Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 MEMAAFKAN, LANGKAH TERAKHIR
Hari-hari berlalu dengan lebih ringan bagi Laras, namanya tidak lagi dibisikkan dengan nada meremehkan. Justru, banyak siswa yang kini menyapanya saat berpapasan, meminta izin membacakan esainya, atau sekadar berterima kasih karena ceritanya membuat mereka merasa tidak sendirian dengan masalah keluarga masing-masing.
Namun satu hal yang masih berat di hati Laras, ia belum pernah membalas surat ayahnya. Setiap kali surat baru datang, ia membacanya berulang kali, menyimpannya di bawah bantalnya, namun kertas balasan tetap kosong di atas meja belajarnya. Rasa rindu bercampur amarah menciptakan dinding yang sulit ditembus.
Suatu sore saat hujan turun deras, Laras duduk sendirian di beranda depan, menatap tetesan air yang jatuh dari atap. Keira datang membawa dua cangkir teh hangat, lalu duduk di sebelahnya tanpa banyak tanya.
"Aku rindu padanya, Leya. Setiap hari rindu" Ucap Laras tiba-tiba, suaranya pelan namun jelas.
"Tapi setiap kali aku membayangkan wajahnya, aku juga teringat rumah yang dijual, tetangga yang berpaling, dan tatapan orang-orang yang menghakimiku. Aku bingung, bagaimana bisa seseorang yang kucintai juga menjadi sumber rasa sakit terbesarku ?" Tambah Laras
Keira menatap hujan di depan mereka.
"Karena cinta dan sakit sering berjalan beriringan, Laras. Memaafkan bukan berarti kamu bilang apa yang dilakukannya tidak apa-apa. Memaafkan berarti kamu berkata dalam hati, apa yang kamu lakukan menyakitiku, tapi aku tidak akan membiarkan rasa sakit itu menghancurkan masa depanku" Jawab Keira
Laras terdiam lama …
"Bagaimana cara memulainya ? Aku tidak tahu harus menulis apa" Tanya Laras bingung
"Tulis saja apa yang ada di hatimu, jangan dibuat indah, jujur saja" Jawab Keira lembut.
Malam itu, dengan lampu meja yang remang Laras akhirnya mengambil pulpen dan kertas. Ia menulis apa adanya, tanpa menyembunyikan apa pun.
Yah, hari ini aku belajar sesuatu yang berat. Aku rindu padamu setiap hari, tapi aku juga marah. Aku marah karena keputusanmu mengubah seluruh hidup kami, aku malu saat orang berbicara buruk tentangmu. Tapi aku juga sedih, karena kita tidak bisa makan bersama di meja makan seperti dulu. Aku belum sepenuhnya mengerti atau menerima semuanya, tapi aku ingin mencoba memaafkanmu. Bukan karena aku ingin melupakan apa yang terjadi, tapi karena aku ingin bebanku lebih ringan untuk dibawa ke masa depan. Semoga Ayah juga berusaha menjadi lebih baik di sana, aku akan berusaha menjadi orang baik di sini. Seperti yang selalu Ayah minta, jaga diri ayah baik-baik ya.
Saat ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop, dadanya terasa seolah terangkat satu batu besar yang selama ini menindihnya. Ia menangis, tapi bukan tangisan yang menyakitkan tapi tangisan yang melepaskan.
*****
Beberapa minggu kemudian, surat balasan datang. Tulisan tangan ayahnya terlihat agak gemetar namun rapi.
Nak, membaca suratmu membuatku menangis seperti anak kecil. Terima kasih belum menyerah padaku, terima kasih masih menganggapku ayahmu meski aku tidak layak. Maafkan Ayah ya, ayah akan berusaha memperbaiki diri. Kamu adalah alasan terbesar ayah ingin menjadi orang yang lebih baik, belajarlah yang rajin, bahagialah. Itu saja permintaan ayah, ayah rindu sekali padamu.
Laras menyandarkan kepalanya ke dinding kamar, tersenyum sambil memeluk surat itu erat. Ia tidak bisa mengubah masa lalu dan dia juga tidak bisa mengembalikan rumah seperti dulu tapi ia punya masa depan yang masih utuh di tangannya dan itu sudah cukup untuk memulai kembali.
Saat akhir pekan tiba, Laras mengajak teman-temannya duduk bersama di taman. Ia menunjukkan surat itu kepada mereka, matanya bersinar lebih terang dari biasanya.
"Aku pikir memaafkan itu berarti melupakan semuanya" Ucap Laras pelan namun yakin.
"Ternyata tidak, memaafkan berarti aku menerima apa yang terjadi, lalu memilih untuk tidak lagi membiarkan hal itu menentukan siapa aku di masa depan" Lanjut Laras
Zain tersenyum bangga.
"Benar sekali, Laras. Kamu baru saja melakukan hal yang jauh lebih dewasa daripada kebanyakan orang dewasa di luar sana, dan Tuhan akan selalu memberkatimu" Jawab Zain
Keira merangkul bahu temannya itu.
"Dan ingat, kamu tidak melakukannya sendirian karena kami ada di sini, selalu." Ucap Keira
Matahari sore menyinari mereka berenam yang duduk melingkar di rumput hijau, tidak ada yang sempurna di antara mereka. Semua punya luka, semua punya ketakutan. Tapi di tempat ini, mereka belajar satu hal berharga bahwa dengan saling mendukung, luka pun bisa berubah menjadi kekuatan yang indah.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...