NovelToon NovelToon
Sang Pemain

Sang Pemain

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: SelToon

Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 Farrel - Sahabat Dr Jakarta Yg Datang Ke Tuminting & Tdk Kuat Bau Ikan

Farrel sekarang umur 25 tahun juga. Main di Persija Tangerang. Gaji Rp 40 juta. Tidak sebagus Bima yang sampai ke Glasgow , tapi lumayan. Punya mobil Honda Brio , punya apartemen di Bintaro.

Libur Liga 1 , Farrel dm Bima di Instagram

"Bro , gue bosen liburan ke Bali. Boleh gak gue ke tempat lu ? Tuminting. Mau lihat perahu Sinar Bima yang viral itu."

Bima menjawab "Boleh. Tapi jangan kaget."

Farrel naik pesawat Garuda Jakarta - Manado Business Class. Bima jemput pakai Avanza rental. Bukan Alphard.

Perjalanan Manado - Tuminting butuh waktu sekitar 30 menit. Farrel pakai kacamata hitam , parfum Dior Sauvage dan baju distro mahal.

Begitu masuk ke Tuminting , Farrel langsung tutup hidung.

"Bro , bau ikan menyengat banget ya ?"

Bima tertawa. "Itu bukan bau ikan , Rel. Itu bau hidup."

Rumah Bima sekarang tingkat 2 , bagus. Tapi di belakang rumah masih ada rumah panggung lama Bapak yang tidak dirobohkan. Kayunya lapuk dan atapnya bocor.

Farrel melihat dan berkata jujur "Bro , jujur ya , gue gak kuat tidur di sini kalau AC gak ada."

Bima kasih kamar atas yang ada AC. Farrel lega.

Sorenya , Bima ajak Farrel ke Tikala. Ketemu Yudi dan 12 anak - anak yang sedang bermain disana.

Farrel melihat lapangan lumpur. Kaget.

"Bro , lu dulu latihan di sini ? Gak ada rumput sintetis ? Gak ada cone ?"

Yudi menjawab "Conenya batu , Rel."

Farrel coba berlari satu putaran. Baru setengah putaran , sendalnya putus. Kaki kena lumpur , licin , lalu jatuh. Celana mahalnya terkena lumpur.

Farrel mengomel "Anjir , gimana lu bisa jadi pemain timnas latihan di lumpur begini , Bim ?"

Bima diam. Ambil celananya Farrel dan bersihin celananya pakai air sumur.

Malam harinya. Bima janji ajak Farrel melaut melihat bagang. Farrel terlihat excited.

"Wah , night fishing ? Kayak di YouTube ya ?"

Mereka berdua naik perahu kecil punya Paman Stenly. Mesin 15 PK. Ombak Tuminting malam itu tidak besar , tapi perahu kecil bergoyang terus.

Baru 20 menit di tengah laut , lampu bagang menyala , cumi - cumi datang.

Farrel mulai pucat. Bau solar campur bau ikan campur ombak bergoyang.

"Bro , gue mual."

Bima berkata "Tahan. Nelayan tidak boleh mual."

Farrel muntah. Sekali , 2 kali , 5 kali. Sampai semua makanan Bintaro yang dia makan siang tadi keluar.

Paman Stenly tertawa "Anak Jakarta!"

Farrel malu. Mau pulang.

Bima peluk Farrel di atas perahu yang bergoyang itu. Bima berkata pelan.

"Rel , dulu aku juga muntah waktu pertama kali melaut di umur 9 tahun. Bapakku bilang : Kalau muntah , berarti laut tidak terima kau. Harus melaut lagi besok. Sampai tidak muntah."

"Jadi aku harus melaut lagi besok ?" tanya Farrel lemas.

"Tidak. Kau tidak perlu jadi nelayan. Kau cuma perlu tahu rasanya. Supaya kau tahu kenapa aku tendang bola begitu keras. Karena kalau tidak keras , saya balik jadi begini. Muntah di atas perahu setiap malam."

Jam 2 pagi , mereka balik ke darat. Farrel masih pucat.

Di rumah , Ibu sudah masak tinutuan panas pakai kayu bakar. Bukan kompor gas. Asapnya masuk ke dalam rumah.

Farrel yang awalnya tidak mau makan. "Gue diet , Tante."

Tapi karena lapar habis muntah 5 kali , dia akhirnya makan. 1 suap , 2 suap.

"Anjir , enak banget Tante. Ini apa ?"

