Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 29
Kepindahan Stela ke rumah mewah Aidil menjadi mimpi buruk yang sempurna bagi Khaisar dan Amora. Hari pertama wanita itu menginjakkan kaki membawa beberapa koper mahal, atmosfer rumah langsung berubah mencekam. Bukannya mendapatkan kembali kehangatan pelukan Bunda Ziva, kedua anak itu justru dipaksa menyaksikan kenyataan pahit. Wanita yang dulu membuang mereka kini bertahta sebagai penguasa baru di rumah itu.
Di meja makan malam itu, keheningan terasa begitu menyiksa. Stela duduk di kursi utama yang dulu selalu ditempati oleh Zivana, mengenakan gaun sutra mewahnya seraya menuangkan sup ke mangkuk Aidil dengan gestur yang dibuat-buat manis.
"Ayo makan, Sayang," ujar Stela manja, mengabaikan raut wajah Aidil yang layu dan tak bermaya. Stela kemudian melirik ke arah Khaisar dan Amora yang hanya menunduk memainkan sendok.
"Khaisar, Amora, makan supnya. Mama sengaja suruh bibi buatkan sup kesukaan kalian. Mulai sekarang, Mama akan kembali ke rumah dan kita akan berkumpul kembali menjadi kelaurga yang sangat bahagia... Tak ada orang lain di rumah ini. Hanya ada keluarga kecil kita. Papa, Mama, Khaisar, Amora dan juga calon adik bayi kalian yang ada di dalam perut Mama ini..." Stela berusaha kembali merebut perhatian dari kedua anaknya kembali. Setelah tiga tahun dia tega meninggalkan mereka demi karir yang nyatanya juga tak pernah nyata.
PRANG!
Khaisar menghentikan sendoknya kasar ke atas piring porselen. Bocah delapan tahun itu mendongak, menatap Stela dengan sorot mata yang sarat akan kebencian dan kekecewaan mendalam.
"Aku tak sudi!" suara Khaisar bergetar, namun memotong tegas keheningan ruangan.
"Kamu bukan Mama kami! Mama kami cuma Bunda Ziva!"
Amora, yang baru berusia enam tahun, ikut menatap Stela dengan mata sembab. Tangannya meremas serbet di pangkuan.
"Papa jahat..." bisik Amora polos namun tajam, air matanya mulai menetes.
"Katanya Papa mau bawa Bunda pulang... Kenapa malah bawa Tante ini? Kenapa bukan Bunda Ziva?"
Aidil memejamkan mata erat-erat. Dadanya terasa seperti dihantam godam berat. Penyesalan yang datang bertubi-tubi membuat napasnya sesak. Bukan hanya kedua anaknya yang ingin Zivana kembali. Dia juga ingin Zivana kembali, cintanya datang terlambat. Di saat Zivana pergi. Tapi dia juga tak bisa melakukan hal itu. Apalagi ada bayi di dalam perut Stela. Anak yang hadir karena kesalahannya.
"Amora, Khaisar... dengar Papa dulu, Nak..."
"Tidak ada yang perlu didengar lagi dari Papa!" potong Khaisar seraya berdiri dari kursinya. Ia meraih tangan adiknya dengan cepat, menarik Amora bangkit.
"Papa pembohong! Papa yang mengusir Bunda Ziva hanya demi perempuan yang dulu buang kita! Papa tidak ingat betapa kita dulu menangis dan bahkan aku dan Amora tak terurus. Sampai BUnda Ziva datang dan mengurus kami dengan sangat penuh cinta. Apa papa lupa bagaimana saat ada wanita ini di rumah sat itu juga dia tak pernah mengurus kami. Dia selalu meninggalkan kita, dia lebih mentingin dirinya sendiri. Aku benci Papa! Aku benci rumah ini!"
"Khaisar! Jaga bicaramu pada Papamu!" bentak Stela, mengebrak meja makan dengan wajah memerah.
