Farel, sampai membuat lelaki itu kembali dilarikan ke rumah sakit. Karena dirinya yang terlalu cengeng, yang terlalu takut dihina dan direndahkan lagi, sampai membuatnya ragu memberikan sesuatu untuk kebaikan Farel juga.
"Aku minta maaf, Rel." Amanda menundukkan wajahnya, merasa sangat bersalah di samping tubuh Farel yang masih terbaring. Dengan berhati-hati, Amanda mendudukkan tubuhnya di bangku yang berada dekat ranjang, sembari terus menatap wajah temannya yang setia menutup mata.
"Amanda?" panggil seseorang yang sangat Amanda kenali suaranya.
"Cio? Alex?" Amanda bergumam lirih setelah melihat siapa yang sudah berada di ambang pintu UGD.
"Kalian kenapa ada di sini?" Amanda bertanya lemah dengan nada seraknya sembari menghapus air mata di pipinya.
"Aku kan masih temannya Farel, aku juga mau melihat keadaan dia." Alex menjawab lirih agar tidak menggangu istirahat Farel, sedangkan Amanda hanya mengangguk mengerti sembari tersenyum tipis. Namun ekspresi lain justru Cio tunjukkan, tepatnya saat melihat bagaimana Amanda menangis hanya karena seorang Farel, lelaki yang bahkan tidak pernah bersikap baik pada Amanda.
Kesal, tentu saja rasa itu begitu menggerogoti perasaannya, meski konyolnya rasa itu justru dibarengi dengan rasa sesak yang aneh. Cio sendiri bingung, kenapa dirinya begitu tak terima melihat Amanda kembali memperhatikan Farel. Mungkin karena ia tak ingin melihat Amanda kembali direndahkan, hanya itu, setidaknya cuma itu yang ingin Cio percaya untuk saat ini.
"Bagaimana keadaan Farel sekarang?" Alex bertanya setelah mendekat ke arah tubuh Farel yang masih berbaring dia atas ranjang UGD.
"Dia akan pulang setelah tubuhnya merasa baikkan, makanya dia tidak dipindahkan." Amanda menjawab seadanya sedangkan Alex hanya mengangguk mengerti.
"Kamu di sini sendirian? Di mana yang lain?"
"Mereka pergi, karena masih ada kelas. Jadi aku yang menjaga Farel untuk sementara waktu, sampai Vanessa datang."
"Vanessa akan datang?" Alex bertanya ragu yang langsung diangguki oleh Amanda.
"Iya, mereka sudah menghubungi Vanessa untuk menjaga Farel di sini." Amanda menjawab lesuh. Sebenarnya ia ingin terus berada di tempat itu, menjaga Farel sampai lelaki itu tersadar dan pulang ke rumah. Namun Amanda juga cukup sadar, bila dirinya hanya mantan teman yang tidak ingin Farel lihat keberadaannya, terlebih lagi membiarkannya untuk terus menjaganya.
"Bagus lah kalau begitu." Alex menjawab seadanya sembari mengangguk samar, sampai saat telinganya mendengar teleponnya berdering, membuatnya mau tidak mau harus mengambilnya dan melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Mama?" Alex bergumam pelan setelah tahu nama yang terterah di layar ponselnya.
"Hallo, Ma. Ada apa?" Amanda hanya menatap sekilas ke arah Alex yang tengah sibuk dengan ponselnya, lalu tatapannya teralih kembali ke arah Farel yang masih belum sadarkan diri. Dengan perlahan, Amanda menyentuh tangan Farel yang dingin, seolah ingin mencoba untuk memberinya kekuatan dan kepercayaan bila semua akan baik-baik saja.
"Kamu pasti akan baik-baik saja kan, Rel?" Amanda bertanya di dalam hati sembari membelaikan tangan Farel pada pipinya, dan semua itu dilihat oleh Cio yang kian muak dengan pemandangan yang tidak disukainya itu. Dengan perasaan geram, Cio melangkahkan kakinya ke arah Amanda lalu menampik tangan Farel yang berada di pipi Amanda, membuat gadis itu terkejut dengan apa yang baru Cio lakukan.
"Cio, kamu apa-apaan sih?"
"Tidak usah menyentuhnya! Toh, dia juga tidak ingin disentuh olehmu kan?" Cio menjawab dingin, yang justru tak membuat Amanda mengerti dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.
"Maksud kamu apa sih?" Amanda bertanya kesal, merasa heran dengan sikap Cio yang selu aneh. Namun Cio justru terdiam tanpa mau menjawab, merasa heran juga dengan dirinya yang begitu tak terima padahal ia tahu sendiri bagaimana Farel terbaring tak berdaya di sana, seharusnya ia bisa mengerti tapi kenapa tidak bisa.
"Maaf," jawabnya lemah.
"Iya, Ma. Aku akan pulang cepat." Alex mematikan sambungan teleponnya lalu berjalan ke arah Amanda dan Cio yang entah sedang membicarakan apa.
"Ada apa ini?" Alex bertanya khawatir terlebih lagi saat melihat Cio yang memperlihatkan kediamannya yang tidak seperti biasanya itu, membuat Alex merasa ada yang aneh di antara mereka.
"Tidak ada." Cio menjawab lirih, membuat Alex kian yakin ada yang salah, namun ia juga tidak mungkin terus berada di sana karena mamanya menyuruhnya untuk segera pulang.
"Aku disuruh pulang, kalian tetap di sini untuk menjaga Farel ya?" Alex berpamitan yang hanya diangguki samar oleh Amanda.
"Aku ikut denganmu." Tiba-tiba Cio menyahut dengan mengucapkan kalimat itu, yang langsung ditanggapi gelengan kepala oleh Alex.
"Tidak, kamu di saja, temani Amanda." Alex menahan Cio dengan tangannya agar lelaki itu tak ikut beranjak.
"Tapi kan aku ...."
"Kasihan Amanda kalau kamu tinggal, setidaknya kamu temani dia sampai Vanessa datang ya?"
"Eh ... iya." Cio menjawab terpaksa, merasa canggung sebenarnya bila harus bersama dengan Amanda yang sepertinya masih marah dengannya, sedangkan ia sendiri juga tidak bisa melihat Amanda terus memberikan perhatiannya pada Farel.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Alex melenggangkan kakinya setelah Amanda dan Cio mengangguk akan pamitannya. Setelah Alex pergi, Cio justru tak banyak bicara, begitupun dengan Amanda yang masih berada di tempat yang sama. Yang gadis itu lakukan hanya terdiam dengan sesekali menggosok-gosok kedua tangannya satu sama lain.
"Aku minta maaf," ujar Cio memecah keheningan di antara mereka.
"Aku cuma tidak mau melihat kamu memberikan perhatian pada orang yang bahkan terus merendahkanmu. Aku ... cuma tidak bisa melihatmu menangis hanya karena satu orang yang bahkan tidak mengerti perasaanmu sama sekali." Cio melanjutkan ucapannya dengan nada bersalahnya.