Ibu menjawab "Tinutuan. Bubur Manado. Dulu Bima makan ini tiap pagi sebelum lari di Tikala."

Farrel makan 2 piring.

Pada jam 5 pagi , Farrel kebangun bukan karena alarm iPhone , tapi karena suara Yudi teriak di lapangan "LARI!"

Farrel melihat dari jendela tingkat 2. 12 anak melakukan lari pagi. Ronald yang pakai sepatu kebesaran no 40 berada di depan.

Farrel turun. Tidak pakai sepatu mahal. Pakai kaki ayam. Ikut lari.

Satu putaran , dia ngos - ngosan. Ronald umur 10 tahun ketawain dia "Kakak Jakarta capek!"

Farrel terjatuh lagi di lumpur. Tapi kali ini tidak mengomel. Dia tertawa.

Setelah lari , Farrel duduk sama Yudi.

"Yud , gue di Bintaro latihan pakai GPS vest , pakai data. Di sini lu latih pakai teriakan doang. Tapi anak - anak ini larinya lebih kencang daripada anak Elite Pro Academy di Jakarta."

Yudi menjawab , sambil menghisap rokok kretek "Karena mereka lari bukan untuk data. Mereka lari untuk tidak jadi aku. Tukang ojek."

Farrel terdiam lama.

Siang hari , sebelum balik ke Manado untuk pesawat balik ke Jakarta , Farrel membuka kopernya. Dia keluarin 2 jersey Persija baru , masih ada tag harga. Dan satu sepatu Nike Mercurial Vapor ukuran 38 , masih baru.

Dia kasih ke Ronald dan Aldo.

"Buat kalian. Jangan jadi seperti gue yang manja. Jadi seperti Bima."

Ronald pakai sepatu ukuran 38 , kekecilan. Aldo pakai jersey kebesaran.

Farrel foto mereka pakai iPhone 16 Pro Max , dan upload di Instagram Story

"Di sini gue belajar : Sepakbola tidak butuh rumput sintetis. Butuh lumpur dan muntah 5 kali di laut. Respect Tuminting."

Di pesawat balik Jakarta Business Class , Farrel tidak tidur. Dia tulis di notes hpnya.

"Gue pikir Bima hebat karena dia keluar dari Tuminting. Ternyata Bima hebat karena dia bawa Tuminting kemana - mana. Di Glasgow dia tetap bau ikan."

Dia screenshot , kirim ke Bima.

Bima balas dari Tuminting , sambil makan tinutuan

"Jangan lupa bau ikannya , Rel. Kalau hilang baunya , hilang golnya."

#####################################

Cukup sampai disini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya

Happy reading

1
fabdul
lanjut thor
fabdul
Sinta melihat kearah Nadia dengan tatapan bingung. "Om Bima, Tante ini siapa? itu enak dibaca nya thor 🥰
Jesselyn Runtuwene: Ok , nanti direvisi
total 1 replies
fabdul
cerita mu seru thor cuman penulisan kurang menarik dan bikin pusing bacanya. tolong perbaiki ya thor ini cuman saran kalo pun tidak diperbaiki tidak apa-apa 🤗
Jesselyn Runtuwene: Oke , nanti dibaca ulang dan direvisi
total 3 replies
fabdul
Thor penulisannya lebih enak jika. Nadia, kamu masih ingat saya? jadi enak bacanya nggak ada spasi pas tanda koma di belakang nama Nadia dan kata Saya
Jesselyn Runtuwene: Ok siap nanti direvisi
total 1 replies
fabdul
thor masukan sedikit ya. aku ga enak bacanya karena kebanyakan koma 🙏
Jesselyn Runtuwene: Bab 3 dan 4 sudah direvisi juga
total 3 replies
fabdul
lanjut
fabdul
😭😭
fabdul
bab masih sudah banyak ya thor, ketinggalan jauh
fabdul
semangat nulis nya
Jesselyn Runtuwene: Siap , makasih kak
total 1 replies
fabdul
thor novel mu ini sudah di kontrak?
fabdul: iya thor
total 2 replies
fabdul
wah semangat Bima
fabdul
lanjut thor
fabdul
lanjut
fabdul
lanjut thor
fabdul
lanjut
fabdul
lanjut thor
fabdul
oh iya kah thor? berarti aku yang naik kapal laut ga diterima sama laut karena sering muntah dalam perjalanan 😭
fabdul: hahahaha 😭
total 2 replies
fabdul
maklum anak Kota baru turun gunung 😭
fabdul
😆
fabdul
setuju
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!