Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19: Tuntutan Selena
____🌺
"Karena aku butuh kamu berhenti membuat keributan di rumah ini setiap kali Mas Adrian ingin menemuiku!"
Suara Selena mulai meninggi. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menunjukkan bahwa kedatangannya bukan sekadar untuk berbasa-basi.
"Kamu memojokkannya semalam. Kamu mengancamnya dengan perceraian. Aku tidak mau Mas Adrian stres karena tekanan dari mu. Kehamilanku membutuhkan perhatiannya. Aku minta kamu mengerti posisiku. Seorang wanita yang sedang hamil."
Nayara mengembuskan napas kasar. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan di hadapannya.
"Kamu memintaku mengerti posisimu?"
Nayara tertawa hambar. "Hahaha ..."
"Kamu tidur dengan suamiku, kamu hamil anaknya di luar nikah, dan sekarang kamu menuntut agar aku tidak protes saat dia membagi waktunya denganmu, dasar wanita murahan!"
"Aku tidak bermaksud merebut suamimu seutuhnya dari rumah ini, Nayara! Dan aku juga bukan wanita murahan," sanggah Selena cepat.
"Kamu masih bisa mempertahankan statusmu sebagai istri sah, di mata hukum dan keluarganya. Aku tidak akan mengganggu posisimu itu. Tapi anak ini punya hak atas waktu ayahnya. Aku butuh dia menemaniku ke dokter kandungan, membantuku mempersiapkan persalinan, dan hadir saat bayinya lahir. Aku cuma minta membagi waktu dengan adil."
"Adil?"
Nayara mengulang kata itu dengan tatapan meremehkan.
"Kamu merusak rumah tangga orang lain, lalu sekarang bicara soal keadilan?"
"Mas Adrian sendiri yang menjanjikan tanggung jawab itu kepadaku! Dia pria yang bertanggung jawab!"
"Pria yang bertanggung jawab tidak akan mengkhianati istrinya, Selena!"
Ucapan Nayara menggema di ruang tamu, memotong kalimat Selena dengan tajam.
"Jangan menggunakan kata tanggung jawab untuk membenarkan perbuatan kotor kalian! Kalau dia memang pria yang bertanggung jawab, dia tidak akan menyembunyikan Kam seperti barang selundupan, selama enam bulan!"
Selena mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Wajahnya mulai memerah karena marah.
"Aku bukan barang selundupan! Mas Adrian mencintaiku! Dia yang datang mengetuk pintu apartemenku saat dia muak dengan sikapmu di rumah ini!"
"Kalau dia memang sebegitu muak nya denganku, lalu kenapa tadi malam dia menghalangiku saat aku mengemasi koper?"
Nayara melontarkan pertanyaan itu dengan cepat.
Tatapannya mengunci mata Selena yang mendadak berkedip kaget.
"Apa maksudmu?" tanya Selena. Suaranya terdengar sedikit goyah.
Nayara tersenyum sinis.
"Ah, dia tidak menceritakan bagian itu kepadamu semalam?"
Selena terdiam.
"Dia pasti mengarang cerita bahwa aku menangis memohon agar tidak diceraikan, kan? Ternyata, selain membohongiku, pria itu juga membohongimu."
"Jangan mengarang cerita, Nayara. Mas Adrian tidak mungkin melakukan itu."
Selena berusaha mempertahankan keyakinannya. Namun, kepanikan yang melintas di matanya tidak luput dari perhatian Nayara.
"Aku yang meminta cerai semalam, Selena. Aku yang mengemasi barang-barangku untuk pergi."
Nayara menekankan setiap katanya, memastikan perempuan itu memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Tapi suamiku menghalangi pintu. Dia melarangku pergi. Dia bilang dia tidak akan melepaskan ku hanya karena kesalahan ini."
Nayara berhenti sejenak, lalu menatap Selena dengan dingin.
"Jadi, jangan bersikap seolah-olah kamu adalah pihak yang akan menang di sini."
Selena langsung berdiri dari sofa. Ketenangan dan keanggunan yang ditampilkannya sejak awal seolah runtuh dalam sekejap.
Napasnya memburu, menahan emosi yang mulai meluap.
"Kamu pikir kamu hebat hanya karena punya selembar buku nikah?"
Selena mendesis tajam.
"Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari pernikahan kalian? Kamu sudah dua tahun bersamanya, tapi kamu tidak bisa memberikannya anak!"
