Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sore hari itu, ketika Lin Xuan sedang berlatih mengayunkan pedang di tepi tebing Puncak Kesembilan, seorang murid luar berlari tergesa-gesa menyeberangi jembatan rantai besi dan berhenti tepat di luar garis batas pedang yang dibuat Lin Xuan.
"Kakak Senior Lin Xuan! Gawat!" seru murid itu dengan napas terengah-engah. "Sahabatmu, Pang Dahai, dicegat oleh Zhao Hu dan kelompok Puncak Ketiga saat kembali dari Pasar Pertukaran! Saat ini Pang Dahai digantung di tiang Panggung Hidup-Mati Sekte Luar, dan Zhao Hu mengancam akan mematahkan seluruh meridiannya jika kau tidak datang menerima tantangan duel hidup-mati sebelum matahari terbenam!"
Gerakan Pedang Abu Hitam di tangan Lin Xuan berhenti seketika.
Udara di sekitar tebing Puncak Kesembilan langsung membeku, membuat rumput liar di bawah kaki Lin Xuan tertutup lapisan embun abu-abu yang mematikan.
"Zhao Hu... Tetua Zhao Wuji... Diakon Lin Cang," desis Lin Xuan dengan suara sedingin angin dari neraka kesembilan. "Tampaknya memotong satu tangan Wang Lie kemarin belum cukup untuk membuat kalian mengerti arti kematian."
Wussshhh!
Tubuh Lin Xuan melesat menuruni Puncak Kesembilan bagaikan bayangan halilintar hitam menuju Alun-Alun Panggung Hidup-Mati Sekte Luar!
Di Alun-Alun Panggung Hidup-Mati, lebih dari tiga ribu murid luar dan ratusan murid dalam telah berkumpul memadati area sekitar panggung batu hitam yang berlumuran bercak darah mengering.
Di atas tiang batu di sudut panggung, tubuh gemuk Pang Dahai tampak terikat rantai dengan wajah babak belur dan jubah berlumuran darah. Meskipun dipukuli dengan kejam, pemuda itu tetap menggertakkan giginya dan tidak mau membocorkan bahwa Lin Xuan-lah sang peracik pil misterius di pasar tadi.
Sementara di tengah panggung, berdiri seorang pemuda berusia dua puluh tahun dengan tubuh kekar dan tombak panjang berwarna perak menyala di tangannya—Zhao Hu, peringkat ketiga Daftar Murid Luar di Alam Pembukaan Meridian Lapis Sembilan!
Di kursi pengawas di tepi panggung, duduk Tetua Zhao Wuji dan Diakon Lin Cang dengan senyum dingin penuh kemenangan.
"Lin Xuan itu pasti tidak berani datang!" cibir Zhao Feng yang duduk di samping pamannya. "Kakakku Zhao Hu sudah berada di Lapis Sembilan selama setengah tahun dan menguasai Tombak Kilat Perak tingkat puncak! Begitu Lin Xuan berani naik ke Panggung Hidup-Mati dan menandatangani surat kematian, bahkan kakek pemabuk dari Puncak Kesembilan pun tidak punya hak untuk menuntut balas!"
"Jika dalam sepuluh hitungan Lin Xuan tidak muncul, aku akan menghancurkan Dantian si gendut ini sekarang juga!" teriak Zhao Hu lantang sambil mengarahkan ujung tombak peraknya ke perut Pang Dahai.
"Jangan datang, Saudara Lin! Ini jebakan mereka!" teriak Pang Dahai dengan sisa tenaganya.
Namun tepat pada detik ujung tombak Zhao Hu hendak bergerak maju—
SWINGGG — CRAAANGGG!
Seberkas cahaya pedang berwarna abu-abu gelap melesat dari ujung alun-alun sejauh seratus tombak, memotong putus rantai besi yang mengikat tubuh Pang Dahai sekaligus menancap di lantai batu tepat satu inci di depan ujung kaki Zhao Hu!
Dari balik kerumunan ribuan murid yang serempak membuka jalan dengan napas tertahan, Lin Xuan melangkah tenang menaiki tangga Panggung Hidup-Mati.
Setelah menangkap tubuh Pang Dahai yang jatuh dari tiang dan menyuapkan sebutir Pil Pemurni Darah sempurna yang langsung menghentikan pendarahan sahabatnya dalam sekejap, Lin Xuan menurunkan Pang Dahai ke sisi luar panggung, lalu berbalik menatap Zhao Hu.
"Kau ingin bertarung di Panggung Hidup-Mati?" Lin Xuan menggores ujung jarinya, meneteskan darah ke atas batu perjanjian hidup-mati di sudut panggung hingga batu itu menyala merah. "Sekarang surat kematianmu sudah ditandatangani."
Zhao Hu tertawa buas melihat Lin Xuan benar-benar berani mengaktifkan batu perjanjian hidup-mati.
"Hahaha! Bodoh sekali kau, Lin Xuan! Kau pikir mengalahkan Wang Lie yang baru Lapis Delapan membuatmu bisa melawanku?!"
BOOOOM!
Sembilan lingkaran Qi berwarna perak menyilaukan meledak dari tubuh Zhao Hu! Kekuatan penuh dari Alam Pembukaan Meridian Lapis Sembilan menyelimuti tombak peraknya, menciptakan bayangan ular kilat perak sepanjang dua tombak yang melesat menusuk ke arah jantung Lin Xuan dengan kecepatan mengerikan!
"Jurus Pamungkas: Tombak Kilat Penembus Jantung!"
Di kursi pengawas, Tetua Zhao Wuji dan Diakon Lin Cang sudah berdiri sambil tersenyum puas, menantikan pemandangan jantung Lin Xuan yang hancur tertembus tombak.
Namun di atas panggung, Lin Xuan menatap serangan Lapis Sembilan itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Lapis Sembilan? Kebetulan sekali, aku belum menguji kekuatanku sejak kembali dari Lembah Racun Hitam."
WUUUUUNG!
Delapan jalur meridian utama yang luasnya bagaikan sungai raksasa di tubuh Lin Xuan meledak secara bersamaan! Gelombang Qi Abu Nirwana Lapis Delapan yang bercampur dengan Niat Pedang Abu menyembur keluar dari bilah Pedang Abu Hitam—bukan hanya menandingi aura Zhao Hu, melainkan langsung menelan cahaya perak tombak itu ke dalam kegelapan abu!
"Jurus Keempat Pedang Abu: Nirwana Tanpa Sisa!"
CRAAANGGG — SLASH!
Di hadapan tiga ribu pasang mata yang membelalak ngeri, satu tebasan lurus dari Pedang Abu Hitam langsung membelah tombak perak milik Zhao Hu menjadi dua potong dari ujung hingga ke gagangnya!
"A-apa?! Lapis Delapan... dan Niat Pedang?!"
Jeritan ngeri Zhao Hu menjadi kata-kata terakhir dalam hidupnya. Cahaya pedang abu-abu keemasan terus melesat melewati tombak yang patah, menebas leher peringkat ketiga Murid Luar itu hingga kepalanya melayang jatuh di lantai Panggung Hidup-Mati.