NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Angka tujuh ratus empat puluh miliar itu masih terbayang di kepala Elang ketika ia membuka mata di pagi hari. Kotak hitam di meja dekat jendela sudah menyala sendiri, dan layarnya menampilkan ringkasan yang tidak ia minta: daftar nama perusahaan, tanggal transfer, dan satu garis merah yang menghubungkan Karang Dasa Mineral dengan dua rekening atas nama Nugroho Corp. Ia membacanya sambil mengancingkan kemeja, lalu mematikan layar dengan satu ketukan.

"Bukti saja belum cukup," gumamnya. "Orang seperti Ayah tidak akan jatuh hanya karena kertas."

Ia duduk di meja, menarik kotak itu mendekat, dan membuka sebuah laporan lain yang sudah ia siapkan semalam, daftar harga saham yang bergerak di bursa selama sepuluh tahun terakhir. Komputer itu tidak meramalkan masa depan. Ia hanya membaca pola yang tidak mampu dibaca manusia dan menyusunnya menjadi peluang yang bisa dihitung. Elang sudah mencoba itu semalam dengan angka kecil, dan hasilnya cukup membuatnya percaya.

Modalnya tidak banyak. Setelah mengurangi uang yang ia bayarkan untuk kontrakan lamanya, tabungan Elang hanya tersisa empat puluh satu juta rupiah. Ia membuka laci meja dan mengambil sebatang emas kecil sepanjang jari yang masih terbungkus kain beludru lusuh. Emas itu ia minta dari tangan Ray sepuluh tahun lalu, dan ia tidak pernah menjualnya.

"Akhirnya berguna juga," katanya sambil memasukkan emas itu ke saku. "Kau tidak akan menyangka, Ray."

Siang harinya ia sudah duduk di sebuah kantor sekuritas kecil di pusat kota, mengisi formulir pembukaan rekening di depan petugas muda yang terus menatap wajahnya seolah berusaha mengingat sesuatu. Setelah emas itu dijual dan semua uangnya dipindahkan, Elang membuka ponselnya, menaruh kotak hitam di atas meja, dan mulai bekerja. Komputer itu menampilkan tiga saham yang akan bergerak naik dalam enam jam. Ia membeli semuanya. Sebelum sore, dua di antaranya naik dua kali lipat, dan ia menjual satu dengan cepat, memutar uangnya ke saham lain yang baru dipetakan komputer itu.

Tidak ada satu pun transaksi yang terasa seperti keberuntungan. Setiap angka bisa dijelaskan, setiap keputusan punya alasan. Elang bekerja tanpa tergesa, dan ketika bursa tutup, rekeningnya sudah memuat sembilan miliar tiga ratus juta rupiah.

Petugas muda itu menatap layar dengan mulut sedikit terbuka.

"Mas, ini..." katanya terbata. "Ini hanya dalam satu hari?"

"Satu hari," jawab Elang sambil mengambil kotak hitamnya. "Tolong siapkan akta untuk perusahaan baru. Notaris yang kau kenal masih buka, kan?"

...------...

Sore itu juga Elang duduk di depan notaris dan menandatangani pendirian sebuah perusahaan. Notaris itu bertanya nama perusahaan sambil menyodorkan formulir, dan Elang menatap kolom kosong itu selama beberapa detik. Ia teringat sebuah taman, es krim vanila yang meleleh di tangan seseorang, dan kalimat yang diucapkan dengan mata berbinar.

Ini pesta, Elang.

"Lastri Cecrem," katanya akhirnya. "Bidang usahanya es krim premium dan minuman beku. Kita mulai dari satu pabrik kecil, lalu distribusi ke kota-kota besar."

Notaris itu mencatat tanpa banyak tanya. Elang menyerahkan sebuah map tambahan yang sudah ia siapkan sendiri. "Satu lagi. Sepuluh persen saham perusahaan ini atas nama Lastri Wijaya, dan tidak bisa dialihkan kecuali oleh dirinya sendiri."

Setelah semua dokumen ditandatangani, Elang membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan mengirim transfer ke nomor rekening yang ia dapat dari pesan Lastri kemarin. Jumlahnya tepat delapan puluh lima ribu rupiah, harga pita biru di toko kecil itu, ditambah biaya makan malam yang dibulatkan ke atas menjadi tiga ratus ribu. Di kolom berita transfer ia mengetik satu kalimat.

Utang lunas. Bunganya ada di notaris.

Hanya dua menit kemudian ponselnya berbunyi. Di layar muncul nama Lastri, dan ia mengangkatnya sambil berjalan keluar dari kantor notaris.

"Elang!" Suara Lastri terdengar hampir berteriak. "Kamu kirim uang? Delapan puluh lima ribu? Terus 'bunganya di notaris' itu apa?"

"Datang saja besok pagi ke notaris yang kutulis di pesan berikutnya," kata Elang. "Aku tidak suka punya utang."

"Itu kan pita. Aku tidak minta kamu bayar." Lastri tertawa, dan suaranya pecah di tengah. "Tapi aku mau datang. Aku mau lihat apa yang kamu buat."

Elang menutup telepon dan berdiri di trotoar sebentar. Matahari sore menyorot bangunan-bangunan kaca di seberang jalan, dan untuk beberapa detik ia hanya melihat pantulan dirinya sendiri di salah satunya. Pemuda berkemeja gelap dengan satu tangan bersarung hitam. Ia tidak mengenali orang itu, tetapi ia tidak merasa asing juga.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan Lastri. Sebuah pesan dari nomor yang tersimpan dengan nama Sekretaris Pak Wijaya masuk dengan satu baris singkat.

Tuan Elang, Pak Wijaya mengundang Anda ke pesta bisnis Wijaya Group malam lusa. Daftar tamu terlampir. Beliau berharap Anda bersedia hadir.

Elang membuka lampirannya dan menggulir daftar nama di layar. Ia berhenti di dua baris yang berurutan.

Ray Nugroho.

Intan Jaya.

Ia menatap kedua nama itu cukup lama, kemudian mengetik balasan satu kata dan memasukkan ponselnya ke saku. Di belakangnya, lampu-lampu kota mulai menyala.

"Hadir," gumamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!