"Perempuan miskin itu sudah pergi membuang kalian! Kenapa kalian masih membela Zivana yang cuma numpang hidup di sini?! Aku ibu kandungmu, Khaisar! Kenapa kamu bicara seperti itu tentang aku? Kamu benar-benar sudah di cuci otak oleh wanita itu!"
"ZIVANA BUKAN NUMPANG HIDUP!" bentak Aidil tiba-tiba meluapkan amarahnya pada Stela. Pria itu berdiri, menatap Stela dengan mata merah membara.
"Jangan pernah berani merendahkan Zivana di depan anak-anakku! Dan jangan pernah membentak ankku, Stela! Kamu tidak ada apa-apanya dibanding dia!"
Stela tersentak, lalu bersedekap dengan senyum kejam. "Terserah apa katamu, Aidil. Tapi fakta hukumnya, dalam dua minggu Zivana resmi jadi mantan istrimu, dan aku adalah calon istrimu yang sah. Suka atau tidak, aku ibu kandung mereka!"
Khaisar meludah kecil ke lantai di samping meja makan, tindakan refleks dari luapan sakit hati yang teramat sangat.
"Ibu kandung yang cuma ingat kita saat butuh uang Papa," bisik Khaisar dingin, melontarkan kalimat yang begitu dewasa dan mematikan untuk anak seusianya.
"Bunda Ziva yang obati luka kami saat sakit, Bunda Ziva yang mengajari kami baca tulis, dan Bunda Ziva yang selalu ada saat kami diputus harapan. Kamu cuma orang asing yang merusak segalanya."
Khaisar menarik Amora berjalan cepat meninggalkan area meja makan. Di tangga menuju lantai atas, Khaisar menoleh sekilas pada Aidil yang berdiri kaku tak berdaya.
"Kami mendoakan Bunda bahagia di luar sana," ucap Khaisar pelan namun jelas.
"Dan kami berharap Papa menyesal karena lebih memilih wanita ini!"
BLAM!
Pintu kamar di lantai atas dibanting keras, disusul suara kunci yang diputar dari dalam.
Keheningan kembali melingkupi rumah itu. Stela hanya mendengus sinis seraya kembali menikmati supnya, sementara Aidil jatuh terduduk di kursi, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan meraung tanpa suara. Di rumah yang begitu megah itu, ia tak ubahnya sesosok mayat hidup yang dikurung dalam neraka ciptaannya sendiri, kehilangan Zivana, dibenci anak kandung, dan terkunci bersama wanita yang menjadi awal kehancurannya.
Stela membanting sendoknya ke atas meja porselen. Bunyi benturan nyaring itu memecah keheningan meja makan yang mencekam. Wajahnya yang memerah dipenuhi kejengkelan tak tertahankan.
"Kurang ajar sekali anak itu!" geram Stela seraya bersedekap, dadanya naik-turun menahan emosi. "Kamu lihat sendiri kan, Aidil?! Anak-anakmu itu benar-benar sudah tidak punya sopan santun! Si Zivana itu pasti sudah meracuni pikiran mereka bertahun-tahun sampai mereka berani meludahi lantai di depanku!"
Aidil yang masih perlahan mengangkat wajahnya dari balik kedua telapak tangannya. Matanya merah, sembab, dan memancarkan tatapan kosong yang teramat dingin.
"Cukup, Stela..." bisik Aidil parau.
"Tidak bisa cukup!" jerit Stela memotong tajam. Ia bangkit dari kursi, melangkah mengitari meja makan dengan tumit sepatu mewahnya yang menetak keras ke marmer.
"Aku ini ibu kandung mereka, Aidil! Aku yang mempertaruhkan nyawa melahirkan Khaisar dan Amora! Tapi apa yang kudapatkan? Mereka malah menyembah wanita asing miskin yang cuma menumpang di rumah ini! Zivana itu sengaja membikin anak-anak benci padaku supaya dia kelihatan seperti pahlawan!"
Brak!
Aidil menggebrak meja makan dengan sisa tenaganya, berdiri membusungkan dada di hadapan Stela.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