Kata-kata itu menghantam Nayara, menghujam jantungnya.
Namun, ia menolak menunjukkan rasa sakitnya. Ia tetap berdiri tegak, membalas tatapan Selena dengan sorot mata yang jauh lebih dingin.
"Setidaknya, aku tidak perlu menjebak pria beristri. Merusak rumah tangga orang, dengan sebuah kehamilan hanya untuk mendapatkan perhatiannya," kata Nayara dengan nada merendahkan harga diri wanita yang ada di hadapannya.
"Aku tidak menjebaknya!" teriak Selena.
"Kamu tahu apa yang benar-benar menyedihkan dari kedatanganmu pagi ini, Selena?"
Nayara melangkah satu tindak mendekati perempuan itu.
"Kamu mengenakan pakaian mahal, datang ke rumah istri sah kekasihmu, hanya untuk mengemis waktu darinya."
Wajah Selena menegang.
"Kamu menuntut waktu suamiku dariku karena pria itu terlalu pengecut untuk memilihmu secara terang-terangan. Pria itu menyembunyikan mu, dan sekarang kamu harus memohon kepadaku agar dia bisa menemui mu dengan tenang.”
Wajah Selena memerah padam. Tangannya gemetar mendengar kenyataan yang di tampar langsung ke hadapannya.
Harga dirinya terasa terkoyak oleh ucapan Nayara yang begitu tenang, tetapi mematikan.
"Kamu jangan sombong, Nayara!" ancam Selena dengan suara bergetar.
"Mas Adrian mungkin masih mempertahankan kamu sekarang karena reputasinya. Tapi sampai kapan kamu mau bertahan dalam pernikahan yang suaminya sendiri tidak menginginkanmu lagi?"
"Aku tidak pernah berniat bertahan, Selena." balasnya tanpa ragu.
Nayara menjawab tanpa ragu.
"Kamu boleh mengambil pria pengecut itu dariku. Silakan ambil suami pengkhianatan itu. Tapi jangan pernah datang lagi ke rumah ini dan memaksaku masuk ke dalam perbuatan kotor kalian.”
Nayara menunjuk ke arah pintu depan.
"Keluar dari rumahku sekarang," usir Nayara.
Selena tidak bergerak.
Dadanya naik turun. Ia menatap Nayara dengan kebencian mendalam, merasa dipermalukan.
Ia datang dengan niat menunjukkan bahwa ia sebagai perempuan yang mengandung anak Adrian. Dalam bayangannya, Nayara seharusnya sudah hancur, menangis, atau memohon agar suaminya tidak meninggalkannya.
Namun, kenyataan yang dihadapinya jauh berbeda.
Nayara tidak menangis di hadapannya. Tidak pula memohon agar Selena menjauh dari Adrian.
Sebaliknya, perempuan itu justru mengusirnya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Merasa semakin tersudut, Selena segera merogoh tas tangannya dengan gerakan cepat dan kasar. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih berlogo rumah sakit swasta ternama.
Dengan wajah penuh ambisi dan dendam, Selena melemparkan amplop itu hingga jatuh tepat di atas meja kaca di antara mereka.
Amplop tersebut sedikit terbuka, memperlihatkan ujung kertas hasil pemeriksaan ultrasonografi dan selembar surat keterangan medis.
Nayara meliriknya sekilas, kemudian kembali menatap Selena tanpa ekspresi.
Selena menarik sudut bibirnya, membentuk senyum merendahkan. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, seolah baru saja mengeluarkan senjata terakhir yang paling mematikan.
"Kamu mungkin bisa mengusirku dari rumah ini, Nayara. Kamu bisa merasa menang hari ini." ucap Selena.
Nada suaranya perlahan berubah, terdengar lebih dingin dan penuh tekanan.
"Tapi keluarga besar Mahendra sangat memuja garis keturunan. Ibu mertuamu akan segera mengetahui hal ini. Dan ketika saat itu tiba, selembar buku nikahmu tidak akan ada artinya lagi." ancamnya dengan suara penuh kemenangan.
Selena menyentuh amplop putih di atas meja dengan ujung kukunya yang berwarna merah terang.
Ia kemudian meletakkan hasil pemeriksaan kehamilan itu di atas meja dan berkata,
"Aku akan melahirkan pewaris keluarga Mahendra."
emang lu doang yang bisa 🤣🤣